kepalasekolah.id – Pemanfaatan Teknologi dan Kearifan Lokal dalam Kompetensi Pedagogik Guru. Perkembangan teknologi telah membawa perubahan dalam dunia pendidikan. Guru memiliki semakin banyak pilihan untuk menghadirkan sumber belajar, media pembelajaran, aktivitas interaktif, serta pengalaman belajar yang sebelumnya sulit dilakukan hanya dengan menggunakan buku teks.
Namun, teknologi bukan satu-satunya sumber inovasi pembelajaran.
Lingkungan sekitar sekolah, budaya masyarakat, tradisi, permainan, pekerjaan masyarakat, dan berbagai bentuk kearifan lokal juga dapat menjadi sumber belajar yang sangat berharga.
Permendikdasmen Nomor 23 Tahun 2026 memberikan perhatian terhadap kedua aspek tersebut dalam kompetensi pedagogik pendidik. Guru diharapkan mampu mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi secara kritis dan kreatif dalam pembelajaran serta menerapkan strategi pembelajaran yang sesuai karakteristik murid dengan memanfaatkan sumber belajar, potensi lingkungan, dan kearifan lokal.
Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi pedagogik bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi, melainkan kemampuan memilih dan memanfaatkannya untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Teknologi Harus Memiliki Tujuan Pedagogis
Penggunaan teknologi dalam pembelajaran sebaiknya tidak dilakukan hanya karena teknologi tersebut sedang populer.
Guru perlu terlebih dahulu menentukan tujuan pembelajaran.
Jika tujuan pembelajaran adalah membantu murid memahami suatu proses yang sulit diamati secara langsung, video atau animasi dapat menjadi pilihan. Jika guru ingin memberikan latihan secara cepat, kuis digital dapat dimanfaatkan. Jika murid perlu mencari berbagai sumber informasi, sumber belajar digital dapat digunakan dengan pendampingan yang tepat.
Dengan demikian, teknologi menjadi alat untuk memperkuat pembelajaran.
Permendikdasmen Nomor 23 Tahun 2026 menekankan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi secara kritis dan kreatif. Artinya, guru perlu mempertimbangkan manfaat, kesesuaian, keamanan, serta dampak penggunaannya terhadap proses belajar murid.
Teknologi Tidak Selalu Berarti Perangkat yang Canggih
Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran tidak selalu harus menggunakan perangkat yang mahal.
Komputer, laptop, tablet, telepon pintar, proyektor, atau jaringan internet memang dapat membantu, tetapi teknologi juga dapat digunakan secara sederhana.
Guru dapat memanfaatkan presentasi digital, gambar, video pendek, audio, dokumen elektronik, kuis sederhana, atau bahan ajar digital yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Yang terpenting adalah teknologi tersebut memberikan manfaat nyata.
Pembelajaran yang menggunakan teknologi tetapi tidak memberikan pengalaman belajar yang lebih baik belum tentu lebih efektif daripada pembelajaran sederhana tanpa teknologi.
Mendorong Literasi Digital Murid
Pemanfaatan teknologi juga dapat menjadi sarana untuk mengembangkan literasi digital murid.
Murid perlu belajar bahwa informasi yang ditemukan di internet tidak semuanya dapat diterima begitu saja. Mereka perlu dibimbing untuk mengenali sumber informasi, membandingkan informasi, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, dan menjaga keamanan data pribadi.
Karena itu, guru tidak hanya mengajarkan cara menggunakan perangkat, tetapi juga membantu murid memahami perilaku digital yang bertanggung jawab.
Hal tersebut sejalan dengan tuntutan kompetensi pedagogik yang mengarahkan guru untuk menggunakan teknologi secara kritis dan kreatif dalam pembelajaran.
Kearifan Lokal sebagai Sumber Belajar
Selain teknologi, lingkungan dan kearifan lokal memiliki potensi besar untuk pembelajaran.
Kearifan lokal dapat berupa tradisi, bahasa, kesenian, permainan, makanan khas, pekerjaan masyarakat, tata kehidupan sosial, pengetahuan mengenai alam, maupun berbagai kebiasaan yang berkembang dalam masyarakat.
Guru dapat menghubungkan materi pembelajaran dengan kehidupan yang dekat dengan murid.
Misalnya, pembelajaran IPAS dapat memanfaatkan lingkungan pertanian di sekitar sekolah. Matematika dapat dikaitkan dengan kegiatan jual beli di pasar. Bahasa Indonesia dapat menggunakan cerita rakyat daerah sebagai bahan membaca dan menulis. Pendidikan Pancasila dapat memanfaatkan praktik gotong royong yang terdapat di lingkungan masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, murid dapat melihat hubungan antara materi pelajaran dan kehidupannya.
Kearifan Lokal Membuat Pembelajaran Lebih Kontekstual
Pembelajaran kontekstual membantu murid memahami bahwa pengetahuan tidak hanya terdapat di buku.
Lingkungan sekitar sekolah sebenarnya merupakan sumber belajar yang sangat luas.
Guru dapat mengajak murid mengamati tumbuhan di sekitar sekolah, melakukan wawancara sederhana dengan pelaku usaha lokal, mempelajari sejarah desa, mengidentifikasi kegiatan ekonomi masyarakat, atau mendokumentasikan permainan tradisional.
Kegiatan seperti itu dapat dikembangkan menjadi pengalaman belajar lintas mata pelajaran.
Permendikdasmen Nomor 23 Tahun 2026 secara eksplisit memasukkan pertimbangan terhadap potensi lingkungan dan kearifan lokal dalam kompetensi pedagogik pendidik.
Menggabungkan Teknologi dengan Kearifan Lokal
Teknologi dan kearifan lokal sebenarnya bukan dua hal yang harus dipertentangkan.
Keduanya dapat digabungkan.
Misalnya, murid dapat melakukan dokumentasi digital mengenai permainan tradisional di daerahnya. Murid dapat membuat video wawancara dengan tokoh masyarakat. Cerita rakyat dapat ditulis kembali dalam bentuk buku digital sederhana. Potensi lingkungan dapat dipetakan menggunakan media digital.
Dengan cara tersebut, teknologi digunakan untuk mendokumentasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan pembelajaran yang bersumber dari lingkungan lokal.
Guru sebagai Perancang Pengalaman Belajar
Pemanfaatan teknologi dan kearifan lokal kembali kepada kemampuan guru dalam merancang pengalaman belajar.
Guru perlu mempertimbangkan tujuan, karakteristik murid, sumber daya yang tersedia, serta konteks lingkungan sekolah.
Tidak semua teknologi cocok untuk semua murid. Tidak semua kearifan lokal juga harus digunakan dalam setiap pembelajaran.
Pemilihannya harus didasarkan pada relevansi.
Inilah salah satu alasan kompetensi pedagogik perlu dipahami sebagai kemampuan profesional yang terus berkembang.
Pembelajaran yang Inklusif
Teknologi dan sumber belajar lokal juga perlu digunakan dengan mempertimbangkan keragaman murid.
Guru perlu memperhatikan apakah semua murid memiliki kesempatan mengakses teknologi yang digunakan. Jika terdapat keterbatasan perangkat atau koneksi internet, guru perlu menyiapkan alternatif.
Demikian pula ketika menggunakan sumber belajar lokal, guru perlu memastikan bahwa materi tersebut disampaikan secara objektif, menghargai keberagaman, dan tidak menimbulkan perlakuan berbeda terhadap murid.
Dengan demikian, inovasi pembelajaran tetap berjalan seiring dengan prinsip inklusivitas.
Refleksi Guru dalam Penggunaan Teknologi
Setelah menggunakan teknologi atau kearifan lokal dalam pembelajaran, guru perlu melakukan refleksi.
Apakah teknologi membantu murid memahami materi? Apakah murid menjadi lebih aktif? Apakah sumber lokal yang digunakan benar-benar relevan? Apakah kegiatan tersebut membantu mencapai tujuan pembelajaran?
Jika jawabannya belum sesuai harapan, guru dapat melakukan perbaikan.
Ruang GTK menjelaskan bahwa refleksi kompetensi dapat menjadi dasar pengembangan diri guru agar kompetensinya semakin mendukung pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.
Penutup
Pemanfaatan teknologi dan kearifan lokal merupakan bagian penting dari pengembangan kompetensi pedagogik guru.
Permendikdasmen Nomor 23 Tahun 2026 menempatkan kemampuan mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi secara kritis dan kreatif serta memanfaatkan sumber belajar, lingkungan, dan kearifan lokal sebagai bagian dari kompetensi pedagogik.
Bagi guru SD, hal ini membuka ruang yang luas untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan murid.
Teknologi dapat memperluas sumber belajar, sedangkan kearifan lokal dapat memberikan konteks nyata. Jika keduanya digunakan secara tepat, pembelajaran dapat menjadi lebih relevan, bermakna, dan sesuai dengan karakteristik murid.
Pada akhirnya, teknologi bukan tujuan pembelajaran dan kearifan lokal bukan sekadar hiasan materi. Keduanya merupakan sumber daya yang dapat digunakan guru untuk membantu murid memahami dunia di sekitarnya dan mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan untuk masa depan.