kepalasekolah.id – Lucu, hangat, dan penuh makna! Ikuti kisah Panjul, si anak desa yang gemuk dan kocak, dalam petualangannya mengubah hidup lewat semangat belajar dan tawa tanpa henti. “Menggapai Mimpi” akan membuatmu tersenyum sekaligus terinspirasi.
Menggapai Mimpi – Episode 34 : Buku Kecil yang Hilang
Beberapa hari setelah Danu mulai sibuk dengan kegiatan lesnya, suasana kelas 6 kembali berjalan seperti biasa. Panjul tetap menjadi Panjul. Kadang serius ketika belajar. Kadang bertanya berkali-kali kepada Pak Bagus. Kadang bermain bersama Riko ketika waktu istirahat. Dan tentu saja… kadang membuat satu kelas tertawa tanpa sengaja.
Riko juga masih sama. Usil. Suka menggoda Panjul. Kadang memindahkan pensilnya. Kadang menyembunyikan penghapus. Bahkan pernah suatu pagi sepatu Panjul tiba-tiba tidak ada di bawah meja.
Panjul langsung panik. “Rik!”
Riko yang sedang duduk santai menoleh. “Apa?”
“Sepatuku mana?”
Riko menunjuk ke bawah meja lain. “Di sana.”
Panjul melihat. Benar. Sepatunya ada di sana. “Kamu yang pindahin?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Iseng.”
Panjul menggeleng. “Suatu hari nanti aku akan membalas.”
Riko tertawa. “Silakan.”
Namun Panjul tidak pernah benar-benar marah. Ia sudah memahami sifat Riko. Selama Riko masih memberitahu tempat barangnya, Panjul menganggapnya sebagai bagian dari permainan. Hari itu pun seharusnya berjalan seperti hari-hari lainnya. Sampai Pak Bagus datang membawa beberapa tumpukan buku.
“Anak-anak.”
Semua murid melihat ke depan. Pak Bagus meletakkan beberapa buku di atas meja.
“Buku tugas kalian yang sudah diperiksa ini harus saya bawa ke kantor.”
Panjul melihat tumpukan buku tersebut. “Banyak sekali, Pak.”
“Iya.”
Pak Bagus kemudian melihat ke arah Panjul dan Riko. “Kalian berdua bisa bantu Bapak membawanya?”
Panjul langsung berdiri. “Siap, Pak.”
Riko juga bangkit. “Bisa, Pak.”
Pak Bagus membagi tumpukan menjadi dua. Panjul membawa satu tumpukan. Riko membawa satu tumpukan lainnya. Tumpukannya cukup tinggi sampai hampir menutupi wajah mereka.
Panjul berjalan pelan. “Rik.”
“Apa?”
“Kamu masih bisa lihat?”
“Sedikit.”
“Aku nggak bisa.”
“Terus kenapa jalan?”
Panjul berhenti. “Oh iya.”
Riko tertawa. “Kalau kamu nabrak tembok, jangan salahkan tembok.”
Panjul menggeser sedikit tumpukan buku. “Nah, sekarang bisa.”
Mereka berjalan menuju kantor guru. Di tengah perjalanan, Riko sengaja berjalan lebih cepat.
Panjul mengejarnya.
“Jangan cepat-cepat!”
“Kenapa?”
“Berat!”
“Katanya kuat.”
“Aku kuat, tapi bukunya banyak!”
Mereka tertawa kecil. Sesampainya di kantor, Pak Bagus yang sudah lebih dulu tiba menunjuk meja.
“Taruh di sini.”
Panjul meletakkan tumpukannya. Riko juga.
“Sudah, Pak.”
“Terima kasih.”
Mereka kemudian kembali ke kelas. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang terasa berbeda. Namun Panjul tidak menyadari bahwa di atas tumpukan buku yang baru saja ia bawa… terdapat sebuah buku kecil miliknya.
Buku itu bukan buku pelajaran. Bukan pula buku tugas. Itu adalah buku catatan kecil yang selalu dibawa Panjul. Di dalamnya terdapat berbagai catatan. Cara belajar. Ide-ide. Pertanyaan. Beberapa tulisan aneh. Bahkan ada beberapa rencana yang kadang hanya dipahami oleh Panjul sendiri. Buku kecil itu sangat penting baginya.
Saat kembali ke kelas, Panjul membuka tas. Ia ingin mengambil buku kecil tersebut. Tangannya masuk ke dalam tas. Tidak ada. Ia mencari lagi. Tetap tidak ada. Panjul mulai mengeluarkan isi tas. Buku. Pensil. Penghapus. Penggaris. Kotak pensil. Semuanya diletakkan di atas meja. Tetapi buku kecil itu tidak ada. Panjul mengerutkan dahi. “Rik.”
Riko menoleh. “Apa?”
“Kamu lihat buku kecilku?”
“Buku apa?”
“Yang kecil.”
“Enggak.”
Panjul mencari di bawah meja. “Serius?”
“Iya.”
Panjul masih mencari. “Jangan bercanda.”
“Aku nggak bercanda.”
Riko mulai ikut memperhatikan. “Bukumu tadi dibawa?”
Panjul berhenti. Ia mencoba mengingat. Tadi pagi ia memang sempat membaca catatan kecil itu. Kemudian ia memasukkannya ke tumpukan buku yang ada di meja. Setelah itu… Panjul menatap Riko. “Kamu tadi bawa buku bareng aku.”
“Iya.”
“Berarti kamu tahu.”
“Tahu apa?”
“Buku itu.”
Riko mulai merasa tidak nyaman. “Aku nggak mengambil.”
Panjul masih memandangnya. “Tapi biasanya kamu suka iseng.”
Riko terdiam. Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi kali ini berbeda. Biasanya Panjul mengatakannya sambil tertawa. Kali ini Panjul benar-benar mencurigai Riko.
“Aku serius, Jul.”
“Aku juga serius.”
Riko berdiri. “Aku nggak ambil.”
Panjul mulai merasa kesal. “Kalau kamu ambil, bilang saja.”
Riko menggeleng. “Enggak.”
Panjul menghela napas. “Ya sudah.”
Riko memandangnya. “Ya sudah apa?”
“Kalau kamu memang nggak mau bilang.”
Riko semakin kesal. “Aku bilang aku nggak mengambil!”
Beberapa anak di kelas mulai memperhatikan. Suasana yang biasanya ramai perlahan menjadi lebih tenang. Panjul sebenarnya masih belum yakin. Namun karena selama ini Riko memang sering menyembunyikan barangnya, pikirannya langsung mengarah kepada satu orang. Riko.
“Biasanya kamu juga begitu.”
Riko menatap Panjul beberapa detik. Kemudian berkata pelan, “Tapi kali ini bukan aku.”
Panjul tidak menjawab. Riko akhirnya kembali ke tempat duduknya. Tidak ada lagi candaan. Tidak ada lagi tawa. Panjul juga duduk diam. Ia masih mencari buku kecilnya.
Ketika istirahat tiba, Riko keluar kelas tanpa mengajak Panjul. Biasanya mereka selalu bersama. Sekarang tidak. Danu yang baru selesai membaca catatan memperhatikan keduanya. Ia melihat Riko berjalan sendiri. Kemudian melihat Panjul yang masih membuka tas. Danu mendekat.
“Kalian kenapa?”
Panjul menjawab singkat. “Bukuku hilang.”
“Terus?”
“Riko mungkin mengambil.”
Danu mengerutkan dahi. “Yakin?”
Panjul diam. “Nggak tahu.”
Danu menggeleng. “Kalau nggak tahu, jangan langsung menuduh.”
Panjul menatapnya. “Aku cuma curiga.”
“Iya.”
Danu kembali ke tempat duduknya. Panjul terdiam. Ia mulai berpikir. Mungkin benar. Mungkin ia terlalu cepat menuduh. Namun di sisi lain, Riko memang sering melakukan hal semacam itu. Panjul menjadi bingung.
Sepanjang hari itu, hubungan mereka terasa aneh. Riko tidak mengganggu Panjul. Tidak mengambil pensilnya. Tidak menyembunyikan sepatunya. Tidak melontarkan candaan. Panjul juga tidak mengajak Riko berbicara. Padahal biasanya mereka selalu ribut. Pak Bagus yang sedang menjelaskan pelajaran bahkan sempat melihat keduanya. “Riko.”
“Iya, Pak?”
“Kenapa kamu diam?”
Riko menjawab, “Nggak apa-apa, Pak.”
Pak Bagus kemudian melihat Panjul. “Panjul?”
“Saya juga nggak apa-apa, Pak.”
Pak Bagus mengangkat alis. Dua anak yang biasanya paling ramai tiba-tiba sama-sama diam. Sebagai guru, Pak Bagus tentu merasa ada sesuatu. Namun ia belum mengetahui masalahnya.
Sepulang sekolah, Panjul kembali mencari bukunya. Ia membuka laci meja. Tidak ada. Mencari di rak. Tidak ada. Bahkan ia kembali ke tempat ia biasa duduk sebelum pelajaran. Tetap tidak ditemukan. Riko sudah pulang lebih dulu. Panjul berdiri sendirian di dalam kelas. Ia menatap kursi Riko. Untuk pertama kalinya, ia merasa suasana kelas begitu sepi. Padahal biasanya Riko selalu membuatnya kesal.
Panjul menghela napas. “Kenapa jadi begini…”
Ia memasukkan buku-bukunya ke tas. Kemudian pulang. Namun malam itu, pikirannya tidak tenang. Ia memikirkan buku kecilnya. Tetapi lebih dari itu… ia mulai memikirkan Riko.
Bagaimana kalau memang Riko tidak mengambilnya?
Panjul memandang langit-langit kamarnya. “Kalau bukan Riko…” Ia terdiam. “Lalu bukuku ada di mana?”
Di tempat lain, Riko juga sedang memikirkan kejadian yang sama. Ia merasa kesal. Bukan karena Panjul kehilangan buku. Tetapi karena Panjul tidak mempercayainya. Padahal selama ini, meskipun sering usil, Riko selalu menganggap Panjul sebagai sahabat dekatnya. Dan sekarang… mereka bahkan tidak saling berbicara.
Keesokan harinya mungkin keadaan akan menjadi lebih jelas. Atau justru semakin rumit. Karena sebuah buku kecil yang sebenarnya hanya tertinggal di tempat yang tidak mereka duga… telah membuat dua sahabat mulai saling menjauh.
Dan Pak Bagus mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres di antara mereka.
Bersambung ke Episode 35: Bukan Riko yang Menyembunyikannya
