kepalasekolah.id – Contoh RPP/Perencanaan Pembelajaran Berbasis Pembelajaran Mendalam untuk SD. Pembelajaran Mendalam semakin banyak menjadi perhatian guru dalam merancang pembelajaran di sekolah dasar. Bukan sekadar karena istilah deep learning sedang banyak dibicarakan, tetapi karena pendekatan ini mendorong guru untuk merancang pengalaman belajar yang lebih berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Dalam penerapannya, guru tidak harus membuat perangkat pembelajaran yang rumit. Justru yang lebih penting adalah memastikan bahwa perencanaan pembelajaran mampu menghubungkan tujuan belajar dengan pengalaman nyata peserta didik.
Panduan resmi Kemendikdasmen menjelaskan bahwa perencanaan pembelajaran dapat dituangkan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau Modul Ajar. Guru dapat mengembangkan bentuk perencanaan sesuai kebutuhan dan karakteristik satuan pendidikan.
Karena itu, istilah RPP dalam artikel ini dapat dipahami sebagai salah satu bentuk perencanaan pembelajaran. Guru dapat menyesuaikannya menjadi format Modul Ajar apabila format tersebut lebih sesuai dengan kebutuhan sekolah.
Apa yang Dimaksud RPP Berbasis Pembelajaran Mendalam?
RPP berbasis Pembelajaran Mendalam adalah perencanaan pembelajaran yang dirancang agar peserta didik tidak hanya menerima dan mengingat informasi, tetapi benar-benar mengalami proses memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.
Pembelajaran tidak berhenti ketika guru selesai menjelaskan materi. Peserta didik diberi kesempatan untuk memahami konsep, menggunakan pengetahuannya dalam situasi nyata, kemudian memikirkan kembali proses dan hasil belajarnya.
Dalam kerangka resmi Pembelajaran Mendalam, pengalaman belajar tersebut terdiri atas tiga tahap, yaitu memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Ketiganya dilaksanakan dengan menerapkan prinsip pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Dengan demikian, guru tidak perlu menambahkan istilah “Pembelajaran Mendalam” secara administratif saja. Yang lebih penting adalah terlihat dalam rancangan kegiatan pembelajarannya.
Prinsip Penting dalam Menyusun RPP Pembelajaran Mendalam
Sebelum masuk ke contoh, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan guru.
1. Berkesadaran
Pembelajaran dirancang agar peserta didik menyadari apa yang sedang dipelajari, mengapa hal tersebut penting, serta bagaimana mereka terlibat dalam proses belajar.
Guru dapat memberikan pertanyaan pemantik seperti:
- Apa yang sudah kamu ketahui tentang masalah ini?
- Mengapa hal tersebut penting bagi kehidupan kita?
- Apa yang ingin kamu ketahui?
- Bagaimana cara kamu menemukan jawabannya?
Pertanyaan semacam ini membantu peserta didik tidak sekadar mengikuti instruksi.
2. Bermakna
Materi pelajaran perlu dikaitkan dengan kehidupan nyata peserta didik.
Misalnya, ketika belajar tentang lingkungan, guru tidak harus hanya meminta siswa menghafalkan jenis-jenis sampah. Guru dapat mengajak siswa mengamati sampah yang benar-benar ditemukan di lingkungan sekolah.
Dengan demikian, konsep yang dipelajari memiliki hubungan langsung dengan kehidupan mereka.
3. Menggembirakan
Pembelajaran perlu menciptakan suasana yang aman, nyaman, positif, dan membuat peserta didik terdorong untuk terlibat.
Menggembirakan bukan berarti seluruh pembelajaran harus berupa permainan. Diskusi, eksperimen, pengamatan, praktik, presentasi, pemecahan masalah, maupun proyek dapat menjadi kegiatan yang menggembirakan apabila sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Ketiga prinsip tersebut merupakan karakteristik utama Pembelajaran Mendalam.
Contoh RPP Pembelajaran Mendalam untuk SD
Berikut contoh yang dapat dijadikan inspirasi dan kemudian disesuaikan dengan kelas, mata pelajaran, karakteristik peserta didik, serta kondisi sekolah.
A. Identitas Pembelajaran
Satuan Pendidikan: SD
Mata Pelajaran: IPAS
Fase/Kelas: B / Kelas IV
Materi: Pengelolaan Sampah di Lingkungan Sekolah
Alokasi Waktu: 3 pertemuan
Topik: Sekolah Bersih, Lingkungan Sehat
B. Identifikasi
Pada tahap identifikasi, guru terlebih dahulu mempertimbangkan kesiapan peserta didik, karakteristik materi, dan dimensi profil lulusan yang ingin dikembangkan.
Kesiapan peserta didik:
Peserta didik telah mengenal lingkungan sekolah dan mengetahui bahwa sampah dapat mengganggu kebersihan. Sebagian besar peserta didik juga telah mengetahui beberapa contoh sampah organik dan anorganik dari pengalaman sehari-hari.
Namun, pemahaman mereka tentang pengelolaan sampah yang benar masih perlu diperdalam melalui kegiatan pengamatan dan praktik.
Karakteristik materi:
Materi pengelolaan sampah sangat dekat dengan kehidupan peserta didik. Materi dapat dipelajari melalui pengamatan langsung, diskusi, pengelompokan, praktik, dan refleksi.
Dimensi profil lulusan yang dapat dikembangkan:
- Penalaran kritis
- Kreativitas
- Kolaborasi
- Kemandirian
- Kesehatan
- Komunikasi
Guru tidak harus memaksakan seluruh dimensi profil lulusan dalam satu pembelajaran. Pilih dimensi yang benar-benar relevan dengan tujuan pembelajaran.
C. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran, peserta didik diharapkan mampu:
- Menjelaskan jenis-jenis sampah yang ditemukan di lingkungan sekolah.
- Mengelompokkan sampah berdasarkan karakteristiknya.
- Menjelaskan dampak pengelolaan sampah yang tidak tepat.
- Menyusun solusi sederhana untuk mengurangi masalah sampah di sekolah.
- Menyampaikan hasil pengamatan dan solusi kepada teman atau warga sekolah.
- Merefleksikan kebiasaan pribadi dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Tujuan tersebut tidak hanya mengarah pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga mendorong peserta didik menggunakan pengetahuan dalam kehidupan nyata.
D. Praktik Pedagogis
Guru dapat menggunakan kombinasi beberapa pendekatan dan metode, misalnya:
- pembelajaran berbasis masalah;
- diskusi kelompok;
- observasi lingkungan;
- praktik;
- presentasi;
- refleksi individu.
Dalam Pembelajaran Mendalam, praktik pedagogis merupakan salah satu bagian dari kerangka pembelajaran bersama kemitraan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pemanfaatan digital.
Guru tidak harus menggunakan teknologi digital apabila fasilitas tidak tersedia. Pemanfaatan digital merupakan salah satu kerangka yang dapat digunakan sesuai kebutuhan, bukan alasan untuk membuat pembelajaran menjadi lebih rumit.
E. Kemitraan Pembelajaran
Kemitraan dapat dibangun melalui kerja sama antara:
- guru dan peserta didik;
- peserta didik dengan teman sekelompok;
- sekolah dengan orang tua;
- sekolah dengan lingkungan sekitar.
Untuk topik sampah, misalnya, guru dapat meminta peserta didik mengamati kebiasaan pengelolaan sampah di rumah sebagai tugas sederhana.
Hasil pengamatan kemudian dibawa ke sekolah untuk didiskusikan.
F. Lingkungan Pembelajaran
Lingkungan belajar tidak harus selalu berada di dalam kelas.
Peserta didik dapat belajar di:
- halaman sekolah;
- taman sekolah;
- kantin;
- tempat sampah;
- perpustakaan;
- ruang kelas.
Untuk pembelajaran tentang sampah, halaman dan lingkungan sekolah justru dapat menjadi sumber belajar yang sangat relevan.
Lingkungan pembelajaran perlu dibuat aman, nyaman, inklusif, dan mendukung peserta didik untuk aktif belajar.
G. Pemanfaatan Digital
Jika tersedia, guru dapat menggunakan teknologi digital untuk:
- menampilkan gambar kondisi lingkungan;
- mencari informasi sederhana;
- membuat dokumentasi kegiatan;
- menyusun presentasi;
- membuat poster digital.
Namun, apabila fasilitas digital terbatas, pembelajaran tetap dapat berjalan dengan menggunakan buku, gambar, benda nyata, lingkungan sekolah, kertas, dan alat tulis.
Hal terpenting bukan seberapa banyak teknologi digunakan, tetapi apakah teknologi tersebut membantu pencapaian tujuan pembelajaran.
H. Langkah-Langkah Pembelajaran
Pertemuan 1: Memahami
Pada tahap awal, guru mengajak peserta didik mengamati kondisi lingkungan sekolah.
Guru dapat memulai dengan pertanyaan:
“Mengapa tempat sampah di sekolah sering cepat penuh?”
Peserta didik menyampaikan pendapat berdasarkan pengalaman masing-masing.
Selanjutnya, guru membagi peserta didik ke dalam beberapa kelompok.
Setiap kelompok melakukan pengamatan sederhana terhadap jenis sampah yang ditemukan di lingkungan sekolah.
Peserta didik mencatat:
- jenis sampah;
- lokasi ditemukan;
- jumlah secara sederhana;
- kemungkinan penyebabnya.
Setelah pengamatan selesai, setiap kelompok mendiskusikan hasilnya.
Guru kemudian membantu peserta didik menghubungkan hasil pengamatan dengan konsep pengelolaan sampah.
Pada tahap ini, peserta didik berada pada pengalaman belajar memahami.
Mereka tidak hanya menerima penjelasan guru, tetapi membangun pemahaman berdasarkan sumber dan konteks nyata.
Pertemuan 2: Mengaplikasi
Pada pertemuan kedua, peserta didik menggunakan pengetahuan yang telah diperoleh.
Setiap kelompok mendapatkan masalah, misalnya:
“Bagaimana cara mengurangi sampah plastik di lingkungan sekolah?”
Peserta didik kemudian menyusun beberapa alternatif solusi.
Contohnya:
- membawa botol minum sendiri;
- mengurangi penggunaan plastik sekali pakai;
- menyediakan tempat sampah yang sesuai;
- membuat poster pengingat;
- melakukan piket kebersihan;
- mengajak warga sekolah memilah sampah.
Setiap kelompok memilih satu solusi yang paling memungkinkan untuk diterapkan.
Kemudian peserta didik membuat produk sederhana, misalnya poster kampanye kebersihan atau rancangan program pengurangan sampah.
Tahap ini merupakan pengalaman belajar mengaplikasi, yaitu menggunakan pengetahuan dalam situasi nyata dan kontekstual.
Pertemuan 3: Merefleksi
Pada pertemuan ketiga, setiap kelompok mempresentasikan hasilnya.
Kelompok lain diberikan kesempatan memberikan tanggapan.
Guru tidak hanya menilai produk akhir, tetapi juga memperhatikan bagaimana peserta didik bekerja sama, menyampaikan pendapat, memecahkan masalah, dan menerima masukan.
Setelah presentasi, guru mengajak peserta didik melakukan refleksi individu.
Pertanyaan refleksi dapat berupa:
- Apa hal baru yang saya pelajari?
- Apa kegiatan yang paling membantu saya memahami materi?
- Apa kesulitan yang saya alami?
- Apa yang dapat saya lakukan untuk mengurangi sampah?
- Kebiasaan apa yang akan saya ubah mulai hari ini?
Tahap tersebut merupakan pengalaman belajar merefleksi. Refleksi membantu peserta didik mengevaluasi dan memaknai proses serta hasil belajarnya sekaligus mengembangkan kemampuan mengatur proses belajarnya.
I. Asesmen Pembelajaran
Asesmen dalam perencanaan Pembelajaran Mendalam tidak hanya dilakukan pada akhir pembelajaran.
Guru dapat melaksanakan asesmen pada tiga waktu.
1. Asesmen Awal
Guru dapat memberikan pertanyaan sederhana:
- Apa yang dimaksud sampah?
- Sebutkan contoh sampah yang kamu ketahui.
- Apa yang biasanya kamu lakukan terhadap sampah?
Jawaban peserta didik digunakan untuk mengetahui pengetahuan awal.
2. Asesmen Proses
Guru mengamati:
- keaktifan peserta didik;
- kemampuan bekerja sama;
- kemampuan mengemukakan pendapat;
- kemampuan melakukan pengamatan;
- kemampuan menyelesaikan masalah.
Guru dapat menggunakan lembar observasi sederhana.
3. Asesmen Akhir
Penilaian dapat dilakukan terhadap:
- hasil pengelompokan sampah;
- poster atau produk;
- presentasi;
- jawaban pertanyaan;
- refleksi individu.
Panduan resmi perencanaan Pembelajaran Mendalam menempatkan asesmen pada awal, proses, dan akhir pembelajaran.
Contoh Rubrik Sederhana
Guru dapat membuat rubrik seperti berikut:
| Aspek | Baik Sekali | Baik | Perlu Bimbingan |
|---|---|---|---|
| Pemahaman | Menjelaskan konsep dengan tepat | Menjelaskan sebagian besar konsep | Masih memerlukan bantuan |
| Kolaborasi | Aktif bekerja sama dan menghargai teman | Bekerja sama dengan cukup baik | Kurang terlibat |
| Pemecahan masalah | Solusi jelas dan sesuai masalah | Solusi cukup sesuai | Solusi masih perlu dikembangkan |
| Komunikasi | Menjelaskan dengan percaya diri dan runtut | Penjelasan cukup jelas | Masih perlu bimbingan |
| Refleksi | Mampu menjelaskan pengalaman dan perbaikan diri | Mampu menyebutkan pengalaman belajar | Refleksi masih sangat sederhana |
Rubrik tidak harus selalu panjang. Yang terpenting adalah kriteria yang dinilai sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Contoh Format Singkat RPP Pembelajaran Mendalam
Guru dapat menyederhanakan contoh di atas menjadi format berikut:
Identifikasi
- Kesiapan peserta didik
- Karakteristik materi
- Dimensi profil lulusan
Desain Pembelajaran
- Tujuan pembelajaran
- Praktik pedagogis
- Kemitraan pembelajaran
- Lingkungan pembelajaran
- Pemanfaatan digital
Pengalaman Belajar
- Memahami
- Mengaplikasi
- Merefleksi
Asesmen
- Asesmen awal
- Asesmen proses
- Asesmen akhir
Struktur tersebut sejalan dengan pola perencanaan Pembelajaran Mendalam yang dikembangkan dalam panduan resmi, yaitu identifikasi, desain pembelajaran, pengalaman belajar, dan asesmen.
Apakah RPP Pembelajaran Mendalam Harus Selalu Menggunakan Proyek?
Tidak.
Ini merupakan salah satu hal yang penting dipahami guru.
Pembelajaran Mendalam bukan berarti setiap pembelajaran harus dibuat menjadi proyek besar.
Guru dapat menerapkan pembelajaran mendalam melalui diskusi, eksperimen sederhana, pemecahan masalah, observasi, membaca, wawancara, praktik, simulasi, permainan edukatif, maupun kegiatan lainnya.
Yang menentukan kedalamannya adalah kualitas pengalaman belajar peserta didik.
Misalnya, guru Matematika mengajarkan pengukuran.
Daripada hanya memberikan soal:
“Berapa panjang meja tersebut?”
guru dapat mengajak peserta didik mengukur beberapa benda di kelas, membandingkan hasil pengukuran, mendiskusikan perbedaan hasil, kemudian meminta mereka menjelaskan mengapa penggunaan alat ukur yang tepat penting.
Kegiatan sederhana tersebut dapat menghasilkan pengalaman belajar yang lebih mendalam karena peserta didik memahami konsep, mengaplikasikannya, kemudian merefleksikan hasilnya.
RPP Tidak Harus Panjang
Guru sering menganggap bahwa RPP berbasis Pembelajaran Mendalam harus memiliki dokumen yang sangat panjang.
Padahal, yang lebih penting adalah kualitas perencanaannya.
Dokumen yang sederhana tetapi jelas dapat lebih bermanfaat daripada dokumen yang sangat panjang tetapi tidak menggambarkan kegiatan belajar yang sebenarnya.
Guru sebaiknya memastikan bahwa setiap kegiatan mempunyai hubungan dengan tujuan pembelajaran.
Jika tujuan pembelajaran adalah melatih kemampuan memecahkan masalah, maka kegiatan pembelajaran harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk benar-benar memecahkan masalah.
Jika tujuan pembelajaran adalah komunikasi, maka peserta didik perlu mendapatkan kesempatan untuk berbicara, berdiskusi, mempresentasikan, atau menyampaikan gagasan.
Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari
Ada beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari ketika membuat RPP Pembelajaran Mendalam.
Hanya mengganti nama perangkat
Menambahkan tulisan “Pembelajaran Mendalam” pada judul RPP tidak otomatis menjadikan pembelajaran tersebut mendalam.
Terlalu banyak kegiatan
Guru terkadang memasukkan terlalu banyak aktivitas dalam satu pertemuan. Akibatnya, peserta didik tidak memiliki cukup waktu untuk memahami dan merefleksikan pembelajaran.
Memaksakan teknologi
Teknologi digunakan karena memang membantu pembelajaran, bukan sekadar agar terlihat modern.
Selalu menggunakan proyek besar
Proyek dapat digunakan, tetapi bukan satu-satunya cara menerapkan Pembelajaran Mendalam.
Tidak menyediakan waktu refleksi
Refleksi sering menjadi bagian yang terlupakan. Padahal, merefleksi merupakan salah satu pengalaman belajar penting dalam Pembelajaran Mendalam.
Tips Membuat RPP Pembelajaran Mendalam dengan Lebih Mudah
Guru dapat menggunakan lima pertanyaan berikut sebagai panduan.
Pertama, apa yang benar-benar harus dipahami peserta didik?
Jangan memasukkan terlalu banyak materi.
Kedua, bagaimana peserta didik menggunakan pengetahuan tersebut?
Cari aktivitas yang menghubungkan materi dengan kehidupan nyata.
Ketiga, bagaimana peserta didik bekerja dan belajar bersama?
Tentukan bentuk diskusi, kolaborasi, atau kemitraan yang sesuai.
Keempat, bagaimana saya mengetahui perkembangan peserta didik?
Tentukan asesmen awal, proses, dan akhir.
Kelima, bagaimana peserta didik merefleksikan pembelajarannya?
Siapkan pertanyaan refleksi yang sederhana tetapi bermakna.
Dengan lima pertanyaan tersebut, guru sudah memiliki dasar yang kuat untuk mengembangkan perencanaan pembelajaran.
Pembelajaran Mendalam dan Standar Proses Tahun 2026
Dalam konteks kebijakan pendidikan tahun 2026, Pembelajaran Mendalam semakin terkait dengan penguatan proses pembelajaran di sekolah.
Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses menjadi salah satu landasan penting dalam penyelenggaraan proses pembelajaran. Standar proses mencakup perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian proses pembelajaran sebagai rangkaian yang saling berkaitan.
Artinya, guru sebaiknya tidak melihat perencanaan, pelaksanaan, dan asesmen sebagai bagian yang terpisah.
Ketiganya perlu dirancang sebagai satu kesatuan.
Perencanaan menentukan tujuan dan langkah pembelajaran. Pelaksanaan memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik. Asesmen memberikan informasi tentang proses dan hasil yang kemudian dapat digunakan untuk memperbaiki pembelajaran.
Penutup
Membuat RPP atau perencanaan pembelajaran berbasis Pembelajaran Mendalam sebenarnya tidak harus sulit.
Kuncinya adalah merancang pembelajaran yang membuat peserta didik memahami sesuatu secara lebih mendalam, menggunakan pengetahuannya dalam konteks nyata, dan mampu merefleksikan proses serta hasil belajarnya.
Guru dapat memulai dari hal sederhana. Pilih satu materi yang dekat dengan kehidupan peserta didik, tentukan tujuan yang benar-benar penting, rancang kegiatan memahami dan mengaplikasi, kemudian jangan lupa menyediakan waktu untuk refleksi.
Format RPP atau Modul Ajar dapat disesuaikan dengan kebutuhan sekolah. Yang terpenting bukan panjang pendeknya dokumen, melainkan apakah perencanaan tersebut benar-benar membantu guru menciptakan pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Dengan perencanaan yang baik, Pembelajaran Mendalam tidak berhenti sebagai istilah dalam dokumen pendidikan, tetapi benar-benar dapat terlihat dalam aktivitas belajar sehari-hari di kelas SD.