Pembelajaran Bermakna dan Menggembirakan dalam Kompetensi Pedagogik Guru. Pembelajaran yang baik bukan hanya pembelajaran yang membuat murid mampu menjawab soal. Lebih dari itu, pembelajaran diharapkan dapat membantu murid memahami konsep, menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan, menerapkan apa yang dipelajari, dan melakukan refleksi.
Gagasan tersebut sejalan dengan standar kompetensi pedagogik dalam Permendikdasmen Nomor 23 Tahun 2026.
Regulasi tersebut menempatkan kemampuan merancang dan memfasilitasi pengalaman belajar yang mendorong pemahaman konseptual, penerapan kontekstual, dan refleksi bermakna sebagai bagian dari kompetensi pedagogik pendidik.
Selain itu, pendidik dituntut mampu menciptakan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Apa yang Dimaksud Pembelajaran Bermakna?
Pembelajaran bermakna dapat dipahami sebagai proses belajar yang memberikan pengalaman yang relevan dan membantu murid menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan atau pengalaman yang telah dimiliki.
Ketika murid belajar tentang pecahan, misalnya, konsep tersebut dapat dihubungkan dengan pembagian makanan. Ketika belajar tentang lingkungan, guru dapat mengajak murid mengamati kondisi lingkungan sekolah.
Dengan cara seperti ini, murid tidak hanya mengetahui definisi, tetapi memahami bagaimana pengetahuan tersebut digunakan.
Pembelajaran bermakna juga membantu murid memahami alasan mengapa mereka perlu mempelajari sesuatu.
Pembelajaran Tidak Harus Selalu Rumit
Pembelajaran bermakna tidak selalu membutuhkan media mahal atau teknologi canggih.
Guru dapat memanfaatkan benda yang tersedia di lingkungan sekolah. Lingkungan sekitar, pengalaman murid, permainan sederhana, cerita, gambar, maupun permasalahan sehari-hari dapat menjadi sumber belajar.
Permendikdasmen Nomor 23 Tahun 2026 secara eksplisit memberikan ruang bagi pendidik untuk memanfaatkan potensi lingkungan dan kearifan lokal dalam pembelajaran.
Hal tersebut sangat relevan bagi sekolah dasar yang memiliki lingkungan dan karakter masyarakat yang beragam.
Pembelajaran yang Menggembirakan
Pembelajaran menggembirakan bukan berarti kelas harus selalu ramai atau penuh permainan.
Pembelajaran dapat dikatakan menggembirakan ketika murid merasa aman untuk belajar, memperoleh tantangan yang sesuai, dihargai pendapatnya, dan memiliki kesempatan untuk aktif.
Guru dapat menciptakan suasana tersebut melalui variasi aktivitas, komunikasi positif, penggunaan media yang sesuai, kegiatan kolaboratif, permainan edukatif, praktik, proyek, dan kegiatan kontekstual.
Yang perlu diperhatikan adalah aktivitas tersebut tetap harus mendukung tujuan pembelajaran.
Memperhatikan Keragaman Murid
Salah satu tantangan guru adalah menghadapi kelas yang terdiri atas murid dengan kemampuan dan karakteristik yang berbeda.
Ada murid yang cepat memahami materi, ada yang membutuhkan pengulangan. Ada murid yang aktif berbicara, sementara yang lain lebih nyaman menyampaikan gagasan melalui tulisan atau karya.
Permendikdasmen Nomor 23 Tahun 2026 menempatkan kemampuan merespons keragaman latar belakang, kebutuhan, dan potensi murid sebagai bagian kompetensi pedagogik.
Karena itu, guru perlu mengembangkan strategi yang memungkinkan berbagai murid mendapatkan kesempatan untuk belajar.
Membangun Lingkungan Belajar yang Aman
Pembelajaran yang bermakna membutuhkan lingkungan belajar yang mendukung.
Murid perlu merasa bahwa kelas merupakan tempat untuk belajar dan berkembang. Mereka perlu mendapatkan kesempatan untuk bertanya dan menyampaikan pendapat tanpa takut dipermalukan.
Guru dapat membangun suasana tersebut melalui komunikasi yang positif, aturan kelas yang jelas, penghargaan terhadap perbedaan, serta respons yang mendidik ketika terjadi kesalahan.
Kesalahan murid dapat digunakan sebagai bahan belajar.
Menggunakan Kearifan Lokal sebagai Sumber Belajar
Indonesia memiliki keragaman budaya dan lingkungan yang sangat luas. Kondisi tersebut dapat menjadi kekuatan pembelajaran.
Guru dapat menggunakan permainan tradisional untuk kegiatan tertentu, cerita rakyat untuk pembelajaran bahasa, lingkungan pertanian untuk pembelajaran IPAS, pasar tradisional untuk matematika, atau kegiatan masyarakat sebagai bahan pembelajaran sosial.
Penggunaan konteks lokal membuat pembelajaran lebih dekat dengan kehidupan murid.
Permendikdasmen Nomor 23 Tahun 2026 secara khusus mencantumkan pemanfaatan potensi lingkungan dan kearifan lokal sebagai bagian dari kompetensi pedagogik.
Teknologi Tidak Boleh Menggantikan Tujuan Pembelajaran
Teknologi dapat membantu guru menciptakan pembelajaran yang lebih menarik.
Namun, guru tetap harus menentukan tujuan pembelajaran terlebih dahulu.
Misalnya, apabila tujuan pembelajaran adalah memahami proses terjadinya sesuatu, video atau animasi dapat digunakan untuk membantu visualisasi. Jika tujuan pembelajaran adalah melatih kemampuan berpikir, kuis digital dapat digunakan sebagai salah satu sarana latihan dan umpan balik.
Jadi, teknologi digunakan karena memiliki fungsi pedagogis, bukan sekadar agar pembelajaran terlihat modern.
Pentingnya Refleksi
Pembelajaran bermakna juga membutuhkan refleksi.
Guru perlu melihat apakah pengalaman belajar yang diberikan benar-benar membantu murid memahami materi.
Jika sebagian besar murid belum memahami konsep, guru perlu mencari kemungkinan penyebabnya. Apakah penjelasan kurang jelas? Apakah media kurang sesuai? Apakah materi terlalu sulit? Apakah murid membutuhkan pengalaman konkret?
Pertanyaan tersebut membantu guru melakukan perbaikan.
Ruang GTK juga menempatkan refleksi sebagai bagian penting dalam pengembangan kompetensi guru. Refleksi kompetensi dimaksudkan untuk membantu pendidik mengenali kompetensinya dan merencanakan pengembangan diri yang berdampak pada pembelajaran berpusat pada peserta didik.
Guru Perlu Fleksibel
Pembelajaran tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Kondisi kelas dapat berubah. Murid dapat memiliki respons yang berbeda dari perkiraan. Waktu dapat berubah karena kegiatan sekolah. Sarana juga tidak selalu tersedia.
Karena itu, guru perlu memiliki kemampuan adaptasi.
Kompetensi pedagogik dalam Permendikdasmen Nomor 23 Tahun 2026 juga menekankan kemampuan menggunakan berbagai model pembelajaran dan merespons keragaman murid.
Kemampuan beradaptasi bukan berarti tidak memiliki perencanaan. Justru guru perlu memiliki tujuan yang jelas sehingga dapat menyesuaikan cara untuk mencapai tujuan tersebut.
Pembelajaran Bermakna dan Hasil Belajar
Pembelajaran bermakna diharapkan membantu murid tidak hanya mengingat informasi, tetapi memahami dan menggunakannya.
Ketika murid mampu menjelaskan dengan bahasanya sendiri, menghubungkan konsep dengan kehidupan, menyelesaikan masalah, menghasilkan karya, atau menggunakan pengetahuan dalam situasi baru, guru dapat memperoleh gambaran bahwa proses belajar tidak berhenti pada hafalan.
Karena itu, bentuk asesmen juga perlu disesuaikan dengan tujuan pembelajaran.
Penutup
Pembelajaran bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan merupakan bagian penting dari kompetensi pedagogik yang perlu diperhatikan pendidik berdasarkan Permendikdasmen Nomor 23 Tahun 2026.
Guru perlu merancang pembelajaran dengan memperhatikan kebutuhan murid, menggunakan konteks kehidupan nyata, memanfaatkan lingkungan dan kearifan lokal, menggunakan teknologi secara tepat, menciptakan suasana belajar yang positif, serta melakukan refleksi dan perbaikan.
Pada akhirnya, pembelajaran yang menggembirakan bukan hanya tentang membuat murid senang. Lebih penting lagi, pembelajaran tersebut harus membuat murid mengalami proses belajar yang bermakna dan mencapai tujuan pembelajaran.
Sumber utama: Permendikdasmen Nomor 23 Tahun 2026.