kepalasekolah.id – Latihan TKA SD: Literasi, Numerasi, dan Penalaran. Latihan TKA SD menjadi salah satu kebutuhan guru dalam mempersiapkan siswa menghadapi Tes Kemampuan Akademik. Namun, latihan yang efektif bukan sekadar memberikan sebanyak mungkin soal kepada siswa. Guru perlu memastikan bahwa latihan benar-benar membantu siswa memahami informasi, menerapkan konsep, bernalar, dan menyelesaikan masalah.
Untuk jenjang SD/MI/sederajat, TKA mencakup Bahasa Indonesia dan Matematika. Pada Bahasa Indonesia, fokus asesmen berada pada keterampilan membaca melalui teks informasi dan teks fiksi. Sementara itu, Matematika mengukur kemampuan memahami pengetahuan matematika sekaligus menerapkannya dalam penyelesaian masalah.
Karena itu, latihan TKA SD dapat dikembangkan dengan tiga kemampuan utama yang saling berkaitan, yaitu literasi, numerasi, dan penalaran.
Literasi membantu siswa memahami informasi.
Numerasi membantu siswa menggunakan konsep matematika dalam berbagai situasi.
Penalaran membantu siswa menentukan hubungan, memilih strategi, dan mengambil kesimpulan berdasarkan informasi yang tersedia.
Artikel ini dapat menjadi referensi bagi guru SD yang ingin menyusun latihan TKA secara bertahap tanpa mengubah pembelajaran menjadi sekadar kegiatan mengejar soal.
Apa yang Dimaksud Latihan TKA SD?
Latihan TKA SD adalah kegiatan pembelajaran dan asesmen yang dirancang untuk membiasakan siswa menghadapi permasalahan yang memiliki karakteristik sesuai dengan kemampuan yang diukur dalam TKA.
Latihan tersebut dapat berupa soal Bahasa Indonesia, Matematika, membaca tabel, memahami informasi, menyelesaikan masalah sehari-hari, menarik kesimpulan, atau menentukan alasan yang paling tepat.
Hal penting yang perlu dipahami guru adalah bahwa TKA tidak sama dengan literasi dan numerasi umum seperti yang digunakan dalam Asesmen Nasional. Portal resmi TKA menjelaskan bahwa TKA mengukur kompetensi mata pelajaran sesuai kurikulum, meskipun soal-soalnya tetap menekankan penalaran dan pemecahan masalah.
Dengan demikian, latihan TKA sebaiknya tetap berangkat dari materi dan kompetensi mata pelajaran.
Mengapa Literasi, Numerasi, dan Penalaran Penting?
Ketiga kemampuan tersebut memiliki hubungan yang sangat erat dalam proses belajar.
Bayangkan siswa mendapatkan soal berikut:
Di perpustakaan sekolah terdapat 240 buku. Sebanyak 35% merupakan buku cerita. Pada hari Senin, 18 buku cerita dipinjam siswa. Berapa buku cerita yang masih tersedia?
Untuk menyelesaikan soal tersebut, siswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan menghitung.
Siswa harus membaca informasi dengan benar, memahami persentase, menentukan jumlah buku cerita, kemudian melakukan pengurangan.
Artinya, satu soal dapat melibatkan literasi, numerasi, dan penalaran sekaligus.
Inilah alasan mengapa guru perlu mengembangkan latihan yang tidak hanya menguji kemampuan mengingat rumus.
Latihan Literasi TKA SD
TKA Bahasa Indonesia SD berfokus pada keterampilan membaca. Teks yang digunakan terdiri atas teks informasi dan teks fiksi. Kompetensi yang tercantum dalam kerangka asesmen mencakup pemahaman tekstual, pemahaman inferensial, serta evaluasi dan apresiasi.
1. Latihan Menemukan Informasi Tersurat
Jenis latihan pertama dapat berupa pertanyaan yang jawabannya tersedia secara langsung dalam teks.
Contoh:
Setiap Jumat, siswa kelas VI melaksanakan kegiatan membaca selama 20 menit sebelum pelajaran dimulai. Buku yang dibaca tidak harus berasal dari perpustakaan sekolah. Siswa diperbolehkan membawa buku dari rumah selama buku tersebut sesuai untuk dibaca anak-anak. Setelah membaca, beberapa siswa diminta menceritakan kembali isi bacaan.
Pertanyaan:
Kapan kegiatan membaca siswa kelas VI dilaksanakan?
A. Setiap Senin
B. Setiap Rabu
C. Setiap Jumat
D. Setiap Sabtu
Latihan seperti ini melatih kemampuan siswa menemukan informasi yang tersurat.
Namun, guru tidak perlu berhenti pada pertanyaan langsung.
2. Latihan Menentukan Ide Pokok
Setelah siswa mampu menemukan informasi, guru dapat meningkatkan latihan dengan meminta mereka menentukan ide pokok.
Contoh:
Sekolah melakukan berbagai kegiatan untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Siswa membawa botol minum sendiri dari rumah. Kantin juga mulai mengurangi penggunaan kantong plastik. Guru mengajak siswa menggunakan wadah makanan yang dapat dipakai berulang kali. Kebiasaan tersebut diharapkan dapat mengurangi sampah plastik di lingkungan sekolah.
Pertanyaan:
Apa ide pokok paragraf tersebut?
A. Siswa membawa botol minum dari rumah.
B. Kantin sekolah menggunakan kantong plastik.
C. Upaya sekolah mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
D. Guru mengajak siswa membawa makanan dari rumah.
Soal seperti ini mengajarkan siswa membedakan informasi utama dengan informasi pendukung.
3. Latihan Menarik Kesimpulan
Pada tingkat berikutnya, siswa perlu berlatih membuat kesimpulan.
Guru dapat memberikan teks yang memuat beberapa informasi kemudian meminta siswa menentukan kesimpulan yang paling tepat.
Latihan ini penting karena pemahaman inferensial dalam TKA Bahasa Indonesia mencakup kemampuan menyimpulkan ide pokok, gagasan pendukung, amanat, tokoh, peristiwa, dan nilai-nilai dalam teks.
4. Latihan Memahami Makna Kata dalam Konteks
Guru juga dapat memberikan kata tertentu di dalam sebuah kalimat.
Misalnya:
Hujan deras menyebabkan sungai meluap sehingga warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai harus mengungsi.
Pertanyaan:
Makna kata “meluap” dalam kalimat tersebut adalah …
A. air sungai berkurang
B. air sungai keluar dari batasnya
C. sungai menjadi lebih dangkal
D. sungai berhenti mengalir
Siswa perlu memahami makna berdasarkan konteks, bukan hanya menghafalkan arti kata.
Latihan Numerasi TKA SD
TKA Matematika SD mengukur kemampuan memahami fakta, konsep, prinsip, dan prosedur matematika serta menerapkannya untuk menyelesaikan masalah. Materinya mencakup Bilangan, Geometri dan Pengukuran, serta Data.
1. Latihan Bilangan
Guru dapat menggunakan soal yang berkaitan dengan pecahan, desimal, persen, operasi bilangan, FPB, dan KPK.
Contoh:
Ibu membeli 2,5 kg beras. Sebanyak 0,75 kg digunakan untuk memasak. Pada hari berikutnya, Ibu menggunakan 0,5 kg lagi. Berapa kilogram beras yang masih tersisa?
A. 1,15 kg
B. 1,25 kg
C. 1,50 kg
D. 1,75 kg
Siswa perlu memahami operasi desimal sekaligus konteks permasalahan.
2. Latihan Pecahan
Contoh:
Sebuah kue dipotong menjadi 8 bagian sama besar. Rina memakan 2 bagian dan Dita memakan 3 bagian. Berapa bagian kue yang masih tersisa?
A. 2/8
B. 3/8
C. 4/8
D. 5/8
Guru dapat melanjutkan dengan pertanyaan yang lebih menantang.
Misalnya:
“Apakah jawaban tersebut dapat ditulis dalam bentuk pecahan yang lebih sederhana?”
Dengan demikian, satu soal dapat dikembangkan menjadi beberapa aktivitas berpikir.
3. Latihan Geometri dan Pengukuran
Contoh:
Sebuah taman berbentuk persegi panjang memiliki panjang 12 meter dan lebar 8 meter. Di sekeliling taman akan dipasang pagar. Berapa meter panjang pagar yang diperlukan?
A. 20 meter
B. 32 meter
C. 40 meter
D. 96 meter
Setelah siswa menjawab, guru dapat meminta siswa menjelaskan mengapa menggunakan keliling, bukan luas.
Pertanyaan tambahan tersebut melatih penalaran.
4. Latihan Data
Data dapat disajikan dalam tabel sederhana.
| Hari | Jumlah Buku Dipinjam |
|---|---|
| Senin | 18 |
| Selasa | 24 |
| Rabu | 20 |
| Kamis | 28 |
| Jumat | 30 |
Pertanyaan:
Pada hari apa jumlah buku yang dipinjam paling banyak?
Pertanyaan berikutnya dapat dibuat lebih kompleks:
“Berapa selisih jumlah buku yang dipinjam pada hari Jumat dan Senin?”
Kemudian dapat ditingkatkan lagi:
“Jika target peminjaman sekolah adalah 25 buku per hari, pada hari apa target belum tercapai?”
Satu tabel dapat menghasilkan banyak latihan tanpa harus selalu membuat stimulus baru.
Latihan Penalaran TKA SD
Penalaran menjadi bagian penting dalam latihan TKA.
Siswa tidak cukup mengetahui jawaban, tetapi perlu memahami mengapa jawaban tersebut benar.
1. Penalaran dari Informasi
Contoh:
Kelas VI memiliki 30 siswa. Sebanyak 18 siswa mengikuti kegiatan olahraga, 15 siswa mengikuti kegiatan seni, dan 8 siswa mengikuti kedua kegiatan tersebut.
Guru dapat meminta siswa menentukan jumlah siswa yang mengikuti setidaknya salah satu kegiatan.
Soal tersebut membutuhkan pemahaman hubungan antar-informasi.
2. Penalaran Matematika
Guru dapat memberikan soal yang memiliki lebih dari satu langkah.
Contoh:
Sebuah toko memberikan potongan harga Rp20.000 untuk setiap pembelian tas seharga Rp150.000. Sinta membeli dua tas dengan harga yang sama. Berapa uang yang harus dibayarkan Sinta?
Siswa harus memahami bahwa potongan diberikan untuk setiap tas.
Langkah berpikirnya:
Harga dua tas:
2 × Rp150.000 = Rp300.000
Total potongan:
2 × Rp20.000 = Rp40.000
Jumlah yang dibayar:
Rp300.000 − Rp40.000 = Rp260.000
Soal tersebut dapat menjadi latihan numerasi sekaligus penalaran.
Jangan Langsung Memberikan Soal Sulit
Kesalahan yang sering terjadi dalam persiapan TKA adalah guru langsung memberikan soal sulit.
Padahal, latihan perlu dilakukan secara bertahap.
Urutannya dapat dibuat seperti berikut:
Tahap pertama: memahami konsep.
Tahap kedua: mengerjakan soal sederhana.
Tahap ketiga: mengerjakan soal dengan konteks berbeda.
Tahap keempat: menghubungkan beberapa informasi.
Tahap kelima: menyelesaikan masalah yang membutuhkan penalaran.
Tahap keenam: mengerjakan simulasi dengan kondisi yang lebih menyerupai asesmen.
Dengan tahapan tersebut, siswa mempunyai kesempatan membangun kemampuan secara bertahap.
Gunakan Stimulus yang Beragam
Latihan TKA tidak harus selalu berupa paragraf panjang.
Guru dapat menggunakan:
- teks informasi;
- cerita pendek;
- tabel;
- daftar;
- jadwal;
- gambar sederhana;
- data jumlah;
- informasi harga;
- ukuran benda;
- situasi kehidupan sehari-hari.
Kerangka TKA Matematika SD juga menggunakan permasalahan dalam konteks matematika dan kehidupan sehari-hari.
Variasi stimulus membantu siswa terbiasa memahami informasi dalam berbagai bentuk.
Latihan dengan Soal Tunggal dan Soal Berbasis Stimulus
Guru dapat mengenalkan dua pola latihan.
Pertama, soal tunggal, yaitu satu stimulus digunakan untuk satu pertanyaan.
Kedua, soal berbasis stimulus bersama, yaitu satu bacaan atau informasi digunakan untuk beberapa pertanyaan.
Pola kedua dapat menghemat waktu guru dalam menyusun latihan sekaligus melatih siswa membaca informasi secara lebih mendalam.
Namun, guru perlu memastikan bahwa setiap pertanyaan benar-benar berkaitan dengan stimulus.
Gunakan Pilihan Ganda Secara Tepat
TKA menggunakan bentuk pilihan ganda biasa dan pilihan ganda kompleks. Portal resmi TKA menjelaskan bahwa pilihan ganda biasa memiliki satu jawaban benar, sedangkan pilihan ganda kompleks dapat memiliki lebih dari satu jawaban benar.
Karena itu, siswa sebaiknya tidak hanya berlatih memilih satu jawaban.
Guru dapat membuat latihan seperti:
Pilih semua pernyataan yang benar.
Contoh:
Diketahui:
1 kg = 1.000 gram.
Pernyataan yang benar adalah …
☐ 2 kg = 2.000 gram
☐ 500 gram = 0,5 kg
☐ 3 kg = 300 gram
☐ 750 gram = 0,75 kg
Latihan semacam ini membuat siswa lebih teliti dalam membaca instruksi.
Latihan Tidak Harus Banyak
Jumlah soal bukan satu-satunya ukuran kualitas latihan.
Lima soal yang dibahas secara mendalam dapat memberikan pengalaman belajar lebih baik daripada 30 soal yang hanya dikerjakan lalu diberi nilai.
Guru dapat menggunakan pola:
5 soal → kerjakan → bahas → analisis kesalahan → perbaiki.
Dalam pembahasan, guru dapat meminta siswa menjelaskan proses berpikirnya.
Jika jawabannya salah, guru dapat bertanya:
“Pada langkah mana kamu mulai mengalami kesulitan?”
Dengan demikian, kesalahan menjadi bagian dari proses belajar.
Buat Jurnal Kesalahan Siswa
Salah satu strategi sederhana yang dapat diterapkan guru adalah membuat jurnal kesalahan.
Siswa mencatat:
- nomor soal;
- jawaban saya;
- jawaban benar;
- penyebab kesalahan;
- cara memperbaikinya.
Contoh:
Soal: Pecahan
Kesalahan: Salah membandingkan pecahan.
Penyebab: Tidak menyamakan penyebut.
Perbaikan: Mengubah pecahan ke bentuk yang mudah dibandingkan.
Cara tersebut membantu siswa mengenali pola kesalahan sendiri.
Contoh Jadwal Latihan TKA SD
Guru dapat menerapkan latihan ringan selama satu minggu.
Senin – Literasi
Membaca teks informasi dan menemukan informasi penting.
Selasa – Numerasi
Latihan bilangan dan operasi hitung dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Rabu – Literasi Inferensial
Menentukan ide pokok dan menarik kesimpulan.
Kamis – Geometri dan Data
Membaca tabel serta menyelesaikan masalah pengukuran.
Jumat – Penalaran
Mengerjakan soal campuran dan menjelaskan alasan jawaban.
Program tersebut dapat disesuaikan dengan jadwal sekolah dan kondisi siswa.
Peran Guru dalam Latihan TKA
Guru bukan hanya pembuat soal.
Guru berperan sebagai:
Perancang latihan, dengan memilih materi dan stimulus yang sesuai.
Fasilitator, dengan membantu siswa memahami strategi penyelesaian.
Pengamat, dengan mengidentifikasi kesulitan siswa.
Pemberi umpan balik, dengan menjelaskan kesalahan dan cara memperbaikinya.
Motivator, dengan menjaga agar latihan tidak menjadi sumber tekanan.
Peran tersebut membuat latihan TKA menjadi bagian dari proses pembelajaran, bukan sekadar kegiatan persiapan ujian.
Peran Orang Tua dalam Mendukung Latihan
Orang tua juga dapat membantu, tetapi tidak harus mengambil alih tugas guru.
Dukungan sederhana di rumah dapat berupa:
- menyediakan waktu membaca;
- mengajak anak berdiskusi;
- memberikan soal sederhana;
- mengajak anak menghitung dalam kegiatan sehari-hari;
- meminta anak menjelaskan alasan jawabannya;
- memberikan apresiasi terhadap usaha anak.
Misalnya ketika berbelanja, orang tua dapat bertanya:
“Jika harga barang Rp25.000 dan kamu membayar Rp50.000, berapa kembaliannya?”
Kegiatan sederhana seperti itu sudah menjadi latihan numerasi kontekstual.
Jangan Menjadikan TKA sebagai Sumber Tekanan
Persiapan TKA harus tetap memperhatikan kondisi siswa.
Hasil TKA seharusnya dapat menjadi informasi mengenai capaian dan bagian yang masih perlu diperkuat. Dalam rilis hasil TKA 2026, Kemendikdasmen juga menekankan bahwa hasil TKA dapat digunakan sebagai bahan refleksi bagi murid, guru, dan orang tua, bukan sekadar angka.
Karena itu, guru sebaiknya tidak menggunakan hasil latihan untuk memberi label seperti “pintar” atau “tidak pintar”.
Lebih baik gunakan bahasa:
“Bagian ini sudah kamu kuasai.”
“Bagian ini masih perlu kita latih.”
“Coba kita cari cara lain.”
Pendekatan seperti ini membantu siswa melihat kesalahan sebagai bagian dari pembelajaran.
Cara Mengevaluasi Hasil Latihan
Setelah latihan, guru dapat membuat tiga kategori sederhana:
Sudah menguasai
Siswa mampu menjawab dengan benar dan memahami alasannya.
Perlu penguatan
Siswa dapat menjawab sebagian soal tetapi masih melakukan kesalahan tertentu.
Perlu pendampingan
Siswa belum memahami konsep atau belum mampu menggunakan informasi yang diberikan.
Hasil tersebut dapat digunakan untuk menentukan pembelajaran berikutnya.
Kesimpulan
Latihan TKA SD sebaiknya tidak dipahami sebagai kegiatan mengerjakan soal sebanyak-banyaknya.
Latihan yang baik adalah latihan yang membantu siswa memahami informasi, menggunakan pengetahuan, bernalar, dan menyelesaikan masalah.
Untuk Bahasa Indonesia, guru dapat memberikan latihan membaca teks informasi dan fiksi, menemukan informasi tersurat, menentukan ide pokok, menarik kesimpulan, memahami makna kata dalam konteks, serta melakukan evaluasi sederhana terhadap isi teks. Kompetensi tersebut sejalan dengan kerangka asesmen TKA Bahasa Indonesia SD yang mencakup pemahaman tekstual, inferensial, serta evaluasi dan apresiasi.
Untuk Matematika, latihan dapat mencakup Bilangan, Geometri dan Pengukuran, serta Data. Soal sebaiknya tidak hanya meminta siswa melakukan perhitungan, tetapi juga menerapkan konsep dalam masalah matematika dan situasi kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, penalaran dapat dilatih dengan meminta siswa menjelaskan alasan, menghubungkan informasi, memilih strategi penyelesaian, dan memeriksa kembali jawabannya.
Guru juga perlu menggunakan hasil latihan sebagai bahan evaluasi pembelajaran. Kesalahan siswa bukan sekadar sesuatu yang harus diberi nilai salah, tetapi dapat menjadi petunjuk mengenai konsep yang belum dikuasai.
Dengan latihan yang terarah, bertahap, dan konsisten, siswa dapat menjadi lebih siap menghadapi TKA tanpa harus merasa bahwa setiap kegiatan belajar adalah latihan ujian.
Yang paling penting adalah menjaga keseimbangan antara persiapan asesmen dan pembelajaran yang bermakna.
Guru tidak perlu mengejar jumlah soal. Guru perlu membangun kebiasaan siswa untuk membaca dengan teliti, berpikir logis, menggunakan pengetahuan, dan berani menjelaskan alasan.
Dengan demikian, latihan TKA bukan hanya mempersiapkan siswa menghadapi sebuah tes, tetapi juga membangun kemampuan belajar yang akan mereka gunakan dalam jenjang pendidikan berikutnya.