kepalasekolah.id – Kumpulan cerita rakyat Nusantara dalam dua bahasa — Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris — ditulis dengan gaya ringan dan modern agar mudah dipahami anak-anak. Setiap kisah membawa pesan moral dan nilai kehidupan yang menginspirasi untuk berbuat baik, bersahabat, dan rendah hati. Temukan keseruan membaca sambil belajar dalam setiap edisi mingguan kami!
Daftar Isi
Si Kancil dan Buaya
Jawa
–Versi Bahasa Indonesia–
Di sebuah hutan yang subur, tak jauh dari aliran sungai besar, hiduplah seekor kancil kecil yang terkenal cerdik. Ia dikenal sebagai Si Kancil, hewan yang selalu berhasil keluar dari masalah dengan kepintarannya. Namun, di balik kecerdikannya, Si Kancil juga dikenal sering menggunakan akalnya untuk menghindari tanggung jawab.
Menjelang pergantian tahun, hutan itu terasa lebih tenang dari biasanya. Banyak hewan mulai membersihkan sarang, memperbaiki tempat tinggal, dan bersiap menghadapi musim baru. Si Kancil duduk di bawah pohon sambil menatap sungai yang mengalir pelan.
“Tahun lalu aku selalu lolos dengan kecerdikanku,” gumamnya. “Tapi… apakah itu cukup?”
Perutnya tiba-tiba keroncongan. Di seberang sungai, ia melihat pohon-pohon mentimun tumbuh subur. Namun sungai itu terkenal berbahaya karena dipenuhi buaya.
Dulu, Si Kancil pernah menipu buaya-buaya dengan kecerdasannya. Tapi kini ia ragu.
“Jika aku mengulang cara lama, aku mungkin selamat… tapi apa itu benar?”
Ia pun berdiri di tepi sungai dan memanggil,
“Wahai Buaya-buaya penjaga sungai, keluarlah!”
Satu per satu, buaya muncul ke permukaan. Yang paling tua menatap Kancil dengan mata tajam.
“Kancil,” katanya berat, “kami masih ingat caramu dulu.”
Si Kancil menunduk.
“Aku tahu. Aku datang bukan untuk menipu. Aku ingin menyeberang, dan aku ingin melakukannya dengan jujur.”
Para buaya terdiam. Tak pernah sebelumnya Si Kancil berbicara seperti itu.
“Aku lapar,” lanjut Kancil, “dan aku ingin memulai tahun baru dengan cara yang lebih baik. Jika kalian mengizinkan, aku akan menyeberang dengan kesepakatan.”
Buaya tua mengangkat kepalanya.
“Kesepakatan seperti apa?”
Si Kancil berpikir sejenak.
“Aku akan membantu membersihkan sungai dari ranting dan sampah hutan yang mengganggu sarang kalian. Sebagai gantinya, izinkan aku menyeberang dengan aman.”
Para buaya saling berpandangan. Akhirnya mereka mengangguk.
“Kami setuju. Tapi ingat, kepercayaan harus dijaga.”
Dengan hati-hati, Si Kancil melompat ke batu-batu di sungai, dibantu para buaya yang berjaga. Setelah menyeberang, ia tidak langsung menuju pohon mentimun. Ia justru kembali ke sungai dan mulai membersihkan ranting-ranting yang menyumbat aliran air.
Hari itu, untuk pertama kalinya, Si Kancil bekerja bukan demi kelicikan, melainkan tanggung jawab. Saat matahari mulai turun, sungai menjadi lebih jernih, dan buaya-buaya terlihat lebih tenang.
Buaya tua tersenyum.
“Kancil, hari ini kau bukan hanya cerdik. Kau bijak.”
Si Kancil tersenyum kecil.
“Aku belajar bahwa memulai sesuatu dengan baik lebih penting daripada sekadar berhasil.”
Ia pun memetik mentimun secukupnya dan pulang dengan hati ringan. Di bawah cahaya senja, Si Kancil berjanji pada dirinya sendiri bahwa di tahun baru ini, kecerdikan akan selalu berjalan bersama tanggung jawab.
Sejak hari itu, Si Kancil tetap dikenal pintar, tetapi juga dipercaya. Hutan pun menjadi tempat yang lebih damai, karena setiap awal yang baik membawa perubahan yang lebih baik pula.
—English Version–
In a lush forest near a wide river lived a small deer known as Si Kancil. He was famous for his cleverness and ability to escape trouble. However, he was also known for using his intelligence to avoid responsibility.
As the new year approached, the forest felt calm. Animals cleaned their nests and prepared for a new season. Si Kancil sat beneath a tree, staring at the river.
“I always survived using my cleverness,” he murmured. “But is that enough?”
Across the river, cucumber trees grew abundantly. Yet the river was dangerous, guarded by crocodiles. In the past, Si Kancil had tricked them — but this time, he hesitated.
“If I repeat my old ways, I may succeed… but is it right?”
He stood by the river and called out. Crocodiles emerged, led by an old one with sharp eyes.
“We remember your tricks, Kancil,” said the old crocodile.
Si Kancil bowed.
“I know. I am not here to deceive. I wish to cross honestly.”
The crocodiles fell silent.
“I am hungry,” Kancil continued, “and I want to start the new year better. Allow me to cross, and I will help clean the river.”
After discussion, the crocodiles agreed. Si Kancil crossed carefully and kept his promise by cleaning the river.
The old crocodile smiled.
“Today, you are not only clever. You are wise.”
Si Kancil learned that a good beginning matters more than easy success, and the forest became a more peaceful place.
Pesan Moral / Moral Message
Memulai sesuatu dengan niat baik dan tanggung jawab akan membawa hasil yang lebih bermakna daripada kecerdikan tanpa kejujuran.
(Starting something with good intentions and responsibility leads to more meaningful results than cleverness without honesty.)
