kepalasekolah.id – Lucu, hangat, dan penuh makna! Ikuti kisah Panjul, si anak desa yang gemuk dan kocak, dalam petualangannya mengubah hidup lewat semangat belajar dan tawa tanpa henti. “Menggapai Mimpi” akan membuatmu tersenyum sekaligus terinspirasi.
Menggapai Mimpi – Episode 27: Bayangan Kecil Bernama Naya
Mentari pagi menyinari Desa Alas Wetan dengan hangat. Udara masih terasa sejuk setelah semalaman hujan rintik-rintik membasahi sawah dan pepohonan. Dari dapur rumah Panjul, aroma nasi goreng buatan Bu Rini mulai memenuhi ruangan.
Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, pagi itu rumah Panjul terasa jauh lebih ramai.
“Mas Paaaanjuuul… bangun!”
Suara kecil itu terdengar bersamaan dengan pintu kamar yang perlahan terbuka. Panjul yang masih memeluk guling hanya mengerang pelan.
“Hmm… masih pagi…”
Bruk! Seseorang meloncat ke kasurnya.
“Mas, ayo bangun!”
Panjul membuka mata perlahan. Di depannya sudah berdiri Naya dengan senyum lebar. Rambutnya masih sedikit acak-acakan, tetapi semangatnya seperti sudah penuh sejak matahari belum terbit.
“Lho… kamu sudah bangun?”
“Iya!”
“Jam berapa ini?”
“Udah pagi!”
Panjul menoleh ke jam dinding. Baru pukul enam. Ia menarik selimut lagi.
“Naya…”
“Iya?”
“Mas masih liburan.”
“Aku juga!”
“Lho…”
Naya malah tertawa. “Kalau liburan ya main!”
Panjul hanya bisa tersenyum pasrah.
Setelah sarapan bersama, Panjul segera mengambil buku rencana liburannya.
Hari ini tertulis jelas.
Hari Pertama
- Memancing di sungai bersama teman.
“Wah, ini cocok,” gumamnya.
Ia mengambil topi kesayangannya dan mulai memakai sandal. Baru saja sampai di teras…
“Mas mau ke mana?” Naya sudah berdiri di belakangnya.
“Mancing.”
“Aku ikut.”
Panjul tersenyum kecil.
“Di sungai banyak lumpur.”
“Nggak apa-apa.”
“Jalannya jauh.”
“Nggak apa-apa.”
“Panas.”
“Nggak apa-apa.”
Panjul mulai berpikir keras mencari alasan lain. “Di sana banyak nyamuk.”
“Aku tepuk.”
Panjul menghela napas. Sepertinya semua alasan sudah habis. Bu Rini yang melihat dari dapur hanya tertawa. “Ya sudah, Jul. Ajak saja.”
Pak Surya yang sedang menyerut kayu ikut menimpali. “Sing sabar yo.”
Panjul hanya mengangguk. “Siap, Pak.”
Di perjalanan menuju sungai, Naya terus berlari kecil di samping Panjul.
“Mas, itu burung apa?”
“Itu prenjak.”
“Kalau itu?”
“Itu pipit.”
“Kalau itu?”
“Itu kambing.”
“Lho… kambing kok burung?”
Panjul tertawa. “Nah, berarti kamu memperhatikan.”
Naya ikut tertawa geli. Beberapa langkah kemudian…
“Mas…”
“Iya?”
“Kenapa sawah warnanya hijau?”
“Soalnya kalau merah nanti petaninya bingung.”
Naya mengangguk serius. “Iya juga.”
Panjul langsung menutup mulutnya sendiri. “Waduh… jangan-jangan dia percaya.”
Sesampainya di sungai, Danu dan Riko sudah menunggu. “Eh, Panjul!” sapa Danu.
“Lho… bawa siapa?”
“Keponakanku.”
Riko tersenyum jahil. “Wah… sekarang kamu punya asisten.”
“Aku bukan asisten!” protes Naya.
“Terus?”
“Aku pengawas.”
Semua langsung tertawa.
“Pantes galak,” celetuk Riko.
Naya malah mengangguk bangga.
Panjul mulai memasang kail. Belum selesai…
“Mas.”
“Iya?”
“Ini buat apa?”
“Buat mancing.”
“Kenapa ikannya mau makan?”
“Soalnya ikannya lapar.”
“Kalau kenyang?”
“Ya… dia lewat saja.”
Naya kembali mengangguk. Lima detik kemudian…
“Mas.”
“Iya lagi?”
“Kalau ikannya diet?”
Riko langsung tertawa sampai memegang perut. “Panjul, jawab!”
Panjul menggaruk kepala.
“Kalau diet… mungkin cuma minum air.”
Kini Danu pun ikut tertawa.
Saat sedang menunggu ikan memakan umpan, suasana mendadak tenang. Semua fokus pada pelampung masing-masing. Tiba-tiba…
“MAS! IKAN!”
Naya berteriak keras.
Semua refleks menarik kail. Plung!
Air sungai muncrat ke mana-mana. Ternyata… Yang bergerak hanyalah seekor katak yang melompat. Riko sampai tertawa sambil duduk.
“Kataknya ketakutan!” Panjul mengusap wajahnya yang basah.
“Naya…”
“Iya?”
“Lain kali pelan-pelan ya.”
“Iya.”
Dua menit kemudian… “MAS! DAUN!”
Panjul menoleh.
“Lho?”
“Daunnya mengapung.”
Panjul tertawa kecil. “Iya… memang tugas daun mengapung.”
Menjelang siang mereka memutuskan pulang. Hari itu Panjul hanya mendapatkan dua ikan kecil. Namun Naya tampak sangat senang.
“Mas!”
“Iya?”
“Besok kita ke sini lagi ya!”
Panjul tersenyum kaku. “Besok… lihat jadwal dulu.”
Sesampainya di rumah, Panjul membuka kembali buku rencana liburannya. Pada bagian hari pertama ia menulis catatan kecil.
✔ Memancing.
Di bawahnya ia menambahkan lagi.
+ Menjawab 47 pertanyaan Naya.
Ia menghitung dengan jari. “Lho… tadi kayaknya lebih dari itu.”
Pak Surya yang kebetulan lewat membaca catatan itu. “Hahaha…”
Panjul menoleh. “Pak…”
“Gimana?”
“Ternyata menjaga anak kecil capek ya.”
Pak Surya mengangguk pelan. “Nah, saiki ngerti to.”
“Iya.”
“Padahal Naya seneng banget karo kowe.”
Panjul tersenyum kecil. “Iya sih.”
Pak Surya lalu duduk di sampingnya. “Jul.”
“Iya?”
“Cah cilik kuwi nek seneng karo wong, ya mesthi kepengin melu terus.”
Panjul mengangguk pelan. “Berarti aku harus sabar ya.”
Pak Surya menepuk pundaknya. “Nggak usah sabar.”
“Lho?”
“Senengna wae.”
“Kenapa?”
“Amarga mengko nek wis bali ning kutha, sing kangen dhisik ya paling dheweke.”
Kalimat itu membuat Panjul terdiam beberapa saat. Ia menoleh ke halaman rumah. Di sana Naya sedang berlari mengejar kupu-kupu sambil tertawa lepas. Mungkin benar kata ayahnya. Bagi anak kota seperti Naya, halaman rumah Panjul saja sudah terasa seperti taman bermain yang sangat luas.
Sore harinya, Panjul berniat memperbaiki layang-layang lamanya. Ia mengambil bambu tipis dan gulungan benang. Belum sempat duduk…
“Mas!”
“Iya?”
“Aku bantu.”
Panjul tersenyum pasrah. “Ya sudah.”
Naya ikut duduk di sampingnya. Namun bukannya memegang bambu… Ia justru memainkan gulungan benang. Benangnya menggelinding. Semakin lama semakin jauh.
“Panjul!” teriak Riko yang kebetulan lewat depan rumah.
“Benangmu kabur!”
Panjul langsung berdiri mengejar. Naya ikut mengejar. Riko ikut mengejar sambil tertawa. Benang terus menggelinding tertiup angin hingga akhirnya berhenti di semak-semak.
Semua berdiri sambil terengah-engah. Riko tertawa paling keras.
“Panjul…”
“Iya?”
“Liburanmu seru juga ya.”
Panjul menghela napas panjang. “Lumayan…”
“Lumayan capek?”
“Bukan.”
“Lumayan rame.” Semua kembali tertawa.
Malam harinya Panjul membuka lagi buku rencana liburannya.
Ia memberi tanda pada hari pertama. Lalu tersenyum sendiri. Memang tidak semua berjalan sesuai jadwal. Bahkan hampir semuanya berubah. Namun entah kenapa… Hari itu tetap terasa menyenangkan. Sementara di kamar sebelah, Naya sudah tertidur pulas sambil memeluk boneka kecilnya.
Besok pagi…
Anak kecil itu pasti akan kembali berteriak,
“Mas Paaaanjuuul… ayo main!”
Dan Panjul sudah mulai bisa menebak…
Bahwa besok akan menjadi hari yang lebih ramai lagi.
Bersambung ke Episode 28: Hari yang Tidak Pernah Sepi
