kepalasekolah.id – Lucu, hangat, dan penuh makna! Ikuti kisah Panjul, si anak desa yang gemuk dan kocak, dalam petualangannya mengubah hidup lewat semangat belajar dan tawa tanpa henti. “Menggapai Mimpi” akan membuatmu tersenyum sekaligus terinspirasi.
Menggapai Mimpi — Episode 12: Eksperimen Panjul
Musim hujan masih belum mau pergi dari Desa Alas Wetan.
Langit sering berwarna abu-abu, udara lembap, dan aroma tanah basah jadi teman sehari-hari. Kadang hujan turun pagi, kadang sore, kadang seharian penuh.
Namun, di rumah kecil milik keluarga Pak Surya, ada satu anak yang semangatnya tidak pernah redup — siapa lagi kalau bukan Panjul.
Setelah tiga hari pertama liburannya penuh dengan “petualangan gagal”, pagi itu Panjul bangun dengan ide baru yang lebih gila dari biasanya.
“Hari ini… aku akan jadi ilmuwan hebat! Aku bakal bikin eksperimen rahasia Panjul!”
Pagi itu, hujan turun pelan-pelan seperti kabut. Panjul duduk di beranda sambil menulis sesuatu di kertas bekas buku tugas.
Keningnya berkerut, lidahnya menjulur ke samping — tanda ia sedang berpikir keras.
“Kalau di TV, ilmuwan bisa bikin sabun dari daun, bisa bikin lampu dari kentang… Nah, aku bisa bikin apa ya?”
Tak lama, Danu lewat di depan rumah sambil membawa payung biru.
“Jul, nulis apa?”
“Rencana eksperimen rahasia, Nu!”
“Eksperimen? Tentang apa?”
“Hehehe, belum tahu… tapi nanti kalau berhasil, semua orang bakal bilang: Panjul jenius dunia!”
Danu tertawa sambil menggeleng.
“Asal jangan bikin meledak rumah, Jul.”
“Ah, kecil! Aku ini hati-hati sekali… kadang.”
Hari berikutnya, hujan turun sejak pagi tapi reda menjelang siang. Panjul membawa tas plastik dan berjalan keliling kampung dengan sandal jepit dan topi bekas ayahnya yang kebesaran.
Pertama, ia mampir ke rumah Bu Rumini, tetangga sebelah, yang sedang menjemur pakaian di bawah atap.
“Pagi, Bu Rumini! Punya cuka dapur nggak, Bu?”
“Lho, buat apa, Jul?”
“Buat eksperimen ilmiah!”
“Heleh… sing bener wae, aja ngaco lho, Jul.”
Bu Rumini akhirnya memberi sedikit cuka dan menepuk bahunya.
“Ati-ati, Jul. Ojo dicampur sing aneh-aneh.”
“Tenang, Bu! Aku tahu batas ilmuwan!”
Dari situ, Panjul lanjut ke rumah Pak Tarmo, tukang servis radio.
“Pak, punya kabel bekas nggak?”
“Wah, kowe arep nyetrum apa, Jul?”
“Enggak kok, Pak. Aku mau bikin alat pengusir nyamuk alami!”
Pak Tarmo tertawa sampai bahunya naik-turun.
“Yowis, iki kabel bekas, tapi eling yo, ora kena disambung karo listrik beneran!”
“Siap, Pak!”
Akhirnya, bahan-bahan “eksperimen rahasia” Panjul terkumpul:
- Cuka dapur dari Bu Rumini.
- Kabel bekas dari Pak Tarmo.
- Serbuk kopi, sabun, dan botol bekas dari dapur sendiri.
Semua ia kumpulkan di dalam ember kecil.
“Hehehe… tinggal nunggu besok! Dunia siap menyambut penemuan Panjul!”
Pagi itu cerah. Matahari menembus celah awan, membuat uap air di sawah berkilau.
Panjul menyiapkan “laboratorium” di belakang rumah, tepat di samping bengkel kecil tempat ayahnya menyimpan kayu dan peralatan.
Ia memakai sarung tangan plastik bekas, kacamata renang, dan topi terbalik — kostum ilmuwan versi Panjul.
“Oke, hari ini Panjul akan menciptakan cairan pengusir nyamuk super kuat dari bahan alami!”
Langkah pertama: mencampur sabun cair dengan cuka dapur.
Langkah kedua: menambahkan kopi bubuk, karena Panjul berpikir nyamuk tidak suka aroma kopi.
Langkah ketiga: mencampur semuanya dengan air hangat yang baru ia panaskan di kompor kecil.
Masalahnya… kompor itu diletakkan di atas meja kayu bekas ayahnya yang sudah kering dan mudah terbakar.
“Hehehe, tinggal sedikit lagi… kalau baunya enak berarti berhasil!”
Ia mengaduk-aduk cairan itu. Tiba-tiba cesss! — sebagian air panas tumpah dan menetes ke bagian kayu yang terkena minyak sisa.
Dalam hitungan detik, muncul percikan kecil berwarna oranye!
“Lho! Lho! Api! Api!”
Panjul panik, meniup apinya tapi malah memperbesar percikan.
Untung saja, Pak Surya yang sedang memotong kayu di depan rumah segera datang berlari membawa ember air.
Byuurrr! — api padam, tapi wajah Panjul dan bajunya basah kuyup semua.
Ibu Rini keluar sambil berteriak kaget.
“Astaghfirullah, Jul! Kowe nopo maneh iki?”
“Eksperimen, Bu…”
“Eksperimen opo nganti meh kobong omahe?”
Panjul hanya nyengir malu.
Pak Surya menatapnya lama, lalu menghela napas panjang.
“Jul, jadi ilmuwan itu apik, Le. Tapi kudu ngerti risiko. Kowe kudu ngati-ati.”
“Inggih, Pak… aku cuma pengin ngerti cara ngusir nyamuk alami…”
Pak Surya tersenyum kecil, menepuk bahu anaknya yang masih menunduk.
“Yo wis, nek pengin sinau, tak tunjukke carane sing aman.”
Ia lalu mengambil daun sereh dan kulit jeruk dari dapur.
“Iki bahan alami. Ora usah dicampur karo barang aneh-aneh. Yen digodog, baune bisa ngusir nyamuk.”
“Oalah… pantes di TV nggak pernah pakai kabel dan kopi, to Pak?”
“Hehehe, yo ora, Jul. Kabel iku kanggo listrik, dudu masakan.”
Mereka bertiga akhirnya tertawa bersama di dapur, meski jantung Panjul masih berdebar.
Sore itu, hujan turun lagi. Deras. Angin meniup dedaunan, dan air menetes dari genting rumah. Panjul duduk di teras sambil memandangi sisa peralatan “laboratoriumnya” yang berantakan.
“Eksperimen gagal lagi… tapi seru juga sih. Hahaha.”
Ia menulis sesuatu di bukunya:
**“Catatan Ilmuwan Panjul:
- Jangan bikin eksperimen dekat kayu.
- Jangan panik kalau ada api, tapi jangan tiup juga!
- Tanya dulu ke orang tua sebelum mencoba.”**
Ia menatap langit yang kelabu, lalu tersenyum.
“Ternyata belajar bukan cuma dari buku, tapi juga dari kebodohan sendiri.”
Malam harinya, mereka makan malam bersama dengan lauk sederhana: sayur lodeh dan tempe goreng.
Pak Surya bercerita tentang masa kecilnya yang juga suka penasaran dan sering dimarahi karena membongkar radio rusak.
“Tapi, Jul… justru saka keno salah-salah kuwi, Bapak dadi ngerti akeh barang. Mula nek kowe kepengin sinau, ojo wedi salah. Sing penting tanggung jawab.”
“Hehehe, siap, Pak. Tapi kalau eksperimennya nanti berhasil, boleh aku kasih nama ‘Cairan Panjul’ ya?”
“Hahaha, yo sakarepmu, Le. Asal ora mbebayani maneh.”
Ibu Rini hanya menggeleng sambil tersenyum melihat dua laki-laki kesayangannya itu bercanda.
Ketika lampu mulai diredupkan, suara hujan di luar terdengar seperti lagu lembut. Panjul menarik selimutnya sambil berbisik pelan,
“Aduhh… anda belum beruntung kawan… tapi ilmuwan sejati nggak boleh nyerah.”
Ia tersenyum kecil, membayangkan diri memakai jas laboratorium, dikelilingi tabung reaksi, tapi dengan tanda besar di depannya:
“Dilarang Menyalakan Api Dekat Kayu!”
Panjul pun tertidur pulas, sementara hujan terus turun di luar, membawa kesejukan bagi desa kecil yang penuh cerita itu.
(Bersambung ke Episode 13: Panjul Sakit)
