Menggapai Mimpi 6
Menggapai Mimpi 6

kepalasekolah.id – Lucu, hangat, dan penuh makna! Ikuti kisah Panjul, si anak desa yang gemuk dan kocak, dalam petualangannya mengubah hidup lewat semangat belajar dan tawa tanpa henti. “Menggapai Mimpi” akan membuatmu tersenyum sekaligus terinspirasi.

Menggapai Mimpi – Episode 30: Es Krim Penutup Liburan

Pagi terakhir masa liburan semester terasa begitu cerah. Langit Desa Alas Wetan berwarna biru tanpa awan tebal, seolah mengerti bahwa hari itu adalah kesempatan terakhir bagi anak-anak untuk menikmati liburan sebelum kembali mengenakan seragam sekolah.

Panjul sudah bangun sejak matahari belum terlalu tinggi. Berbeda dengan beberapa hari sebelumnya yang selalu dipenuhi suara Naya, pagi itu rumah kembali terasa tenang. Ia keluar dari kamar sambil meregangkan badan.

“Lho…”

Sepi. Tak ada lagi suara kecil yang memanggilnya dari depan kamar. Tak ada lagi langkah kaki mungil yang mengikutinya ke mana-mana. Panjul justru tersenyum sendiri.

“Kok malah kangen ya…”

Bu Rini yang sedang menyiapkan sarapan mendengar gumamannya. “Kangen Naya?”

Panjul sedikit malu. “Hehe… sedikit.”

Bu Rini tersenyum. “Nanti juga datang lagi kalau liburan.”

“Iya, Bu.”

Pak Surya yang sedang menyeruput kopi di teras ikut menimpali.

“Saiki omah dadi sepi meneh.”

“Iya, Pak.”

“Biasane ono sing takon terus.”

Panjul tertawa. “Sampai kamar mandi juga ditanyain.”

Semua tertawa mengingat tingkah Naya selama menginap.

 

Setelah sarapan, Panjul membuka kembali buku Rencana Liburan Panjul.

Ia membalik satu per satu halaman yang penuh dengan daftar kegiatan, coretan, tanda centang, hingga beberapa tulisan yang dicoret karena tidak sempat dilakukan.

Ia membaca pelan.

“Memancing.”

“Eksperimen.” ✔ (walaupun hampir membuat ayah panik.)

“Main hujan.”

“Sakit dua hari.”

“Ditempeli Naya ke mana-mana.” ✔✔✔

Panjul tertawa sendiri. “Lho… ini kok malah yang paling sering berhasil.”

Ia lalu menutup buku itu. “Sudahlah.”

Hari ini ia hanya ingin menikmati sisa liburannya.

 

Menjelang siang, Panjul mengayuh sepeda menuju rumah Danu. “Dan!”

Danu keluar sambil membawa buku. “Wah, Panjul.”

“Ayo jalan.”

“Ke mana?”

“Rahasia.”

Tak lama kemudian mereka menjemput Riko. Riko langsung curiga.

“Jul.”

“Apa?”

“Kamu mau ngerjain aku ya?”

“Nggak.”

“Yakin?”

“Yakin.”

“Kalau gitu aku makin curiga.”

Panjul tertawa. “Ayo saja.”

Mereka bertiga berjalan menuju sebuah warung kecil di pinggir jalan desa. Warung itu sederhana.

Di depannya terdapat lemari pendingin berisi berbagai macam es krim. Riko langsung membelalakkan mata.

“Lho…”

“Panjul.”

“Iya?”

“Kita ke sini ngapain?”

Panjul tersenyum lebar. “Hari ini aku yang traktir.”

Danu ikut terkejut. “Serius?”

“Iya.”

Riko mendekat sambil menyipitkan mata. “Jangan-jangan nanti suruh bayar sendiri.”

Panjul pura-pura tersinggung. “Eh… aku sekarang orang kaya.”

“Lho?”

“Kan habis dapat uang saku dari Om.”

Riko tertawa. “Orang kaya versi Panjul.”

“Iya.”

“Kalau begitu aku pilih yang mahal.”

“Boleh.”

“Bener?”

“Asal jangan sekulkasnya.”

Semua tertawa.

 

Mereka bertiga duduk di bangku kayu depan warung sambil menikmati es krim masing-masing. Sesekali angin berembus pelan membawa aroma sawah yang baru selesai disiram air. Suasana terasa damai.

“Jul.”

“Iya?”

“Selamat ya.”

“Untuk apa?”

“Sudah naik kelas.”

Panjul tersenyum.

“Iya.”

Danu ikut mengangguk. “Kamu sudah banyak berubah.”

Panjul menggeleng pelan. “Belum.”

“Lho?”

“Aku masih sering nggak ngerti pelajaran.”

“Tapi sekarang kamu nggak gampang menyerah.”

Panjul terdiam beberapa saat. Lalu tersenyum. “Iya juga.”

Riko menyenggol bahunya. “Yang penting nanti kelas enam jangan tambah gemuk.”

“Lho?”

“Biar kalau lari nggak ngos-ngosan.”

Panjul langsung tertawa. “Aku latihan terus kok.”

“Bagus.”

“Walaupun kadang latihannya lebih lama istirahatnya.”

Riko dan Danu kembali tertawa.

 

Es krim mereka hampir habis. Panjul memandang langit sebentar. Kemudian berkata pelan.

“Eh…”

“Apa?”

“Kalian tahu nggak?”

“Apa lagi?”

Panjul tersenyum sambil mengaduk sisa es krimnya. “Aku bikin rencana liburan banyak sekali.”

“Iya.”

“Yang berhasil cuma sebagian.”

Riko langsung mengangguk. “Soalnya ada Naya.”

“Iya.”

Panjul tertawa kecil. “Tapi sekarang aku malah senang.”

“Lho?”

“Kenapa?”

“Soalnya ternyata…”

Ia berhenti sejenak. “…nggak ada rencana yang benar-benar lancar seratus persen.”

Danu tersenyum. “Iya.”

“Kadang malah yang nggak direncanakan lebih seru.”

Panjul mengangguk mantap. “Iya.”

Lalu dengan gaya khasnya ia menambahkan. “Kalau semua rencana selalu berhasil…”

“…hidup ini kayak baca buku yang halaman akhirnya sudah dibuka duluan.”

Riko langsung tertawa. “Wah…”

“Bijak juga kamu.”

Panjul mengangkat dada pura-pura bangga. “Kadang-kadang.”

“Tapi lebih sering nggak.”

Semua kembali tertawa sampai beberapa pengunjung warung ikut menoleh karena mendengar suara mereka.

 

Sore hari Panjul pulang dengan perasaan sangat ringan. Sesampainya di rumah, ia langsung masuk ke kamar. Di atas tempat tidur sudah terletak tas sekolah baru pemberian Paman Adi. Di sampingnya ada sepatu baru yang masih tampak mengilap. Panjul membukanya perlahan. Ia memasukkan buku-buku tulis baru satu per satu: Kotak pensil, Penggaris, Penghapus,  Pensil yang sudah diraut rapi.

Kemudian ia merapikan semuanya dengan teliti. Tidak ada yang terbalik. Tidak ada yang tertinggal. Setelah selesai, ia mengambil seragam sekolah yang sudah disetrika oleh Bu Rini. Digantungnya di dekat lemari. Sepatu baru diletakkan rapi di bawahnya. Panjul mundur dua langkah. Memandangi semuanya. Lalu tersenyum sendiri.

“Hehehe…”

Semakin lama senyumnya semakin lebar.

“Hehehehe…”

Bu Rini yang lewat depan kamar mengintip.

“Jul.”

“Iya, Bu?”

“Kok ketawa sendiri?”

Panjul menggaruk kepala.

“Nggak apa-apa.”

“Lho?”

“Senang saja.”

“Kenapa?”

Panjul menatap tas dan sepatunya. Lalu berkata pelan, tetapi penuh semangat.

“Besok…”

“…aku sudah kelas enam.”

Ia kembali tertawa kecil. “Hehehe…”

Pak Surya yang mendengar dari ruang depan ikut berseru, “Sing semangat yo!”

“Siap, Pak!”

Panjul mengepalkan tangan. Di dalam hatinya ia tahu… Kelas enam bukanlah jalan yang mudah. Pelajarannya pasti lebih sulit. Tanggung jawabnya lebih besar. Dan sebentar lagi ia akan menghadapi tahun terakhirnya di sekolah dasar. Namun kali ini…

Ia tidak lagi terlalu takut. Karena selama kelas lima, ia telah belajar satu hal yang sangat berharga. Bahwa perubahan memang tidak datang dalam semalam. Tetapi selalu datang kepada orang yang mau terus mencoba. Panjul mematikan lampu kamarnya.

Sebelum tidur, ia menatap sekali lagi tas sekolah barunya. Lalu tersenyum.

“Besok…”

“…petualangan baru dimulai.”

Bersambung ke Episode 31: Hari Pertama Menjadi Kakak Kelas