Menggapai mimpi 7
Menggapai mimpi 7

kepalasekolah.id – Lucu, hangat, dan penuh makna! Ikuti kisah Panjul, si anak desa yang gemuk dan kocak, dalam petualangannya mengubah hidup lewat semangat belajar dan tawa tanpa henti. “Menggapai Mimpi” akan membuatmu tersenyum sekaligus terinspirasi.

Menggapai Mimpi – Episode 35: Bukan Riko yang Menyembunyikannya

Pagi itu suasana kelas 6 terasa sedikit berbeda. Bukan karena ada ulangan. Bukan karena Pak Bagus memberikan tugas tambahan. Bukan pula karena ada lomba. Tetapi karena dua anak yang biasanya paling sering membuat kelas ramai justru saling diam. Panjul duduk di tempatnya sambil membuka buku pelajaran. Riko duduk beberapa meja di belakangnya.

Biasanya kalau Panjul menjatuhkan pensil, Riko akan langsung berkata, “Jatuh lagi, Jul!” Atau ketika Panjul salah membaca sesuatu, Riko akan tertawa. Namun pagi itu tidak. Panjul menjatuhkan penghapus. Riko melihat. Tetapi tidak mengatakan apa-apa. Panjul sadar Riko melihatnya. Namun ia juga tidak berkata apa-apa. Keduanya sama-sama pura-pura sibuk.

Danu yang duduk tidak jauh dari mereka hanya bisa menghela napas. “Kenapa jadi begini…” gumamnya.

 

Pak Bagus masuk beberapa menit kemudian. “Selamat pagi!”

“Selamat pagi, Pak!” Semua siswa menjawab.

Pak Bagus meletakkan buku di atas meja. Namun matanya langsung tertuju kepada Panjul dan Riko. Ia memperhatikan beberapa saat. Kemudian tersenyum kecil.

“Anak-anak.”

“Iya, Pak?”

“Saya mau bertanya.” Semua siswa memperhatikan. “Siapa yang biasanya paling ramai di kelas?”

Beberapa anak langsung menunjuk Panjul. “Jelas Panjul!”

Yang lain menunjuk Riko. “Riko juga!”

Panjul hanya tersenyum tipis. Riko juga diam. Pak Bagus kemudian berkata, “Nah, sekarang kenapa dua orang itu seperti sedang mengikuti lomba diam?”

Satu kelas tertawa kecil. Panjul menunduk. Riko juga menatap meja. Pak Bagus tidak langsung melanjutkan pelajaran. Ia justru berjalan mendekati mereka. “Jadi?” Tidak ada jawaban.

“Riko?”

Riko mengangkat wajah. “Nggak apa-apa, Pak.”

“Panjul?”

“Saya juga nggak apa-apa.”

Pak Bagus mengangguk. “Kalau dua orang mengatakan tidak apa-apa secara bersamaan, biasanya justru ada apa-apa.” Kelas kembali tertawa.

Panjul akhirnya tersenyum sedikit. Namun ia tetap diam. Pak Bagus tidak memaksa. “Baik. Kita belajar dulu.”

 

Saat istirahat, Danu mendatangi Panjul. “Jul.”

“Apa?”

“Kamu masih belum menemukan bukunya?”

Panjul menggeleng. “Belum.”

“Kamu sudah cari di mana saja?”

“Semua tempat.”

Danu berpikir. “Kemarin kamu terakhir pegang kapan?”

Panjul mencoba mengingat. “Di kelas.”

“Setelah itu?”

Panjul menggaruk kepala. “Kayaknya aku taruh di atas buku tugas.”

Danu langsung bertanya, “Buku tugas yang kamu bawa ke kantor?”

Panjul terdiam. “Iya.”

Danu menatapnya. “Berarti mungkin tertinggal di kantor.”

Panjul menggeleng. “Tapi waktu itu aku bawa bareng Riko.”

“Terus?”

Panjul tidak menjawab. Danu menghela napas. “Jul, coba kamu ingat baik-baik. Jangan sampai kamu menuduh orang hanya karena dia memang suka iseng.”

Panjul terdiam. Kali ini ia mulai benar-benar berpikir.

 

Di tempat lain, Riko sedang duduk sendirian. Beberapa teman menghampirinya.

“Rik, kenapa kamu nggak main?”

“Nggak mau.”

“Biasanya kamu paling ribut.”

Riko mengangkat bahu. “Nggak mood.”

Salah seorang temannya bertanya, “Masih gara-gara Panjul?”

Riko diam. Kemudian menjawab, “Dia nggak percaya sama aku.”

“Memangnya kamu nggak ambil bukunya?”

“Enggak!”

Riko menghela napas. “Kalau aku mau nyembunyiin, biasanya aku kasih tahu juga.”

Temannya tertawa.

Riko melirik. “Apanya yang lucu?”

“Ya kamu sendiri yang bilang.”

Riko ikut tersenyum sedikit. Namun kemudian kembali diam.

 

Setelah istirahat, Pak Bagus kembali ke kelas. Sebelum pelajaran dimulai, ia membuka beberapa buku yang kemarin dibawa ke kantor. Kemudian ia berhenti. Tangannya mengambil sebuah buku kecil. Buku itu tidak seperti buku pelajaran. Ukurannya kecil. Sampulnya sudah sedikit kusam. Pak Bagus membaliknya. Di halaman depan tertulis nama:

Panjul.

Pak Bagus mengerutkan dahi. “Oh…”

Ia baru ingat. Kemarin ketika Panjul dan Riko membawakan tumpukan buku, ada satu buku kecil yang tertinggal di atas tumpukan. Pak Bagus sebenarnya sempat melihatnya. Ia mengira buku tersebut termasuk catatan yang ikut terbawa. Ia kemudian meletakkannya di atas meja. Pagi itu baru ia sempat memeriksanya. Pak Bagus tersenyum. “Jadi ini yang dicari.”

 

Pelajaran berlangsung beberapa saat. Panjul masih terlihat kurang bersemangat. Pak Bagus akhirnya berkata, “Panjul.”

“Iya, Pak?”

“Kemarilah sebentar.”

Panjul berdiri. Ia berjalan ke meja guru. Pak Bagus mengambil sesuatu dari laci.

“Punya kamu?”

Mata Panjul langsung membesar. “Buku saya!”

Ia mengambilnya. Kemudian membolak-baliknya.

“Pak!”

“Iya?”

“Ketemu!” Panjul langsung tersenyum lebar. Ia memeluk buku kecil itu sebentar. Beberapa anak tertawa.

Pak Bagus kemudian bertanya, “Kemarin kamu membawanya ke kantor, ya?”

Panjul terdiam. Ia mulai mengingat. Kemudian wajahnya berubah.

“Berarti…”

Pak Bagus mengangguk. “Buku ini tertinggal di atas tumpukan buku yang kamu dan Riko bawa.”

Panjul terdiam. Ia langsung menoleh ke arah Riko. Riko juga sedang melihatnya. Untuk beberapa detik mereka saling memandang.

Panjul menunduk. “Rik…”

Riko tidak menjawab. Panjul berdiri dari kursinya. Ia berjalan menghampiri Riko. “Rik.”

“Apa?”

Panjul menarik napas. “Maaf.” Riko masih diam.

“Aku salah.” Riko menatapnya. “Aku terlalu cepat nuduh kamu.” Panjul menggaruk kepala. “Soalnya kamu memang sering jahil.”

Riko menghela napas. “Nah, itu dia.”

Panjul tersenyum malu. “Tapi kali ini aku salah.”

Riko akhirnya tersenyum. “Ya sudah.”

Panjul mengulurkan tangan. “Temenan lagi?”

Riko menatap tangannya. Kemudian menyambutnya. “Temenan.”

Satu kelas langsung bersorak. “Yeeeee!”

Danu tertawa lega. Pak Bagus hanya menggeleng sambil tersenyum. Namun Riko belum selesai.

Ia menatap Panjul. “Jul.”

“Apa?”

“Besok sepatumu aku sembunyikan lagi.”

Panjul langsung melotot. “HAH?!”

Satu kelas pecah tertawa. Riko tertawa puas. “Tapi nanti aku kasih tahu.”

Panjul menunjuknya. “Dasar!”

Pak Bagus ikut tertawa. “Nah, kalau sudah mulai ribut lagi berarti sudah baikan.”

Panjul mengambil bukunya dan kembali duduk. Ia memandangi buku kecil itu. Benda sederhana yang hampir membuatnya kehilangan teman. Panjul kemudian membuka halaman kosong.

Ia menulis sesuatu.

“Catatan hari ini: jangan gampang nuduh teman.”

Ia berpikir sebentar. Lalu menambahkan:

“Dan jangan taruh buku sembarangan.”

Panjul tersenyum. Namun setelah itu ia menambahkan satu kalimat lagi.

“Riko tetap usil.”

Dari belakang, Riko tiba-tiba berseru, “Aku dengar!”

Panjul langsung menutup bukunya. “Belum beruntung!”

Satu kelas tertawa. Pak Bagus menggeleng. “Baru juga baikan.”

Panjul ikut tertawa. Hari itu mereka kembali seperti biasa.

Namun dari kejadian kecil tersebut, Panjul mulai belajar bahwa kadang-kadang sesuatu yang terlihat benar belum tentu benar-benar terjadi.

Dan menjadi seorang teman bukan hanya tentang tertawa bersama.

Ada kalanya harus belajar mempercayai, mendengarkan, dan berani meminta maaf ketika ternyata diri sendiri yang salah.

Sementara itu, Pak Bagus memperhatikan Panjul dari meja guru. Ia tersenyum kecil. Ia mulai melihat bahwa anak yang dulu sering merasa tidak mampu itu perlahan-lahan berubah. Bukan hanya nilai yang mulai meningkat.

Cara Panjul menghadapi masalah pun mulai tumbuh.

Dan tanpa mereka sadari, kejadian kecil itu menjadi awal dari pelajaran lain yang jauh lebih besar bagi Panjul dan teman-temannya.

Bersambung ke Episode 36 : Nilai Panjul Naik