Hari yang Bikin Panjul Deg-degan : Menggapai Mimpi #39

kepalasekolah.id – Lucu, hangat, dan penuh makna! Ikuti kisah Panjul, si anak desa yang gemuk dan kocak, dalam petualangannya mengubah hidup lewat semangat belajar dan tawa tanpa henti. “Menggapai Mimpi” akan membuatmu tersenyum sekaligus terinspirasi.

Menggapai Mimpi – Episode 39 : Hari yang Bikin Panjul Deg-degan

Sejak beberapa hari terakhir, rumah Panjul terlihat lebih ramai daripada biasanya. Beberapa orang datang dan pergi. Ada yang membawa piring. Ada yang membawa bahan makanan. Ada yang membantu membersihkan halaman. Ada pula yang sejak pagi sudah sibuk di dapur bersama Ibu Rini.

Rumah Panjul sedang mempersiapkan sebuah hajatan keluarga. Dan bagi Panjul, hajatan itu bukan sekadar acara keluarga. Ada satu hal yang membuatnya terus memikirkan hari pelaksanaannya. Ia akan dikhitan. Sejak mendengar kabar itu, Panjul mulai sering memandangi kalender.

“Masih berapa hari, Bu?”

Ibu Rini yang sedang menyiapkan makanan menjawab, “Sudah Ibu bilang, jangan dihitung terus.”

“Tapi saya perlu persiapan mental.”

“Persiapan mental bagaimana?”

Panjul menghela napas. “Ya… latihan tidak lari.”

Ibu Rini tertawa. “Memangnya mau lari ke mana?”

“Ya kalau takut.”

Dari ruang tengah terdengar suara Pak Surya. “Jangan lari, Le. Nanti malah dicari warga sekampung.”

Panjul langsung menjawab, “Kalau saya hilang, Bapak jangan bilang siapa-siapa.”

Pak Surya tertawa.

 

Suasana kampung semakin ramai mendekati hari hajatan. Para tetangga mulai berdatangan untuk membantu. Ada yang menata kursi. Ada yang membersihkan halaman. Ada yang membantu menyiapkan makanan.

Di depan rumah, beberapa orang sibuk mengatur tempat untuk tamu. Sementara di bagian belakang, ibu-ibu bekerja bersama. Suara percakapan terdengar bersahutan. Panjul sendiri mondar-mandir. Kadang membantu. Kadang hanya berdiri melihat. Kadang malah bertanya terlalu banyak.

“Bu, ini buat apa?”

“Untuk makanan.”

“Kalau ini?”

“Untuk makanan juga.”

“Kalau yang itu?”

Ibu Rini menoleh. “Juga.”

Panjul mengangguk. “Oh.”

Kemudian ia pergi. Ibu Rini hanya bisa tersenyum. “Anak itu kalau tidak bertanya sehari mungkin kepalanya gatal.”

 

Hari berikutnya, guru-guru Panjul datang untuk menghadiri hajatan. Panjul yang sedang duduk di depan rumah langsung berdiri.

“Bu Ratri!”

Bu Ratri tersenyum. “Bagaimana, Panjul?”

Panjul menjawab, “Sehat, Bu.”

“Sudah siap?”

Panjul terdiam. “Kalau siapnya untuk menerima tamu, siap.”

Bu Ratri tertawa. “Kalau yang satunya?”

Panjul menggeleng pelan. “Belum, Bu.”

Guru olahraga Panjul yang ikut datang tertawa. “Jangan tegang. Kamu sudah pernah menghadapi lomba, ulangan, dan berbagai macam hal.”

Panjul menjawab, “Kalau lomba kan saya bisa lari ke belakang panggung.”

Bu Ratri langsung tertawa. “Kamu ini.”

Kemudian Bu Ratri memberikan nasihat. “Yang penting kamu istirahat cukup. Jangan terlalu banyak bermain dulu.”

Panjul mengangguk. “Baik, Bu.”

Guru olahraga menambahkan, “Dan jangan khawatir. Setelah ini kamu perlu waktu untuk memulihkan diri.”

Panjul mengangguk lagi. “Berarti saya boleh tidur?”

“Boleh.”

“Berarti ini acara yang bagus.”

Semua tertawa.

Bu Ratri kemudian berkata dengan lembut, “Yang penting kamu jaga diri dan dengarkan nasihat orang tua.”

Panjul tersenyum. “Iya, Bu. Terima kasih sudah datang.”

 

Tidak lama kemudian, teman-teman Panjul mulai berdatangan. Danu datang bersama orang tuanya. Ia memberikan ucapan kepada Pak Surya dan Ibu Rini. Kemudian mendekati Panjul.

“Bagaimana?”

Panjul menatapnya. “Bagaimana apanya?”

“Persiapan.”

Panjul menghela napas. “Kalau persiapan makan, sudah.”

Danu tertawa. “Semoga semuanya lancar.”

Panjul mengangguk. “Terima kasih.”

Setelah Danu duduk, datang pula beberapa teman lainnya. Mereka bergantian mengobrol. Ada yang memberikan semangat. Ada yang bercerita tentang pengalaman saudara mereka. Ada pula yang justru membuat Panjul semakin tegang. Dan tentu saja… Riko datang paling akhir.

Begitu melihat Panjul, Riko langsung tersenyum lebar. “Juuul!”

Panjul langsung curiga. “Apa?”

Riko duduk di sampingnya. “Kamu sudah tahu?”

“Tahu apa?”

“Katanya setelah ini kamu…”

Riko sengaja berhenti.  Panjul menatapnya. “Apa?”

Riko mendekat. “Kamu bakal jadi lebih dewasa.”

Panjul mengangguk. “Oh.”

Riko melanjutkan, “Berarti besok tidak boleh nakal lagi.”

Panjul tersenyum. “Bagus.”

“Tapi…”

“Apa lagi?”

“Kalau sudah dewasa, traktir es krimnya harus lebih banyak.”

Panjul langsung tertawa. “Dasar!”

Riko kemudian mulai bercerita macam-macam. Beberapa ceritanya membuat Panjul tertawa. Beberapa lainnya justru membuat Panjul semakin tegang.

“Rik, kamu datang untuk menenangkan atau menakut-nakuti?”

Riko menjawab santai, “Menemani.”

“Caramu aneh.”

“Yang penting menemani.”

Danu yang mendengar percakapan itu hanya menggeleng.

 

Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Sejak pagi, rumah Panjul sudah ramai. Orang-orang membantu dari berbagai sisi. Ada yang menyiapkan makanan. Ada yang mengatur kursi. Ada yang menyambut tamu. Ada yang membantu pekerjaan di dapur. Suasana kampung terasa hidup.

Panjul memakai pakaian yang sudah disiapkan orang tuanya. Ia duduk dengan tenang. Setidaknya berusaha terlihat tenang. Padahal tangannya beberapa kali bergerak sendiri.

Ibu Rini menghampiri. “Jangan tegang.”

Panjul mengangguk. “Saya tidak tegang.”

Ibu Rini tersenyum. “Kalau tidak tegang, kenapa dari tadi memegang ujung baju?”

Panjul melihat tangannya. “Oh.”

Ia langsung melepaskannya.

 

Sebelum waktunya tiba, beberapa teman Panjul kembali datang. Riko tentu saja masih membawa bahan candaan.

“Jul.”

“Apa?”

“Kalau kamu takut…”

Panjul langsung menatapnya.

“Jangan lanjut.” Riko tertawa.

“Aku belum ngomong.”

“Tapi mukamu sudah ngomong.”

Danu tertawa.

“Panjul memang sudah tahu kalau kamu mau jahil.” Riko mengangguk bangga.

“Berarti saya berhasil.” Panjul menggeleng.

“Teman macam apa kalian?”

Danu menjawab, “Teman yang datang.”

Riko menambahkan, “Dan tidak pulang sebelum dapat makanan.”

Panjul tertawa. Suasana yang sempat tegang kembali menjadi ringan.

 

Ada pula satu tradisi keluarga yang harus dilakukan sebelum acara. Panjul diminta berendam sebentar di kali bersama beberapa teman yang menemaninya. Panjul memandang air kali. Kemudian memandang Danu. Lalu Riko.

“Harus?”

Danu mengangguk. “Katanya begitu.”

Panjul menghela napas. “Kenapa tradisinya tidak berendam di kolam air hangat?”

Riko langsung menjawab, “Kalau air hangat namanya spa.”

Panjul tertawa. Akhirnya mereka berjalan bersama menuju kali. Panjul masuk ke air. Ia langsung mengangkat bahu karena merasa dingin. “Wah!”

Riko tertawa. “Dingin?”

“Enggak.” Panjul menggigil.

“Ini airnya cuma sedang berpikir.”

Danu tertawa. Beberapa saat mereka duduk di tepi kali. Panjul melihat aliran air. Suasana desa terasa sangat tenang. Ada suara burung. Ada suara air. Di kejauhan terdengar aktivitas warga yang masih mempersiapkan hajatan. Panjul tiba-tiba tersenyum.

“Rik.”

“Hm?”

“Besok-besok jangan cerita yang aneh-aneh lagi.”

Riko tersenyum. “Kenapa?”

“Karena kalau kamu terus cerita, saya bisa takut duluan.”

Riko tertawa.

 

Setelah itu Panjul kembali ke rumah. Waktu pelaksanaan tiba. Panjul ditemani keluarganya. Ia sempat menarik napas panjang. Pak Surya berada di dekatnya.

“Tenang, Le.”

Panjul mengangguk. “Pak.”

“Iya?”

“Kalau saya selesai…”

“Kenapa?”

“Saya boleh makan banyak?”

Pak Surya tertawa. “Kalau dokter sudah membolehkan, ya.”

Panjul mengangguk.

“Itu motivasi saya.”

Pak Surya menepuk bahunya. “Ya sudah.”

 

Akhirnya Panjul menjalani proses khitannya. Kali ini ia tidak banyak bercanda. Ia hanya berusaha tenang dan mengikuti arahan orang-orang yang mendampinginya. Setelah selesai, Panjul tampak lega. Ia menghela napas panjang.

“Selesai?”

Pak Surya tersenyum. “Selesai.”

Panjul memejamkan mata sebentar. “Alhamdulillah.”

Kemudian ia membuka mata.”Berarti saya sudah naik level?”

Pak Surya tertawa. “Anggap saja begitu.”

Panjul tersenyum.

 

Hari-hari berikutnya Panjul lebih banyak beristirahat di rumah. Ia tidak masuk sekolah. Hari pertama masih terasa berat untuk banyak bergerak. Hari kedua ia mulai lebih banyak duduk. Hari ketiga sudah mulai bosan. Hari keempat mulai mencari kegiatan. Hari kelima mulai bertanya,

“Pak, kapan saya boleh sekolah?”

Pak Surya menjawab, “Belum.”

“Besok?”

“Belum tentu.”

“Kalau saya cuma duduk?”

“Masih istirahat.”

Panjul menghela napas. Hari-hari berikutnya berlalu. Teman-temannya sesekali datang menjenguk. Riko tentu tidak melewatkan kesempatan untuk mengganggunya. Namun kali ini keisengannya lebih banyak berupa candaan.

“Jul, sekolah sepi tanpa kamu.”

Panjul menjawab, “Bagus.”

“Kenapa?”

“Berarti tidak ada yang mengganggu.”

Riko tertawa. “Aku tetap datang.”

Panjul menggeleng.

 

Hampir sepuluh hari Panjul tidak masuk sekolah. Selama itu ia mulai merasa rindu pada teman-temannya. Rindu suasana kelas. Rindu bercanda. Bahkan sedikit rindu pada tugas. Walaupun ketika mengingat tugas, ia langsung berubah pikiran.

“Kalau tugasnya tidak usah dirindukan.”

Ibu Rini yang mendengar hanya tertawa. Pada hari-hari terakhir masa istirahatnya, Panjul mulai memikirkan sekolah. Ia tahu banyak pelajaran yang mungkin sudah terlewat. Ia tahu dirinya harus mengejar. Tetapi kali ini ia tidak merasa terlalu takut. Ia sudah pernah tertinggal. Dan ia pernah mengejar. Ia hanya perlu melakukannya lagi.

Panjul tersenyum sendiri. “Kalau pelajaran lari…”

Ia berhenti. Kemudian tertawa kecil. “…jangan sampai saya yang dikejar.”

Dan setelah hampir sepuluh hari beristirahat, Panjul mulai menyiapkan tas sekolahnya kembali. Besok ia akan kembali ke kelas 6.

Namun ia belum tahu…

ternyata kembali ke sekolah setelah hampir sepuluh hari tidak masuk akan membuatnya menghadapi kejutan baru.

Bersambung ke episode 40: Panjul Mengejar Ketertinggalan