kepalasekolah.id – Lucu, hangat, dan penuh makna! Ikuti kisah Panjul, si anak desa yang gemuk dan kocak, dalam petualangannya mengubah hidup lewat semangat belajar dan tawa tanpa henti. “Menggapai Mimpi” akan membuatmu tersenyum sekaligus terinspirasi.
Menggapai Mimpi – Episode 33: Danu Mulai Sibuk
Setelah suasana meriah perlombaan Agustusan berakhir, kegiatan sekolah kembali berjalan seperti biasa.
Halaman sekolah yang beberapa hari sebelumnya dipenuhi teriakan dan tawa kini kembali tenang. Tali-tali perlombaan sudah dilepas. Karung-karung disimpan kembali. Ember dan botol yang digunakan untuk permainan juga sudah tidak terlihat.
Panjul kembali pada rutinitasnya. Belajar. Bermain. Mengerjakan tugas. Kemudian bermain lagi kalau ada waktu. Namun ada satu hal yang mulai Panjul sadari. Danu semakin jarang terlihat bermain bersama mereka. Awalnya Panjul tidak terlalu memperhatikannya. Ia mengira Danu hanya sedang sibuk mengerjakan tugas. Tetapi setelah beberapa hari, Panjul mulai merasa ada yang berbeda.
Suatu siang, setelah bel pulang berbunyi, Panjul langsung menghampiri Danu. “Dan!”
Danu yang sedang memasukkan buku ke dalam tas menoleh. “Apa?”
“Main.”
“Main apa?”
Panjul berpikir. “Sepeda.”
Danu menggeleng. “Nggak bisa.”
“Ke sungai?”
“Nggak bisa.”
“Ke sawah?”
“Nggak bisa.”
Panjul mengerutkan dahi. “Rumahmu pindah?”
Danu tertawa. “Enggak.”
“Terus kenapa semua nggak bisa?”
Danu mengangkat tasnya. “Aku harus les.”
Panjul terdiam. “Oh…”
“Besok juga ada.”
“Oh…”
“Lusa juga.”
“Oh…”
Danu berjalan keluar kelas. Panjul mengikutinya. “Terus kapan bisa main?”
Danu berhenti. “Kalau ada waktu.”
Panjul mengangguk. “Oke…”
Ia kemudian berbalik dan berjalan ke arah Riko. Riko sedang memasukkan pensil ke dalam tas dengan cara yang sangat tidak rapi. “Rik.”
“Apa?”
“Danu sekarang sibuk.”
“Iya.”
“Dia banyak les.”
Riko mengangguk. “Terus?”
Panjul berpikir. “Ya sudah.”
Riko tertawa. “Kamu mau ngajak aku main?”
“Iya.”
“Main apa?”
Panjul tersenyum. “Sepak bola.”
Riko langsung berdiri. “Ayo.. gaaasss!”
Mereka berdua berlari keluar. Danu hanya bisa tersenyum melihat kedua temannya. Namun setelah mereka pergi, senyumnya perlahan menghilang. Ia mengambil buku dari tas. Hari itu masih ada satu tempat les yang harus didatanginya.
Di rumah Danu, suasananya juga mulai berubah. Sepulang sekolah, Danu tidak langsung bermain. Ia makan siang. Kemudian beristirahat sebentar. Setelah itu membuka buku.
Ibunya masuk ke kamar. “Sudah selesai tugas sekolahnya?”
“Sudah, Bu.”
“Jangan lupa nanti les.”
“Iya.”
Ayah Danu yang sedang membaca sesuatu di ruang tengah ikut berkata, “Dan, kamu sudah kelas 6. Sebentar lagi ujian.”
Danu mengangguk. “Iya, Yah.”
“Kamu harus mulai serius.”
“Iya.”
“Kalau nilaimu bagus, nanti kamu bisa memilih sekolah yang kamu inginkan.”
Danu diam. Ia sebenarnya ingin menjawab bahwa dirinya sudah berusaha. Tetapi ia juga tahu orang tuanya menginginkan yang terbaik. Jadi ia hanya mengangguk.
“Iya, Yah.”
Hari-hari berikutnya berjalan hampir sama. Pagi di sekolah. Siang pulang. Kemudian les. Malam belajar. Kadang mengerjakan tugas sekolah. Kadang mengulang materi. Kadang mempersiapkan pelajaran untuk esok hari. Waktu bermain semakin sedikit. Sementara Panjul masih menjalani hari seperti biasanya.
Suatu sore, Panjul dan Riko bermain bola di lapangan dekat rumah. Panjul menendang bola terlalu keras. Bola melambung melewati Riko. “Jul!”
“Apa?”
“Bola!”
Panjul berlari mengejarnya. Ia hampir tersandung batu. Namun berhasil menjaga keseimbangan. “Berhasil!”
Riko tertawa. “Kalau kamu terus latihan lari, mungkin suatu hari bisa jadi pemain bola.”
Panjul menggeleng. “Jangan.”
“Kenapa?”
“Nanti bolanya ikut capek.”
Riko tertawa. Setelah bermain cukup lama, mereka duduk di pinggir lapangan. Panjul melihat ke arah jalan. Ia berharap Danu tiba-tiba muncul. Namun sampai matahari mulai condong, Danu tidak datang. “Dan nggak ikut.”
Riko mengangguk. “Dia les.”
Panjul memainkan rumput dengan ujung sepatunya. “Kasihan.”
Riko menoleh. “Kenapa kasihan?”
“Karena nggak bisa main.”
Riko diam sebentar. Kemudian berkata, “Mungkin dia memang harus belajar.”
Panjul mengangguk. “Iya.” Ia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Keesokan harinya, ketika istirahat, Panjul kembali menghampiri Danu. “Dan.”
“Hmm?”
“Mau jajan?”
Danu menggeleng. “Aku harus baca ini.”
Panjul melihat buku yang sedang dibaca Danu. “Pelajaran apa?”
“Matematika.”
Panjul langsung mundur sedikit. “Oh.”
“Kenapa?”
“Kalau matematika aku mundur dulu.”
Danu tertawa. “Ya sudah.”
Panjul hendak pergi, tetapi berhenti. “Dan.”
“Iya?”
“Kamu masih suka belajar?”
Danu diam sebentar. “Kadang.”
“Terus kalau nggak suka?”
“Ya tetap harus belajar.”
Panjul mengangguk. “Oh.”
Kemudian ia pergi. Danu memperhatikannya sampai Panjul menghilang di pintu kelas. Ada sesuatu yang ingin dikatakannya. Tetapi ia sendiri tidak tahu apa.
Beberapa minggu berlalu. Danu semakin sibuk. Teman-teman di kelas mulai terbiasa melihatnya membawa buku tambahan. Kadang ia mengerjakan soal ketika teman-temannya sedang bermain. Kadang ketika bel pulang berbunyi, ia langsung memasukkan buku ke tas dan bergegas pergi. Panjul tetap sesekali mengajaknya bermain. Namun jawabannya semakin sering sama.
“Nggak bisa.”
Sampai suatu sore Panjul akhirnya bertanya kepada Bu Ratri ketika mereka tidak sengaja bertemu di sekolah. “Bu.”
“Iya, Panjul?”
“Danu kenapa sekarang sibuk terus?”
Bu Ratri tersenyum kecil. “Danu sedang banyak belajar.”
“Karena kelas 6?”
“Iya.”
“Memangnya kelas 6 harus belajar terus?”
Bu Ratri menggeleng. “Tidak harus terus.”
Panjul mengangguk. “Terus?”
“Yang penting belajar dengan sungguh-sungguh dan tetap menjaga waktu untuk hal lainnya.”
Panjul berpikir. “Berarti belajar boleh…” Ia menghitung dengan jari. “…bermain juga boleh?”
“Boleh.”
“Makan boleh?”
Bu Ratri tertawa. “Boleh.”
“Tidur?”
“Boleh.”
Panjul tersenyum. “Lengkap.”
Bu Ratri menggeleng sambil tersenyum. “Yang penting seimbang.”
Panjul mengangguk. Ia belum terlalu memahami maksudnya. Tetapi ia menyimpan perkataan itu di kepalanya.
Sementara itu, Danu mulai merasakan tekanan yang berbeda. Suatu malam, ia duduk di depan meja belajarnya. Buku terbuka. Pensil di tangan. Soal-soal latihan tersusun di depannya. Ia membaca satu soal. Mencoba mengerjakan. Salah. Dihapus. Mencoba lagi. Salah lagi. Danu menghela napas. Ia menatap jam. Sudah cukup malam. Namun masih ada beberapa soal yang belum selesai. Dari luar kamar, ibunya memanggil. “Dan, jangan terlalu malam.”
“Iya, Bu.”
Danu menutup buku sejenak. Ia menyandarkan punggung ke kursi. Dalam hati, ia ingin bermain. Ia ingin bertemu Panjul dan Riko. Ia ingin tertawa seperti dulu. Namun ia juga teringat perkataan ayahnya.
“Kamu harus mulai serius.”
Danu membuka kembali bukunya. Ia melanjutkan belajar.
Keesokan paginya, Panjul datang lebih awal. Ia melihat Danu sudah duduk di kelas. Panjul berjalan mendekat. “Dan.”
Danu menoleh. “Kenapa?”
“Aku punya pertanyaan.”
“Apa?”
Panjul mendekatkan wajahnya. “Kamu masih ingat cara ketawa nggak?”
Danu terdiam. Kemudian tertawa. “Hahaha!”
Panjul ikut tertawa. “Nah! Masih bisa.”
Danu menggeleng. “Kamu ini.”
Panjul duduk di sebelahnya. Mereka berbicara sebentar. Tidak lama. Bel masuk kemudian berbunyi. Danu kembali membuka buku. Panjul kembali ke tempat duduknya. Mereka tetap berteman. Hanya saja, waktu mereka bersama mulai berkurang. Panjul belum menyadari bahwa kesibukan Danu akan menjadi awal dari perubahan dalam persahabatan mereka. Ia juga belum tahu bahwa ketika seseorang mulai mengejar sesuatu dengan sangat keras, terkadang orang tersebut bisa merasa semakin jauh dari teman-temannya.
Dan di kelas 6… bukan hanya nilai yang akan diuji.
Persahabatan mereka pun perlahan mulai menghadapi ujian kecil.
Bersambung ke Episode 34 : Buku Kecil yang Hilang
