Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi #14

kepalasekolah.id – Lucu, hangat, dan penuh makna! Ikuti kisah Panjul, si anak desa yang gemuk dan kocak, dalam petualangannya mengubah hidup lewat semangat belajar dan tawa tanpa henti. “Menggapai Mimpi” akan membuatmu tersenyum sekaligus terinspirasi.

Menggapai Mimpi — Episode 14: Hujan Bukan Halangan, Otak tetap Jalan

Sudah dua hari hujan tidak berhenti di Desa Alas Wetan.
Langit kelabu, suara gemericik air terus terdengar dari genting rumah, dan aroma tanah basah bercampur dengan wangi kayu dari bengkel Pak Surya, ayah Panjul.

Sejak pagi, Panjul hanya bisa berdiri di depan jendela kamarnya.
Ia menatap rintik hujan yang menetes pelan, seperti tak mau berhenti sejak kemarin sore.

“Hujan kok kayak nggak capek ya… dari kemarin kerja terus, nggak istirahat kayak aku,” gumam Panjul sambil menguap.

Hujan itu lembut, tapi baginya mulai terasa membosankan.
Semua rencana yang disusunnya di awal liburan gagal lagi — tak bisa main ke sawah, tak bisa ke rumah Danu, apalagi mancing di sungai kecil belakang kebun.

Jam delapan pagi, Panjul sudah mondar-mandir dari ruang tengah ke dapur.
Ibu Rini, yang sedang memasak sayur lodeh, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat anaknya yang tak bisa diam.

“Jul, kowe kok mlaku-mlaku terus, kaya ayam weton ora iso mandek?”
“Lho, Bu… aku cuma bantu ngawasi sayurnya biar nggak gosong.”
“Ngawasi opo, wong kompor ae ora nyala maneh!”

Panjul nyengir lebar.

“Hehehe… iya sih, Bu. Tapi aku bisa bantu aduk bumbu.”
“Wis, kowe duduk wae. Nanti malah kecipratan minyak.”

Tapi tentu saja Panjul tetap penasaran.
Ia menatap wajan, lalu iseng bertanya,

“Bu, kalau bumbunya kebanyakan garam, bisa jadi eksperimen nggak?”
“Eksperimen opo to, Jul? Masak itu buat dimakan, bukan buat percobaan!”

Ibu Rini menepuk bahu anaknya sambil tersenyum.

“Kowe iki ya, idemu ora ono enteke. Tapi ya wis, bantu Ibu nyuci piring wae, biar tanganmu kerja, bukan ngomong wae.”

“Siap, Bu! Tapi… kalau airnya dingin banget, boleh pakai sarung tangan nggak?”
“Heleh… nyuci piring kok gaya kaya ilmuwan wae!”

Dan dapur pun dipenuhi tawa kecil mereka di antara suara hujan yang terus turun.

Menjelang siang, Panjul pindah ke bengkel ayahnya di samping rumah.
Bengkel kecil itu penuh dengan aroma serbuk kayu, suara serutan halus, dan gemeretak paku yang dipukul palu.

Pak Surya sedang membuat kursi pesanan tetangga.
Panjul datang membawa gelas teh hangat.

“Pak, ini tehnya. Biar semangat kerja!”
“Wah, matur nuwun, Jul. Tapi kamu nggak capek mondar-mandir terus? Hujan begini enaknya tidur.”
“Tidur itu terlalu mainstream, Pak. Aku mau bantu kerja.”

“Hehehe… ya sudah, bantu sini. Pegangin papan ini ya.”

Panjul memegang papan, tapi matanya malah fokus ke palu.

“Pak, kalau palunya gede banget kayak di film, bisa buat perang nggak?”
“Halah, bocah iki… kowe ngomong kok ngelantur terus. Ini bengkel, bukan film perang!”

“Hehehe… iya Pak. Tapi kan, kalau ada monster kayu, aku siap bantu!”
“Monster kayu? Lha iki kayu beneran, Jul! Kowe iki tenan wae lucu!”

Mereka pun tertawa bersama, dan Panjul benar-benar membantu — meski lebih banyak bercerita aneh ketimbang bekerja. Kadang ia malah memukul palu di tempat yang salah, membuat ayahnya kaget.

“Aduh, hampir kena jariku, Jul!”
“Aduuh… maaf, Pak! Hahahaha…”
“Walah, bocah iki, ndak iso serius setitik wae!”

Sore itu hujan makin deras. Petir menyambar sesekali, membuat langit tampak berwarna ungu gelap.
Panjul kembali ke kamarnya dengan perasaan jenuh. Ia rebahan di tempat tidur, menatap langit-langit dan mendengarkan hujan yang menetes di atap seng.

“Hmm… ngapain lagi ya? Main udah nggak bisa, keluar juga nggak boleh, TV udah bosen…”

Ia lalu melihat buku catatannya di meja.

“Ah, mungkin nulis aja kali ya.”

Panjul membuka halaman baru dan mulai menulis judul besar:
“Petualangan Panjul di Planet Hujan”

Ia menulis kisah konyol tentang dirinya yang menjadi penjelajah luar angkasa yang harus menyelamatkan hujan agar tidak berhenti selamanya.
Kadang dia menggambar monster hujan, kadang pesawat dari daun pisang. Gambar-gambarnya aneh, tapi Panjul puas melihat hasilnya.

Setelah itu, ia menyalakan senter kecil dan memantulkan cahaya ke dinding.
Tangannya membentuk bayangan kepala kelinci, burung, bahkan bentuk aneh yang ia sebut “ikan terbang tanpa sayap.”

“Hahaha… keren juga ya, tangan bisa jadi bioskop gratis,” katanya sambil tertawa sendiri.

Malamnya, ketika listrik sempat padam sebentar, Panjul menyalakan lilin dan membuat “pertunjukan bayangan” untuk dirinya sendiri.
Ibu Rini yang lewat depan kamar hanya geleng kepala melihat anaknya yang tertawa-tawa sendirian.

“Jul, ngapain to kamu?”
“Ini, Bu! Aku bikin pertunjukan bayangan! Tiketnya gratis buat Ibu!”
“Halah, ya wis… Ibu nonton bentar, tapi jangan kebakar lilinnya ya, Le.”
“Siap, Bu! Teater Panjul akan dimulai sebentar lagi!”

Ibu Rini tertawa, lalu duduk sebentar di kursi depan kamar, menikmati tingkah lucu anaknya yang tak pernah kehabisan ide meski hujan turun seharian.

Keesokan paginya, hujan mulai reda. Tapi awan masih menggantung, seakan menunggu waktu untuk turun lagi.
Panjul membuka jendela, membiarkan udara segar masuk ke kamarnya.

Ia melihat burung-burung kecil hinggap di pagar bambu yang masih basah.

“Wah, burung aja semangat bangun pagi… masa aku kalah, hehe.”

Ia duduk di kasur sambil menatap buku catatannya lagi. Di halaman terakhir, ia menulis:

“Kalau hujan bikin bosan, bukan salah hujannya. Mungkin aku aja yang belum tahu caranya bersenang-senang di rumah.”

Lalu, seperti tersadar sesuatu, Panjul melompat dari kasur dan berteriak,

“Wah! Liburanku tinggal dua hari lagi! Aku harus bikin acara penutupan liburan nih!”

Ia langsung berlari ke dapur, membuat ibu dan ayahnya kaget.

“Jul, ada apa lagi pagi-pagi sudah ribut?” tanya Pak Surya.
“Pak, Bu! Aku punya ide! Aku mau bikin… acara terakhir liburan Panjul!”
“Acara opo maneh iki?” tanya Ibu Rini curiga.
“Rahasiaaa… tapi nanti pasti seru! Aduhh… anda belum beruntung, kawan, kalau belum lihat aksi Panjul berikutnya! Hahaha!”

Kedua orang tuanya hanya saling pandang dan tertawa kecil.
Hujan di luar benar-benar berhenti, tapi tawa di rumah kecil itu terus berlanjut — hangat seperti sinar matahari yang mulai muncul dari balik awan.

(Bersambung ke Episode 15: Liburan Terakhir yang cerah)

Scroll to Top