kepalasekolah.id – Lucu, hangat, dan penuh makna! Ikuti kisah Panjul, si anak desa yang gemuk dan kocak, dalam petualangannya mengubah hidup lewat semangat belajar dan tawa tanpa henti. “Menggapai Mimpi” akan membuatmu tersenyum sekaligus terinspirasi.
Menggapai Mimpi – Episode 29: Selamat Tinggal, Bayangan Kecil
Pagi itu, Desa Alas Wetan terasa lebih tenang dari biasanya. Mentari baru saja muncul dari balik perbukitan kecil di sebelah timur desa. Udara masih sejuk, sementara embun yang menempel di rerumputan membuat halaman rumah Panjul tampak berkilau. Dari kejauhan terdengar suara ayam berkokok bersahut-sahutan, seolah ikut menyambut hari baru.
Namun bagi Panjul, pagi itu terasa sedikit berbeda. Ia duduk di teras rumah sambil memandangi halaman. Di sampingnya tergeletak buku Rencana Liburan Panjul yang sudah mulai penuh dengan coretan. Beberapa rencana berhasil dilakukan. Sebagian besar berubah. Dan beberapa bahkan belum sempat dimulai sama sekali.
Panjul tersenyum kecil. “Liburan kali ini memang aneh…” Belum selesai berbicara sendiri, terdengar suara langkah kaki kecil berlari.
“Mas Paaaanjuuul!” Naya datang sambil memeluk lengan Panjul seperti biasanya. “Mas, hari ini kita main lagi ya?”
Panjul mengusap kepala Naya pelan. “Iya.”
Namun kali ini senyumnya sedikit berbeda. Karena semalam ia sudah mendengar percakapan ayahnya dengan Paman Adi.
Hari ini…
Naya akan pulang ke kota.
Setelah sarapan, Panjul mengajak Naya berjalan-jalan mengelilingi desa. Mereka melewati pematang sawah yang mulai menguning. Melihat burung pipit yang beterbangan. Berhenti sebentar di bawah pohon beringin. Lalu berjalan menuju sungai kecil tempat Panjul sering memancing.
“Mas…”
“Iya?”
“Kalau di kota nggak ada sawah begini.”
“Iya.”
“Nggak ada sungai juga.”
“Yang ada jalan raya.”
Naya mengangguk pelan. “Mobilnya banyak.”
“Macet juga banyak.” Naya tertawa kecil.
“Lho, macet itu apa?”
Panjul berpikir sebentar. “Kalau di desa orang antre beli cilok.”
“Iya?”
“Kalau di kota mobil yang antre.”
“Oh…”
Naya tampak membayangkannya dengan serius.
Di sungai, Panjul mengajari Naya melempar batu pipih ke permukaan air.
“Begini.”
Plak!
Batu melompat dua kali sebelum tenggelam.
“Waaah!”
Kini giliran Naya.
Plung.
Batunya langsung tenggelam.
Naya tertawa.
“Lagi!”
Beberapa kali mereka mencoba.
Kadang berhasil.
Lebih sering gagal.
Tetapi justru itu yang membuat mereka terus tertawa.
Di kejauhan, Riko dan Danu yang sedang lewat melambaikan tangan.
“Woi, Panjul!”
“Mancing?”
“Nggak.”
“Lagi ngajarin atlet lempar batu.”
Riko tertawa.
“Wah… nanti ikut olimpiade sungai ya.”
Naya langsung mengangkat batu kecil.
“Aku juara!”
Riko mengacungkan jempol.
“Siap, Juara Sungai!”
Semua kembali tertawa.
Menjelang siang mereka pulang. Sesampainya di rumah, suasana mulai berubah. Tas-tas sudah diletakkan di ruang tamu. Beberapa barang milik Paman Adi mulai dimasukkan ke dalam mobil.
Naya yang sejak tadi masih bermain tiba-tiba berhenti. “Mas…”
“Iya?”
“Kita pulang ya?”
“Iya.”
“Besok main lagi?”
Panjul tersenyum pelan. “Kalau besok kamu sudah di kota.”
“Oh iya…”
Untuk pertama kalinya sejak datang ke desa, wajah Naya terlihat sedikit murung.
Paman Adi menghampiri Panjul.
“Jul.”
“Iya, Om?”
“Terima kasih ya.”
“Untuk apa?”
“Sudah menemani Naya bermain.”
Panjul tersenyum malu.
“Kadang aku malah capek, Om.”
Paman Adi tertawa.
“Itu sudah kelihatan.”
Pak Surya yang berdiri di samping ikut tersenyum.
“Capek ning seneng.”
Panjul mengangguk.
“Iya.”
Sebelum benar-benar berangkat, Paman Adi masuk ke dalam mobil.
Beliau mengambil sebuah kardus berukuran sedang.
“Nah…”
“Ini buat siapa, Om?”
“Buat Panjul.” Panjul terkejut. “Buat aku?”
“Iya.”
“Boleh dibuka?”
“Tentu.”
Dengan hati-hati Panjul membuka kardus itu. Matanya langsung membesar.
Di dalamnya ada sebuah tas sekolah baru berwarna biru tua. Di bawahnya terdapat beberapa buku tulis baru, kotak pensil lengkap dengan pensil, penghapus, penggaris, serta sebuah tempat minum.
Belum selesai sampai di situ. Paman Adi mengeluarkan sebuah kotak lain.
“Ini juga.”
Panjul membukanya perlahan. Sepasang sepatu sekolah baru yang masih bersih tersusun rapi di dalamnya. Panjul sampai terdiam beberapa detik.
“Om…”
“Iya?”
“Ini… buat aku semua?”
“Iya.”
“Beneran?”
“Iya.”
“Serius?”
“Serius.”
Panjul langsung memeluk Paman Adi erat-erat. “Terima kasih banyak, Om!”
Saat semua mengira hadiah sudah selesai… Paman Adi mengeluarkan dompetnya. Beliau mengambil beberapa lembar uang. “Nah.”
Panjul menggeleng. “Jangan, Om…”
“Ambil saja.”
“Tapi…”
“Buat uang saku.”
Panjul menerimanya perlahan. Matanya kembali membesar. Jumlahnya memang tidak terlalu banyak bagi orang dewasa. Namun bagi anak seusia Panjul…
Uang itu terasa sangat besar. Ia menatap lembar-lembar uang itu bergantian dengan wajah Paman Adi.
“Om…”
“Iya?”
“Kalau uangnya aku kumpulin…”
“Hm?”
“Kira-kira cukup buat beli mobil nggak?”
Semua yang mendengar langsung tertawa. Paman Adi sampai memegang bahu Panjul.
“Belum, Jul.”
“Oh…”
“Kalau mobil-mobilan mungkin bisa.”
Panjul ikut tertawa. “Ya sudah… berarti targetku masih jauh.”
Pak Surya menepuk pundaknya. “Sing penting disimpen sing apik.”
“Iya, Pak.”
Bu Rini menambahkan, “Jangan langsung habis buat jajan.”
Panjul mengangguk mantap. “Nggak kok, Bu.”
Riko yang kebetulan lewat depan rumah dan melihat Panjul memegang uang langsung berseru,
“Wah! Panjul jadi orang kaya!”
Panjul tertawa. “Belum.”
“Belum?”
“Masih calon.”
Semua kembali tertawa.
Tak lama kemudian tiba saatnya benar-benar berpisah. Naya memeluk Bu Rini. Kemudian Pak Surya. Lalu berlari memeluk Panjul lagi.
“Mas…”
“Iya?”
“Nanti aku ke sini lagi ya.”
Panjul mengangguk. “Iya.”
“Main lagi.”
“Iya.”
“Ke sawah lagi.”
“Iya.”
“Ke sungai lagi.”
“Iya.”
“Jangan lupa sama aku.”
Panjul tersenyum hangat.
“Nggak akan.”
Naya melambaikan tangan dari dalam mobil.
“Daaaah Mas Panjuuul!”
“Hati-hati ya!”
Mobil perlahan bergerak meninggalkan halaman rumah. Naya terus melambaikan tangan dari balik kaca hingga mobil itu menghilang di tikungan jalan desa. Panjul masih berdiri beberapa saat. Rumah yang selama beberapa hari terasa ramai… Mendadak menjadi sunyi.
Ia tersenyum kecil. “Lho…”
Pak Surya menghampirinya. “Kenapa?”
“Sepi ya, Pak.”
Pak Surya ikut memandang ke jalan. “Iya.”
“Lumayan kangen juga.”
Pak Surya tersenyum bijak. “Sing nggawe kowe kesel, saiki malah dikangeni.”
Panjul tertawa kecil. “Iya juga.”
Ia lalu melihat tas, sepatu, dan buku-buku barunya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
“Pak.”
“Nggih?”
“Kalau dipikir-pikir…”
“Apa?”
“Rencana liburanku memang banyak yang gagal.”
“Iya.”
“Tapi ternyata aku dapat cerita yang lebih seru.”
Pak Surya mengangguk pelan. “Itulah liburan. Bukan soal semua rencana terlaksana… tapi soal kenangan yang dibawa pulang.”
Panjul tersenyum lebar. Kalimat ayahnya terasa sederhana. Namun ia tahu, liburan kali ini akan selalu diingatnya.
Malam harinya, Panjul membuka kembali buku Rencana Liburan. Di halaman terakhir ia menulis:
Kesimpulan Liburan:
Tidak semua rencana berhasil.
Tidak semua jadwal berjalan sesuai keinginan.
Tapi ternyata…
Liburan yang paling menyenangkan justru yang tidak pernah direncanakan.
Ia menutup buku itu perlahan.
Besok masih ada satu hari liburan tersisa.
Dan Panjul sudah memiliki satu rencana sederhana.
Ia ingin mengajak teman-temannya menikmati hari terakhir liburan bersama.
Bersambung ke Episode 30: Es Krim Penutup Liburan
