kepalasekolah.id – Kumpulan cerita rakyat Nusantara dalam dua bahasa — Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris — ditulis dengan gaya ringan dan modern agar mudah dipahami anak-anak. Setiap kisah membawa pesan moral dan nilai kehidupan yang menginspirasi untuk berbuat baik, bersahabat, dan rendah hati. Temukan keseruan membaca sambil belajar dalam setiap edisi.
Daftar Isi
Kisah Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat / The Story of Bitter Tongue and Four Eyes
Lampung
–Versi Bahasa Indonesia–
Pada zaman dahulu di daerah Lampung, hiduplah dua orang tokoh perkasa yang sangat terkenal. Yang pertama adalah Serunting, seorang pendekar yang dijuluki Si Pahit Lidah karena setiap ucapan bijak dan nasihatnya selalu menjadi kenyataan. Yang kedua adalah Si Mata Empat, seorang pendekar yang sangat jeli dan memiliki penglihatan yang luar biasa tajam, seolah-olah ia memiliki dua pasang mata untuk melihat segala kebenaran di sekelilingnya.
Kedua pendekar ini sama-sama hebat, namun mereka sering diajak berkompetisi oleh warga desa untuk membuktikan siapa yang paling bijak. Suatu hari, Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat bertemu di bawah pohon randu yang rindang di tepi sungai. Daripada berselisih, Si Mata Empat yang cerdik mengajukan sebuah tantangan adu kecerdikan yang aman.
“Wahai Serunting,” kata Si Mata Empat, “bagaimana jika kita menguji kelebihan kita untuk membantu warga desa? Aku akan menggunakan ketajaman penglihatanku untuk memetik buah pohon randu ini dari jarak jauh dengan panah, dan kamu menggunakan ucapanmu untuk memohon kebaikan bagi tanah pertanian di desa ini.”
Si Pahit Lidah tersenyum menyetujui ajakan positif tersebut. Si Mata Empat kemudian membidik dengan sangat teliti. Berkat penglihatannya yang tajam, panahnya memetik buah-buah randu yang matang tanpa merusak dahan-dahannya sedikit pun. Warga desa yang menyaksikan bersorak kagum melihat ketepatannya.
Selanjutnya, giliran Si Pahit Lidah. Ia berdiri tegak, memejamkan mata, dan menguncapkan doa serta harapan agar tanah di desa tersebut menjadi subur dan terhindar dari hama. Ajaibnya, seketika itu juga pepohonan di sekitar desa tampak makin hijau dan bukit-bukit batu di sekitarnya menumbuhkan mata air jernih untuk mengaliri sawah warga.
Melihat kelebihan masing-masing, Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat tersadar. Mereka saling berjabat tangan dengan penuh rasa hormat. Si Pahit Lidah memuji ketajaman mata Si Mata Empat, sementara Si Mata Empat mengagumi ketulusan ucapan Si Pahit Lidah. Sejak hari itu, kedua pendekar tersebut berjanji untuk tidak pernah lagi bersaing, melainkan bersatu menggunakan kelebihan masing-masing untuk menjaga keamanan dan kemakmuran masyarakat Lampung.
–English Version–
Long ago in the region of Lampung, there lived two very famous powerful figures. The first was Serunting, a warrior nicknamed Bitter Tongue (Si Pahit Lidah) because every wise word and advice he spoke always came true. The second was Four Eyes (Si Mata Empat), a warrior who was extremely observant and had extraordinarily sharp eyesight, as if he had two pairs of eyes to see all the truth around him.
Both warriors were equally great, but they were often challenged by villagers to prove who was the wisest. One day, Bitter Tongue and Four Eyes met under a shady kapok tree on the riverbank. Instead of quarreling, the clever Four Eyes proposed a safe challenge of wits.
“O Serunting,” said Four Eyes, “how about we test our abilities to help the villagers? I will use my sharp eyesight to pick the fruit of this kapok tree from a distance with an arrow, and you use your words to pray for goodness upon the agricultural land in this village.”
Bitter Tongue smiled and agreed to the positive invitation. Four Eyes then aimed very carefully. Thanks to his sharp vision, his arrow picked the ripe kapok fruits without damaging the branches at all. The villagers who watched cheered in admiration at his precision.
Next, it was Bitter Tongue’s turn. He stood tall, closed his eyes, and uttered prayers and hopes for the land in the village to become fertile and free from pests. Miraculously, at that very moment, the trees around the village appeared even greener and the surrounding rocky hills sprouted clear springs to irrigate the villagers’ rice fields.
Seeing each other’s talents, Bitter Tongue and Four Eyes realized the truth. They shook hands with deep mutual respect. Bitter Tongue praised the sharpness of Four Eyes’ vision, while Four Eyes admired the sincerity of Bitter Tongue’s spoken words. From that day on, the two warriors promised never to compete again, but rather to unite using their respective strengths to maintain the safety and prosperity of the people of Lampung.
Pesan Moral / Moral Lesson
Bahasa Indonesia:
Pesan Moral:
- Saling Menghargai Kelebihan: Setiap orang diciptakan dengan bakat dan kelebihan yang berbeda-beda. Kita tidak perlu merasa iri atau bersaing, melainkan saling menghargai.
- Persatuan dalam Keberagaman: Ketika kelebihan yang berbeda dipadukan untuk kebaikan, hal itu akan menciptakan kedamaian dan kebahagiaan yang besar bagi orang-orang di sekitar kita.
English:
Moral Lesson:
- Appreciating Each Other’s Strengths: Everyone is created with different talents and strengths. We do not need to feel envious or compete, but rather respect one another.
- Unity in Diversity: When different talents are combined for good, it creates great peace and happiness for the people around us.
