kepalasekolah.id – Kumpulan cerita rakyat Nusantara dalam dua bahasa — Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris — ditulis dengan gaya ringan dan modern agar mudah dipahami anak-anak. Setiap kisah membawa pesan moral dan nilai kehidupan yang menginspirasi untuk berbuat baik, bersahabat, dan rendah hati. Temukan keseruan membaca sambil belajar dalam setiap edisi mingguan kami!
Daftar Isi
Manik Angkeran
Bali
–Versi Bahasa Indonesia–
Pada zaman dahulu, di Pulau Bali, hiduplah seorang pendeta bijaksana bernama Mpu Sidimantra. Ia dikenal sebagai orang yang taat beribadah, rendah hati, dan selalu menolong siapa pun yang membutuhkan. Mpu Sidimantra memiliki seorang putra bernama Manik Angkeran.
Manik Angkeran adalah anak yang cerdas dan berani, tetapi ia memiliki satu kebiasaan buruk: ia sulit mengendalikan diri dan sering tergoda oleh kesenangan sesaat. Ia sangat suka berjudi. Awalnya, ia hanya mencoba-coba, tetapi lama-kelamaan kebiasaan itu membuatnya lupa pada nasihat ayahnya.
“Manik,” kata Mpu Sidimantra dengan lembut,
“hidup bukan hanya tentang menang dan kalah. Belajarlah bertanggung jawab atas pilihanmu.”
Namun Manik Angkeran tidak mendengarkan. Ia terus berjudi hingga akhirnya kehabisan harta. Dalam keputusasaan, ia mendatangi ayahnya dan memohon bantuan.
Mpu Sidimantra, meskipun sedih, tetap menyayangi anaknya. Dengan kesaktiannya, ia pergi ke Gunung Agung dan memohon bantuan Naga Basuki, penjaga gunung suci. Naga Basuki memberi emas untuk menolong Manik Angkeran.
Sayangnya, emas itu kembali dihabiskan Manik Angkeran untuk berjudi. Bahkan kali ini, ia melakukan kesalahan besar: ia mencoba mencuri emas langsung dari Naga Basuki.
Naga Basuki murka.
“Kau telah menyalahgunakan kebaikan!” raungnya.
Manik Angkeran hampir kehilangan nyawanya. Mpu Sidimantra datang tepat waktu dan memohon ampun untuk anaknya.
“Ampuni dia,” kata sang ayah.
“Biarlah ia belajar dari kesalahannya.”
Naga Basuki akhirnya memaafkan, tetapi memberi pelajaran besar. Dengan tongkatnya, Mpu Sidimantra membelah tanah hingga memisahkan Manik Angkeran dari ayahnya. Dari belahan tanah itu terbentuklah Selat Bali, yang memisahkan Pulau Jawa dan Pulau Bali.
Manik Angkeran selamat, tetapi kini ia hidup sendiri. Ia merenung, menyesali perbuatannya, dan berjanji untuk berubah. Sejak saat itu, Manik Angkeran hidup dengan lebih bijaksana, bekerja keras, dan tidak lagi mengikuti hawa nafsu.
Ia belajar bahwa kasih sayang orang tua bukan untuk disalahgunakan, melainkan untuk dijaga dengan tanggung jawab.
–English Version–
Long ago in Bali, there lived a wise priest named Mpu Sidimantra. He was known for his kindness, humility, and devotion. He had a son named Manik Angkeran.
Manik Angkeran was brave and intelligent, but he had a serious weakness: he could not control his desires. He loved gambling. At first it seemed harmless, but soon it became a habit that led him into trouble.
“My son,” Mpu Sidimantra said gently,
“life is about responsibility, not just pleasure.”
Manik Angkeran ignored his father’s advice. He gambled away all his wealth and begged his father for help.
Out of love, Mpu Sidimantra asked Naga Basuki, the sacred guardian of Mount Agung, for gold to help his son. But Manik Angkeran wasted it again—and worse, he tried to steal directly from the dragon.
Naga Basuki became furious.
“You have betrayed kindness!” he roared.
Mpu Sidimantra pleaded for his son’s life. The dragon forgave Manik Angkeran, but a great lesson followed. With his staff, Mpu Sidimantra split the land, creating the Bali Strait, separating Bali from Java.
Manik Angkeran survived and finally realized his mistakes. He chose to change, live honestly, and control his desires.
Pesan Moral / Moral Message
Bahasa Indonesia:
Kasih sayang dan bantuan harus diiringi dengan tanggung jawab. Keinginan yang tidak terkendali dapat membawa penyesalan, tetapi perubahan selalu mungkin bagi mereka yang mau belajar.
English:
Love and help must be balanced with responsibility. Uncontrolled desires lead to regret, but change is always possible for those willing to learn.
