4 Kerangka Pembelajaran Mendalam: Panduan Guru SD dalam Menerapkannya

kepalasekolah.id – 4 Kerangka Pembelajaran Mendalam: Panduan Guru SD dalam Menerapkannya. Pembelajaran Mendalam semakin banyak dibahas dalam dunia pendidikan karena pendekatan ini tidak hanya melihat pembelajaran dari sisi penyampaian materi, tetapi juga memperhatikan kualitas pengalaman belajar peserta didik secara utuh.

Setelah memahami pengertian Pembelajaran Mendalam, guru perlu melangkah lebih jauh dengan memahami bagaimana pendekatan tersebut dapat dirancang dalam kegiatan pembelajaran.

Salah satu bagian penting yang perlu diketahui adalah empat kerangka pembelajaran dalam Pembelajaran Mendalam.

Empat kerangka tersebut terdiri atas praktik pedagogis, kemitraan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pemanfaatan digital. Keempatnya merupakan bagian dari kerangka kerja Pembelajaran Mendalam yang digunakan untuk membantu guru menyusun desain pembelajaran secara sistematis.

Bagi guru SD, pemahaman terhadap empat kerangka ini penting karena penerapan Pembelajaran Mendalam bukan berarti guru harus menggunakan metode pembelajaran tertentu dalam setiap pertemuan. Guru justru diberikan ruang untuk memilih strategi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, karakteristik siswa, materi, serta kondisi sekolah.

Dengan memahami empat kerangka tersebut, guru dapat merancang pembelajaran yang lebih terarah, kontekstual, dan memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna.

Mengenal Kerangka Kerja Pembelajaran Mendalam

Sebelum membahas empat kerangka pembelajaran, guru perlu memahami bahwa kerangka kerja Pembelajaran Mendalam secara keseluruhan terdiri atas empat komponen, yaitu:

  1. Dimensi profil lulusan
  2. Prinsip pembelajaran
  3. Pengalaman belajar
  4. Kerangka pembelajaran

Keempat komponen tersebut saling berkaitan dalam membangun pembelajaran mendalam.

Sementara itu, empat kerangka pembelajaran yang menjadi fokus artikel ini adalah bagian keempat dari kerangka kerja tersebut.

Empat kerangka pembelajaran itu adalah:

  • Praktik pedagogis
  • Kemitraan pembelajaran
  • Lingkungan pembelajaran
  • Pemanfaatan digital

Keempatnya bukan bagian yang berdiri sendiri. Guru dapat mengombinasikannya sesuai kebutuhan.

Sebagai contoh, guru dapat menggunakan praktik pedagogis berupa pembelajaran berbasis masalah, melibatkan orang tua sebagai mitra, menciptakan lingkungan kelas yang aman untuk berdiskusi, dan menggunakan teknologi digital untuk mencari atau menyajikan informasi.

Dengan demikian, keempat kerangka tersebut dapat saling memperkuat.

1. Praktik Pedagogis

Kerangka pertama adalah praktik pedagogis.

Praktik pedagogis berkaitan dengan bagaimana guru merancang dan melaksanakan proses pembelajaran agar peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang berkualitas.

Dalam Pembelajaran Mendalam, guru tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi.

Guru berperan sebagai perancang pengalaman belajar, fasilitator, pemberi umpan balik, sekaligus pendamping yang membantu siswa membangun pemahaman.

Situs resmi Sistem Informasi Kurikulum Nasional menjelaskan bahwa empat kerangka tersebut digunakan sebagai panduan sistematis dalam menyusun desain pembelajaran.

Praktik pedagogis bukan sekadar metode mengajar

Guru mungkin sudah mengenal berbagai metode pembelajaran seperti:

  • diskusi,
  • demonstrasi,
  • eksperimen,
  • pembelajaran berbasis proyek,
  • pembelajaran berbasis masalah,
  • kerja kelompok,
  • permainan edukatif,
  • studi kasus,
  • dan pembelajaran kontekstual.

Semua metode tersebut dapat digunakan.

Namun, yang menjadi perhatian bukan sekadar nama metodenya.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah metode tersebut membantu siswa memahami materi secara lebih mendalam?

Misalnya, guru kelas 5 mengajarkan materi tentang perubahan lingkungan.

Guru dapat memberikan penjelasan mengenai pencemaran lingkungan.

Namun, pembelajaran dapat dibuat lebih mendalam dengan mengajak siswa mengamati lingkungan sekolah.

Siswa kemudian mencatat masalah yang ditemukan, mendiskusikan penyebabnya, mencari solusi, dan menyampaikan hasil pengamatan.

Di sini guru tidak hanya memberikan materi, tetapi merancang pengalaman belajar yang membuat siswa berpikir dan menghubungkan materi dengan kehidupan nyata.

Guru sebagai fasilitator

Dalam praktik pedagogis Pembelajaran Mendalam, guru dapat memberikan pertanyaan pemantik.

Misalnya:

“Menurut kalian, mengapa masalah tersebut terjadi?”

“Apakah masalah tersebut dapat diselesaikan?”

“Apa bukti yang kalian temukan?”

“Bagaimana solusi yang paling mungkin dilakukan?”

Pertanyaan tersebut mendorong siswa untuk memberikan alasan dan tidak hanya mencari jawaban yang sudah tersedia.

Guru kemudian memberikan umpan balik untuk membantu siswa memperbaiki pemahamannya.

Memperhatikan kesiapan siswa

Praktik pedagogis juga perlu mempertimbangkan kondisi peserta didik.

Siswa SD memiliki kemampuan dan pengalaman yang beragam.

Karena itu, guru perlu mempertimbangkan:

  • pengetahuan awal siswa,
  • kemampuan membaca,
  • kemampuan berhitung,
  • pengalaman sehari-hari,
  • minat,
  • kebutuhan belajar,
  • dan perkembangan peserta didik.

Pembelajaran yang baik bukan pembelajaran yang paling rumit, tetapi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan tetap memberikan tantangan yang mendorong mereka berkembang.

2. Kemitraan Pembelajaran

Kerangka kedua adalah kemitraan pembelajaran.

Pembelajaran tidak hanya berlangsung antara guru dan siswa.

Keberhasilan pendidikan juga membutuhkan dukungan dari lingkungan yang lebih luas.

Kemitraan pembelajaran dapat melibatkan:

  • guru,
  • siswa,
  • orang tua,
  • kepala sekolah,
  • tenaga kependidikan,
  • masyarakat,
  • komunitas,
  • dan berbagai pihak lain yang relevan.

Pembelajaran Mendalam memandang kolaborasi sebagai bagian penting dari ekosistem pendidikan. Dokumen resmi Kemendikdasmen juga menempatkan kemitraan pembelajaran sebagai salah satu dari empat kerangka pembelajaran.

Siswa sebagai mitra belajar

Kemitraan tidak berarti guru menyerahkan pembelajaran kepada siswa.

Guru tetap memiliki tanggung jawab dalam merancang pembelajaran.

Namun, siswa diberi ruang untuk menjadi subjek aktif dalam proses belajar.

Misalnya, guru ingin mengajarkan materi tentang lingkungan.

Daripada seluruh informasi diberikan oleh guru, siswa dapat diajak menentukan pertanyaan yang ingin mereka ketahui.

Guru kemudian membimbing siswa mencari jawabannya.

Dengan cara tersebut, siswa memiliki rasa memiliki terhadap proses belajar.

Melibatkan orang tua

Orang tua juga dapat menjadi mitra pembelajaran.

Contohnya, ketika siswa belajar tentang penggunaan energi di rumah, guru dapat memberikan kegiatan sederhana berupa pengamatan penggunaan listrik.

Siswa dapat mencatat peralatan yang digunakan di rumah dan berdiskusi dengan orang tua mengenai cara menghemat energi.

Kegiatan tersebut membuat pembelajaran tidak berhenti di sekolah.

Orang tua dapat mengetahui apa yang sedang dipelajari anak dan membantu menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.

Melibatkan lingkungan sekitar

Kemitraan juga dapat diperluas ke lingkungan sekitar sekolah.

Misalnya, pada pembelajaran tentang kegiatan ekonomi, siswa dapat melakukan wawancara sederhana dengan pedagang di sekitar sekolah.

Pada pembelajaran tentang kesehatan, guru dapat mengundang tenaga kesehatan untuk memberikan informasi sesuai kebutuhan.

Pada pembelajaran tentang lingkungan, siswa dapat bekerja sama dengan pengelola lingkungan atau masyarakat dalam kegiatan sederhana.

Tentu saja, bentuk kemitraan harus disesuaikan dengan usia siswa dan kondisi sekolah.

Tidak semua pembelajaran membutuhkan mitra dari luar.

Yang penting adalah adanya hubungan yang relevan dan memberikan manfaat bagi proses belajar.

3. Lingkungan Pembelajaran

Kerangka ketiga adalah lingkungan pembelajaran.

Lingkungan belajar memiliki pengaruh besar terhadap pengalaman siswa.

Lingkungan pembelajaran dalam Pembelajaran Mendalam tidak hanya berarti kondisi fisik ruang kelas.

Lingkungan belajar juga mencakup suasana psikologis, sosial, dan budaya yang membuat siswa merasa aman untuk belajar.

Siswa perlu merasa bahwa kelas adalah tempat yang memungkinkan mereka:

  • bertanya,
  • mencoba,
  • membuat kesalahan,
  • memperbaiki kesalahan,
  • menyampaikan pendapat,
  • bekerja sama,
  • dan belajar dari pengalaman.

Kelas yang aman untuk bertanya

Guru dapat menciptakan budaya kelas yang tidak membuat siswa takut ketika memberikan jawaban yang salah.

Misalnya, ketika siswa memberikan jawaban yang kurang tepat, guru tidak langsung mengatakan:

“Salah.”

Guru dapat bertanya:

“Bagaimana kamu mendapatkan jawaban itu?”

“Apa yang membuat kamu berpikir demikian?”

“Ada teman yang memiliki pendapat berbeda?”

Dengan cara ini, jawaban siswa dapat menjadi bahan diskusi.

Kesalahan tidak selalu dipandang sebagai kegagalan.

Kesalahan dapat menjadi bagian dari proses belajar.

Lingkungan yang mendorong kolaborasi

Penataan tempat duduk juga dapat mendukung pembelajaran.

Tidak semua kegiatan harus dilakukan dengan posisi siswa menghadap papan tulis.

Untuk kegiatan diskusi, siswa dapat duduk berkelompok.

Untuk kegiatan presentasi, siswa dapat menghadap teman-temannya.

Untuk kegiatan eksperimen, meja dapat disusun sesuai kebutuhan.

Dengan demikian, lingkungan fisik kelas dapat disesuaikan dengan aktivitas pembelajaran.

Lingkungan belajar tidak harus mewah

Guru tidak perlu menunggu sekolah memiliki fasilitas lengkap untuk menciptakan lingkungan belajar yang baik.

Lingkungan belajar yang mendukung Pembelajaran Mendalam dapat dibangun melalui hal sederhana.

Misalnya:

  • menyediakan ruang pajang karya siswa,
  • membuat sudut baca,
  • menampilkan hasil proyek,
  • menyediakan bahan belajar sederhana,
  • menggunakan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar,
  • dan menciptakan budaya saling menghargai.

Yang paling penting adalah suasana belajar yang mendukung siswa untuk aktif dan berkembang.

4. Pemanfaatan Digital

Kerangka keempat adalah pemanfaatan digital.

Teknologi digital dapat digunakan untuk memperkaya pengalaman belajar peserta didik.

Namun, penting dipahami bahwa Pembelajaran Mendalam tidak sama dengan pembelajaran yang harus menggunakan teknologi.

Teknologi merupakan salah satu kerangka yang dapat digunakan ketika memang memberikan manfaat bagi pembelajaran.

Situs resmi Sistem Informasi Kurikulum Nasional menempatkan pemanfaatan digital sebagai salah satu dari empat kerangka pembelajaran dan mengaitkannya dengan upaya menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif dan fleksibel.

Contoh pemanfaatan digital di SD

Guru dapat menggunakan teknologi untuk:

  • menampilkan video pembelajaran,
  • mencari informasi,
  • membuat presentasi,
  • membuat kuis interaktif,
  • mendokumentasikan proyek,
  • membuat poster digital,
  • menyusun portofolio,
  • melakukan simulasi,
  • atau mempresentasikan hasil kerja siswa.

Misalnya, ketika belajar tentang tata surya, guru dapat menggunakan simulasi digital untuk memperlihatkan pergerakan planet.

Siswa kemudian dapat membuat rangkuman atau presentasi berdasarkan apa yang dipahami.

Teknologi dalam kegiatan tersebut berfungsi sebagai alat untuk membantu pemahaman.

Teknologi bukan tujuan pembelajaran

Ini merupakan hal penting.

Guru sebaiknya tidak menggunakan teknologi hanya karena ingin pembelajaran terlihat modern.

Penggunaan teknologi harus memiliki tujuan.

Pertanyaan yang dapat digunakan guru adalah:

“Apa yang menjadi lebih mudah dipahami siswa karena teknologi ini digunakan?”

Jika jawabannya tidak jelas, penggunaan teknologi tersebut mungkin belum diperlukan.

Sebaliknya, jika teknologi dapat membantu siswa melihat sesuatu yang sulit diamati secara langsung, mengolah informasi, berkolaborasi, atau menghasilkan karya, maka penggunaannya dapat dipertimbangkan.

Hubungan Keempat Kerangka Pembelajaran

Empat kerangka Pembelajaran Mendalam sebenarnya saling berkaitan.

Guru dapat menggabungkan semuanya dalam satu kegiatan pembelajaran.

Sebagai contoh, guru kelas 6 mengajarkan topik pengelolaan sampah.

Praktik pedagogis

Guru menggunakan pembelajaran berbasis masalah.

Siswa mengidentifikasi masalah sampah di sekolah dan mencari kemungkinan solusi.

Kemitraan pembelajaran

Siswa bekerja sama dengan teman dan dapat melibatkan petugas kebersihan sekolah untuk mendapatkan informasi.

Orang tua juga dapat diajak membantu siswa mengamati pengelolaan sampah di rumah.

Lingkungan pembelajaran

Guru menciptakan suasana diskusi yang aman.

Setiap kelompok diberi kesempatan menyampaikan pendapat dan menanggapi kelompok lain.

Pemanfaatan digital

Siswa dapat menggunakan perangkat digital untuk mencari informasi tentang pengelolaan sampah atau membuat poster kampanye kebersihan.

Dalam satu topik sederhana, keempat kerangka tersebut dapat saling melengkapi.

Hubungan dengan Tiga Pengalaman Belajar

Empat kerangka pembelajaran juga perlu dipahami bersama dengan tiga pengalaman belajar, yaitu memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Sistem Informasi Kurikulum Nasional secara resmi menjelaskan ketiga pengalaman belajar tersebut sebagai bagian dari Pembelajaran Mendalam.

Memahami

Siswa memperoleh pemahaman mengenai konsep atau pengetahuan yang sedang dipelajari.

Mengaplikasi

Siswa menggunakan pengetahuan tersebut dalam situasi yang relevan.

Merefleksi

Siswa memikirkan kembali proses dan hasil belajarnya.

Ketiga pengalaman tersebut membuat pembelajaran tidak berhenti pada penyampaian materi.

Sebagai contoh, dalam pembelajaran tentang hemat air:

Memahami: siswa memahami pentingnya air dan berbagai bentuk penggunaan air.

Mengaplikasi: siswa mengamati penggunaan air di sekolah dan membuat saran penghematan.

Merefleksi: siswa menuliskan kebiasaan apa yang dapat diubah untuk menghemat air.

Keempat kerangka pembelajaran membantu guru menciptakan kondisi agar ketiga pengalaman tersebut dapat terjadi.

Hubungan dengan Tiga Prinsip Pembelajaran Mendalam

Selain pengalaman belajar, guru juga perlu menghubungkan empat kerangka tersebut dengan tiga prinsip utama Pembelajaran Mendalam:

  • Berkesadaran
  • Bermakna
  • Menggembirakan

Ketiga prinsip tersebut merupakan karakteristik utama Pembelajaran Mendalam.

Misalnya, guru menggunakan teknologi digital.

Penggunaan teknologi tersebut seharusnya tetap membuat siswa sadar terhadap tujuan belajar, memiliki hubungan dengan kehidupan mereka, dan memberikan pengalaman belajar yang positif.

Dengan demikian, teknologi tidak digunakan sekadar untuk menggantikan buku atau papan tulis.

Delapan Dimensi Profil Lulusan

Empat kerangka pembelajaran juga diarahkan untuk mendukung pencapaian delapan dimensi profil lulusan.

Delapan dimensi tersebut adalah:

  1. Keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa
  2. Kewargaan
  3. Penalaran kritis
  4. Kreativitas
  5. Kolaborasi
  6. Kemandirian
  7. Kesehatan
  8. Komunikasi

Dokumen resmi Kemendikdasmen menjelaskan bahwa Pembelajaran Mendalam difokuskan pada pencapaian delapan dimensi profil lulusan sebagai kompetensi dan karakter yang perlu dimiliki peserta didik.

Karena itu, ketika merancang pembelajaran, guru tidak hanya bertanya:

“Materi apa yang harus disampaikan?”

Guru juga dapat bertanya:

“Kompetensi dan karakter apa yang dapat berkembang melalui pembelajaran ini?”

Misalnya, kegiatan kerja kelompok dapat mendukung kolaborasi dan komunikasi.

Kegiatan pemecahan masalah dapat mengembangkan penalaran kritis.

Kegiatan membuat karya dapat mengembangkan kreativitas.

Kegiatan refleksi dapat mendukung kemandirian.

Dengan cara tersebut, pembelajaran menjadi lebih utuh.

Contoh Penerapan Empat Kerangka untuk Guru SD

Berikut contoh sederhana yang dapat digunakan guru.

Materi: Pemanfaatan sumber daya alam

Kelas: SD

Kegiatan awal: Guru menunjukkan gambar atau video tentang kondisi lingkungan.

Praktik pedagogis: Siswa bekerja dalam kelompok untuk menganalisis masalah penggunaan sumber daya alam.

Kemitraan pembelajaran: Siswa berdiskusi dengan teman dan dapat melakukan wawancara sederhana dengan orang tua mengenai penggunaan sumber daya di rumah.

Lingkungan pembelajaran: Guru menciptakan suasana diskusi yang terbuka dan menghargai pendapat siswa.

Pemanfaatan digital: Siswa mencari informasi yang relevan dan membuat presentasi sederhana.

Memahami: Siswa memahami jenis dan manfaat sumber daya alam.

Mengaplikasi: Siswa menyusun tindakan sederhana untuk menghemat sumber daya.

Merefleksi: Siswa menuliskan perubahan perilaku yang akan dilakukan.

Kegiatan tersebut dapat dibuat sederhana sesuai jenjang kelas.

Tidak semua unsur harus menggunakan teknologi atau kegiatan yang kompleks.

Apakah Keempat Kerangka Harus Selalu Digunakan Sekaligus?

Tidak.

Guru tidak harus memaksakan keempat kerangka dalam setiap kegiatan pembelajaran.

Kebutuhan pembelajaran harus menjadi pertimbangan utama.

Ada materi yang lebih tepat menggunakan praktik langsung.

Ada materi yang membutuhkan kemitraan.

Ada pembelajaran yang cukup menggunakan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.

Ada pula materi yang akan lebih mudah dipahami dengan bantuan teknologi.

Guru dapat memilih dan mengombinasikan kerangka sesuai konteks.

Hal terpenting adalah tetap menjaga tujuan pembelajaran dan memberikan pengalaman belajar yang berkualitas kepada siswa.

Cara Sederhana Guru Merancang Pembelajaran dengan Empat Kerangka

Guru dapat menggunakan langkah sederhana berikut.

Langkah 1: Tentukan tujuan pembelajaran

Pastikan guru mengetahui kompetensi yang ingin dicapai siswa.

Langkah 2: Tentukan pengalaman belajar

Pikirkan bagaimana siswa akan:

  • memahami,
  • mengaplikasi,
  • dan merefleksi.

Langkah 3: Pilih praktik pedagogis

Tentukan strategi yang paling sesuai.

Misalnya diskusi, eksperimen, proyek, pemecahan masalah, atau pengamatan.

Langkah 4: Tentukan bentuk kemitraan

Pertimbangkan apakah siswa perlu bekerja sama dengan teman, guru lain, orang tua, atau pihak lain.

Langkah 5: Siapkan lingkungan belajar

Pastikan kelas aman, nyaman, inklusif, dan mendukung partisipasi siswa.

Langkah 6: Tentukan kebutuhan digital

Gunakan teknologi jika memang memberikan nilai tambah.

Langkah 7: Siapkan refleksi

Berikan kesempatan kepada siswa untuk melihat kembali apa yang sudah mereka pelajari.

Langkah tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi sekolah.

Kesalahan yang Perlu Dihindari

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar penerapan empat kerangka tidak berubah menjadi sekadar formalitas.

Pertama, jangan menggunakan teknologi hanya agar pembelajaran terlihat modern.

Kedua, jangan membuat proyek besar jika tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Ketiga, jangan melibatkan mitra dari luar jika kehadirannya tidak memberikan manfaat nyata.

Keempat, jangan membuat lingkungan belajar penuh dengan dekorasi tetapi minim interaksi bermakna.

Kelima, jangan menggunakan metode yang rumit hanya karena sedang populer.

Yang paling penting adalah kesesuaian antara tujuan, aktivitas, pengalaman belajar, dan kebutuhan siswa.

Kesimpulan

Empat kerangka Pembelajaran Mendalam merupakan bagian penting yang dapat membantu guru merancang pengalaman belajar secara lebih sistematis.

Keempat kerangka tersebut adalah:

  1. Praktik pedagogis
  2. Kemitraan pembelajaran
  3. Lingkungan pembelajaran
  4. Pemanfaatan digital

Keempatnya dapat digunakan secara terintegrasi untuk mendukung pengalaman belajar siswa dalam memahami, mengaplikasi, dan merefleksi, sekaligus mewujudkan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Bagi guru SD, penerapan empat kerangka tersebut tidak harus dilakukan melalui kegiatan yang rumit.

Guru dapat memulainya dari hal sederhana: memilih strategi pembelajaran yang tepat, memberikan ruang kepada siswa untuk aktif, membangun kelas yang aman dan nyaman, melibatkan orang tua atau lingkungan ketika diperlukan, serta menggunakan teknologi secara bijak.

Dengan demikian, Pembelajaran Mendalam bukan sekadar istilah baru dalam pendidikan.

Ia dapat menjadi cara bagi guru untuk menata kembali pengalaman belajar sehingga siswa tidak hanya mengetahui, tetapi juga memahami, menggunakan, dan merefleksikan pengetahuan yang diperolehnya.

Pada akhirnya, kualitas Pembelajaran Mendalam bukan ditentukan oleh seberapa canggih perangkat yang digunakan atau seberapa besar proyek yang dibuat.

Kualitasnya ditentukan oleh seberapa baik guru mampu menciptakan pengalaman belajar yang membantu siswa tumbuh sebagai pembelajar yang berpikir kritis, kreatif, mandiri, mampu bekerja sama, berkomunikasi, sehat, memiliki karakter, dan mampu menghadapi kehidupan nyata.