Cara Guru SD Mengajar Bahasa Inggris Jika Bukan Lulusan Bahasa Inggris: Panduan Praktis

kepalasekolah.id – Cara Guru SD Mengajar Bahasa Inggris Jika Bukan Lulusan Bahasa Inggris: Panduan Praktis. Pertanyaan ini semakin sering muncul di kalangan guru sekolah dasar menjelang penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib mulai tahun ajaran 2027/2028.

Tidak sedikit guru kelas yang merasa khawatir karena latar belakang pendidikannya bukan Bahasa Inggris. Ada yang merasa kemampuan kosakatanya masih terbatas, kurang percaya diri berbicara, belum memahami pronunciation dengan baik, atau masih bingung bagaimana mengajarkan Bahasa Inggris kepada anak-anak.

Kekhawatiran tersebut sebenarnya sangat wajar.

Namun, guru tidak perlu langsung merasa bahwa dirinya tidak mampu. Pemerintah sendiri telah menyiapkan program penguatan kompetensi guru melalui Program Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Mengajar Bahasa Inggris atau PKGSD-MBI. Program ini secara khusus dirancang untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris sekaligus kemampuan pedagogik guru SD dalam mengajarkan Bahasa Inggris.

Artinya, persiapan guru tidak dilakukan dengan prinsip “guru harus sudah mahir sejak awal”, tetapi melalui proses pengembangan kompetensi secara bertahap.

Bahasa Inggris Wajib SD Mulai Tahun 2027/2028

Berdasarkan kebijakan yang tercantum dalam Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, Bahasa Inggris di SD/MI menjadi mata pelajaran pilihan yang dapat diselenggarakan berdasarkan kesiapan satuan pendidikan sampai tahun ajaran 2026/2027 dan kemudian beralih menjadi mata pelajaran wajib pada tahun ajaran 2027/2028. Pemerintah juga bertanggung jawab mendukung masa transisi melalui pelatihan bagi guru yang akan mengajar Bahasa Inggris.

Perubahan tersebut membuat kesiapan guru menjadi salah satu bagian penting dalam persiapan sekolah.

Menariknya, pemerintah tidak hanya menyediakan pelatihan tatap muka. Pada Agustus 2026, Kemendikdasmen juga membuka pelatihan mandiri PKGSD-MBI melalui Ruang GTK agar guru dapat belajar secara fleksibel sesuai kondisi masing-masing.

Jadi, bagi guru yang bukan lulusan Bahasa Inggris, masa sekarang justru merupakan kesempatan untuk mulai mempersiapkan diri.

Tidak Harus Langsung Menjadi Guru Bahasa Inggris yang Sempurna

Salah satu kesalahan dalam mempersiapkan diri adalah menetapkan target yang terlalu tinggi.

Guru mungkin berpikir:

“Saya harus bisa grammar semuanya.”

“Saya harus bisa berbicara seperti orang asing.”

“Saya harus hafal ribuan kosakata.”

Padahal, untuk memulai pembelajaran Bahasa Inggris SD, guru dapat membangun kompetensi secara bertahap.

Yang lebih penting adalah guru:

  • memahami tujuan pembelajaran;
  • menguasai materi yang akan diajarkan;
  • memiliki kosakata yang sesuai dengan kelas;
  • mampu memberikan contoh pengucapan;
  • dapat menggunakan classroom English sederhana;
  • mampu menciptakan aktivitas komunikasi;
  • memahami karakteristik murid SD;
  • mampu melakukan asesmen;
  • mau terus belajar dan memperbaiki praktik pembelajaran.

Dengan demikian, fokus persiapan bukan sekadar “bisa Bahasa Inggris”, tetapi bisa mengajarkan Bahasa Inggris kepada anak SD.

Guru SD Memiliki Modal Pedagogik yang Sangat Penting

Guru kelas yang sudah lama mengajar sebenarnya memiliki modal yang sangat besar.

Guru SD umumnya sudah memahami:

  • karakteristik anak;
  • pengelolaan kelas;
  • perencanaan pembelajaran;
  • asesmen;
  • komunikasi dengan orang tua;
  • pengelolaan aktivitas kelompok;
  • penggunaan media pembelajaran;
  • pembelajaran berdiferensiasi sesuai kebutuhan murid;
  • cara memberikan motivasi kepada anak.

Semua kemampuan tersebut sangat dibutuhkan dalam pembelajaran Bahasa Inggris.

Jadi, guru tidak memulai dari nol.

Yang perlu diperkuat adalah kemampuan Bahasa Inggris dan pedagogi khusus pembelajaran Bahasa Inggris.

Hal tersebut juga menjadi tujuan PKGSD-MBI. Program pemerintah tersebut memang diarahkan untuk meningkatkan kemahiran berbahasa Inggris guru SD sekaligus kemampuan pedagogiknya dalam mengajar Bahasa Inggris.

Mulai dari Bahasa Inggris yang Digunakan di Kelas

Guru tidak perlu langsung mempelajari grammar yang kompleks.

Langkah pertama yang sangat praktis adalah mempelajari classroom English.

Classroom English adalah ungkapan Bahasa Inggris yang digunakan guru dalam aktivitas pembelajaran sehari-hari.

Contohnya:

Pembukaan

Good morning, everyone.

How are you today?

Are you ready to learn?

Memberikan instruksi

Open your book.

Close your book.

Listen carefully.

Repeat after me.

Work with your partner.

Raise your hand.

Memberikan pujian

Good job!

Excellent!

Very good!

Well done!

Mengakhiri pembelajaran

What did you learn today?

Do you have any questions?

See you next time.

Jika guru menguasai 20–30 ungkapan sederhana seperti ini, suasana pembelajaran sudah dapat mulai dibangun menggunakan Bahasa Inggris.

Jangan Takut Salah Pronunciation

Guru yang bukan lulusan Bahasa Inggris mungkin merasa takut salah mengucapkan kata.

Solusinya bukan menghindari Bahasa Inggris, tetapi belajar pronunciation secara bertahap.

Guru dapat membuat daftar kosakata berdasarkan materi yang akan diajarkan.

Misalnya topik My Classroom:

  • book;
  • pencil;
  • ruler;
  • eraser;
  • chair;
  • table;
  • board;
  • bag;
  • door;
  • window.

Sebelum pembelajaran, guru mempelajari pengucapan kata-kata tersebut.

Dengan demikian, guru tidak perlu mempelajari seluruh kosakata Bahasa Inggris sekaligus.

Pelajari apa yang akan digunakan di kelas.

Cara ini jauh lebih realistis.

Gunakan Prinsip “Learn Before Teach”

Guru dapat membuat kebiasaan sederhana.

Sebelum mengajar, luangkan waktu sekitar 15–20 menit untuk mempelajari materi Bahasa Inggris yang akan digunakan.

Misalnya besok mengajar topik Daily Activities.

Guru mempersiapkan:

Kosakata

  • wake up;
  • take a bath;
  • have breakfast;
  • go to school;
  • study;
  • play;
  • go home;
  • go to bed.

Kalimat

I wake up at six o’clock.

I go to school at seven o’clock.

I go to bed at nine o’clock.

Pertanyaan

What time do you wake up?

Dengan persiapan seperti ini, guru akan lebih percaya diri ketika masuk kelas.

Jangan Mengajarkan Terlalu Banyak Materi Sekaligus

Kesalahan yang sering terjadi adalah guru ingin menyelesaikan terlalu banyak kosakata dalam satu pertemuan.

Misalnya dalam satu pertemuan langsung mengajarkan 30–50 kosakata.

Untuk anak SD, pendekatan seperti itu justru dapat membuat pembelajaran berat.

Lebih baik memilih beberapa kosakata utama.

Contohnya untuk topik My Family:

  • father;
  • mother;
  • brother;
  • sister;
  • grandfather;
  • grandmother.

Kemudian gunakan kata tersebut dalam kalimat:

This is my father.

This is my mother.

I have one brother.

Dengan demikian, murid tidak hanya menghafalkan arti kata, tetapi belajar menggunakannya.

Grammar Tidak Harus Menjadi Pusat Pembelajaran

Guru yang bukan lulusan Bahasa Inggris sering khawatir ketika membahas grammar.

Sebenarnya grammar tetap penting, tetapi untuk pembelajaran Bahasa Inggris SD sebaiknya diberikan secara bertahap dan kontekstual.

Misalnya guru ingin mengenalkan pola:

I am…

Tidak perlu langsung memberikan penjelasan panjang tentang struktur kalimat.

Guru dapat memberikan contoh:

I am Rina.

I am ten years old.

I am happy.

Kemudian murid menirukan dan mengganti bagian tertentu:

I am Budi.

I am eleven years old.

I am happy.

Murid akhirnya memahami pola melalui penggunaan.

Pendekatan seperti ini lebih sesuai untuk anak SD dibandingkan memberikan teori grammar yang panjang.

Gunakan Gambar dan Benda Nyata

Guru yang belum percaya diri berbicara Bahasa Inggris dapat memanfaatkan media visual.

Misalnya guru membawa sebuah buku.

Guru mengatakan:

“This is a book.”

Murid menirukan:

“This is a book.”

Guru menunjukkan pensil:

“This is a pencil.”

Murid:

“This is a pencil.”

Kemudian guru bertanya:

“What is this?”

Murid:

“It is a pencil.”

Benda nyata membantu murid memahami makna tanpa harus menerjemahkan semua kata ke Bahasa Indonesia.

Gunakan Gerakan Tubuh

Gerakan tubuh sangat membantu pembelajaran Bahasa Inggris SD.

Guru dapat mengatakan:

Stand up.

Murid berdiri.

Sit down.

Murid duduk.

Raise your hand.

Murid mengangkat tangan.

Open your book.

Murid membuka buku.

Close your book.

Murid menutup buku.

Kegiatan seperti ini dapat dikembangkan menjadi permainan Simon Says.

Selain menyenangkan, aktivitas tersebut melatih kemampuan listening.

Gunakan Lagu dan Permainan

Bahasa Inggris lebih mudah dipelajari ketika murid mendapatkan kesempatan untuk mengulang kosakata dalam suasana yang menyenangkan.

Guru dapat menggunakan:

  • lagu;
  • bingo;
  • guessing game;
  • matching card;
  • picture guessing;
  • whispering game;
  • role play;
  • treasure hunt;
  • vocabulary race;
  • storytelling.

Permainan tidak harus selalu menggunakan teknologi.

Kartu gambar yang dibuat sendiri sudah cukup untuk membuat kegiatan menjadi lebih interaktif.

Gunakan Bahasa Inggris Secara Bertahap

Guru tidak perlu menggunakan Bahasa Inggris 100 persen sejak pertemuan pertama.

Gunakan pola bertahap.

Tahap 1

Bahasa Indonesia dominan, Bahasa Inggris digunakan untuk kata dan ungkapan tertentu.

Tahap 2

Guru mulai menggunakan classroom English secara rutin.

Tahap 3

Instruksi sederhana lebih banyak menggunakan Bahasa Inggris.

Tahap 4

Murid mulai menjawab pertanyaan sederhana dalam Bahasa Inggris.

Tahap 5

Interaksi sederhana antarmurid mulai dilakukan menggunakan Bahasa Inggris.

Cara bertahap ini membantu guru dan murid membangun kepercayaan diri bersama.

Guru Bukan Lulusan Bahasa Inggris Tetap Perlu Memahami CP

Mengajar Bahasa Inggris tidak cukup hanya dengan menghafalkan kosakata.

Guru perlu memahami Capaian Pembelajaran (CP).

CP menjadi dasar untuk mengembangkan Tujuan Pembelajaran (TP), kemudian disusun menjadi ATP dan diterjemahkan ke dalam perencanaan pembelajaran serta asesmen.

Pada Fase B, yang umumnya mencakup kelas III dan IV, kemampuan Bahasa Inggris diarahkan antara lain pada pemahaman dan respons terhadap teks lisan dan visual sederhana serta interaksi menggunakan Bahasa Inggris sederhana dalam konteks yang sesuai.

Karena itu, guru perlu melihat kemampuan Bahasa Inggris secara lebih luas:

Menyimak – Berbicara – Membaca – Memirsa – Menulis

Bukan hanya:

Kosakata – Grammar – Mengerjakan soal.

Mulai Menyusun Perangkat Pembelajaran Sederhana

Guru yang baru mulai mengajar Bahasa Inggris tidak perlu langsung membuat perangkat yang sangat rumit.

Guru dapat mulai dengan dokumen sederhana:

  1. CP;
  2. TP;
  3. ATP;
  4. modul ajar atau dokumen perencanaan pembelajaran;
  5. materi;
  6. media;
  7. asesmen;
  8. rubrik;
  9. remedial;
  10. pengayaan;
  11. refleksi.

Yang paling penting adalah hubungan antarbagian tersebut.

Misalnya:

TP: Murid mampu memperkenalkan diri secara sederhana.

Materi: name, age, address, hobby.

Kegiatan: dialog berpasangan.

Asesmen: praktik memperkenalkan diri.

Tindak lanjut: latihan tambahan bagi murid yang belum lancar.

Dengan struktur tersebut, guru tidak sekadar “mengajar Bahasa Inggris”, tetapi memiliki perencanaan yang jelas.

Cara Mengajarkan Speaking Jika Guru Masih Kurang Percaya Diri

Ini menjadi salah satu tantangan terbesar.

Solusinya adalah menggunakan model kalimat.

Misalnya:

“My name is ______.”

“I am ______ years old.”

“I live in ______.”

“My hobby is ______.”

Guru mengucapkan terlebih dahulu.

Murid menirukan secara bersama-sama.

Setelah itu murid mengisi bagian kosong.

Kemudian mereka berlatih berpasangan.

Dengan pola tersebut, guru tidak perlu membuat percakapan panjang secara spontan.

Cara Mengajarkan Listening

Listening juga tidak harus menggunakan audio profesional.

Guru dapat membaca kalimat sendiri dengan kecepatan yang sesuai.

Contoh:

“My name is Andi. I have a blue bag.”

Kemudian guru bertanya:

What color is Andi’s bag?

Murid memilih:

A. Red
B. Blue
C. Green
D. Yellow

Untuk tahap awal, guru cukup menggunakan dua atau tiga kalimat.

Setelah kemampuan murid meningkat, stimulus dapat dibuat lebih panjang.

Cara Mengajarkan Reading

Mulailah dengan teks yang sangat sederhana.

Misalnya:

My name is Sinta.
I am ten years old.
I live in Purbalingga.
I like cats.

Kemudian berikan pertanyaan:

What is her name?

How old is Sinta?

Where does she live?

What animal does she like?

Untuk kelas yang lebih tinggi, teks dapat diperpanjang dan pertanyaannya dibuat lebih beragam.

Cara Mengajarkan Writing

Writing juga dapat dilakukan secara bertahap.

Kelas 3:

Menyalin atau melengkapi kata.

Kelas 4:

Membuat kalimat sederhana.

Kelas 5:

Membuat beberapa kalimat yang saling berhubungan.

Kelas 6:

Menulis paragraf pendek tentang pengalaman atau topik yang dekat dengan kehidupan.

Contohnya:

My name is Budi. I am eleven years old. I like playing football. I usually play football with my friends after school.

Guru dapat memberikan kerangka terlebih dahulu sebelum meminta murid menulis secara mandiri.

Jangan Membandingkan Diri dengan Guru Bahasa Inggris

Guru kelas tidak perlu membandingkan kemampuan dirinya dengan guru yang telah bertahun-tahun belajar Bahasa Inggris.

Target awalnya bukan menjadi ahli grammar.

Target awalnya adalah:

Guru semakin siap → murid mendapatkan pengalaman belajar yang baik → kemampuan terus berkembang.

Pemerintah juga menyadari bahwa kesiapan guru menjadi tantangan besar. Dalam program PKGSD-MBI, sasaran penguatan kompetensi mencapai 90.447 satuan pendidikan, dengan fokus pada peningkatan kemahiran Bahasa Inggris dan pedagogi guru SD.

Bahkan dalam informasi resmi program, pemerintah menjelaskan bahwa guru dengan latar belakang non-Bahasa Inggris termasuk sasaran program.

Manfaatkan PKGSD-MBI

Guru yang merasa kemampuan Bahasa Inggrisnya masih terbatas sebaiknya mencari informasi dan mengikuti program pengembangan kompetensi yang tersedia.

PKGSD-MBI dirancang untuk memberikan pembekalan secara terstruktur dan komprehensif, mencakup peningkatan kemahiran Bahasa Inggris serta kompetensi pedagogik.

Pada 2026, pemerintah juga membuka pelatihan mandiri PKGSD-MBI melalui Ruang GTK. Pelatihan ini dibuat agar guru dapat belajar secara fleksibel tanpa harus meninggalkan tugas utamanya di sekolah.

Informasi program resmi juga menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi dilakukan bertahap hingga beberapa tahun ke depan.

Jadi, guru tidak perlu merasa terlambat untuk mulai belajar.

Belajar Bersama Melalui KKG

Selain pelatihan resmi, guru dapat menggunakan KKG sebagai ruang belajar.

Misalnya setiap pertemuan KKG Bahasa Inggris membahas satu tema:

Pertemuan 1: Classroom English

Pertemuan 2: Pronunciation

Pertemuan 3: Vocabulary SD

Pertemuan 4: Speaking Activities

Pertemuan 5: Listening Activities

Pertemuan 6: Assessment

Pertemuan 7: Modul Ajar

Guru dapat saling berbagi:

  • materi;
  • kartu gambar;
  • worksheet;
  • permainan;
  • video pembelajaran;
  • contoh asesmen;
  • pengalaman mengajar.

Dengan cara tersebut, guru tidak belajar sendirian.

Belajar Sedikit tetapi Konsisten

Guru yang sibuk tidak harus belajar Bahasa Inggris dua atau tiga jam setiap hari.

Lima belas sampai tiga puluh menit secara konsisten sudah dapat menjadi langkah awal.

Misalnya:

Senin: 10 kosakata

Selasa: pronunciation

Rabu: classroom English

Kamis: listening

Jumat: speaking

Sabtu: membaca teks pendek

Dalam satu bulan, guru sudah memiliki banyak kosakata dan ungkapan baru yang dapat digunakan.

Kuncinya adalah konsisten.

Contoh Target Belajar Guru Selama 3 Bulan

Guru dapat membuat target sederhana.

Bulan 1: Dasar Bahasa Inggris

Fokus:

  • greetings;
  • numbers;
  • colors;
  • family;
  • school things;
  • daily activities;
  • classroom English.

Bulan 2: Praktik Mengajar

Fokus:

  • speaking sederhana;
  • listening;
  • games;
  • songs;
  • picture activities;
  • role play;
  • storytelling.

Bulan 3: Perangkat dan Asesmen

Fokus:

  • CP;
  • TP;
  • ATP;
  • modul ajar;
  • asesmen;
  • rubrik;
  • remedial;
  • pengayaan.

Setelah tiga bulan, guru sudah memiliki dasar yang jauh lebih baik untuk mulai mengembangkan pembelajaran.

Apakah Guru Harus Menguasai Semua Grammar?

Tidak.

Guru perlu memahami grammar yang relevan dengan materi yang diajarkan.

Misalnya kelas sedang mempelajari Simple Present Tense, guru perlu memahami pola dasar:

I play football.

She plays football.

Tidak perlu langsung membawa murid ke pembahasan grammar yang sangat kompleks.

Pembelajaran Bahasa Inggris SD sebaiknya berorientasi pada penggunaan bahasa dalam konteks yang sesuai usia.

Yang Penting Bukan Kesempurnaan, tetapi Perkembangan

Guru yang bukan lulusan Bahasa Inggris mungkin pada awalnya masih salah pronunciation, lupa kosakata, atau harus melihat catatan sebelum mengajar.

Hal tersebut merupakan bagian dari proses belajar.

Guru dapat mengatakan kepada murid:

“Let’s learn English together.”

Kalimat tersebut justru dapat menciptakan suasana belajar yang positif.

Guru menjadi contoh bahwa belajar tidak berhenti setelah seseorang menjadi guru.

Checklist Persiapan Guru SD Bukan Lulusan Bahasa Inggris

Sebelum mulai mengajar Bahasa Inggris, guru dapat menggunakan checklist berikut:

☐ Memahami kebijakan Bahasa Inggris SD 2027/2028
☐ Memahami CP Bahasa Inggris
☐ Mempelajari TP dan ATP
☐ Menguasai classroom English dasar
☐ Menambah kosakata secara bertahap
☐ Berlatih pronunciation
☐ Menyiapkan materi sesuai kelas
☐ Menggunakan gambar atau benda nyata
☐ Mempersiapkan kegiatan speaking
☐ Mempersiapkan kegiatan listening
☐ Mempersiapkan reading sederhana
☐ Mempersiapkan writing bertahap
☐ Menyiapkan asesmen
☐ Membuat rubrik speaking/writing
☐ Mengikuti pelatihan jika tersedia
☐ Memanfaatkan KKG atau komunitas belajar
☐ Melakukan refleksi setelah mengajar

Kesimpulan

Guru SD yang bukan lulusan Bahasa Inggris tetap dapat mempersiapkan diri untuk mengajar Bahasa Inggris, tetapi prosesnya harus dilakukan secara bertahap dan tetap mengikuti ketentuan penugasan, kualifikasi, serta kebijakan yang berlaku.

Yang perlu dilakukan bukan mencoba menjadi ahli Bahasa Inggris dalam waktu singkat. Guru dapat memulai dari kemampuan yang paling dibutuhkan di kelas: classroom English, kosakata dasar, pronunciation, percakapan sederhana, listening, reading, writing, dan strategi pembelajaran anak SD.

Guru juga sudah memiliki modal penting berupa pengalaman pedagogik dan pemahaman terhadap karakteristik murid.

Pemerintah melalui PKGSD-MBI sedang memperkuat dua sisi tersebut, yaitu kemahiran Bahasa Inggris dan kompetensi pedagogik. Pada tahap pertama 2026, program reguler melibatkan 5.777 guru dari 177 kabupaten/kota di 34 provinsi.

Pada Agustus 2026, pemerintah juga memperluas kesempatan melalui pelatihan mandiri PKGSD-MBI di Ruang GTK. Program ini secara khusus memberikan kesempatan kepada guru SD untuk belajar secara mandiri, fleksibel, dan terarah.

Jadi, bagi guru SD yang saat ini merasa “Saya bukan lulusan Bahasa Inggris”, kalimat tersebut tidak harus menjadi alasan untuk berhenti belajar.

Justru sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai mempersiapkan diri.

Belajar sedikit demi sedikit, praktikkan di kelas, refleksikan hasilnya, lalu tingkatkan kembali.

Dengan cara tersebut, guru dapat menyambut penerapan Bahasa Inggris wajib tahun 2027/2028 dengan lebih percaya diri dan siap memberikan pembelajaran yang mudah, bermakna, dan menyenangkan bagi murid.