kepalasekolah.id – Kisi-Kisi TKA SD 2027: Materi yang Perlu Dipersiapkan Guru dan Siswa. Bagi guru kelas 6 dan sekolah dasar, persiapan Tes Kemampuan Akademik atau TKA menjadi salah satu hal yang mulai perlu diperhatikan sejak awal tahun pelajaran. Setelah pelaksanaan TKA jenjang SD/MI/sederajat tahun 2026, guru memiliki pengalaman yang lebih konkret mengenai bentuk asesmen, karakteristik soal, serta kemampuan yang perlu diperkuat pada peserta didik.
Memasuki persiapan TKA SD 2027, salah satu informasi yang paling banyak dicari adalah kisi-kisi TKA SD 2027. Guru tentu ingin mengetahui materi apa saja yang kemungkinan perlu dipersiapkan agar kegiatan pembelajaran dan latihan dapat dilakukan secara terarah.
Namun, ada satu hal penting yang perlu diluruskan. Kisi-kisi atau ketentuan teknis TKA SD 2027 tidak boleh dianggap sudah resmi apabila belum diterbitkan oleh pemerintah. Sampai artikel ini disusun, laman resmi Pusat Asesmen Pendidikan masih menyediakan kerangka asesmen TKA jenjang SD/MI/sederajat sebagai dokumen rujukan, termasuk Kerangka Asesmen TKA SD/MI dan SMP/MTs.
Karena itu, guru dapat menggunakan kerangka asesmen yang sudah tersedia sebagai dasar persiapan, sambil tetap menunggu apabila terdapat pembaruan resmi untuk pelaksanaan TKA tahun 2027.
Apa yang Dimaksud dengan Kisi-Kisi TKA SD?
Dalam konteks asesmen, kisi-kisi bukan sekadar daftar bab yang harus dipelajari siswa.
Kerangka asesmen TKA memberikan gambaran mengenai materi, kompetensi, kemampuan berpikir, serta karakteristik soal yang menjadi dasar pengembangan instrumen. Pusat Asesmen Pendidikan menjelaskan bahwa kerangka asesmen berfungsi sebagai acuan untuk mengetahui materi atau kompetensi yang diukur, termasuk contoh soal yang dapat diakses masyarakat.
Dengan demikian, guru tidak sebaiknya memahami kisi-kisi hanya dengan cara:
“Materinya pecahan, berarti siswa cukup menghafal cara menghitung pecahan.”
Cara tersebut terlalu sederhana.
Jika suatu materi berada dalam kerangka TKA, guru perlu mempertimbangkan beberapa kemampuan sekaligus. Peserta didik mungkin harus memahami konsep, menerapkannya pada situasi tertentu, membaca informasi, memilih strategi, melakukan perhitungan, kemudian menentukan jawaban berdasarkan informasi yang tersedia.
Inilah alasan mengapa persiapan TKA perlu dilakukan melalui pembelajaran yang memperkuat pemahaman dan penalaran, bukan hanya latihan hafalan.
Mata Pelajaran dalam TKA SD
Berdasarkan informasi resmi Pusat Asesmen Pendidikan, mata pelajaran TKA untuk jenjang SD/MI/sederajat adalah:
- Bahasa Indonesia
- Matematika
Kedua mata pelajaran tersebut menjadi dasar penting bagi guru kelas 6 dalam menyusun program persiapan akademik.
Namun, persiapan tidak berarti seluruh kegiatan belajar harus berubah menjadi latihan TKA.
Bahasa Indonesia tetap diajarkan sebagai kemampuan berbahasa dan memahami informasi. Matematika tetap diajarkan sebagai kemampuan memahami konsep dan menyelesaikan persoalan matematika.
Latihan TKA kemudian digunakan untuk memperkuat kemampuan tersebut dalam bentuk soal yang terstandar.
Kisi-Kisi TKA SD Bahasa Indonesia
Pada TKA Bahasa Indonesia jenjang SD/MI/sederajat, membaca menjadi fokus utama. Kerangka asesmen yang diterbitkan Pusat Asesmen Pendidikan menggunakan dua jenis teks, yaitu teks informasi dan teks fiksi.
Hal ini memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai kemampuan yang perlu diperkuat guru.
1. Teks Informasi
Teks informasi merupakan teks yang menyampaikan fakta atau informasi mengenai berbagai bidang atau topik. Dalam kerangka asesmen TKA SD, teks informasi dapat berkaitan dengan konteks lokal maupun nasional.
Dalam pembelajaran, guru dapat memberikan berbagai bacaan seperti:
- lingkungan;
- kesehatan;
- hewan dan tumbuhan;
- teknologi sederhana;
- kegiatan masyarakat;
- pendidikan;
- budaya;
- kehidupan sehari-hari;
- informasi tentang lingkungan sekitar.
Setelah membaca, siswa tidak cukup hanya diminta menjawab pertanyaan yang jawabannya terdapat secara langsung di dalam teks.
Guru dapat memberikan pertanyaan bertingkat.
Misalnya:
Tingkat pertama: Apa kegiatan yang dilakukan tokoh?
Tingkat kedua: Mengapa kegiatan tersebut dilakukan?
Tingkat ketiga: Apa kesimpulan yang dapat dibuat berdasarkan bacaan?
Tingkat keempat: Pernyataan mana yang paling sesuai dengan informasi dalam teks?
Dengan pola seperti ini, kemampuan membaca siswa berkembang secara bertahap.
2. Teks Fiksi
Selain teks informasi, teks fiksi juga menjadi bagian dari TKA Bahasa Indonesia SD.
Kerangka asesmen menjelaskan karakteristik teks fiksi yang digunakan pada jenjang SD, antara lain dapat berupa cerita rekaan atau fantasi maupun cerita yang bersifat faktual seperti sejarah atau biografi dengan karakteristik tertentu yang sesuai untuk peserta didik.
Materi yang dapat dilatih guru antara lain:
- memahami isi cerita;
- menemukan informasi tersurat;
- menentukan tokoh;
- memahami karakter tokoh;
- menentukan latar;
- memahami urutan peristiwa;
- menentukan konflik;
- menemukan pesan atau amanat;
- membuat kesimpulan;
- memahami makna kata berdasarkan konteks;
- menilai tindakan tokoh;
- menghubungkan isi cerita dengan kehidupan sehari-hari.
Latihan seperti ini jauh lebih bermanfaat dibandingkan hanya meminta siswa membaca cerita kemudian menjawab lima pertanyaan faktual.
3. Kosakata dan Makna
Kemampuan memahami kata berdasarkan konteks juga penting.
Kerangka asesmen Bahasa Indonesia mencakup karakteristik kosakata seperti kata dasar, kata berimbuhan, kata konkret, serta makna denotatif dan konotatif.
Karena itu, guru dapat memberikan latihan berupa kalimat atau paragraf yang memuat kata tertentu.
Siswa kemudian diminta menentukan arti kata berdasarkan konteks, bukan hanya berdasarkan hafalan dari kamus.
4. Hubungan Antarbagian Teks
Peserta didik juga perlu dibiasakan memahami hubungan antarkalimat dan antarparagraf.
Latihan dapat berupa:
- menentukan hubungan sebab-akibat;
- menemukan hubungan penjelasan;
- menentukan kalimat yang sesuai;
- mengidentifikasi rujukan kata;
- mengurutkan informasi;
- menemukan hubungan antargagasan.
Keterampilan ini penting karena sebuah teks tidak selalu dapat dipahami hanya dengan membaca satu kalimat.
Kisi-Kisi TKA SD Matematika
Untuk Matematika SD, kerangka asesmen TKA mencakup tiga kelompok besar:
- Bilangan
- Geometri dan Pengukuran
- Data
Selain materi tersebut, kemampuan yang diukur tidak hanya berupa kemampuan menghitung. Kerangka asesmen juga mencakup pengetahuan matematika, representasi matematis, penalaran, pemecahan masalah matematis, dan koneksi matematis.
Inilah salah satu bagian yang perlu diperhatikan guru.
1. Bilangan
Materi bilangan mencakup bilangan rasional dan berbagai operasi yang relevan dengan kemampuan matematika SD.
Beberapa kemampuan yang perlu dipersiapkan antara lain:
- memahami pecahan senilai;
- membandingkan pecahan;
- mengurutkan pecahan;
- menghubungkan pecahan, desimal, dan persen;
- melakukan operasi bilangan cacah;
- melakukan operasi pecahan;
- memahami faktor dan kelipatan;
- menentukan FPB;
- menentukan KPK;
- menerapkan konsep bilangan pada masalah sehari-hari.
Guru perlu memperhatikan bahwa soal dapat mengubah konsep tersebut menjadi permasalahan kontekstual.
Sebagai contoh, siswa tidak hanya ditanya:
“Berapa hasil 3/4 + 1/2?”
Tetapi dapat diberikan situasi pembagian bahan makanan, panjang benda, jumlah barang, atau kegiatan sehari-hari yang membutuhkan operasi pecahan.
Dengan demikian, siswa harus memahami masalah sebelum melakukan perhitungan.
2. Geometri
Materi geometri mencakup bentuk bangun datar serta konstruksi bangun ruang dan visualisasi spasial.
Peserta didik perlu dibiasakan mengenali karakteristik berbagai bangun.
Materi latihan dapat meliputi:
- segitiga;
- segiempat;
- segibanyak;
- lingkaran;
- kubus;
- balok;
- gabungan bangun ruang;
- tampak depan;
- tampak atas;
- tampak samping.
Kemampuan visualisasi juga penting.
Misalnya, guru dapat memberikan gambar susunan beberapa kubus kemudian meminta siswa menentukan bentuk tampak depan atau banyak kubus yang digunakan.
Latihan semacam ini dapat membantu siswa memahami bahwa geometri bukan sekadar menghafal rumus.
3. Pengukuran
Bagian pengukuran memiliki cakupan yang cukup luas.
Materi yang perlu diperkuat meliputi:
- panjang;
- hubungan satuan panjang;
- volume;
- hubungan satuan volume;
- berat;
- hubungan satuan berat;
- waktu;
- hubungan satuan waktu;
- kecepatan;
- keliling;
- luas;
- volume bangun ruang;
- besar sudut;
- penaksiran ukuran.
Guru dapat mengemas materi tersebut dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Contohnya:
“Jarak rumah Andi ke sekolah adalah 1,5 km. Jika Andi telah berjalan 750 meter, berapa meter lagi jarak yang harus ditempuh?”
Soal seperti ini menguji lebih dari sekadar kemampuan mengubah satuan.
Siswa harus memahami informasi, menentukan operasi, dan menghubungkan satuan.
4. Data
Kelompok materi ketiga adalah data.
Peserta didik perlu memahami penyajian dan penggunaan data.
Materi yang dapat dipersiapkan meliputi:
- tabel;
- gambar;
- piktogram;
- diagram batang;
- tabel frekuensi;
- membaca data;
- membandingkan data;
- menarik informasi dari data;
- menggunakan data untuk menyelesaikan masalah.
Guru dapat mengambil data sederhana dari lingkungan sekolah.
Misalnya data jumlah siswa yang membawa bekal selama lima hari.
Data tersebut kemudian disajikan dalam tabel atau diagram batang.
Selanjutnya siswa diminta menentukan hari dengan jumlah terbanyak, selisih jumlah siswa, jumlah keseluruhan, atau pernyataan yang benar berdasarkan data.
Pendekatan ini sangat baik untuk membangun kemampuan membaca informasi matematis.
Jangan Hanya Mengajarkan Materi, Latih Kompetensinya
Salah satu hal yang paling penting dari kisi-kisi TKA adalah memahami perbedaan antara materi dan kompetensi.
Misalnya, seorang siswa dapat menghafal rumus luas persegi panjang.
Ketika diberikan panjang 10 cm dan lebar 5 cm, siswa langsung menjawab 50 cm².
Namun, bagaimana jika informasi diberikan dalam bentuk cerita?
Bagaimana jika ukuran menggunakan satuan berbeda?
Bagaimana jika gambar terdiri atas dua bangun?
Bagaimana jika siswa harus menentukan luas bagian yang diarsir?
Di sinilah kompetensi penalaran dan pemecahan masalah diperlukan.
Kerangka asesmen Matematika TKA memang tidak berhenti pada pengetahuan matematika. Kemampuan representasi, penalaran, pemecahan masalah, dan koneksi matematis juga menjadi bagian yang diukur.
Materi TKA SD Perlu Diajarkan dalam Konteks
Guru dapat menggunakan dua jenis konteks ketika membuat latihan.
Konteks matematika
Soal langsung berhubungan dengan konsep matematika.
Contohnya:
Sebuah persegi panjang memiliki panjang 15 cm dan lebar 8 cm. Tentukan luasnya.
Konteks kehidupan sehari-hari
Konsep matematika ditempatkan dalam situasi nyata.
Contohnya:
Pak Budi memiliki sebidang tanah berbentuk persegi panjang. Tanah tersebut akan digunakan untuk membuat kebun sayur. Panjang tanah 15 meter dan lebarnya 8 meter. Berapa luas tanah yang dapat digunakan untuk kebun?
Kedua bentuk soal tersebut sama-sama penting.
Namun, soal kontekstual meminta siswa menerjemahkan situasi ke dalam model matematika sebelum menyelesaikannya.
Bentuk Soal Juga Perlu Diperhatikan
Persiapan TKA SD tidak cukup hanya dengan latihan pilihan ganda biasa.
Informasi resmi TKA menjelaskan adanya bentuk pilihan ganda biasa dan pilihan ganda kompleks, dengan pilihan ganda kompleks memungkinkan lebih dari satu jawaban benar.
Dalam kerangka asesmen yang dibahas Pusat Asesmen Pendidikan, terdapat pula bentuk pilihan ganda kompleks kategori pada pengembangan soal TKA SD, misalnya pernyataan yang harus direspons dengan kategori tertentu.
Oleh sebab itu, guru perlu melatih siswa membaca instruksi dengan teliti.
Kesalahan memahami perintah dapat menyebabkan jawaban salah meskipun siswa sebenarnya memahami materi.
Apakah Kisi-Kisi TKA SD 2027 Akan Sama dengan 2026?
Pertanyaan ini cukup sering muncul.
Jawaban yang paling aman adalah: belum dapat dipastikan sebelum ada ketentuan resmi untuk TKA 2027.
Guru dapat menggunakan kerangka asesmen yang sudah tersedia sebagai dasar persiapan. Namun, apabila Kemendikdasmen menerbitkan regulasi, pedoman, atau kerangka asesmen terbaru untuk TKA 2027, maka informasi terbaru tersebut harus menjadi acuan utama.
Karena itu, artikel mengenai kisi-kisi TKA SD 2027 sebaiknya tidak menyatakan bahwa seluruh materi di atas merupakan kisi-kisi resmi 2027.
Istilah yang lebih tepat adalah materi yang perlu dipersiapkan berdasarkan kerangka asesmen TKA SD yang telah tersedia.
Pendekatan tersebut membuat guru dapat memulai persiapan tanpa menyebarkan informasi yang belum resmi.
Prioritas Materi untuk Guru Kelas 6
Jika guru ingin membuat program persiapan secara bertahap, materi dapat dikelompokkan menjadi beberapa prioritas.
Bahasa Indonesia
Prioritas latihan:
- memahami teks informasi;
- memahami teks fiksi;
- menemukan informasi tersurat;
- menarik kesimpulan;
- memahami makna kata berdasarkan konteks;
- memahami hubungan antargagasan;
- menganalisis tokoh dan peristiwa;
- menentukan pesan atau amanat;
- mengevaluasi isi bacaan;
- menghubungkan informasi dengan situasi kehidupan.
Matematika
Prioritas latihan:
- bilangan dan operasi;
- pecahan, desimal, dan persen;
- KPK dan FPB;
- geometri;
- pengukuran;
- keliling dan luas;
- volume;
- waktu dan kecepatan;
- sudut;
- penyajian dan interpretasi data;
- representasi matematis;
- penalaran;
- pemecahan masalah;
- koneksi matematis.
Daftar tersebut dapat dijadikan dasar untuk menyusun program latihan kelas 6.
Cara Membuat Program Latihan TKA Berdasarkan Kisi-Kisi
Guru tidak harus memberikan seluruh materi sekaligus.
Program dapat dilakukan secara bertahap.
Pada tahap pertama, lakukan pemetaan kemampuan siswa.
Berikan beberapa soal Bahasa Indonesia dan Matematika yang mewakili materi utama.
Kemudian catat kemampuan yang masih rendah.
Misalnya:
Bahasa Indonesia: siswa mampu menemukan informasi tersurat, tetapi masih kesulitan membuat kesimpulan.
Matematika: siswa mampu melakukan operasi pecahan, tetapi kesulitan ketika pecahan disajikan dalam cerita.
Informasi tersebut jauh lebih berguna dibandingkan sekadar mengetahui bahwa siswa mendapat nilai 60 atau 70.
Pada tahap kedua, lakukan penguatan.
Jika siswa kesulitan menyimpulkan bacaan, guru memberikan lebih banyak latihan membaca dan menyimpulkan.
Jika siswa kesulitan menyelesaikan soal pecahan kontekstual, guru memberikan pembelajaran menggunakan benda nyata, gambar, model matematika, kemudian soal cerita.
Pada tahap ketiga, lakukan latihan terpadu.
Guru mulai mencampurkan berbagai materi dalam satu latihan agar siswa terbiasa berpindah dari satu jenis persoalan ke persoalan lainnya.
Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Menggunakan Kisi-Kisi
Ada beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari.
Pertama, menganggap kisi-kisi sebagai daftar soal yang pasti keluar.
Kisi-kisi atau kerangka asesmen bukan kumpulan soal yang akan muncul satu per satu.
Kedua, hanya mengajarkan rumus.
Rumus memang penting, tetapi siswa perlu memahami kapan dan bagaimana rumus digunakan.
Ketiga, terlalu banyak memberikan soal tanpa pembahasan.
Pembahasan justru menjadi bagian penting dari proses belajar.
Keempat, mengabaikan kemampuan membaca.
Soal Matematika pun dapat membutuhkan kemampuan memahami informasi yang panjang.
Kelima, hanya berlatih menjelang pelaksanaan TKA.
Kemampuan membaca dan bernalar dibangun melalui proses yang berkelanjutan.
Kisi-Kisi TKA Sebagai Peta Pembelajaran
Pada akhirnya, guru dapat memandang kisi-kisi TKA sebagai sebuah peta pembelajaran, bukan sebagai daftar materi untuk dikejar menjelang ujian.
Untuk Bahasa Indonesia, guru dapat memusatkan perhatian pada kemampuan memahami berbagai jenis teks.
Untuk Matematika, guru dapat memperkuat bilangan, geometri dan pengukuran, serta data.
Namun di atas semua itu, guru perlu membangun kemampuan memahami informasi, menerapkan konsep, bernalar, dan menyelesaikan masalah.
Kerangka asesmen TKA memang dirancang sebagai acuan dalam pengembangan instrumen yang mengukur materi dan kompetensi secara sistematis.
Penutup
Kisi-kisi TKA SD 2027 menjadi informasi yang penting bagi guru kelas 6. Namun, guru perlu membedakan antara kisi-kisi resmi TKA 2027 dengan materi yang dapat dipersiapkan berdasarkan kerangka asesmen TKA yang telah tersedia.
Berdasarkan kerangka asesmen yang menjadi rujukan TKA SD, mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa Indonesia dan Matematika. Bahasa Indonesia berfokus pada kemampuan membaca teks informasi dan teks fiksi, sedangkan Matematika mencakup bilangan, geometri dan pengukuran, serta data.
Yang tidak kalah penting, guru perlu mempersiapkan kemampuan di balik materi tersebut. Siswa tidak cukup hanya mengetahui rumus, menghafal definisi, atau menemukan jawaban yang tertulis secara langsung dalam bacaan.
Siswa perlu dibiasakan memahami informasi, menghubungkan konsep, menggunakan representasi, bernalar, dan menyelesaikan masalah.
Karena itu, persiapan TKA SD 2027 sebaiknya dimulai dari pembelajaran sehari-hari. Semakin kuat budaya membaca, pemahaman konsep, kemampuan bernalar, dan pemecahan masalah yang dibangun guru, semakin siap pula peserta didik menghadapi berbagai bentuk asesmen yang mungkin mereka temui.
Guru juga perlu terus memantau informasi resmi dari Kemendikdasmen dan Pusat Asesmen Pendidikan. Apabila nantinya diterbitkan kerangka, pedoman, jadwal, atau petunjuk teknis TKA SD 2027 yang baru, informasi tersebut perlu dijadikan rujukan utama dan disesuaikan dengan program persiapan di sekolah.