Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi #13

kepalasekolah.id – Lucu, hangat, dan penuh makna! Ikuti kisah Panjul, si anak desa yang gemuk dan kocak, dalam petualangannya mengubah hidup lewat semangat belajar dan tawa tanpa henti. “Menggapai Mimpi” akan membuatmu tersenyum sekaligus terinspirasi.

Menggapai Mimpi — Episode 13: Panjul Sakit

Musim hujan belum juga usai di Desa Alas Wetan.
Langit masih sering muram, dan udara pagi membawa embun yang menempel di dedaunan pisang di belakang rumah Panjul.
Desa itu terasa damai — sawah-sawah tergenang air, dan suara kodok bersahutan setiap malam.

Di rumah sederhana di tepi jalan desa, Panjul sudah mulai gelisah sejak bangun pagi.
Setelah seminggu penuh liburan, ide-ide gilanya seperti sudah kehabisan bahan bakar.

“Hmmm… mau ngapain lagi ya hari ini?” gumamnya sambil duduk di beranda.

Ia melihat anak-anak kecil main perahu kertas di selokan depan rumah. Hujan turun pelan-pelan, rintiknya seperti mengajak Panjul ikut bermain.

“Ah, udahlah… main hujan aja lagi!” katanya bersemangat, meskipun Ibu Rini dari dalam rumah sudah memperingatkan,
“Jul! Jangan main hujan lagi, lho! Badanmu bisa masuk angin!”

“Enggak apa-apa, Bu! Cuma sebentar kok… nanti aku langsung mandi!”
“Heh, ngomongmu wis kayak kaset rusak, Le. Nanti kedinginan baru tahu rasa!”

Panjul hanya tertawa lebar dan langsung lari ke halaman belakang.

Air hujan membasahi rambut dan bajunya.
Panjul berlari-lari kecil di pematang sawah, sesekali menginjak genangan air dan membuat cipratan besar.

“Wah! Ini dia kolam renang gratis buatan alam!” katanya sambil tertawa keras sendiri.

Dari kejauhan, terlihat Riko dan Danu ikut berlari menghampirinya.

“Jul! Gila kamu ya, hujan-hujanan sendirian?” seru Riko.
“Hehehe… ayo ikut, biar kita kelihatan keren bareng!”

Mereka akhirnya main bersama — membuat perahu dari daun pisang, lomba siapa yang bisa menendang lumpur paling tinggi, dan tertawa tanpa henti.
Setelah dua jam, barulah ketiganya pulang dengan tubuh basah kuyup dan wajah penuh lumpur.

Begitu sampai di rumah, Ibu Rini hanya bisa menghela napas panjang.

“Jul… Jul… kapan to awakmu iso diem?”
“Tapi Bu, main hujan tuh… kayak ngobrol sama langit, seger banget!”
“Ngobrol karo langit? Oalah… nanti ya kalau batuk baru tahu ‘ngobrol’ yang bener.”

Hari berikutnya, hujan turun lebih deras. Tapi itu tidak menghentikan Panjul. Kali ini ia bermain sendiri di sawah karena Riko dan Danu dilarang keluar rumah oleh orang tuanya.

“Wah, ternyata sendirian juga asik,” katanya sambil mengangkat tangannya ke udara, menampung air hujan.
“Hujan, jangan marah ya… aku cuma mau main bentar, hehehe.”

Panjul berjalan menyusuri pematang, melihat ikan-ikan kecil berenang di genangan air. Ia bahkan sempat membuat “rumah ikan” dari batu kecil dan daun pisang.
Tapi ketika petir tiba-tiba glarrr! menyambar dari kejauhan, Panjul menepi di gubuk sawah sambil menatap langit.

“Wuih… hebat banget, kayak naga keluar dari awan!” katanya kagum.

Ia duduk lama di situ, menatap hujan sambil tersenyum.
Tapi malamnya, tubuhnya mulai menggigil. Kepala terasa berat, dan hidungnya mulai mampet.

Pagi itu, Ibu Rini menemukan Panjul masih meringkuk di tempat tidur, wajahnya pucat dan matanya sayu.

“Jul, kok isih turu wae? Ayo sarapan, Le.”
“Bu… kok badanku kayak diaduk-aduk ya?”
“Walah, ini pasti gara-gara hujan-hujanan terus! Wes, saiki ojo kemana-mana, ngaso wae.”

Pak Surya datang dari bengkel kecilnya sambil membawa air hangat.

“Lho, bocah pahlawan hujan sakit juga toh? Hehehe.”
“Hehehe… iya, Pak. Kayaknya hujannya marah…”
“Yo wis, berarti giliran Bapak sing ‘operasi’ awakmu biar sehat maneh.”

Mereka berdua bercanda sambil Panjul dibungkus selimut tebal.
Ibu Rini memijat kakinya pelan sambil sesekali mengomel manja,

“Iki lho bocah, wis dibilang ojo main hujan, tetep wae ngeyel.”

Panjul yang mulai merasa hangat lagi malah melucu,

“Bu, kalau aku sembuh nanti boleh hujan-hujanan lagi, kan?”
“Heh! Kowe iki pengin tak sirem sek?”
“Hehehe… ya enggak, Bu… bercanda aja.”

Mereka tertawa kecil.
Hari itu Panjul hanya tidur, makan bubur, dan sesekali nonton TV sebentar. Tapi setiap kali tertawa, kepalanya langsung nyut-nyutan.

“Aduhh… anda belum beruntung kawan… hahahaha—aduhhh…”
“Lho malah ketawa lagi! Wes, turu wae, Jul,” kata Ibu Rini sambil tersenyum gemas.

Keesokan paginya, matahari akhirnya muncul setelah beberapa hari hujan terus-menerus. Cahaya masuk dari jendela kamar, menyinari wajah Panjul yang sudah mulai segar.
Ia bangun pelan-pelan, mencoba duduk.

“Lho, kok udah enak ya badanku?” katanya sambil menggerakkan tangan dan kakinya.
“Alhamdulillah…” terdengar suara Ibu Rini dari dapur. “Panjul udah bangun, Pak!”

Pak Surya datang membawa teh hangat.

“Nah, bocah ilmuwan kita udah bangun. Gimana rasanya, Le?”
“Udah mending, Pak. Kayaknya tubuhku sekarang upgrade, hehe.”
“Upgrade apaan? Jangan kayak komputer to, Jul!”
“Hehehe… tapi bener lho, Pak. Sekarang aku tahu, kalau badan capek ya harus istirahat.”

Ibu Rini tersenyum bangga sambil menatap anaknya.

“Nah, itu baru pinter. Wong sehat iku luwih penting tinimbang main terus.”
“Iya, Bu. Tapi… kalau nanti hujannya gerimis dikit aja boleh keluar nggak?”
“Heleh, belum sehari sembuh udah pengin hujanan maneh!”

Mereka tertawa bersama. Panjul menikmati teh hangatnya sambil duduk di beranda, menatap awan yang perlahan menjauh.

Siangnya, setelah makan siang, Panjul mengambil buku catatannya lagi.
Di bawah halaman “Eksperimen Gagal”, ia menulis:

**“Catatan Hari Hujan:

  1. Hujan itu menyenangkan, tapi tubuh juga butuh istirahat.
  2. Orang tua itu kayak payung — kalau kita kehujanan, mereka yang melindungi.
  3. Bersyukur itu rasanya kayak minum teh hangat waktu sembuh.”**

Ia menutup bukunya, tersenyum, lalu berkata pelan,

“Aduhh… anda belum beruntung kawan… tapi kali ini aku menang lawan demam!”

Suara tawa kecilnya kembali memenuhi rumah, dan di luar sana, matahari menembus awan seakan ikut tersenyum melihat bocah lucu itu kembali sehat.

(Bersambung ke Episode 14: Hujan Bukan Halangan, Otak tetap Jalan)

Scroll to Top