kepalasekolah.id – Butuh materi tausiyah peringatan Isra Mi’raj singkat dan edukatif? Pelajari 3 Hikmah Utama dari perjalanan spiritual Nabi Muhammad, fokus pada peningkatan integritas dan kualitas salat.
16 Januari 2026 adalah Hari Libur Nasional untuk memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Bagi Anda yang bertugas memberikan ceramah, tausiyah, atau materi edukasi singkat pada peringatan ini, memilih topik yang relevan dan mudah dicerna adalah kunci.
Materi tentang Isra Mi’raj tidak hanya sebatas kisah perjalanan fisik, tetapi harus ditekankan pada nilai-nilai moral dan spiritual yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik bagi pelajar maupun audiens umum.
Berikut adalah tiga poin utama tausiyah yang fokus pada nilai edukatif, didasarkan pada hikmah mendalam dari perjalanan spiritual Nabi.
Poin 1: Integritas dan Kebenaran (Siddiq) di Tengah Krisis
Peristiwa Isra Mi’raj terjadi pada masa yang dikenal sebagai ‘Amul Huzni (Tahun Kesedihan), yaitu saat Nabi kehilangan paman dan istrinya. Perjalanan spiritual luar biasa ini hadir sebagai dukungan dan penguatan mental dari Allah SWT.
Materi Tausiyah:
- Ujian Kepercayaan: Ketika Nabi menceritakan perjalanannya, banyak orang (bahkan beberapa pengikut) yang meragukan. Namun, Abu Bakar dengan tegas membenarkan tanpa keraguan sedikit pun (sehingga mendapat gelar Ash-Shiddiq).
- Nilai Edukatif: Penceramah dapat menekankan bahwa Isra Mi’raj mengajarkan kita tentang integritas dan keyakinan. Di tengah informasi yang simpang siur dan kesulitan hidup, kita harus teguh memegang kebenaran dan keyakinan, seperti yang dicontohkan Abu Bakar.
- Aplikasi: Ajakan untuk menjaga kejujuran di lingkungan sekolah/kerja, konsisten dengan perkataan, dan berani membela kebenaran meskipun terasa berat.
Poin 2: Salat sebagai Hadiah dan Kebutuhan Utama
Inti dari Mi’raj adalah pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan Allah SWT di Sidratul Muntaha, di mana beliau menerima perintah salat lima waktu. Salat adalah “hadiah” terindah bagi umat Nabi.
Materi Tausiyah:
- Pengurangan Jumlah: Kisah negosiasi jumlah salat dari 50 menjadi 5 menunjukkan betapa sayangnya Allah kepada umat-Nya dan betapa pentingnya ibadah ini. Lima waktu dianggap sebagai beban yang paling mampu diemban oleh umat manusia.
- Salat adalah Mi’raj Kita: Jika Isra Mi’raj adalah perjalanan spiritual Nabi, maka salat adalah Mi’raj harian Ketika kita salat, kita sedang menghadap langsung kepada Allah.
- Nilai Edukatif: Tekankan bahwa salat bukan sekadar kewajiban, tetapi sarana komunikasi, penyucian diri, dan pencegah dari perbuatan keji dan munkar (QS Al-Ankabut: 45).
- Aplikasi: Seruan untuk menjaga kualitas salat (khusyuk), tepat waktu, dan menjadikannya prioritas utama di tengah kesibukan (baik sekolah, bekerja, maupun urusan duniawi lainnya).
Poin 3: Konsep Hablum Minannas melalui Keteladanan Akhlak
Dalam perjalanan Isra, Nabi diperlihatkan berbagai gambaran surga dan neraka, serta berbagai kondisi umat manusia. Ini adalah pelajaran visual tentang konsekuensi dari akhlak baik dan buruk.
Materi Tausiyah:
- Pelayanan vs. Kezaliman: Nabi diperlihatkan balasan bagi orang yang menzalimi, berghibah, dan melalaikan amanah. Hal ini mengingatkan bahwa setiap perbuatan pasti ada balasannya.
- Nilai Edukatif: Selain hubungan dengan Tuhan (Hablum Minallah—melalui salat), Isra Mi’raj juga mengajarkan pentingnya menjaga hubungan sosial (Hablum Minannas).
- Aplikasi: Ajak audiens untuk meneladani akhlak Nabi dalam kehidupan sehari-hari: saling menghormati, menjauhi fitnah dan ghibah (seperti yang diperlihatkan dalam gambaran neraka), dan menjaga keharmonisan sosial sebagai implementasi nyata dari kesempurnaan ibadah.
Contoh 1
Materi Tausiyah Isra Mi’raj (Poin 1):
Judul: Integritas Diri: Pelajaran Ash-Shiddiq dari Ujian Terberat Nabi
Pembukaan (5 menit)
- Salam dan Mukadimah. (Puji syukur kepada Allah SWT dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW).
- Pengantar Tema: Bapak/Ibu, Hadirin sekalian. Kita berkumpul hari ini memperingati Isra Mi’raj, sebuah peristiwa yang luar biasa, melampaui logika manusia. Perjalanan ini bukan hanya keajaiban, tetapi juga merupakan ujian mental dan spiritual terberat bagi Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya.
- Konteks Sejarah: Isra Mi’raj terjadi pada tahun yang disebut ‘Amul Huzni (Tahun Kesedihan). Nabi baru saja kehilangan dua pilar terkuatnya: pamannya (Abu Thalib) yang melindunginya dari ancaman fisik, dan istrinya (Siti Khadijah) yang menjadi sumber dukungan emosional dan materi. Di tengah krisis inilah, Allah memberikan hadiah perjalanan rohani ini.
Isi Tausiyah: Tiga Pelajaran Integritas (10 menit)
- Keberanian Menyampaikan Kebenaran (Ujian Nabi)
- Ketika Nabi kembali dari perjalanan, beliau tidak menyembunyikan keajaiban yang dialami. Beliau dengan jujur dan terbuka menceritakan kepada kaum Quraisy bahwa beliau pergi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke langit dalam satu malam.
- Inti Pelajaran: Ini adalah ujian tabligh (menyampaikan kebenaran). Nabi tahu risikonya: dicemooh, dihina, bahkan diancam. Namun, beliau tetap menyampaikan apa adanya.
- Relevansi Hari Ini: Di zaman yang serba digital ini, kita sering tergoda untuk memanipulasi fakta, menyebarkan kebohongan (hoaks), atau melebih-lebihkan diri. Isra Mi’raj mengajarkan, integritas sejati adalah berani menyampaikan kebenaran, seberat apapun tantangannya.
- Keteguhan dalam Keyakinan (Contoh Abu Bakar Ash-Shiddiq)
- Reaksi kaum Quraisy terbelah. Mayoritas mencibir dan menuntut bukti. Bahkan, sebagian yang sebelumnya sudah masuk Islam menjadi murtad karena menganggap kisah ini mustahil.
- Di saat kritis ini, muncullah sosok Abu Bakar. Ketika orang-orang bertanya apakah dia percaya, Abu Bakar menjawab dengan yakin, “Jika yang berkata adalah Muhammad, maka aku membenarkannya. Jika dia berkata lebih jauh dari itu, aku tetap membenarkannya.”
- Inti Pelajaran: Perkataan Abu Bakar ini melahirkan gelar Ash-Shiddiq (Yang Membenarkan/Yang Jujur). Integritas bukan hanya tentang kejujuran lisan, tapi tentang keteguhan keyakinan. Abu Bakar mendasarkan kepercayaannya pada rekam jejak Nabi yang tidak pernah berbohong.
- Relevansi Hari Ini: Dalam hidup, kita akan dihadapkan pada pilihan: mengikuti fakta yang terlihat mata, atau mengikuti keyakinan pada ajaran dan prinsip yang kita yakini benar. Integritas menuntut kita untuk konsisten dengan prinsip kita, tidak mudah goyah hanya karena keraguan atau cemoohan orang lain.
- Integritas adalah Pondasi Ibadah
- Mengapa Allah memberikan hadiah terbesar (salat) setelah ujian integritas ini? Karena Allah ingin menegaskan bahwa ibadah (salat) harus dibangun di atas pondasi kejujuran dan keyakinan yang kuat.
- Jika hati kita masih penuh dengan dusta, pengkhianatan, atau ketidakjujuran, maka salat kita berpotensi hanya menjadi gerakan fisik tanpa makna.
- Nilai Edukatif: Peringatan Isra Mi’raj ini adalah momen untuk mengevaluasi integritas kita sehari-hari. Apakah kita jujur dalam tugas sekolah/kantor? Apakah kita jujur dalam berinteraksi sosial? Integritas kita kepada sesama adalah cerminan dari integritas kita menghadap Allah.
Penutup dan Seruan (5 menit)
- Kesimpulan: Hadirin sekalian, mari kita jadikan Isra Mi’raj ini sebagai momentum untuk meniru pelajaran Ash-Shiddiq. Di tengah krisis moral, krisis kepercayaan, dan banyaknya informasi yang menyesatkan, teguhkan hati kita.
- Aksi Nyata: Mulai hari ini, mari kita berkomitmen:
- Berani bicara benar, meski pahit.
- Konsisten dengan prinsip dan keyakinan kita.
- Membangun integritas diri, karena integritas adalah pintu gerbang menuju kualitas ibadah yang diterima di sisi Allah SWT.
- Penutup: Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kekuatan untuk menjadi pribadi yang shiddiq, jujur, dan berintegritas tinggi.
- Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Contoh 2
Materi Tausiyah Isra Mi’raj (Poin 2):
Judul: Salat: Hadiah Terindah dari Langit dan Mi’raj Harian Kita
Pembukaan (5 menit)
- Salam dan Mukadimah. (Puji syukur kepada Allah SWT dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW).
- Pengantar Tema: Hadirin sekalian, jika Poin Pertama dari Isra Mi’raj adalah ujian integritas Nabi di bumi, maka Poin Kedua adalah hadiah teragung yang diterima di langit. Perjalanan Mi’raj mencapai puncaknya di Sidratul Muntaha, tempat Nabi Muhammad SAW bertemu langsung dengan Allah SWT.
- Inti Hadiah: Pertemuan yang agung ini menghasilkan satu perintah yang sangat istimewa, yang tidak diwahyukan melalui perantara Jibril, melainkan diserahkan langsung oleh Allah kepada Nabi: yaitu perintah Salat lima waktu.
Isi Tausiyah: Salat sebagai Hadiah dan Kebutuhan (10-15 menit)
- Salat: Dari Lima Puluh Menjadi Lima (Kadar Kasih Sayang Allah)
- Awalnya, Allah memerintahkan 50 waktu salat sehari semalam. Nabi Muhammad SAW, atas saran dari Nabi Musa AS yang berpengalaman dengan umatnya, berulang kali memohon keringanan kepada Allah SWT.
- Pelajaran Pengurangan: Pengurangan dari 50 menjadi 5 adalah bukti nyata betapa Allah SWT Maha Penyayang. Allah tahu kemampuan hamba-Nya. Allah tidak ingin memberatkan, tetapi ingin memberikan yang terbaik.
- Hikmah: Meskipun secara hitungan hanya lima waktu, Allah berjanji pahala yang didapatkan tetap setara dengan 50 waktu. Ini menunjukkan kemurahan Allah. Tugas kita sederhana: laksanakan lima, dapatkan pahala lima puluh.
- Relevansi Hari Ini: Jangan pernah mengeluh berat melaksanakan salat lima waktu. Ingatlah, salat lima waktu yang kita laksanakan adalah bentuk kasih sayang Allah agar kita tetap mendapatkan pahala yang berlipat tanpa harus menanggung beban 50 kali sehari.
- Salat adalah Mi’raj Harian Pribadi
- Mi’raj adalah momen di mana Nabi meninggalkan duniawi dan menghadap Allah. Ketika kita melaksanakan salat, secara spiritual, kita sedang melakukan Mi’raj pribadi
- Ketika takbiratul ihram dikumandangkan, secara simbolis kita meninggalkan urusan dunia di belakang punggung kita. Kita sedang berdiri di hadapan Sang Pencipta.
- Nilai Kualitas: Pertanyaannya adalah, seberapa berkualitas Mi’raj harian kita? Apakah ketika kita salat, pikiran kita masih berkelana pada pekerjaan, hutang, atau urusan yang belum selesai?
- Aplikasi Khusyuk: Mari kita tingkatkan kualitas salat kita (khusyuk). Khusyuk bukan berarti menghilangkan semua pikiran duniawi, tetapi berjuang untuk menghadirkan hati dan fokus sepenuhnya kepada Allah SWT, mengakui bahwa ini adalah waktu terbaik untuk berkomunikasi dengan-Nya.
- Salat sebagai Solusi dan Kontrol Diri (Nahi Anil Fakhsya Wal Munkar)
- Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ankabut ayat 45: “Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.”
- Pencegah Kejahatan: Inilah fungsi utama salat di luar aspek ritual. Jika salat kita benar, maka perilaku kita di luar salat juga harus benar.
- Refleksi: Jika seseorang rajin salat, tetapi masih suka berbohong, menipu, atau menyakiti orang lain, maka perlu dipertanyakan: Apakah salatnya benar-benar berfungsi sebagai Nahi Anil Fakhsya Wal Munkar?
- Seruan Edukatif: Mari ajarkan kepada diri kita dan anak-anak kita bahwa salat yang diterima akan tercermin dalam akhlak yang baik. Salat adalah charging station (stasiun pengisian energi) yang mengisi kita dengan kekuatan untuk melawan godaan keburukan sepanjang hari.
Penutup dan Seruan (5 menit)
- Kesimpulan: Hadirin sekalian, peringatan Isra Mi’raj mengingatkan kita bahwa salat adalah hadiah istimewa, ibadah yang paling utama, dan satu-satunya yang dijemput langsung oleh Nabi Muhammad SAW ke langit.
- Aksi Nyata: Mari jadikan salat sebagai prioritas, bukan beban. Jadikan salat sebagai tempat kita beristirahat dan mencari solusi.
- Tepatilah waktu salat.
- Berjuanglah untuk khusyuk, sadari bahwa kita sedang menghadap Raja Diraja.
- Biarkan salat membentuk karakter dan integritas kita di luar sajadah.
- Penutup: Semoga kita semua termasuk golongan yang mendirikan dan menjaga salat dengan sebaik-baiknya.
- Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Contoh 3
Materi Tausiyah Isra Mi’raj (Poin 3):
Judul: Dari Langit ke Bumi: Kualitas Ibadah Tercermin dalam Akhlak Sosial (Hablum Minannas)
Pembukaan (5 menit)
- Salam dan Mukadimah. (Puji syukur dan shalawat).
- Pengantar Tema: Bapak/Ibu, Hadirin sekalian. Setelah kita membahas pentingnya integritas (Poin 1) dan hakikat salat sebagai hadiah (Poin 2), tibalah kita pada puncak refleksi Isra Mi’raj: bagaimana ibadah ritual kita berhubungan dengan perilaku sosial kita?
- Pelajaran Visual: Dalam perjalanan Isra (perjalanan dari Mekkah ke Yerusalem), Nabi Muhammad SAW diperlihatkan gambaran visual tentang konsekuensi dari akhlak manusia, baik di surga maupun di neraka. Gambaran ini sangat jelas: semua ritual spiritual harus berujung pada perbaikan akhlak sosial.
Isi Tausiyah: Membangun Hablum Minannas dari Kisah Isra (10-15 menit)
- Gambaran Neraka: Konsekuensi Kejahatan Sosial
- Di antara banyak gambaran yang dilihat Nabi, ada dua yang sangat relevan dengan kehidupan sosial kita:
- Pezina dan Pengambil Harta Anak Yatim: Nabi melihat mereka yang berbuat zalim terhadap hak-hak sesama (terutama yang lemah) mendapatkan siksa pedih.
- Pemakan Daging Busuk (Ghibah/Fitnah): Nabi melihat sekelompok orang yang memiliki kuku tembaga panjang, mereka mencakar-cakar wajah dan dada mereka sendiri. Ketika ditanya, Jibril menjelaskan, “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia, yaitu mereka yang ghibah (menggunjing) dan merusak kehormatan orang lain.”
- Nilai Edukatif: Gambaran ini mengajarkan kita bahwa dosa sosial (kezaliman, ghibah, fitnah) sama berbahayanya, bahkan dampaknya sangat menghancurkan tatanan masyarakat.
- Aplikasi: Mari kita jadikan peringatan ini sebagai pengingat untuk menjaga lisan dan jempol kita (di media sosial). Jangan biarkan lisan atau tulisan kita menjadi alat untuk merusak kehormatan orang lain.
- Kualitas Ibadah Tercermin dalam Akhlak (Hablum Minannas)
- Allah mewajibkan salat (ibadah Hablum Minallah) yang berfungsi sebagai pencegah Fahsya Wal Munkar (perbuatan keji dan mungkar). Perbuatan keji dan mungkar hampir selalu berhubungan dengan kezaliman sosial.
- Penyempurna Salat: Jika kita salat dengan khusyuk, tetapi setelah salam kita mudah marah, merendahkan orang lain, atau tidak peduli pada tetangga, maka salat kita belum sempurna berfungsi.
- Inti Ajaran Islam: Islam menyeimbangkan hubungan vertikal (kepada Allah) dan horizontal (kepada sesama manusia). Ibadah yang benar akan melahirkan pribadi yang peduli, santun, dan bertanggung jawab secara sosial.
- Relevansi Hari Ini: Di sekolah, kantor, atau lingkungan bertetangga, integritas dan kemuliaan akhlak kita adalah bukti nyata keberhasilan ibadah kita.
- Keteladanan Nabi dalam Berinteraksi
- Sepanjang perjalanan Isra, Nabi disambut dan dihormati oleh para nabi terdahulu. Ini menunjukkan bahwa beliau adalah sosok yang terpilih karena kesempurnaan akhlaknya.
- Tujuan Akhir: Tujuan utama diutusnya Nabi adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia (Innamaan bu’itstu li utammima makarimal akhlaq).
- Seruan Edukatif: Setelah kita menerima hadiah salat di langit, tugas kita adalah membawanya turun ke bumi. Bawalah sikap sabar, santun, adil, dan peduli ke dalam kehidupan sosial kita. Jadilah individu yang membawa kedamaian dan manfaat bagi lingkungan.
Penutup dan Seruan (5 menit)
- Kesimpulan: Isra Mi’raj adalah pelajaran spiritual dan etika. Ibadah salat adalah tiang agama, dan akhlak yang baik adalah cerminan dari tiang yang kokoh itu. Jangan sampai kita menjadi orang yang rajin ibadah namun miskin akhlak.
- Aksi Nyata:
- Tingkatkan kepedulian sosial kita, terutama kepada yang membutuhkan (anak yatim, fakir miskin).
- Jaga lisan dan perbuatan kita dari segala bentuk kezaliman sosial (gosip, fitnah, dan menyakiti hati).
- Tunjukkan bahwa salat kita berhasil melalui senyum, sapaan, dan bantuan tulus kepada sesama.
- Penutup: Semoga Allah menjadikan kita hamba-Nya yang sukses dalam menjaga Hablum Minallah dan Hablum Minannas.
- Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
