kepalasekolah.id – Strategi Guru Mempersiapkan Siswa Menghadapi TKA SD. Tes Kemampuan Akademik atau TKA menjadi salah satu perhatian penting bagi guru sekolah dasar, khususnya guru kelas 6. Setelah pelaksanaan TKA jenjang SD/MI pada tahun 2026, guru perlu mulai memikirkan strategi pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penyelesaian materi, tetapi juga membantu siswa memahami konsep, membaca informasi, bernalar, dan menyelesaikan masalah.
Kemendikdasmen menjelaskan bahwa TKA dirancang untuk memperoleh informasi capaian akademik murid yang terstandar. TKA juga memiliki tujuan untuk memberikan informasi mengenai kekuatan dan kelemahan akademik murid serta mendorong peningkatan kapasitas pendidik dalam mengembangkan penilaian yang berkualitas.
Untuk jenjang SD/MI/sederajat, mata pelajaran yang menjadi bagian TKA adalah Bahasa Indonesia dan Matematika. Bahasa Indonesia berkaitan erat dengan kemampuan literasi, sedangkan Matematika mengukur kemampuan numerasi dan penerapan pengetahuan matematika dalam pemecahan masalah.
Namun, guru sebaiknya tidak menjadikan TKA sebagai alasan untuk mengubah pembelajaran menjadi kegiatan latihan soal secara terus-menerus. Persiapan yang baik justru perlu dilakukan melalui pembelajaran rutin yang bermakna, penguatan konsep, latihan bernalar, dan pembiasaan menghadapi berbagai bentuk informasi.
Perlu diperhatikan bahwa ketentuan khusus TKA SD tahun 2027 harus tetap menunggu dokumen resmi pemerintah apabila terdapat perubahan atau penyesuaian. Oleh karena itu, strategi dalam artikel ini menggunakan kerangka dan pengalaman pelaksanaan TKA SD yang sudah tersedia sebagai dasar persiapan, bukan sebagai pengganti petunjuk resmi TKA 2027.
Mengapa Guru Perlu Menyiapkan Strategi Sejak Awal?
Persiapan TKA tidak ideal jika baru dilakukan beberapa minggu sebelum pelaksanaan. Siswa membutuhkan waktu untuk membangun kemampuan membaca, memahami informasi, melakukan perhitungan, menghubungkan konsep, dan menyelesaikan persoalan secara bertahap.
TKA juga bukan sekadar menguji apakah siswa hafal rumus atau dapat mengingat suatu informasi. Dalam kerangka TKA Matematika SD, misalnya, kemampuan siswa dikaitkan dengan pengetahuan matematika dan penerapannya dalam konteks permasalahan matematika maupun kehidupan sehari-hari. Materinya mencakup Bilangan, Geometri dan Pengukuran, serta Data.
Artinya, strategi guru perlu diarahkan pada pertanyaan yang lebih penting:
Apakah siswa benar-benar memahami apa yang dibaca?
Apakah siswa dapat memilih informasi yang relevan?
Apakah siswa mampu menjelaskan alasan dari jawabannya?
Apakah siswa dapat menggunakan konsep yang dipelajari untuk menyelesaikan masalah baru?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar mengejar jumlah soal yang berhasil dikerjakan.
1. Mulai dengan Pemetaan Kemampuan Siswa
Langkah pertama yang dapat dilakukan guru adalah melakukan pemetaan kemampuan.
Pemetaan tidak harus berupa tes yang sangat panjang. Guru dapat menggunakan beberapa soal diagnostik yang mewakili kemampuan dasar Bahasa Indonesia dan Matematika.
Untuk Bahasa Indonesia, guru dapat memetakan kemampuan siswa dalam:
- menemukan informasi tersurat;
- menentukan ide pokok;
- memahami makna kata berdasarkan konteks;
- menghubungkan informasi antarkalimat;
- menarik kesimpulan;
- memahami informasi dari teks;
- memberikan penilaian terhadap isi bacaan.
Sementara itu, untuk Matematika, pemetaan dapat mencakup:
- operasi bilangan;
- pecahan dan desimal;
- perbandingan;
- pengukuran;
- bangun datar dan bangun ruang;
- membaca tabel atau data;
- pemecahan masalah;
- penalaran matematika.
Hasil pemetaan jangan hanya digunakan untuk memberikan nilai. Guru perlu mengelompokkan kesulitan siswa.
Misalnya, ada siswa yang sebenarnya mampu menghitung tetapi kesulitan memahami soal cerita. Ada pula siswa yang mampu membaca teks, tetapi kesulitan menarik kesimpulan. Ada siswa yang memahami konsep, tetapi kurang teliti membaca data.
Dengan mengetahui jenis kesulitan tersebut, strategi pembelajaran dapat menjadi lebih tepat sasaran.
2. Perkuat Literasi dalam Pembelajaran Sehari-hari
Persiapan TKA Bahasa Indonesia tidak harus selalu dilakukan melalui latihan soal TKA.
Literasi dapat dibangun melalui hampir semua mata pelajaran.
Ketika belajar IPAS, misalnya, siswa dapat diberikan teks pendek mengenai lingkungan kemudian diminta menemukan informasi penting.
Ketika belajar Pendidikan Pancasila, siswa dapat membaca sebuah kasus sederhana kemudian menjelaskan nilai yang terdapat di dalamnya.
Dalam pembelajaran Matematika, siswa dapat membaca soal cerita dengan teliti sebelum melakukan perhitungan.
Kebiasaan tersebut membuat siswa terbiasa berhadapan dengan informasi.
Guru juga dapat menerapkan kegiatan sederhana seperti “baca–pahami–jelaskan”.
Siswa membaca sebuah teks, memahami isinya, kemudian menjelaskan kembali menggunakan bahasa sendiri.
Kegiatan ini sangat bermanfaat karena siswa tidak hanya mencari jawaban, tetapi belajar membangun pemahaman.
3. Biasakan Siswa Membaca Soal Sampai Tuntas
Salah satu kesalahan siswa ketika mengerjakan soal adalah terburu-buru melihat pilihan jawaban.
Padahal, persoalan yang diberikan dapat mengandung informasi penting yang menentukan jawaban.
Guru dapat membiasakan siswa menggunakan tiga pertanyaan sederhana:
Apa yang diketahui?
Apa yang ditanyakan?
Informasi apa yang diperlukan untuk menjawab?
Kebiasaan tersebut terutama bermanfaat dalam soal Matematika berbentuk masalah.
Misalnya, sebuah soal menceritakan kegiatan belanja, perjalanan, pembagian makanan, penggunaan air, atau pengukuran suatu benda. Siswa tidak langsung diarahkan mencari operasi hitung, tetapi terlebih dahulu memahami situasi yang diberikan.
Dengan demikian, siswa belajar bahwa matematika bukan hanya menghitung, tetapi juga memahami persoalan.
4. Gunakan Soal Kontekstual
Strategi berikutnya adalah memperbanyak soal yang dekat dengan kehidupan siswa.
Soal kontekstual dapat menggunakan situasi seperti:
- kegiatan di rumah;
- lingkungan sekolah;
- perjalanan;
- kegiatan olahraga;
- jadwal harian;
- penggunaan uang;
- pengukuran;
- data jumlah siswa;
- tabel hasil pengamatan;
- kegiatan menjaga lingkungan.
Soal seperti ini membuat siswa memahami bahwa pengetahuan yang dipelajari di sekolah dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan sehari-hari.
Kerangka TKA Matematika SD sendiri menempatkan permasalahan dalam konteks matematika dan kehidupan sehari-hari sebagai bagian dari pengukuran kemampuan matematis siswa.
5. Ajarkan Siswa Menjelaskan Alasan Jawaban
Guru perlu mengubah kebiasaan dari “jawabannya apa?” menjadi “mengapa jawabannya demikian?”
Misalnya setelah siswa memilih jawaban, guru dapat bertanya:
“Informasi mana yang kamu gunakan?”
“Bagaimana cara kamu mendapatkan jawaban itu?”
“Mengapa pilihan lain tidak tepat?”
“Ada cara lain untuk menyelesaikan masalah tersebut?”
Pertanyaan seperti ini membantu mengembangkan penalaran.
Bahkan jika jawaban siswa salah, guru tidak harus langsung memberikan jawaban benar. Kesalahan dapat digunakan sebagai bahan untuk mengetahui proses berpikir siswa.
Dengan cara tersebut, guru memperoleh informasi yang lebih bermakna mengenai kemampuan peserta didik.
6. Lakukan Latihan Soal Secara Bertahap
Latihan soal tetap diperlukan. Namun, latihan sebaiknya dilakukan secara bertahap dan terencana.
Pada tahap awal, guru dapat menggunakan soal dengan tingkat kesulitan dasar untuk memastikan konsep sudah dipahami.
Setelah itu, tingkat kesulitan dapat ditingkatkan menjadi soal yang membutuhkan beberapa langkah penyelesaian.
Tahapan sederhana yang dapat digunakan adalah:
Tahap 1: memahami konsep.
Tahap 2: menerapkan konsep pada soal rutin.
Tahap 3: menerapkan konsep pada situasi berbeda.
Tahap 4: menyelesaikan masalah yang membutuhkan penalaran.
Tahap 5: mengerjakan soal dengan stimulus yang lebih kompleks.
Dengan pola tersebut, siswa tidak langsung dihadapkan pada soal sulit.
7. Jangan Mengabaikan Kemampuan Dasar
Ada kecenderungan ketika membahas TKA, guru langsung berfokus pada soal sulit atau HOTS.
Padahal, kemampuan dasar tetap menjadi fondasi.
Siswa yang belum menguasai operasi hitung dasar akan kesulitan menyelesaikan persoalan matematika yang lebih kompleks.
Demikian juga siswa yang belum terbiasa memahami kalimat sederhana akan mengalami kesulitan ketika harus menarik kesimpulan dari teks yang lebih panjang.
Karena itu, guru perlu memastikan kemampuan dasar tetap kuat.
Dalam Matematika, misalnya, kemampuan bilangan perlu terus diperkuat karena Bilangan merupakan salah satu elemen materi TKA Matematika SD.
8. Buat Latihan TKA Menjadi Bagian dari Pembelajaran
Persiapan TKA tidak harus selalu berupa sesi khusus.
Guru dapat memasukkan latihan singkat ke dalam pembelajaran reguler.
Contohnya, sebelum pelajaran dimulai, guru memberikan satu soal literasi selama lima menit.
Pada pembelajaran Matematika, guru dapat memberikan satu masalah kontekstual untuk didiskusikan bersama.
Pada akhir pembelajaran, siswa dapat diberikan satu pertanyaan reflektif:
“Apa informasi terpenting yang kamu pelajari hari ini?”
Cara ini lebih ringan daripada memberikan puluhan soal setiap hari.
Selain tidak terlalu membebani siswa, kegiatan tersebut membantu membangun kebiasaan berpikir secara konsisten.
9. Gunakan Hasil Latihan untuk Remedial
Latihan soal tidak akan banyak manfaatnya jika hanya berakhir pada pemberian skor.
Guru perlu menganalisis hasilnya.
Misalnya dari 20 soal Matematika, banyak siswa salah pada materi pecahan. Guru dapat menjadikan hasil tersebut sebagai bahan pembelajaran berikutnya.
Jika sebagian besar siswa salah memahami tabel, maka guru dapat memberikan latihan membaca dan menganalisis data.
Jika siswa sering salah menjawab teks karena gagal menemukan informasi penting, guru dapat memberikan latihan membaca dengan teknik penandaan informasi.
Dengan demikian, latihan soal berfungsi sebagai alat diagnosis.
10. Ajarkan Strategi Mengelola Waktu
Kemampuan mengerjakan soal juga berkaitan dengan pengelolaan waktu.
Siswa perlu dilatih agar tidak menghabiskan terlalu banyak waktu pada satu soal.
Guru dapat mengenalkan strategi sederhana:
- membaca soal dengan teliti;
- mengidentifikasi apa yang ditanyakan;
- mengerjakan soal yang dianggap mudah terlebih dahulu;
- menandai soal yang membutuhkan waktu lebih panjang;
- kembali ke soal yang belum selesai;
- memeriksa jawaban sebelum waktu berakhir.
Latihan ini sebaiknya dilakukan secara bertahap agar siswa tidak merasa sedang menghadapi tekanan ujian.
11. Bangun Kepercayaan Diri Siswa
Persiapan TKA tidak hanya menyangkut kemampuan akademik.
Guru juga perlu memperhatikan kondisi psikologis siswa.
Kemendikdasmen pernah menekankan pendekatan yang humanis dalam implementasi TKA serta pentingnya sinergi sekolah dan keluarga dalam membangun kesiapan mental siswa. Guru juga memiliki peran bukan hanya sebagai penyampai materi, tetapi sebagai penguat karakter dan motivasi belajar.
Karena itu, guru sebaiknya menghindari kalimat yang membuat siswa merasa TKA adalah sesuatu yang menakutkan.
Daripada mengatakan:
“Kalian harus mendapatkan nilai tinggi.”
lebih baik mengatakan:
“Mari kita belajar agar kalian semakin memahami kemampuan sendiri.”
Perubahan cara berkomunikasi tersebut dapat membuat siswa lebih tenang.
12. Libatkan Orang Tua secara Proporsional
Persiapan TKA juga dapat melibatkan orang tua.
Namun, orang tua tidak harus memberikan latihan soal secara berlebihan.
Peran yang lebih penting adalah menciptakan lingkungan belajar yang nyaman di rumah.
Orang tua dapat membantu dengan:
- menyediakan waktu membaca;
- mengajak anak berdiskusi;
- menanyakan apa yang dipelajari di sekolah;
- membiasakan anak menyelesaikan tugas secara mandiri;
- menjaga waktu tidur;
- memberikan dukungan ketika anak mengalami kesulitan.
Sekolah dan keluarga sebaiknya memiliki pemahaman yang sama bahwa persiapan TKA bukan sekadar mengejar nilai.
13. Gunakan Simulasi Secara Berkala
Simulasi dapat dilakukan setelah siswa memperoleh cukup latihan.
Tujuan simulasi bukan untuk menakut-nakuti siswa, tetapi untuk mengetahui sejauh mana kesiapan mereka.
Simulasi dapat digunakan untuk mengevaluasi:
- pemahaman materi;
- kemampuan membaca stimulus;
- ketelitian;
- kecepatan;
- pengelolaan waktu;
- kemampuan memahami instruksi.
Setelah simulasi, guru sebaiknya melakukan pembahasan.
Kesalahan siswa perlu dikategorikan berdasarkan penyebabnya, bukan hanya dihitung jumlahnya.
14. Buat Program Persiapan yang Realistis
Guru tidak perlu membuat program yang terlalu berat.
Contoh pola sederhana yang dapat diterapkan:
Senin: literasi Bahasa Indonesia.
Selasa: numerasi dan Bilangan.
Rabu: membaca teks dan menarik kesimpulan.
Kamis: Geometri, Pengukuran, atau Data.
Jumat: latihan campuran dan refleksi.
Program tersebut dapat disesuaikan dengan jadwal sekolah.
Yang paling penting adalah konsistensi.
Lima sampai sepuluh menit latihan bermakna yang dilakukan secara rutin dapat lebih bermanfaat daripada latihan dalam jumlah sangat banyak tetapi hanya dilakukan sesekali.
15. Hindari Pembelajaran yang Hanya Berorientasi pada TKA
Guru perlu berhati-hati agar persiapan TKA tidak menggeser tujuan pembelajaran secara keseluruhan.
TKA memang penting, tetapi siswa tetap membutuhkan pengalaman belajar yang luas.
Mereka perlu berdiskusi, melakukan pengamatan, bekerja sama, membaca, menulis, bereksperimen, memecahkan masalah, dan mengembangkan karakter.
TKA sebaiknya dipandang sebagai salah satu bagian dari proses pendidikan, bukan satu-satunya tujuan pendidikan.
Strategi Sederhana yang Bisa Langsung Diterapkan Guru
Jika guru ingin memulai persiapan TKA SD 2027, berikut pola yang dapat digunakan.
Pertama, lakukan asesmen diagnostik.
Cari tahu kemampuan awal siswa.
Kedua, kelompokkan kesulitan.
Jangan hanya mencatat skor benar dan salah, tetapi cari tahu penyebab kesalahan.
Ketiga, perkuat konsep dasar.
Pastikan siswa memiliki fondasi literasi dan numerasi yang cukup.
Keempat, gunakan soal kontekstual.
Hubungkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari.
Kelima, latih penalaran.
Biasakan siswa menjelaskan alasan jawaban.
Keenam, lakukan latihan secara rutin.
Tidak perlu selalu dalam jumlah banyak.
Ketujuh, lakukan evaluasi.
Gunakan hasil latihan untuk menentukan pembelajaran berikutnya.
Kedelapan, lakukan simulasi secara berkala.
Simulasi digunakan untuk mengetahui perkembangan kesiapan siswa.
Kesembilan, berikan dukungan psikologis.
Bangun kepercayaan diri dan hindari tekanan berlebihan.
Kesepuluh, pantau informasi resmi.
Ketika pemerintah menerbitkan ketentuan TKA SD tahun 2027, guru perlu menyesuaikan strategi dengan dokumen terbaru.
Kesimpulan
Strategi guru mempersiapkan siswa menghadapi TKA SD sebaiknya tidak dimulai dengan memperbanyak latihan soal, tetapi dengan memahami kemampuan siswa dan memperkuat proses belajar.
Guru dapat memulai dari pemetaan kemampuan, penguatan literasi dan numerasi, pembiasaan membaca soal, penggunaan masalah kontekstual, latihan penalaran, analisis kesalahan, hingga simulasi secara bertahap.
Untuk jenjang SD, Bahasa Indonesia dan Matematika menjadi bagian penting dalam TKA. Kerangka yang tersedia menunjukkan bahwa kemampuan yang diukur tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi, tetapi juga kemampuan menggunakan pengetahuan dalam memahami informasi dan menyelesaikan masalah.
Pengalaman pelaksanaan TKA SD/MI tahun 2026 juga menunjukkan bahwa TKA telah menjadi bagian nyata dari sistem asesmen pendidikan. Kemendikdasmen melaporkan hasil TKA 2026 secara nasional dan menyebutkan bahwa data hasil TKA dapat memberikan gambaran capaian akademik hingga berbagai tingkat satuan pendidikan.
Karena itu, guru SD dapat mulai mempersiapkan siswa sejak sekarang melalui pembelajaran yang terencana, bertahap, dan menyenangkan.
Yang paling penting, persiapan TKA jangan sampai membuat siswa kehilangan kegembiraan dalam belajar. Siswa yang terbiasa membaca, memahami, bernalar, mencoba, dan memperbaiki kesalahan akan memiliki bekal yang lebih kuat ketika menghadapi berbagai bentuk asesmen.