kepalasekolah.id – Lucu, hangat, dan penuh makna! Ikuti kisah Panjul, si anak desa yang gemuk dan kocak, dalam petualangannya mengubah hidup lewat semangat belajar dan tawa tanpa henti. “Menggapai Mimpi” akan membuatmu tersenyum sekaligus terinspirasi.
Menggapai Mimpi – Episode 40: Panjul Mengejar Ketertinggalan
Setelah hampir sepuluh hari tidak masuk sekolah, akhirnya Panjul kembali mengenakan seragamnya. Pagi itu ia berdiri di depan cermin sambil merapikan kerah baju. Ia melihat dirinya sendiri. “Sudah seperti murid lagi.” Kemudian ia melihat tas barunya. Sepatu barunya. Lalu tersenyum. “Yang penting jangan kelihatan seperti orang habis liburan panjang.”
Dari belakang, Ibu Rini menyahut, “Kamu memang baru sembuh, jangan terlalu memaksakan diri.”
Panjul mengangguk. “Iya, Bu.”
“Kalau capek, istirahat.”
“Iya.”
“Kalau belum paham, tanya.”
“Iya.”
“Kalau—”
Panjul langsung mengangkat tangan. “Kalau lapar, makan.”
Ibu Rini tertawa. “Nah, itu juga.”
Panjul mengambil tas. Hari itu ia kembali ke sekolah. Namun ada satu masalah besar yang menunggunya.
Pelajaran.
Begitu sampai di kelas, beberapa teman langsung menyambutnya. “Panjuuul!”
Panjul tersenyum. “Wah, masih hidup ternyata.”
Riko langsung menjawab, “Sayangnya.”
Panjul menatapnya. “Kenapa?”
“Kalau kamu tidak masuk, aku kehilangan bahan gangguan.”
Panjul tertawa. Danu menghampiri. “Bagaimana?”
“Sudah lebih enak.”
“Jangan langsung banyak bergerak.”
Panjul mengangguk. Kemudian ia melihat meja. Di atasnya sudah ada beberapa buku. Ia menarik napas. “Dan.”
“Iya?”
“Aku ketinggalan berapa pelajaran?”
Danu terdiam sebentar. “Lumayan.”
Panjul langsung memegang kepalanya. “Jangan bilang begitu.”
“Memangnya kenapa?”
“Kalau bilang lumayan, biasanya banyak.”
Riko tertawa. “Memang banyak.”
Panjul menatapnya. “Terima kasih atas dukungannya.”
Hari itu Panjul tidak langsung mengikuti semua pelajaran dengan tenang. Ia sibuk bertanya. “Catatanmu boleh dipinjam?”
“Yang ini?”
“Iya.”
Kemudian ia pindah ke meja lain. “Catatanmu boleh lihat?”
“Boleh.”
Pindah lagi. “Kalau yang ini?”
Temannya memberikan buku. Panjul membuka. Kemudian mengerutkan dahi. “Ini tulisan apa?”
Temannya menjawab, “Tulisan saya.”
Panjul mengangguk. “Iya, saya tahu.”
“Terus?”
“Saya cuma tidak tahu ini tulisan atau kode rahasia.” Satu kelas tertawa. Panjul akhirnya mengembalikan buku itu.
“Aku pinjam yang lain.”
Ternyata Panjul memiliki cara sendiri untuk memilih catatan. Ia tidak selalu memilih catatan yang paling lengkap. Ia justru memilih catatan yang menurutnya paling mudah dipahami. Kalau tulisannya jelas, ia suka. Kalau ada gambar, lebih suka. Kalau ada warna berbeda, semakin bagus. Kalau ada penjelasan singkat di sampingnya, ia langsung memasukkan ke daftar pilihan. Danu sampai bertanya, “Kamu sebenarnya sedang belajar atau memilih desain?”
Panjul menjawab serius, “Dua-duanya.”
“Kenapa?”
“Kalau catatannya enak dilihat, otakku tidak kabur.” Danu tertawa.
Beberapa hari kemudian Panjul membawa beberapa catatan dari teman-temannya. Ia duduk di rumah dan mulai menyusunnya. Ada catatan Danu. Ada catatan Riko. Ada catatan beberapa teman lainnya. Bahkan ada satu catatan yang tulisannya sangat besar. Panjul membandingkan semuanya.
“Yang ini bagus.”
“Yang ini gampang.”
“Yang ini terlalu panjang.”
“Yang ini…”
Ia berhenti. “Ini tulisan siapa?”
Ia tidak mengenalinya. Panjul kemudian tertawa sendiri.
“Yang penting ada ilmunya.”
Keesokan harinya ia membawa beberapa pertanyaan ke sekolah. Begitu Pak Bagus masuk kelas, Panjul langsung menghampiri. “Pak.”
Pak Bagus melihatnya. “Iya?”
“Saya mau tanya.”
“Silakan.”
Panjul membuka buku. “Ini benar?”
Pak Bagus melihat. “Benar.”
Panjul menunjukkan halaman lain. “Kalau ini?”
“Benar juga.”
Halaman berikutnya. “Kalau ini?”
Pak Bagus berhenti. “Ini kurang tepat.”
Panjul langsung mencoret. “Oh.”
Kemudian ia bertanya lagi. “Kalau begini?”
Pak Bagus tersenyum. “Ya.”
Panjul mengangguk puas. “Berarti catatan saya sekarang sudah sah.”
Pak Bagus tertawa. “Memangnya saya petugas pengesahan catatan?”
Panjul tersenyum. “Biar aman, Pak.”
Tidak hanya Pak Bagus yang menjadi tempat bertanya. Suatu pagi Panjul kebetulan bertemu kepala sekolah di depan kantor. Panjul langsung berhenti.
“Pak!” Kepala sekolah menoleh.
“Iya, Panjul?”
“Boleh tanya?”
“Tentu.”
Panjul membuka buku kecilnya. “Saya ketinggalan materi ini.”
Kepala sekolah melihat halaman tersebut. Kemudian menjelaskan secara singkat. Panjul memperhatikan dengan serius. Setelah selesai, ia mengangguk. “Oh…”
Kepala sekolah tersenyum. “Sudah paham?”
“Sedikit.”
“Sedikit?”
Panjul mengangguk. “Kalau banyak nanti saya takut.”
Kepala sekolah tertawa. “Belajar sedikit demi sedikit.”
Panjul tersenyum. “Siap, Pak.”
Ia kemudian pergi. Kepala sekolah hanya menggeleng sambil tersenyum. “Anak itu…”
Kesibukan Panjul semakin terlihat. Saat teman-temannya bermain di halaman, ia kadang masih duduk di kelas. Riko datang.
“Jul!” Panjul tidak menoleh.
“Apa?”
“Main.”
“Enggak dulu.”
Riko terkejut. “Kamu?”
“Iya.”
“Siapa kamu?”
Panjul akhirnya menoleh. “Kenapa?”
“Biasanya kamu paling depan kalau diajak main.”
Panjul menunjuk buku. “Aku ketinggalan.”
Riko mengangguk. “Jadi sekarang kamu sok sibuk?”
Panjul menjawab, “Bukan sok sibuk.”
“Terus?”
“Memang sibuk.”
Riko tertawa. “Baiklah, Pak Sibuk.”
Panjul kembali membaca. Tetapi setelah beberapa detik, ia menoleh. “Rik.”
“Apa?”
“Nanti kalau sudah selesai, kita main.”
Riko tersenyum. “Nah, itu baru Panjul.”
Di rumah pun kesibukan Panjul semakin terlihat. Malam hari ia belajar lebih lama daripada biasanya. Tidak sampai larut sekali, tetapi kadang waktu tidur sedikit mundur. Pak Surya beberapa kali mengingatkan.
“Le, wis cukup. Sesuk sekolah.”
Panjul masih membaca. “Sebentar, Pak.”
“Jangan dipaksakan.”
“Iya.”
Beberapa menit kemudian Panjul masih membaca. Pak Surya datang lagi. “Katanya sebentar?”
Panjul melihat jam. “Ini sebentar versi saya.”
Pak Surya tertawa. “Ya wis. Tapi jangan sampai kurang tidur.”
Panjul mengangguk. Akhirnya ia menutup buku. Ia menyandarkan tubuh di kursi.
Lelah. Namun ada kepuasan kecil. Hari demi hari, catatan yang semula terasa seperti hutan mulai menjadi lebih mudah dipahami.
Seminggu berlalu. Panjul sudah mengejar sebagian besar materi yang tertinggal. Belum semuanya. Masih ada beberapa bagian yang harus dipelajari lagi. Tetapi ia tidak lagi merasa tertinggal terlalu jauh. Pak Bagus memperhatikan perubahan itu. “Kamu cukup cepat mengejarnya.”
Panjul tersenyum. “Karena saya punya banyak guru.”
Pak Bagus tertawa. “Siapa saja?”
Panjul menghitung dengan jarinya. “Danu.”
“Riko?”
“Kadang.”
“Teman-teman lain?”
“Iya.”
“Terus?”
Panjul tersenyum. “Bapak.”
“Terus?”
Panjul berpikir. “Kepala sekolah.”
Pak Bagus tertawa. “Banyak sekali.”
Panjul mengangguk. “Kalau masih tidak paham, saya cari lagi.”
Pak Bagus menepuk bahunya. “Bagus. Tapi ingat.”
Panjul menunggu. “Jangan lupa istirahat.”
Panjul mengangguk. “Iya, Pak.”
Hari itu setelah pelajaran selesai, Riko kembali mengajak Panjul bermain. “Jul!”
“Ayo.”
Panjul langsung berdiri. Riko terkejut.
“Sudah selesai?”
“Untuk hari ini.”
Danu ikut mendekat. “Materinya sudah?”
Panjul mengangguk. “Sudah lumayan.”
Riko tersenyum. “Kalau begitu kita main.”
Panjul mengangkat tas. “Ayo.”
Mereka bertiga berjalan keluar kelas. Panjul melihat halaman sekolah. Kemudian tersenyum. Selama beberapa hari ia memang terlalu sibuk mengejar pelajaran. Tetapi ia ingat perkataan Pak Bagus. Belajar penting. Istirahat juga penting. Bermain juga penting. Ia tidak ingin menjadi Panjul yang hanya sibuk dengan buku sampai lupa tertawa. Karena bagaimanapun juga…
Panjul tetap Panjul.
Anak yang sedang belajar menjadi lebih baik, tetapi masih ingin menikmati masa kecilnya bersama teman-temannya. Dan setelah ketertinggalan pelajaran mulai terkejar, Panjul kembali menjalani hari-harinya. Ia belum tahu bahwa beberapa bulan ke depan akan membawa banyak kejadian baru. Ada cerita teman-temannya. Ada tantangan kelas 6. Ada ujian yang semakin dekat.
Dan tentu saja… ada kejadian-kejadian yang belum pernah Panjul bayangkan sebelumnya.