kepalasekolah.id – Lucu, hangat, dan penuh makna! Ikuti kisah Panjul, si anak desa yang gemuk dan kocak, dalam petualangannya mengubah hidup lewat semangat belajar dan tawa tanpa henti. “Menggapai Mimpi” akan membuatmu tersenyum sekaligus terinspirasi.
Menggapai Mimpi – Episode 38: Cerita Pak Bagus
Pagi itu kelas 6 terasa lebih tenang daripada biasanya. Tidak ada suara Riko yang berteriak dari belakang. Tidak ada Panjul yang sibuk mencari sesuatu di dalam tas sambil membuat meja berantakan. Danu juga sudah duduk rapi dengan buku terbuka di depannya. Beberapa anak bahkan terlihat masih mengantuk. Panjul sendiri duduk sambil menopang dagu. Ia memandangi papan tulis yang masih kosong. “Rik.”
Riko menoleh. “Apa?”
“Pak Bagus kok belum datang?”
“Memangnya kamu kangen?”
Panjul menggeleng. “Takut.”
“Takut apa?”
“Kalau beliau datang, nanti belajar.”
Riko tertawa kecil. “Dasar.”
Tidak lama kemudian pintu kelas terbuka. Pak Bagus masuk. Namun kali ini ia tidak membawa banyak buku. Tidak membawa tumpukan tugas. Tidak pula membawa lembar ulangan. Ia hanya membawa sebuah kursi kecil. Pak Bagus meletakkan kursi itu di depan kelas. Anak-anak mulai saling pandang.
Panjul mengangkat tangan. “Pak.”
“Iya?”
“Hari ini tidak belajar?”
Pak Bagus tersenyum. “Belajar.”
Panjul menghela napas. “Yah…”
“Tapi bukan pelajaran yang ada di buku.”
Panjul langsung mengangkat kepala. “Nah!”
Beberapa anak tertawa. Pak Bagus duduk. Kemudian melihat seluruh kelas. “Bapak ingin bercerita sedikit.”
Suasana kelas mulai tenang.
“Ketika Bapak seusia kalian…” Pak Bagus berhenti sebentar.”…Bapak juga pernah menjadi murid.”
Riko langsung menyela. “Serius, Pak?”
Pak Bagus menatapnya. “Iya.”
“Kirain dari kecil langsung jadi guru.” Satu kelas tertawa.
Pak Bagus ikut tertawa. “Kalau dari kecil langsung jadi guru, berarti Bapak ini aneh sekali.”
Panjul mengangkat tangan. “Pak, dulu waktu kecil Bapak nakal?”
Pak Bagus berpikir. “Sedikit.”
Riko langsung tertawa. “Berarti saya punya harapan!”
Pak Bagus menunjuk Riko. “Jangan menjadikan cerita Bapak sebagai alasan untuk nakal.”
Kelas kembali tertawa. Setelah suasana tenang, Pak Bagus melanjutkan. “Dulu Bapak juga bukan murid yang selalu mendapatkan nilai tinggi.”
Panjul langsung memperhatikan. “Serius, Pak?”
“Serius.”
“Berarti saya masih punya kesempatan?”
Pak Bagus tersenyum. “Kesempatan apa?”
“Jadi guru.” Satu kelas tertawa.
Pak Bagus menggeleng. “Untuk menjadi guru, kamu harus belajar banyak sekali.”
Panjul langsung mengangguk. “Oh…”
Pak Bagus kemudian bercerita tentang masa sekolahnya. Ia pernah mengalami kesulitan memahami pelajaran tertentu. Pernah mendapatkan nilai yang membuatnya kecewa. Pernah merasa teman-temannya lebih pintar. Pernah pula merasa dirinya tidak cukup baik. “Tapi Bapak terus belajar.”
Panjul mendengarkan.
“Kadang berhasil. Kadang tidak.” Pak Bagus tersenyum. “Yang penting, Bapak tidak berhenti.”
Ia kemudian melihat Panjul. “Seperti kamu.”
Panjul menunjuk dirinya sendiri. “Saya?”
“Iya.”
Panjul tersenyum malu. “Padahal nilai saya belum tinggi, Pak.”
Pak Bagus menggeleng. “Bukan angka yang Bapak lihat.”
Kelas menjadi tenang. “Bapak melihat perubahanmu.”
Panjul menunduk.
Pak Bagus kemudian berdiri. Ia berjalan perlahan di depan kelas. “Anak-anak, kalian sekarang kelas 6.” Semua memperhatikan. “Waktu kalian di sekolah dasar tinggal sebentar.” Beberapa anak mulai terlihat serius. “Setelah ini kalian akan menghadapi ujian.” Danu mengangguk. “Sebentar lagi kalian akan meninggalkan sekolah ini.”
Panjul memandang sekeliling kelas. Tiba-tiba ia teringat ketika dirinya masih kelas 5. Ketika menjadi kakak kelas. Ketika bermain bersama teman. Ketika mengikuti berbagai kegiatan. Sekarang waktu terasa semakin cepat. Pak Bagus melanjutkan. “Karena itu, Bapak ingin kalian belajar dengan sungguh-sungguh.” Semua mengangguk. “Tetapi…” Pak Bagus berhenti. “…jangan hanya belajar.” Beberapa anak terlihat bingung.
Riko mengangkat tangan. “Kalau bermain saja boleh, Pak?”
Pak Bagus tertawa. “Boleh.” Riko tersenyum lebar. “Tapi ada waktunya.”
Panjul langsung berbisik, “Berarti hidup aman.” Riko menahan tawa.
Pak Bagus menjelaskan bahwa belajar memang penting. Tetapi anak-anak juga membutuhkan istirahat. Mereka membutuhkan waktu bermain. Membutuhkan waktu berbicara dengan teman. Membutuhkan waktu bersama keluarga. Bahkan membutuhkan waktu untuk melakukan hal-hal sederhana yang membuat mereka senang. “Kalau kalian belajar terus tanpa istirahat, tubuh dan pikiran bisa lelah.”
Danu memperhatikan. Ia teringat hari-harinya yang semakin padat. Les. Tugas. Belajar. Les lagi. Kadang ia bahkan lupa kapan terakhir kali bermain cukup lama bersama Panjul dan Riko. Pak Bagus melanjutkan, “Begitu juga sebaliknya.” Panjul langsung mengangkat tangan. “Kalau bermain terus?”
“Ya tidak bagus.”
Panjul menurunkan tangan.
“Yah.” Kelas tertawa.
Pak Bagus kemudian menulis di papan tulis:
BELAJAR – BERMAIN – ISTIRAHAT
“Ketiganya harus seimbang.” Ia mengetuk papan tulis. “Jangan merasa bersalah ketika bermain.” Kemudian ia menunjuk kata pertama. “Tetapi jangan melupakan belajar.” Lalu kata terakhir. “Dan jangan menganggap istirahat sebagai sesuatu yang tidak penting.”
Anak-anak mengangguk. Panjul menatap tulisan itu. Ia merasa perkataan Pak Bagus benar. Selama ini ia memang belajar dengan caranya sendiri. Tetapi ia juga suka bermain. Dan ia mulai memahami bahwa keduanya bukan musuh. Yang penting adalah tahu kapan harus melakukan masing-masing.
Danu mengangkat tangan. “Pak.”
“Iya?”
“Kalau orang tua meminta kita belajar lebih banyak bagaimana?”
Pak Bagus tersenyum. “Berbicara dengan orang tua.”
“Kalau sulit?”
“Coba jelaskan bahwa kalian juga membutuhkan waktu istirahat.”
Danu mengangguk. “Baik, Pak.”
Pak Bagus kemudian berkata, “Dan jangan menjadikan teman sebagai saingan.” Beberapa anak saling melihat. “Kalau teman kalian mendapatkan nilai bagus, jangan merasa kalian kalah.” Ia menatap Panjul. “Begitu juga kalau nilai kalian masih rendah.” Panjul mengangguk. “Yang harus kalian lawan adalah rasa malas dan keinginan untuk menyerah.”
Panjul tersenyum kecil. Kalimat itu terasa familiar. Ia pernah mendengar hal serupa. Namun kali ini ia merasa lebih memahami.
Pak Bagus kemudian kembali duduk. “Bapak tidak tahu nanti kalian akan menjadi apa.” Ada yang ingin menjadi guru. Ada yang ingin menjadi dokter. Ada yang ingin menjadi polisi. Ada yang ingin menjadi pedagang. Ada yang belum tahu. “Dan itu tidak masalah.”
Anak-anak mendengarkan. “Kalian masih punya banyak waktu untuk mencari tahu.” Pak Bagus tersenyum. “Yang penting, jangan berhenti belajar tentang diri kalian sendiri.” Kelas menjadi sunyi.
Panjul memandang papan tulis. Kemudian melihat teman-temannya. Riko sedang memperhatikan dengan serius. Danu juga. Panjul tersenyum.
Sebelum pelajaran berakhir, Pak Bagus memberikan satu pesan terakhir. “Jangan terlalu cepat ingin menjadi orang dewasa.” Beberapa anak tampak bingung. “Kalian masih anak-anak.” Pak Bagus tersenyum. “Nikmati masa sekolah kalian.” “Belajar. Bermain. Berbuat baik. Menolong teman. “Dan kalau gagal…” Ia berhenti sebentar. “…coba lagi.”
Panjul mengangguk pelan. Ia teringat dirinya sendiri. Dulu ia merasa dirinya tidak pintar. Dulu ia merasa fisiknya tidak kuat. Dulu ia sering berpikir bahwa dirinya hanya bisa membuat orang tertawa. Sekarang? Ia masih suka membuat orang tertawa. Masih sering kesulitan belajar. Masih mudah lelah. Tetapi ia sudah mulai mencoba. Dan ternyata mencoba sedikit demi sedikit bisa membawa perubahan.
Bel istirahat berbunyi. Anak-anak langsung ramai. Riko berdiri. “Jul!”
“Apa?”
“Main!”
Panjul langsung berdiri. “Ayo!”
Danu melihat mereka. Kemudian tersenyum. Ia memasukkan bukunya ke tas. Panjul menoleh. “Dan, ikut!”
Danu terdiam sebentar. Kemudian tersenyum. “Iya.” Untuk pertama kalinya setelah beberapa waktu, Danu ikut keluar bersama Panjul dan Riko. Mereka berlari menuju halaman. Tidak ada buku. Tidak ada les. Tidak ada soal. Tidak ada nilai. Hanya tiga anak yang sedang menikmati waktu bermain. Dari dalam kelas, Pak Bagus melihat mereka. Ia tersenyum. “Begitulah.” Ia kembali merapikan buku. “Belajar itu penting.” “Tapi masa kecil juga tidak boleh hilang.”
Siang itu, Panjul pulang dengan langkah ringan. Sesampainya di rumah, ia langsung menceritakan kepada ibunya tentang nasihat Pak Bagus. Ibu Rini mendengarkan sambil tersenyum. “Bagus kalau gurumu mengajarkan begitu.” Panjul mengangguk. “Bu.”
“Iya?”
“Kalau nanti aku kelas 6 selesai…”
Ibu Rini menoleh. “Kenapa?”
“Kayaknya aku bakal kangen sekolah.”
Ibu Rini tersenyum. “Belum selesai sudah kangen?”
Panjul tertawa. “Persiapan.”
Ibu Rini menggeleng. “Kamu memang aneh.”
Panjul tersenyum. Namun dalam hati, ia mulai menyadari sesuatu. Waktu kelas 6 tidak akan berlangsung selamanya. Sebentar lagi akan ada ujian. Sebentar lagi ia akan meninggalkan sekolah dasar. Dan mungkin setelah itu… hidupnya akan berubah lagi. Tetapi untuk sementara, Panjul ingin menikmati hari-harinya. Belajar lebih baik. Bermain bersama teman. Membantu keluarga. Dan terus mencoba. Karena sekarang ia sudah tahu satu hal:
Mimpi tidak selalu dicapai dengan lompatan besar. Kadang-kadang, mimpi dicapai dengan langkah kecil yang dilakukan terus-menerus.
Dan perjalanan Panjul masih jauh dari selesai.
Bersambung ke episode 39 : Hari yang Bikin Panjul Deg-degan