kepalasekolah.id – Lucu, hangat, dan penuh makna! Ikuti kisah Panjul, si anak desa yang gemuk dan kocak, dalam petualangannya mengubah hidup lewat semangat belajar dan tawa tanpa henti. “Menggapai Mimpi” akan membuatmu tersenyum sekaligus terinspirasi.
Menggapai Mimpi – Episode 28: Hari yang Tidak Pernah Sepi
Pagi di Desa Alas Wetan kembali disambut cahaya matahari yang hangat. Setelah beberapa hari hujan turun hampir setiap sore, pagi itu langit tampak cerah. Burung-burung kecil beterbangan di atas hamparan sawah, sementara embun yang masih menempel di daun-daun padi berkilau diterpa sinar mentari.
Di dalam rumah, Panjul baru saja membuka mata. Ia menguap panjang, lalu duduk di tepi kasur sambil mengusap wajahnya.
“Hari ini…” gumamnya pelan.
Matanya menoleh ke buku Rencana Liburan Panjul yang tergeletak di meja.
“Hari ini aku harus berhasil menjalankan satu rencana tanpa gangguan.”
Ia mengangguk mantap pada dirinya sendiri. “Tidak boleh gagal.”
Belum sempat berdiri…
“Mas Paaaanjuuul!”
Pintu kamar terbuka. Naya muncul dengan senyum selebar biasanya.
“Selamat pagi!”
Panjul tersenyum tipis.
“Pagi…”
“Mas, hari ini kita main apa?”
Panjul menghela napas pelan. Baru bangun saja sudah ditanya.
Setelah sarapan, Panjul mempunyai sebuah rencana rahasia. Ia mengintip dari balik pintu dapur.
Naya sedang membantu Bu Rini mengupas kacang panjang.
“Wah…” Panjul tersenyum lebar. “Kesempatan.” Ia berjalan pelan. Pelan sekali. Tumitnya bahkan hampir tidak menyentuh lantai. “Operasi Kabur Dimulai…” gumamnya lirih.
Ia terus melangkah seperti pencuri di film.
Satu langkah…
Dua langkah…
Tiga langkah…
Hampir sampai halaman depan.
Tiba-tiba…
“Mas…”
Panjul langsung membeku. Pelan-pelan ia menoleh ke belakang.
Di belakangnya…
Naya juga sedang berjalan berjinjit. Persis seperti dirinya.
“Mas lagi main apa?”
Panjul memejamkan mata beberapa detik.
“Lho… sejak kapan kamu di belakang?”
“Tadi.”
“Tadi kapan?”
“Waktu Mas jalan aneh.”
Panjul menepuk dahinya.
Operasi Kabur gagal total.
Siang harinya, Panjul mencoba cara lain. Kali ini ia sengaja berkata keras.
“Naya, Mas mau ke kamar.”
“Iya.”
Panjul segera masuk. Beberapa detik kemudian ia keluar lewat pintu samping rumah.
“Ha! Berhasil.”
Ia berjalan cepat menuju kebun belakang. Belum lima langkah…
“Mas!”
Panjul menoleh. Naya sudah berdiri sambil melambaikan tangan.
“Mas kok keluarnya lewat sana?”
Panjul menggaruk kepala.
“Hehe… tadi salah pintu.”
“Oh.”
“Ayo pulang lagi.”
“Iya!”
Panjul tertawa kecil.
“Anak ini…”
Menjelang siang, Danu dan Riko datang membawa bola.
“Jul!”
“Ayo main!”
Wajah Panjul langsung berbinar.
“Nah, ini dia.”
Ia mengambil bola lalu berlari keluar rumah. Namun baru sampai gerbang…
“Mas!”
Naya kembali muncul. “Aku ikut.”
Riko langsung tertawa. “Tuh kan.”
Panjul menghela napas. “Nggak apa-apa ya?”
Danu tersenyum. “Ikut saja.”
Mereka pun menuju lapangan kecil dekat balai desa.
Permainan baru dimulai beberapa menit ketika tingkah Naya membuat semuanya tertawa.
Saat Riko menggiring bola… Naya malah mengejar bayangan bolanya.
“Lho… bolanya di sana!” teriak Riko.
“Aku lagi ngejar yang hitam.”
“Itu bayangan!”
“Oh…”
Tak lama kemudian Danu berhasil menendang bola ke arah Panjul. Panjul bersiap menerima.
Namun sebelum bola sampai… Naya memungutnya dengan tangan.
“Nih Mas.”
Semua langsung tertawa. “Nggak boleh pakai tangan!”
kata Riko sambil tertawa. “Lho… kenapa?”
“Soalnya ini sepak bola.”
“Kalau pakai tangan?”
“Itu nanti jadi olahraga lain.”
Naya mengangguk serius. “Ooo…”
Beberapa menit kemudian…
Bola kembali datang. Kali ini Naya benar-benar tidak memegangnya. Ia malah melompat menghindar sambil menutup mata. Semua kembali tertawa.
Selesai bermain, mereka duduk di bawah pohon. Riko meminum airnya sambil melihat Panjul.
“Jul.”
“Apa?”
“Kayaknya sekarang kamu punya bayangan.”
“Bukan.”
“Lho?”
“Bayangan itu nggak capek.”
“Lalu?”
“Ini capek.”
Semua kembali tertawa. Riko tersenyum jahil.
“Mulai hari ini aku panggil dia…”
Ia menunjuk Naya. “Bayangan Kecil Panjul!”
Naya malah senang. “Hore!”
“Aku Bayangan Kecil!”
Panjul hanya bisa tertawa pasrah. “Ya sudah…”
Sore harinya, Panjul berniat memperbaiki layang-layang yang kemarin belum selesai. Ia mengambil bambu, benang, dan kertas warna. Kali ini ia berharap bisa tenang. Naya duduk di sampingnya.
Namun bukannya mengganggu… Ia hanya memperhatikan.
“Mas…”
“Iya?”
“Mas pintar ya.”
Panjul tertawa kecil.
“Nggak juga.”
“Bisa bikin layangan.”
“Ini juga belum jadi.”
“Tapi nanti jadi.”
Kalimat sederhana itu membuat Panjul tersenyum. Ia baru sadar. Sejak datang ke desa…
Naya selalu menganggap apa pun yang dilakukan Panjul itu hebat. Entah memancing. Menggambar. Bermain bola. Bahkan sekadar berjalan di pematang sawah. Semua membuat mata kecil itu berbinar.
Malam mulai turun. Setelah makan malam bersama, Naya sudah tertidur lebih dulu karena kelelahan bermain seharian. Panjul kembali membuka buku rencana liburannya. Ia mengambil pensil. Lalu menambahkan catatan baru.
Catatan Hari Ketiga Liburan
✔ Bermain bola.
✔ Membuat layangan sedikit.
✖ Kabur sendirian.
✖ Jalan tanpa diikuti Naya.
Jumlah pertanyaan hari ini: tidak sempat dihitung.
Jumlah usaha kabur: 2 kali.
Hasil: gagal semua.
Kesimpulan…
Punya bayangan kecil ternyata melelahkan.
Panjul tersenyum sendiri melihat tulisannya.
“Lucu juga…”
Ia menutup buku itu perlahan.
Saat hendak masuk kamar, tanpa sengaja ia mendengar suara Pak Surya dan Paman Adi yang sedang berbincang di teras.
Angin malam berembus pelan membawa suara mereka.
“Mas Surya…”
“Iya, Di?”
“Sepertinya lusa kami pamit pulang.”
Pak Surya mengangguk pelan.
“Wis cepet ya.”
“Iya. Liburanku juga tinggal sebentar.”
Beberapa saat mereka sama-sama terdiam. Lalu Paman Adi tersenyum.
“Terima kasih ya, Mas… juga Mbak Rini. Sudah mengizinkan kami menginap di sini.”
“Lha… malah seneng ana sing rame.”
“Naya juga kelihatan bahagia sekali.”
Pak Surya menoleh ke halaman rumah.
“Anake seneng dolanan ning desa.”
“Iya.”
“Di kota dia nggak punya sawah, nggak punya sungai, nggak bisa lari-lari seluas ini.”
Paman Adi mengangguk pelan.
“Makanya dia selalu mengikuti Panjul ke mana-mana.”
Panjul yang mendengar percakapan itu hanya berdiri di balik pintu.
Ia tidak sengaja mendengarnya.
Namun kata-kata itu terus terngiang di kepalanya.
“Di kota dia tidak punya sawah…”
“Tidak bisa bermain seperti di desa…”
Panjul menoleh ke arah kamar tempat Naya sudah tertidur pulas. Tiba-tiba rasa kesalnya siang tadi perlahan menghilang. Mungkin…
Memang hanya di desa inilah Naya bisa merasakan liburan yang benar-benar bebas.
Dan tanpa ia sadari… Waktu kebersamaan mereka ternyata tinggal dua hari lagi.
Bersambung ke Episode 29: Selamat Tinggal, Bayangan Kecil
