kepalasekolah.id – Tindak Lanjut dan Pengendalian dalam SPMI: Memastikan Perbaikan Berkelanjutan di Sekolah. Salah satu bagian paling penting dalam Sistem Penjaminan Mutu Internal atau SPMI adalah memastikan bahwa hasil evaluasi benar-benar digunakan untuk melakukan perbaikan.
Sekolah dapat memiliki program yang baik, melaksanakan monitoring secara berkala, dan menyusun laporan evaluasi dengan lengkap. Namun, semua proses tersebut belum memberikan dampak maksimal apabila hasil evaluasi tidak diikuti dengan tindakan nyata.
Karena itu, tindak lanjut dan pengendalian dalam SPMI memiliki posisi yang sangat penting.
Tindak lanjut merupakan langkah yang dilakukan setelah sekolah memperoleh hasil evaluasi. Sementara itu, pengendalian merupakan proses untuk memastikan bahwa hasil evaluasi tersebut benar-benar direspons melalui tindakan yang sesuai.
Dalam Permendikdasmen Nomor 21 Tahun 2026 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan, pengendalian menjadi tahap keenam dalam siklus SPMI setelah tahap menetapkan, memetakan, merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi.
Pada tahap pengendalian, sekolah menindaklanjuti hasil evaluasi melalui tindakan korektif, preventif, pemeliharaan, maupun pengembangan.
Dengan demikian, SPMI tidak berhenti pada kegiatan evaluasi. Hasil evaluasi harus menjadi dasar untuk menentukan apa yang perlu diperbaiki, dipertahankan, atau dikembangkan.
Mengapa Tindak Lanjut Sangat Penting dalam SPMI?
Evaluasi pada dasarnya memberikan informasi mengenai kondisi program dan hasil yang telah dicapai.
Namun, informasi saja belum cukup.
Misalnya, hasil evaluasi menunjukkan bahwa program peningkatan kemampuan numerasi belum mencapai target. Informasi tersebut penting, tetapi sekolah masih perlu menjawab pertanyaan berikutnya:
Apa yang harus dilakukan setelah mengetahui hasil tersebut?
Jika tidak ada tindakan lanjutan, kondisi yang sama dapat kembali terjadi pada periode berikutnya.
Sebaliknya, apabila sekolah segera menganalisis hasil evaluasi dan menentukan langkah perbaikan, maka evaluasi dapat menghasilkan perubahan nyata.
Inilah alasan mengapa tindak lanjut menjadi bagian penting dalam budaya mutu.
Sekolah tidak hanya bertanya:
“Apakah program sudah dilaksanakan?”
Tetapi juga bertanya:
“Apa yang harus kita lakukan berdasarkan hasil pelaksanaan program tersebut?”
Pertanyaan kedua inilah yang membawa SPMI dari sekadar administrasi menuju proses perbaikan berkelanjutan.
Pengendalian Merupakan Tahap Keenam dalam Siklus SPMI
Permendikdasmen Nomor 21 Tahun 2026 menetapkan enam tahap siklus SPMI, yaitu:
- Menetapkan
- Memetakan
- Merencanakan
- Melaksanakan
- Mengevaluasi
- Mengendalikan
Tahapan tersebut saling berhubungan.
Sekolah terlebih dahulu menetapkan standar atau sasaran mutu. Setelah itu, sekolah memetakan kondisi nyata untuk mengetahui kesenjangan.
Berdasarkan hasil pemetaan, sekolah menyusun rencana perbaikan.
Rencana kemudian dilaksanakan.
Selama dan setelah pelaksanaan, sekolah melakukan monitoring dan evaluasi.
Kemudian hasil evaluasi digunakan untuk melakukan pengendalian.
Dengan demikian, tahap pengendalian bukan tahap yang berdiri sendiri. Tahap ini merupakan respons terhadap hasil pelaksanaan dan evaluasi.
Secara sederhana, alurnya dapat dipahami sebagai berikut:
Menetapkan → Memetakan → Merencanakan → Melaksanakan → Mengevaluasi → Mengendalikan → Perbaikan berikutnya
Siklus tersebut kemudian kembali berjalan untuk memastikan peningkatan mutu berlangsung secara berkelanjutan. Permendikdasmen Nomor 21 Tahun 2026 menetapkan bahwa siklus SPMI dilaksanakan paling sedikit satu kali dalam satu tahun, sementara pemantauan, refleksi, dan perbaikan dapat dilakukan lebih sering sesuai kebutuhan sekolah.
Apa yang Dimaksud Tindak Lanjut dalam SPMI?
Tindak lanjut adalah tindakan nyata yang dilakukan setelah sekolah memperoleh hasil evaluasi.
Tindakan tersebut harus berhubungan dengan temuan dan kebutuhan yang ditemukan.
Sebagai contoh, sekolah melakukan evaluasi program literasi.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kegiatan membaca telah berjalan, tetapi peningkatan kemampuan membaca peserta didik belum merata.
Maka tindak lanjutnya tidak cukup dengan membuat laporan bahwa program telah dilaksanakan.
Sekolah dapat melakukan beberapa langkah seperti:
- mengidentifikasi peserta didik yang membutuhkan pendampingan;
- memperbaiki strategi pembelajaran;
- memberikan pendampingan kepada guru;
- menambah atau memperbaiki bahan bacaan;
- memperkuat kegiatan literasi di kelas;
- melakukan pemantauan secara berkala;
- atau menyesuaikan target program.
Dengan demikian, tindak lanjut harus menjawab masalah yang ditemukan melalui evaluasi.
Tindak Lanjut Tidak Selalu Berarti Memperbaiki
Ada anggapan bahwa tindak lanjut hanya dilakukan apabila program mengalami masalah.
Padahal, tidak selalu demikian.
Jika evaluasi menunjukkan bahwa suatu program berhasil, tindak lanjut dapat berupa pemeliharaan dan pengembangan.
Misalnya, sekolah memiliki program pembiasaan membaca yang terbukti memberikan hasil positif.
Sekolah dapat mempertahankan program tersebut dan kemudian mengembangkannya ke kelas atau kegiatan lain.
Dengan demikian, tindak lanjut dapat menghasilkan beberapa bentuk tindakan.
1. Perbaikan
Dilakukan ketika program belum mencapai target.
2. Koreksi
Dilakukan untuk memperbaiki kesalahan atau penyimpangan dalam pelaksanaan.
3. Pencegahan
Dilakukan untuk mencegah masalah yang sama terjadi kembali.
4. Pemeliharaan
Dilakukan untuk mempertahankan program atau praktik yang sudah berjalan dengan baik.
5. Pengembangan
Dilakukan untuk meningkatkan atau memperluas praktik yang sudah terbukti efektif.
Pendekatan tersebut sesuai dengan penjelasan resmi mengenai tahap pengendalian dalam SPMI 2026, yaitu menindaklanjuti hasil evaluasi melalui tindakan korektif, preventif, pemeliharaan, atau pengembangan.
Perbedaan Evaluasi dan Pengendalian
Evaluasi dan pengendalian sering dianggap sebagai kegiatan yang sama.
Padahal, keduanya memiliki fungsi yang berbeda.
Evaluasi berfokus pada penilaian terhadap pelaksanaan dan hasil program.
Pengendalian berfokus pada tindakan yang dilakukan berdasarkan hasil evaluasi.
Contohnya:
Sekolah melaksanakan program peningkatan kompetensi guru.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sebagian guru telah menerapkan hasil pelatihan, tetapi sebagian lainnya masih mengalami kesulitan.
Maka:
Evaluasi: menemukan bahwa penerapan hasil pelatihan belum merata.
Pengendalian: sekolah menyusun pendampingan lanjutan bagi guru yang masih membutuhkan dukungan.
Perbedaan tersebut penting dipahami agar sekolah tidak menganggap bahwa laporan evaluasi merupakan akhir dari siklus.
Justru hasil evaluasi menjadi awal bagi tindakan berikutnya.
Bagaimana Cara Menentukan Tindak Lanjut?
Tindak lanjut sebaiknya tidak dibuat berdasarkan perkiraan.
Sekolah perlu menggunakan hasil evaluasi dan data sebagai dasar pengambilan keputusan.
Permendikdasmen Nomor 21 Tahun 2026 menekankan bahwa penjaminan mutu dilakukan secara objektif dengan menggunakan data, indikator, dan bukti yang terukur.
Karena itu, sekolah dapat menggunakan beberapa pertanyaan sederhana:
Apa masalah yang ditemukan?
Tentukan masalah berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi.
Mengapa masalah tersebut terjadi?
Cari penyebab atau akar masalah.
Apa dampaknya?
Identifikasi pihak atau aspek yang terdampak.
Apa yang dapat dilakukan?
Tentukan tindakan yang paling realistis.
Siapa yang bertanggung jawab?
Tetapkan pihak yang menjalankan tindak lanjut.
Kapan dilakukan?
Tentukan waktu pelaksanaan.
Bagaimana keberhasilannya diukur?
Tentukan indikator keberhasilan.
Dengan cara tersebut, tindak lanjut menjadi lebih terarah.
Contoh Format Rencana Tindak Lanjut SPMI
Sekolah tidak harus menggunakan format yang rumit.
Format sederhana dapat memuat:
| Komponen | Isi |
|---|---|
| Temuan evaluasi | Kemampuan membaca sebagian peserta didik belum mencapai target |
| Akar masalah | Pendampingan belum dilakukan secara intensif |
| Tindakan | Pendampingan membaca secara terjadwal |
| Penanggung jawab | Guru kelas dan tim terkait |
| Waktu | Periode berikutnya |
| Indikator keberhasilan | Terjadi peningkatan capaian membaca |
| Bukti | Hasil asesmen, catatan pendampingan, dan hasil observasi |
| Tindak lanjut berikutnya | Dipertahankan atau diperbaiki berdasarkan hasil evaluasi |
Format tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah.
Yang lebih penting bukan bentuk tabelnya, tetapi apakah sekolah benar-benar menggunakan hasil evaluasi untuk menentukan tindakan.
Hubungan Tindak Lanjut dengan Rapor Pendidikan
Rapor Pendidikan dapat menjadi salah satu sumber informasi yang membantu sekolah mengenali kondisi dan menentukan prioritas peningkatan mutu.
Namun, tindak lanjut SPMI tidak berarti sekolah harus memperbaiki semua indikator sekaligus.
Sekolah perlu menentukan prioritas berdasarkan masalah yang paling membutuhkan perhatian dan kemungkinan dampaknya terhadap peserta didik.
Misalnya, data menunjukkan adanya masalah pada aspek tertentu dalam pembelajaran.
Sekolah kemudian melakukan refleksi untuk mencari kemungkinan akar masalah.
Setelah itu, sekolah menyusun program perbaikan.
Program dilaksanakan dan dimonitor.
Kemudian hasilnya dievaluasi.
Jika hasilnya belum sesuai target, sekolah melakukan pengendalian dan tindak lanjut.
Dengan demikian, hubungan antara data dan tindakan dapat digambarkan sebagai:
Data → Identifikasi Masalah → Refleksi → Program Perbaikan → Pelaksanaan → Evaluasi → Tindak Lanjut
Pendekatan berbasis data seperti ini sejalan dengan arah Permendikdasmen Nomor 21 Tahun 2026 yang menempatkan data sebagai dasar dalam pengambilan keputusan peningkatan mutu.
Tindak Lanjut SPMI Tidak Harus Menambah Banyak Administrasi
Salah satu kekhawatiran sekolah dalam pelaksanaan SPMI adalah bertambahnya dokumen.
Padahal, tujuan utama penjaminan mutu bukan menghasilkan sebanyak mungkin dokumen.
BBPMP Jawa Timur menekankan bahwa penjaminan mutu perlu bergerak dari sekadar pemenuhan administrasi menuju budaya mutu yang tumbuh dari dalam satuan pendidikan.
Karena itu, sekolah sebaiknya menghindari membuat dokumen yang tidak digunakan.
Jika sekolah telah memiliki dokumen perencanaan, hasil evaluasi, catatan monitoring, atau program kerja yang relevan, informasi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bukti tindak lanjut.
Prinsip sederhananya adalah:
Dokumen dibuat untuk mendukung pekerjaan, bukan pekerjaan dilakukan hanya untuk membuat dokumen.
Dengan prinsip tersebut, SPMI dapat menjadi bagian dari pengelolaan sekolah sehari-hari.
Contoh Tindak Lanjut SPMI di Sekolah Dasar
Berikut beberapa contoh sederhana.
Contoh 1: Literasi
Temuan: kemampuan membaca beberapa peserta didik masih rendah.
Tindak lanjut: memberikan pendampingan khusus, memperkuat kegiatan membaca, dan melakukan asesmen berkala.
Contoh 2: Numerasi
Temuan: peserta didik mengalami kesulitan menyelesaikan soal berbasis masalah.
Tindak lanjut: guru memperbanyak pembelajaran kontekstual dan melakukan refleksi terhadap strategi pembelajaran.
Contoh 3: Kompetensi Guru
Temuan: sebagian guru masih mengalami kesulitan menggunakan strategi pembelajaran tertentu.
Tindak lanjut: dilakukan berbagi praktik baik, pendampingan, observasi, atau kegiatan pengembangan kompetensi.
Contoh 4: Kehadiran Peserta Didik
Temuan: tingkat kehadiran sebagian peserta didik belum sesuai target.
Tindak lanjut: sekolah menganalisis penyebab, melakukan komunikasi dengan orang tua, dan memperkuat pemantauan kehadiran.
Contoh 5: Lingkungan Belajar
Temuan: hasil refleksi menunjukkan lingkungan belajar belum sepenuhnya mendukung kenyamanan peserta didik.
Tindak lanjut: sekolah menentukan perbaikan lingkungan sesuai masalah yang ditemukan dan mengevaluasi hasilnya.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa tindak lanjut tidak selalu membutuhkan program besar.
Perbaikan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan dampak yang lebih baik daripada program besar yang hanya dilakukan sesekali.
Peran Kepala Sekolah dalam Pengendalian SPMI
Kepala sekolah memiliki peran penting dalam memastikan hasil evaluasi tidak berhenti sebagai laporan.
Kepala sekolah perlu:
- memastikan hasil evaluasi dibahas bersama;
- mendorong penggunaan data dalam pengambilan keputusan;
- menentukan prioritas perbaikan;
- memastikan pembagian tugas;
- menyediakan dukungan yang diperlukan;
- memantau pelaksanaan tindak lanjut;
- dan memastikan hasil perbaikan kembali dievaluasi.
Kepala sekolah juga perlu membangun suasana bahwa evaluasi bukan kegiatan untuk mencari pihak yang salah.
Evaluasi seharusnya digunakan untuk mengetahui bagaimana sekolah dapat bekerja lebih baik.
Peran Guru dalam Tindak Lanjut SPMI
Guru merupakan pihak yang sangat penting karena banyak program peningkatan mutu berkaitan langsung dengan proses pembelajaran.
Guru dapat berperan dalam:
- membaca hasil evaluasi;
- melakukan refleksi terhadap pembelajaran;
- mengidentifikasi kebutuhan peserta didik;
- melaksanakan strategi perbaikan;
- mendokumentasikan perkembangan;
- berbagi praktik baik;
- dan memberikan masukan kepada tim penjaminan mutu.
Dengan demikian, tindak lanjut SPMI seharusnya tidak hanya menjadi kegiatan kepala sekolah atau TPMPS.
Guru perlu menjadi bagian dari proses perbaikan.
Peran TPMPS dalam Pengendalian
Tim Penjaminan Mutu Satuan Pendidikan atau TPMPS dapat membantu mengoordinasikan tindak lanjut.
Peran tersebut antara lain:
- Menganalisis hasil evaluasi.
- Mengidentifikasi masalah prioritas.
- Membantu menentukan tindakan perbaikan.
- Mengkoordinasikan pihak yang terlibat.
- Memantau pelaksanaan tindak lanjut.
- Mengumpulkan bukti hasil perbaikan.
- Membantu melakukan evaluasi ulang.
- Memberikan rekomendasi untuk siklus berikutnya.
Namun, tanggung jawab mutu tetap merupakan tanggung jawab bersama.
Permendikdasmen Nomor 21 Tahun 2026 menempatkan pelaksanaan SPMI pada satuan pendidikan dengan melibatkan unsur pimpinan, pendidik, dan komite atau pemangku kepentingan yang relevan.
Bagaimana Mengetahui Tindak Lanjut Berhasil?
Tindak lanjut perlu memiliki indikator keberhasilan.
Jangan sampai sekolah hanya menyatakan:
“Sudah dilakukan tindak lanjut.”
Pernyataan tersebut belum menunjukkan apakah tindak lanjut memberikan perubahan.
Misalnya:
Masalah: kemampuan membaca peserta didik rendah.
Tindak lanjut: dilakukan pendampingan membaca.
Indikator: terjadi peningkatan kemampuan membaca berdasarkan hasil asesmen berikutnya.
Dengan demikian, sekolah dapat membandingkan kondisi sebelum dan sesudah tindakan.
Apabila hasil belum berubah, sekolah tidak perlu menganggap proses tersebut gagal.
Sekolah dapat kembali melakukan refleksi:
- Apakah tindakan yang dilakukan sudah tepat?
- Apakah waktunya cukup?
- Apakah strategi yang digunakan sesuai?
- Apakah ada faktor lain yang memengaruhi?
- Apakah dukungan yang diberikan sudah memadai?
Dari sini, siklus SPMI kembali berjalan.
Pengendalian Bukan Berarti Mengawasi Secara Ketat
Istilah “pengendalian” terkadang dipahami sebagai pengawasan yang bersifat kaku.
Dalam konteks SPMI, pengendalian lebih tepat dipahami sebagai upaya memastikan hasil evaluasi benar-benar menghasilkan respons yang sesuai.
Tujuannya bukan mencari kesalahan individu.
Tujuannya adalah memastikan sistem berjalan menuju peningkatan mutu.
Karena itu, pengendalian dapat berupa:
- perbaikan program;
- pendampingan;
- penguatan kapasitas guru;
- penyesuaian strategi;
- penguatan sarana;
- pemeliharaan praktik baik;
- pencegahan masalah;
- atau pengembangan program.
Pendekatan tersebut membuat pengendalian lebih konstruktif.
Hubungan Pengendalian dengan Siklus Berikutnya
Salah satu karakteristik penting SPMI adalah adanya siklus berkelanjutan.
Hasil pengendalian tidak menjadi akhir.
Hasil tersebut menjadi masukan untuk tahap berikutnya.
Misalnya:
Siklus pertama
Sekolah menemukan masalah literasi → menyusun program → melaksanakan → mengevaluasi → melakukan tindak lanjut.
Siklus berikutnya
Sekolah melihat hasil tindak lanjut → menentukan apakah masalah sudah teratasi → mempertahankan atau memperbaiki strategi → melakukan evaluasi kembali.
Dengan pola tersebut, sekolah terus belajar dari pengalaman.
Inilah yang dimaksud dengan perbaikan berkelanjutan.
Tindak Lanjut sebagai Bukti Budaya Mutu
Sekolah yang memiliki budaya mutu bukan berarti sekolah yang tidak memiliki masalah.
Setiap sekolah pasti memiliki tantangan.
Perbedaannya adalah bagaimana sekolah merespons masalah tersebut.
Sekolah dengan budaya mutu akan:
Mengenali masalah → mencari penyebab → menentukan tindakan → melaksanakan → mengevaluasi → memperbaiki kembali.
Budaya seperti ini membuat peningkatan mutu menjadi bagian dari kebiasaan sekolah.
BBPMP Jawa Timur juga menekankan bahwa penjaminan mutu dalam Permendikdasmen Nomor 21 Tahun 2026 diarahkan untuk menjadi proses sistematis, terintegrasi, dan berkelanjutan, bukan kegiatan sesaat.
Hubungan SPMI dengan Akreditasi
Tindak lanjut SPMI juga memiliki hubungan dengan Sistem Penjaminan Mutu Eksternal atau SPME.
SPMI merupakan proses perbaikan yang dilakukan dari dalam satuan pendidikan, sedangkan SPME memberikan penilaian eksternal melalui mekanisme yang ditetapkan.
Permendikdasmen Nomor 21 Tahun 2026 menempatkan SPMI dan SPME sebagai bagian dari Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan yang diselenggarakan secara terintegrasi, bersinergi, dan berkelanjutan.
Hasil SPMI menjadi dasar dalam SPME, sementara hasil SPME juga dapat digunakan untuk menyempurnakan SPMI.
Artinya, sekolah tidak seharusnya baru melakukan perbaikan ketika akan menghadapi akreditasi.
Perbaikan seharusnya sudah berlangsung dalam kegiatan sekolah sehari-hari.
Jika SPMI berjalan dengan baik, berbagai bukti perbaikan mutu akan terbentuk secara alami dari proses pengelolaan sekolah.
Lima Pertanyaan Penting Setelah Evaluasi
Untuk mempermudah pelaksanaan tindak lanjut, sekolah dapat menggunakan lima pertanyaan sederhana:
1. Apa yang sudah berhasil?
Identifikasi praktik baik yang perlu dipertahankan.
2. Apa yang belum berhasil?
Tentukan bagian yang masih membutuhkan perbaikan.
3. Mengapa belum berhasil?
Cari penyebab atau akar masalah.
4. Apa yang akan dilakukan?
Tentukan tindakan perbaikan yang realistis.
5. Bagaimana kita mengetahui bahwa tindakan tersebut berhasil?
Tentukan indikator dan bukti keberhasilannya.
Lima pertanyaan tersebut dapat menjadi bahan diskusi dalam rapat sekolah, refleksi guru, pertemuan TPMPS, maupun kegiatan evaluasi program.
Checklist Sederhana Tindak Lanjut SPMI
Sekolah dapat menggunakan checklist berikut:
-
Hasil evaluasi sudah dibahas.
-
Temuan utama sudah diidentifikasi.
-
Akar masalah sudah dianalisis.
-
Prioritas perbaikan sudah ditentukan.
-
Tindakan tindak lanjut sudah dirumuskan.
-
Penanggung jawab sudah ditentukan.
-
Waktu pelaksanaan sudah ditetapkan.
-
Indikator keberhasilan sudah tersedia.
-
Bukti pelaksanaan dikumpulkan.
-
Hasil tindak lanjut dievaluasi kembali.
Checklist sederhana tersebut dapat membantu sekolah memastikan bahwa proses tidak berhenti pada laporan evaluasi.
Kesimpulan
Tindak lanjut dan pengendalian dalam SPMI merupakan tahap yang memastikan proses penjaminan mutu benar-benar menghasilkan perubahan.
Evaluasi memberikan informasi mengenai kondisi dan hasil program. Tindak lanjut kemudian mengubah informasi tersebut menjadi tindakan.
Dalam Permendikdasmen Nomor 21 Tahun 2026, pengendalian merupakan tahap keenam dalam siklus SPMI. Pengendalian dilakukan dengan menindaklanjuti hasil evaluasi melalui tindakan korektif, preventif, pemeliharaan, maupun pengembangan.
Karena itu, sekolah tidak perlu memandang SPMI sebagai rangkaian administrasi yang harus diselesaikan.
SPMI sebaiknya dipahami sebagai cara kerja untuk memperbaiki sekolah secara terus-menerus.
Ketika sebuah program belum berhasil, sekolah mencari penyebab dan memperbaikinya.
Ketika sebuah program berhasil, sekolah mempertahankan dan mengembangkannya.
Ketika muncul risiko masalah, sekolah melakukan pencegahan.
Ketika praktik baik ditemukan, sekolah menyebarluaskan dan menjadikannya bagian dari budaya sekolah.
Pada akhirnya, keberhasilan SPMI bukan hanya terlihat dari banyaknya dokumen yang dimiliki sekolah. Keberhasilannya terlihat dari kemampuan sekolah untuk mengenali masalah, mengambil keputusan berdasarkan data, melakukan perbaikan, mengukur hasil, dan terus belajar dari proses tersebut.
Dengan demikian, tindak lanjut dan pengendalian menjadi jembatan antara hasil evaluasi dan perubahan nyata.