kepalasekolah.id – Lucu, hangat, dan penuh makna! Ikuti kisah Panjul, si anak desa yang gemuk dan kocak, dalam petualangannya mengubah hidup lewat semangat belajar dan tawa tanpa henti. “Menggapai Mimpi” akan membuatmu tersenyum sekaligus terinspirasi.
Menggapai Mimpi – Episode 32: Agustus Datang, Panjul Ikut Bertanding
Dua minggu sudah berlalu sejak hari pertama Panjul menjadi siswa kelas 6. Selama dua minggu itu, banyak hal kembali menjadi kebiasaan. Panjul mulai terbiasa dengan kelas barunya. Mulai terbiasa dengan tugas-tugas Pak Bagus. Mulai terbiasa dengan adik-adik kelas 1 yang masih sering memanggilnya ketika bertemu di halaman sekolah. Bahkan beberapa anak kelas 1 sudah tidak lagi mengejar Panjul.
Mereka justru langsung bertanya, “Kak Panjul, nanti main?”
Panjul biasanya menjawab, “Lihat nanti.”
Padahal kadang ia sendiri tidak tahu akan bermain apa. Pagi itu suasana Desa Alas Wetan terasa sedikit berbeda. Bendera merah putih mulai terlihat di depan rumah-rumah warga. Beberapa jalan kecil dihiasi umbul-umbul. Di depan balai desa juga sudah dipasang hiasan merah putih. Bahkan beberapa anak muda mulai sibuk mempersiapkan perlombaan yang akan diadakan menjelang peringatan kemerdekaan.
Bulan Agustus akhirnya datang. Dan seperti biasanya… anak-anak sekolah mulai memikirkan satu hal.
Lomba!
Ketika Panjul sampai di sekolah, ia langsung melihat sesuatu yang berbeda. Di halaman sekolah sudah terdapat beberapa tali yang dipasang untuk berbagai permainan. Ada meja panjang. Ada ember. Ada botol plastik. Ada karung. Ada kerupuk yang digantung. Dan di salah satu sudut halaman, beberapa guru sedang berdiskusi.
Panjul turun dari sepeda. Ia memandang semua benda itu dengan mata berbinar. “Riko!”
Riko yang baru saja masuk gerbang menoleh. “Apa?”
“Lihat!”
“Aku lihat.”
“Ini lomba, ya?”
Riko mengangguk. “Jelas.”
Panjul tersenyum lebar. “Berarti aku harus ikut.”
Riko mengerutkan dahi. “Kamu mau ikut lomba apa?”
Panjul berpikir. “Semua.”
Riko langsung tertawa. “Memangnya kamu bisa?”
Panjul menunjuk dirinya sendiri. “Kenapa tidak?”
“Kamu lari belum tentu menang.”
“Iya.”
“Main bola juga belum tentu bagus.”
“Iya.”
“Makan kerupuk juga belum tentu cepat.”
Panjul mengangguk. “Iya.”
Riko semakin bingung. “Terus kenapa mau ikut semua?”
Panjul menjawab santai. “Karena kalau kalah, bisa ikut tertawa.”
Riko terdiam. Kemudian tertawa. “Ya sudah. Itu baru alasan Panjul.”
Tidak lama kemudian bel masuk berbunyi. Pak Bagus masuk ke kelas sambil membawa selembar kertas. Anak-anak langsung ramai. “Pak, itu daftar lomba?”
Pak Bagus mengangkat kertasnya. “Iya.”
Suasana kelas langsung semakin ramai. “Pak, lombanya apa saja?”
Pak Bagus menempelkan daftar tersebut di papan tulis. Beberapa siswa langsung berdiri dan mendekat. Ada lomba makan kerupuk. Memasukkan pensil ke dalam botol. Estafet kelereng. Balap karung. Tarik tambang. Dan beberapa permainan kelompok lainnya.
Panjul membaca semuanya dengan serius. Ia menunjuk daftar itu. “Pak.”
“Iya?”
“Saya ikut makan kerupuk.”
Riko langsung menyela. “Jangan. Nanti kerupuknya kasihan.”
Satu kelas tertawa. Panjul melirik Riko. “Kenapa?”
“Kerupuknya belum tentu siap menghadapi kamu.”
Panjul mengangkat bahu. “Kalau kerupuknya takut, itu urusan kerupuk.”
Pak Bagus ikut tertawa. “Sudah, sudah. Kalian boleh memilih.”
Kemudian Pak Bagus menjelaskan bahwa lomba bukan hanya untuk mencari pemenang. Kegiatan tersebut dibuat agar anak-anak bisa bersenang-senang, bekerja sama, dan menikmati suasana kemerdekaan. Panjul mengangguk. Ia sudah tahu apa yang akan dilakukannya. Mengikuti sebanyak mungkin lomba yang bisa diikutinya.
Setelah persiapan selesai, perlombaan akhirnya tiba. Halaman sekolah berubah seperti tempat bermain raksasa. Bendera merah putih berkibar. Musik terdengar dari pengeras suara. Anak-anak dari kelas 1 sampai kelas 6 memenuhi halaman. Guru-guru juga terlihat lebih santai daripada biasanya. Bahkan Pak Bagus mengenakan kaos olahraga dan celana training.
Riko melihatnya. “Pak.”
“Iya?”
“Pak Bagus kelihatan seperti mau ikut lomba.”
Pak Bagus menjawab serius. “Memang.”
Semua anak langsung bersorak. Panjul membelalakkan mata. “Pak, guru juga ikut?”
“Kenapa?”
“Kalau Bapak ikut, kita kalah.”
Pak Bagus tertawa. “Belum tentu.”
Lomba pertama adalah makan kerupuk. Panjul berdiri di antara beberapa peserta. Kerupuk digantung dengan tali. Tangannya diletakkan di belakang. Wajahnya serius. Pak Bagus memberi aba-aba.
“Satu…”
“Dua…”
“Tiga!”
Semua peserta mulai menggigit kerupuk. Panjul menggigit dari bawah. Kerupuk bergerak. Panjul ikut bergerak. Kerupuk bergeser ke kanan. Panjul ikut bergeser ke kanan. Kerupuk bergerak ke kiri. Panjul ikut ke kiri. Beberapa detik kemudian ia mulai kesulitan. Riko yang menonton dari pinggir tertawa. “Jul! Jangan diajak joget!”
Panjul mencoba menggigit lagi. Kerupuk malah berputar. Panjul ikut berputar. Anak-anak langsung tertawa. Akhirnya Panjul berhasil mendapatkan gigitan besar. Namun karena terlalu semangat, kerupuknya patah. Separuh masih tergantung. Panjul menatap potongan kerupuk yang ada di mulutnya. Ia mengunyah. Kemudian tersenyum. “Yang penting masuk mulut.”
Riko bertepuk tangan. “Prestasi besar!”
Panjul tidak menjadi pemenang. Tetapi ia tertawa bersama teman-temannya.
Lomba berikutnya adalah balap karung. Panjul berdiri di garis start. Ia memegang karung erat-erat. Danu berada di sebelahnya. Riko menjadi salah satu peserta dari kelas lain. Pak Bagus memberi aba-aba.
“Satu!”
“Dua!”
“Tiga!”
Semua melompat. Panjul melompat sekali. Dua kali. Tiga kali. Kemudian…
Bruk! Ia jatuh. Penonton langsung tertawa. Panjul duduk di dalam karung. Ia melihat Riko yang sudah jauh di depan. “Rik!”
Riko menoleh sambil tetap melompat. “Apa?”
“Jangan jauh-jauh!”
“Kenapa?”
“Temani aku!”
Riko tertawa. Namun akhirnya Riko sengaja memperlambat lompatan. Panjul berhasil berdiri lagi. Mereka berdua melanjutkan perlombaan. Tidak menang. Tetapi kali ini mereka sampai garis akhir bersama-sama.
Setelah beberapa lomba, Panjul mulai kelelahan. Ia duduk di bawah pohon. Napasnya sedikit terengah-engah. Danu memberikan air minum. “Minum.”
Panjul menerima. “Terima kasih.”
“Kamu ikut terlalu banyak lomba.”
Panjul mengangguk. “Iya.”
“Capek?”
“Banget.”
“Terus kenapa masih mau ikut?”
Panjul tersenyum. “Karena seru.”
Danu tertawa kecil. “Kamu memang aneh.”
Panjul mengangguk. “Sudah dari dulu.”
Menjelang siang, tiba giliran lomba tarik tambang. Kelas 6 dibagi menjadi dua kelompok. Panjul masuk salah satu kelompok. Riko berada di kelompok lawan. Begitu tali dipegang, Riko langsung tersenyum jahil. “Siap kalah, Jul?”
Panjul menarik napas. “Belum tentu.”
“Yakin?”
“Yakin.”
Peluit berbunyi. Kedua kelompok mulai menarik. Panjul mengerahkan seluruh tenaga. Kakinya menekan tanah. Tangannya menggenggam tali. Teman-temannya berteriak.
“Tarik!”
“Tarik!”
Panjul mulai mundur. “Jangan mundur!”
“Aku bukan mundur!”
“Lalu?”
“Tanahnya yang maju!”
Riko tertawa sambil tetap menarik tali. Namun beberapa detik kemudian kelompok Panjul kehilangan keseimbangan. Mereka kalah. Panjul jatuh terduduk.
Riko langsung menghampiri. “Sudah kubilang.”
Panjul menatapnya. “Apa?”
“Siap kalah.”
Panjul tersenyum. “Iya.”
Riko membantu menarik tangannya. “Besok latihan.”
Panjul mengangguk. “Siap.”
Hari itu penuh tawa. Ada yang menang. Ada yang kalah. Ada yang jatuh. Ada yang salah memasukkan benda ke tempatnya. Ada yang terlalu serius sampai lupa bahwa perlombaan itu hanya permainan. Panjul tidak mendapatkan banyak kemenangan. Namun ketika acara hampir selesai, Pak Bagus mengumpulkan seluruh siswa. Ia melihat wajah anak-anak yang kelelahan tetapi bahagia.
“Bagaimana hari ini?”
“Seru!”
“Senang?”
“Senang!”
Pak Bagus tersenyum. “Itulah yang paling penting.”
Panjul duduk bersama Riko dan Danu. Ia melihat bendera merah putih yang berkibar di atas halaman sekolah. Untuk sesaat ia diam. Kemudian tersenyum. Menjadi siswa kelas 6 ternyata bukan hanya tentang belajar menghadapi ujian. Ada juga hari-hari seperti ini. Hari ketika ia bisa tertawa bersama teman. Berlari. Bermain. Jatuh. Bangun lagi. Dan pulang dengan badan lelah tetapi hati senang.
Panjul berdiri sambil mengusap lututnya yang sedikit kotor.
Riko menatapnya. “Capek?”
Panjul mengangguk. “Capek.”
“Besok masih mau ikut lomba?”
Panjul berpikir sebentar. Kemudian tersenyum. “Kalau ada…”
Ia menunjuk dirinya sendiri. “…Panjul siap!”
Riko tertawa. Namun sebelum mereka meninggalkan halaman, Panjul kembali melihat papan pengumuman lomba. Ada nama-nama pemenang yang mulai ditulis.
Panjul tidak menemukan namanya di sebagian besar daftar. Ia hanya tersenyum. Tidak kecewa. Karena baginya, hari itu bukan tentang berapa banyak hadiah yang didapat. Hari itu adalah tentang menikmati salah satu bagian terakhir masa sekolah dasarnya bersama teman-teman.
Dan Panjul belum tahu… bahwa setelah hari yang penuh tawa itu, salah satu sahabatnya akan mulai menjalani hari-hari yang jauh berbeda.
Hari-hari yang dipenuhi buku, les, dan tuntutan untuk mendapatkan nilai tinggi.
Bersambung ke Episode 33 : Danu Mulai Sibuk
