Kegiatan Pembelajaran Bahasa Inggris SD yang Menyenangkan: 20 Ide untuk Kelas 3–6

kepalasekolah.id – Kegiatan Pembelajaran Bahasa Inggris SD yang Menyenangkan: 20 Ide untuk Kelas 3–6. Mengajarkan Bahasa Inggris kepada murid sekolah dasar memiliki tantangan tersendiri. Anak-anak membutuhkan kegiatan yang konkret, menarik, berulang, dan dekat dengan kehidupan mereka. Karena itu, pembelajaran Bahasa Inggris di SD sebaiknya tidak hanya berisi penjelasan guru, mencatat kosakata, mengerjakan soal, lalu menghafalkan arti kata.

Murid perlu mendapatkan kesempatan untuk mendengar, menirukan, berbicara, membaca, melihat, bergerak, bermain, dan menggunakan Bahasa Inggris dalam situasi sederhana.

Hal ini semakin penting menjelang penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di SD mulai tahun ajaran 2027/2028. Berdasarkan Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, Bahasa Inggris masih menjadi mata pelajaran pilihan sesuai kesiapan satuan pendidikan sampai tahun ajaran 2026/2027 dan kemudian beralih menjadi mata pelajaran wajib pada 2027/2028. Pemerintah juga menyiapkan penguatan kompetensi guru melalui PKGSD-MBI.

Kabar baiknya, kegiatan Bahasa Inggris yang menyenangkan tidak selalu membutuhkan fasilitas mahal. Guru dapat menggunakan gambar, kartu kata, benda di kelas, lagu, permainan, gerakan tubuh, percakapan sederhana, atau lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

Artikel ini membahas 20 ide kegiatan pembelajaran Bahasa Inggris SD yang dapat dikembangkan untuk kelas 3–6.

Prinsip Pembelajaran Bahasa Inggris yang Menyenangkan

Pembelajaran menyenangkan bukan berarti kelas hanya bermain tanpa tujuan.

Kegiatan permainan tetap harus memiliki hubungan dengan tujuan pembelajaran. Misalnya, jika tujuan pembelajaran adalah murid mampu menyebutkan benda-benda di kelas dalam Bahasa Inggris, maka permainan dapat dirancang agar murid benar-benar mendengar, mengenali, dan mengucapkan kosakata tersebut.

Portal PKGSD-MBI pemerintah menekankan pembelajaran yang Mindful, Meaningful, dan Joyful. Pembelajaran yang bermakna menghubungkan materi dengan kehidupan nyata, sedangkan pembelajaran yang menyenangkan dapat menggunakan permainan, lagu, dan aktivitas fisik.

Dengan prinsip tersebut, guru dapat menggunakan pola sederhana:

Tujuan Pembelajaran → Aktivitas Menyenangkan → Praktik Bahasa → Umpan Balik → Refleksi

1. English Greeting Circle

Kegiatan pertama sangat sederhana dan cocok untuk membangun kebiasaan menggunakan Bahasa Inggris.

Murid duduk atau berdiri membentuk lingkaran. Guru memulai dengan:

“Good morning, everyone.”

Murid menjawab:

“Good morning, teacher.”

Kemudian seorang murid menyapa teman di sebelahnya:

“Hello, Rani. How are you?”

Temannya menjawab:

“I’m fine, thank you.”

Kegiatan dapat dilakukan selama 5–10 menit pada awal pembelajaran.

Untuk kelas 3, gunakan ungkapan yang sangat sederhana. Untuk kelas 5–6, guru dapat menambahkan pertanyaan tentang aktivitas, hobi, atau perasaan.

2. Guess the Picture

Guru menyiapkan beberapa gambar.

Misalnya gambar:

  • apple;
  • banana;
  • book;
  • cat;
  • dog;
  • school;
  • bicycle.

Guru menunjukkan gambar secara cepat dan bertanya:

“What is this?”

Murid menjawab:

“It is an apple.”

Untuk meningkatkan tantangan, guru tidak langsung memperlihatkan gambar secara utuh. Gambar dapat ditutup sebagian dan murid menebak berdasarkan bagian yang terlihat.

Kegiatan ini dapat digunakan untuk vocabulary sekaligus speaking.

3. What Is Missing?

Guru meletakkan lima benda atau kartu gambar di depan kelas.

Contohnya:

book – pencil – ruler – bag – eraser

Murid diberi waktu untuk mengamati.

Kemudian murid diminta menutup mata. Guru mengambil satu benda.

Murid membuka mata dan menjawab:

“The ruler is missing!”

Untuk kelas yang lebih tinggi, guru dapat meminta murid membuat kalimat lengkap:

“The ruler is missing from the table.”

Permainan ini melatih vocabulary dan kemampuan mengingat.

4. Simon Says

Simon Says merupakan permainan yang sangat cocok untuk melatih listening dan pemahaman instruksi sederhana.

Guru mengatakan:

“Simon says, stand up.”

Murid berdiri.

Guru mengatakan:

“Simon says, touch your head.”

Murid menyentuh kepala.

Kemudian guru mengatakan:

“Touch your nose.”

Jika guru tidak mengatakan “Simon says”, murid tidak boleh mengikuti instruksi.

Kosakata dapat disesuaikan dengan materi:

  • stand up;
  • sit down;
  • open your book;
  • close your book;
  • raise your hand;
  • touch your head;
  • turn around;
  • walk;
  • jump.

Untuk kelas 5–6, instruksi dapat dibuat lebih kompleks.

5. English Classroom Hunt

Guru meminta murid mencari benda tertentu di dalam kelas.

Contoh:

“Find something blue.”

Murid mencari benda berwarna biru.

Kemudian guru dapat bertanya:

“What is it?”

Murid:

“It is a pencil.”

Kegiatan dapat dikembangkan menjadi:

“Find something that you use for writing.”

Murid mencari pencil atau pen.

Kegiatan ini membuat benda-benda di lingkungan kelas menjadi media pembelajaran.

6. Vocabulary Bingo

Guru membuat kartu bingo sederhana berisi kosakata.

Misalnya:

Book Cat Apple
Pencil Dog School
Bag Banana Teacher

Guru menyebutkan kata secara acak.

Murid memberi tanda pada kata yang disebut.

Murid yang berhasil mendapatkan pola tertentu mengatakan:

“Bingo!”

Untuk kelas yang lebih tinggi, guru tidak harus menyebutkan kata secara langsung. Guru dapat memberikan deskripsi.

Misalnya:

“It is an animal. It says meow.”

Murid mencari kata cat.

Dengan demikian, permainan sekaligus melatih listening dan pemahaman makna.

7. Find Your Pair

Guru menyiapkan kartu yang berpasangan.

Contohnya:

Question: What is your name?

Answer: My name is Andi.

Atau:

Picture: Apple

Word: Apple

Setiap murid mendapatkan satu kartu.

Murid berjalan mencari pasangan yang sesuai.

Setelah menemukan pasangan, mereka harus mengucapkan jawabannya.

Aktivitas ini dapat digunakan untuk vocabulary, expressions, maupun reading.

8. Chain Words

Guru memberikan satu kata.

Misalnya:

Apple

Murid berikutnya menyebutkan kata lain yang masih berkaitan:

Banana

Murid berikutnya:

Orange

Permainan dapat dibuat berdasarkan kategori:

  • fruits;
  • animals;
  • school things;
  • colors;
  • family;
  • activities;
  • food.

Untuk kelas 5–6, guru dapat meminta murid menggunakan kata tersebut dalam kalimat.

Contohnya:

“I like apples.”

9. Whispering Game

Guru membagi murid menjadi beberapa kelompok.

Guru membisikkan kalimat sederhana kepada murid pertama.

Contohnya:

“I have a blue bag.”

Murid pertama membisikkan kepada teman berikutnya.

Kalimat terus diteruskan sampai murid terakhir.

Murid terakhir mengucapkan kalimat dengan keras.

Kemudian guru membandingkan dengan kalimat awal.

Permainan ini sangat baik untuk melatih listening sekaligus pronunciation.

Kalimat harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan murid agar permainan tidak berubah menjadi sekadar menghafal.

10. Role Play di Kantin

Guru membuat situasi sederhana yang dekat dengan kehidupan murid.

Misalnya kegiatan membeli makanan.

Contoh dialog:

Student A: Good morning.
Student B: Good morning.
Student A: Can I have some bread, please?
Student B: Sure. Here you are.
Student A: Thank you.
Student B: You’re welcome.

Murid dapat bermain peran sebagai penjual dan pembeli.

Untuk kelas 3–4, dialog dapat dibuat sangat pendek.

Untuk kelas 5–6, murid dapat membuat dialog sendiri.

11. Role Play di Sekolah

Selain kantin, guru dapat menggunakan situasi lain:

  • bertanya kepada guru;
  • meminta izin;
  • meminjam pensil;
  • bertemu teman;
  • bertanya lokasi perpustakaan;
  • membeli alat tulis;
  • meminta bantuan.

Contoh:

“Excuse me, where is the library?”

Jawaban:

“It is next to the classroom.”

Kegiatan seperti ini membantu murid memahami bahwa Bahasa Inggris bukan hanya materi yang harus dihafalkan, tetapi alat untuk berkomunikasi.

12. English Song and Movement

Lagu dapat digunakan terutama untuk kelas 3–4.

Guru memilih lagu sederhana yang memiliki kosakata sesuai tujuan pembelajaran.

Misalnya materi:

  • body parts;
  • numbers;
  • colors;
  • animals;
  • daily activities.

Murid tidak hanya menyanyi, tetapi juga melakukan gerakan.

Misalnya ketika mendengar:

“Touch your head.”

Murid menyentuh kepala.

Ketika mendengar:

“Touch your shoulders.”

Murid menyentuh bahu.

Aktivitas seperti ini menggabungkan listening, vocabulary, dan physical activity.

13. Picture Story

Guru memberikan beberapa gambar yang membentuk sebuah cerita.

Misalnya:

Picture 1: A boy wakes up.

Picture 2: He takes a bath.

Picture 3: He has breakfast.

Picture 4: He goes to school.

Murid menyusun gambar berdasarkan urutan.

Kemudian murid membuat kalimat:

“He wakes up.”

“He takes a bath.”

“He has breakfast.”

“He goes to school.”

Untuk kelas 5–6, gambar dapat digunakan untuk membuat cerita yang lebih panjang.

14. Storytelling Sederhana

Guru dapat menceritakan cerita pendek menggunakan kalimat yang sederhana.

Misalnya:

“This is Beni. Beni has a small cat. The cat is white. Beni likes his cat very much.”

Setelah cerita selesai, guru memberikan pertanyaan:

“What color is Beni’s cat?”

Murid menjawab:

“It is white.”

Kegiatan ini dapat digunakan untuk listening dan reading comprehension.

15. English Treasure Hunt

Guru menyembunyikan beberapa kartu di lingkungan kelas.

Setiap kartu berisi petunjuk.

Contoh:

“Look under the table.”

Setelah menemukan kartu berikutnya:

“Go to the bookshelf.”

Murid mengikuti petunjuk sampai menemukan kartu terakhir.

Untuk kelas 3–4, gunakan instruksi pendek.

Untuk kelas 5–6, petunjuk dapat dibuat menjadi kalimat yang lebih panjang.

Kegiatan ini menggabungkan reading, vocabulary, listening, dan aktivitas fisik.

16. My Favorite Things

Guru meminta murid memilih beberapa hal yang mereka sukai.

Misalnya:

  • favorite food;
  • favorite animal;
  • favorite color;
  • favorite sport;
  • favorite hobby.

Murid kelas 3 dapat menggunakan pola:

“My favorite color is blue.”

Murid kelas 5–6 dapat mengembangkan:

“My favorite sport is badminton because I can play it with my friends.”

Kegiatan dapat diakhiri dengan presentasi singkat.

17. Mini Interview

Murid bekerja berpasangan.

Siswa A bertanya:

“What is your name?”

“What is your favorite food?”

“What is your hobby?”

Siswa B menjawab.

Kemudian mereka bertukar peran.

Untuk kelas 5–6, pertanyaan dapat dikembangkan:

“What do you usually do after school?”

“What did you do last weekend?”

Hasil wawancara dapat ditulis menjadi laporan singkat.

18. English Market

Guru membuat simulasi pasar sederhana di kelas.

Beberapa murid menjadi penjual dan lainnya menjadi pembeli.

Barang dapat berupa gambar makanan, minuman, atau alat tulis.

Contoh:

“How much is the pencil?”

“It is five thousand rupiah.”

“Can I have two pencils?”

Kegiatan dapat disesuaikan dengan kemampuan kelas.

Untuk kelas 3–4, fokus pada kosakata dan ungkapan sederhana.

Untuk kelas 5–6, guru dapat menambahkan dialog dan perhitungan sederhana.

19. English Poster Project

Murid membuat poster sederhana menggunakan Bahasa Inggris.

Tema dapat berupa:

  • My Healthy Life;
  • My School;
  • Save Water;
  • Keep Our Classroom Clean;
  • My Favorite Animal;
  • Healthy Food.

Contoh poster:

KEEP OUR SCHOOL CLEAN

Put rubbish in the bin.
Keep the classroom clean.
Save water.
Take care of our school.

Setelah selesai, murid mempresentasikan posternya secara singkat.

Kegiatan ini dapat menggabungkan writing, viewing, speaking, dan kreativitas.

20. English Day di Kelas

Guru dapat membuat kegiatan English Day secara sederhana.

Tidak harus satu hari penuh.

Misalnya setiap Jumat selama 20–30 menit, guru menggunakan beberapa ungkapan Bahasa Inggris dalam kegiatan kelas.

Contoh:

“Good morning.”

“Open your book.”

“Please sit down.”

“Work with your partner.”

“Are you ready?”

“Good job!”

Secara bertahap, murid akan terbiasa mendengar classroom English.

Untuk sekolah yang sudah siap, kegiatan dapat diperluas menjadi English corner, English board, atau English performance.

Menyesuaikan Kegiatan dengan Kelas 3 dan 4

Kelas 3–4 berada pada Fase B. Pada fase ini, kegiatan sebaiknya banyak menggunakan konteks kehidupan sehari-hari, gambar, instruksi sederhana, percakapan pendek, dan bantuan visual.

Dokumen capaian pembelajaran Bahasa Inggris menjelaskan bahwa pada Fase B murid diharapkan dapat memahami dan merespons teks lisan atau multimodal sederhana serta berinteraksi menggunakan Bahasa Inggris sederhana dalam konteks yang sesuai.

Karena itu, kegiatan seperti berikut sangat sesuai:

  • greeting circle;
  • picture guessing;
  • songs;
  • Simon Says;
  • vocabulary bingo;
  • classroom hunt;
  • simple role play;
  • picture story.

Guru tidak perlu terburu-buru memberikan teks panjang.

Yang lebih penting adalah membangun keberanian murid untuk menggunakan Bahasa Inggris.

Menyesuaikan Kegiatan dengan Kelas 5 dan 6

Untuk kelas 5–6, kegiatan dapat dikembangkan menuju kemampuan yang lebih kompleks.

Murid dapat mulai:

  • melakukan wawancara;
  • membuat dialog sendiri;
  • membaca teks lebih panjang;
  • menemukan informasi;
  • membuat poster;
  • menulis paragraf;
  • melakukan presentasi;
  • membuat proyek sederhana;
  • menceritakan pengalaman.

Dengan demikian, kegiatan tidak berhenti pada penguasaan kosakata.

Murid mulai menggunakan Bahasa Inggris untuk menyampaikan ide dan pengalaman.

Contoh Rangkaian Kegiatan 1 Pertemuan

Guru tidak perlu menggunakan semua permainan dalam satu pertemuan.

Misalnya untuk kelas 4 dengan topik Daily Activities, pembelajaran dapat dirancang seperti berikut.

Pembuka – 10 menit

Guru menyapa murid:

“Good morning. How are you?”

Kemudian melakukan permainan singkat.

Eksplorasi – 10 menit

Guru memperkenalkan:

wake up
take a bath
have breakfast
go to school
study
go home

Praktik – 15 menit

Murid melakukan Picture Sequence Game.

Mereka menyusun gambar kegiatan sesuai urutan.

Speaking – 10 menit

Murid berpasangan dan membuat kalimat:

“I wake up at six o’clock.”

Refleksi – 5 menit

Guru bertanya:

“What English words did you learn today?”

Dengan struktur tersebut, permainan tetap memiliki tujuan yang jelas.

Pembelajaran Menyenangkan Bukan Berarti Tanpa Asesmen

Setiap kegiatan dapat sekaligus menjadi sumber informasi bagi guru.

Ketika murid bermain Simon Says, guru dapat mengamati kemampuan listening.

Ketika murid melakukan role play, guru dapat mengamati speaking.

Ketika murid membaca kartu petunjuk, guru dapat mengamati reading.

Ketika murid membuat poster, guru dapat mengamati writing dan kemampuan menyampaikan informasi.

Dengan demikian, kegiatan pembelajaran dan asesmen dapat berjalan secara terpadu.

Hal ini sejalan dengan arah asesmen Bahasa Inggris yang menempatkan asesmen sebagai bagian untuk melihat ketercapaian tujuan pembelajaran, bukan sekadar menghasilkan angka.

Cara Membuat Kegiatan Tidak Membosankan

Guru dapat menggunakan prinsip sederhana 3M: Mudah, Menarik, dan Bermakna.

Mudah

Kegiatan harus dapat dilakukan dengan kemampuan Bahasa Inggris yang dimiliki murid.

Menarik

Gunakan gambar, warna, gerakan, permainan, lagu, kartu, benda nyata, atau cerita.

Bermakna

Hubungkan Bahasa Inggris dengan kehidupan murid.

Misalnya daripada hanya menghafalkan kata book, murid dapat mengatakan:

“This is my book.”

Daripada menghafalkan kata eat, murid dapat mengatakan:

“I eat breakfast at seven.”

Bahasa menjadi lebih mudah dipahami karena digunakan dalam konteks.

Jangan Takut Murid Salah Berbicara

Salah satu tantangan pembelajaran Bahasa Inggris di SD adalah rasa takut melakukan kesalahan.

Murid mungkin mengetahui jawabannya tetapi tidak berani mengucapkannya.

Karena itu, guru perlu membangun suasana kelas yang aman.

Jika murid mengatakan:

“He play football.”

Guru tidak harus langsung mengatakan “salah”.

Guru dapat memberikan model:

“Yes, he plays football.”

Kemudian murid menirukan.

Dengan cara tersebut, kesalahan menjadi bagian dari proses belajar.

Manfaat Menggunakan Permainan dalam Pembelajaran Bahasa Inggris

Permainan yang dirancang dengan baik dapat membantu:

  1. meningkatkan partisipasi murid;
  2. melatih keberanian berbicara;
  3. memperbanyak paparan kosakata;
  4. melatih listening;
  5. menciptakan interaksi antarmurid;
  6. membuat pembelajaran lebih aktif;
  7. mengurangi ketegangan saat belajar bahasa asing;
  8. memberikan kesempatan praktik berulang;
  9. membantu guru melakukan asesmen informal;
  10. menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan.

Namun, permainan tetap perlu dikendalikan agar tujuan pembelajaran tidak hilang.

Persiapan Guru Menghadapi Bahasa Inggris Wajib 2027/2028

Guru SD yang belum berlatar belakang Bahasa Inggris tidak harus menunggu sampai 2027/2028 untuk mulai belajar.

Pemerintah telah menjalankan PKGSD-MBI sebagai program untuk meningkatkan kemahiran Bahasa Inggris sekaligus kompetensi pedagogik guru SD yang mengajar Bahasa Inggris.

Pada 2026, program pelatihan tersebut dilaksanakan secara bertahap. Kemdikdasmen menyebut tahap pertama melibatkan 5.777 guru dari 177 kabupaten/kota di 34 provinsi.

Bahkan pada Agustus 2026, pemerintah mengembangkan pelatihan mandiri PKGSD-MBI melalui Ruang GTK agar guru dapat belajar secara lebih fleksibel sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing.

Artinya, guru dapat mulai mempersiapkan diri melalui beberapa langkah:

  • meningkatkan vocabulary;
  • melatih pronunciation;
  • belajar classroom English;
  • memahami CP Bahasa Inggris;
  • menyusun TP dan ATP;
  • mencoba kegiatan speaking;
  • belajar membuat asesmen;
  • menggunakan media visual;
  • mengikuti pelatihan;
  • berbagi praktik baik dengan guru lain.

Checklist Kegiatan Bahasa Inggris SD

Sebelum melaksanakan kegiatan, guru dapat menggunakan checklist berikut:

☐ Ada tujuan pembelajaran yang jelas
☐ Aktivitas sesuai kemampuan murid
☐ Bahasa yang digunakan tidak terlalu sulit
☐ Ada kesempatan mendengar Bahasa Inggris
☐ Ada kesempatan berbicara
☐ Menggunakan konteks kehidupan sehari-hari
☐ Murid aktif terlibat
☐ Guru memberikan contoh terlebih dahulu
☐ Kesalahan murid ditangani secara positif
☐ Ada umpan balik
☐ Kegiatan dapat menjadi sumber asesmen
☐ Ada refleksi atau penutup
☐ Kegiatan dapat dikembangkan untuk pertemuan berikutnya

Penutup

Pembelajaran Bahasa Inggris SD tidak harus selalu dilakukan melalui buku teks, mencatat kosakata, dan mengerjakan soal. Guru dapat menciptakan pembelajaran yang lebih hidup melalui permainan, lagu, percakapan, gambar, gerakan, cerita, proyek, dan berbagai aktivitas yang dekat dengan kehidupan murid.

Dari 20 kegiatan yang dibahas dalam artikel ini, guru dapat memilih aktivitas sesuai kelas, tujuan pembelajaran, fasilitas sekolah, dan karakteristik murid.

Untuk kelas 3–4, kegiatan dapat lebih banyak menggunakan gambar, gerakan, lagu, instruksi sederhana, dan percakapan pendek. Sementara kelas 5–6 dapat diarahkan pada wawancara, role play, storytelling, membaca, menulis, proyek, dan presentasi.

Yang paling penting, kegiatan menyenangkan tetap harus memiliki tujuan pembelajaran. Permainan bukan sekadar membuat kelas ramai, tetapi menjadi sarana agar murid mendapatkan pengalaman menggunakan Bahasa Inggris secara nyata.

Dengan pendekatan yang bertahap, kontekstual, dan menyenangkan, guru dapat membantu murid membangun kepercayaan diri dalam menggunakan Bahasa Inggris sekaligus mempersiapkan sekolah menuju penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib pada tahun ajaran 2027/2028. Pemerintah sendiri menempatkan peningkatan kompetensi guru sebagai salah satu bagian penting dalam proses transisi tersebut.