Menggapai Mimpi #36

kepalasekolah.id – Lucu, hangat, dan penuh makna! Ikuti kisah Panjul, si anak desa yang gemuk dan kocak, dalam petualangannya mengubah hidup lewat semangat belajar dan tawa tanpa henti. “Menggapai Mimpi” akan membuatmu tersenyum sekaligus terinspirasi.

Menggapai Mimpi – Episode 36: Nilai Panjul Mulai Naik

Setelah masalah buku kecil selesai, suasana kelas 6 kembali seperti biasanya. Riko kembali usil. Panjul kembali menjadi sasaran keisengannya. Danu tetap sibuk dengan les dan buku-bukunya. Sementara Pak Bagus tetap menjadi guru yang kadang serius, tetapi bisa tiba-tiba bercanda bersama murid-muridnya. Semuanya kembali normal. Namun ada satu hal yang mulai berubah. Bukan pada Riko. Bukan pada Danu. Bukan pula pada suasana sekolah. Melainkan pada nilai Panjul.

Pagi itu Pak Bagus masuk kelas sambil membawa beberapa lembar kertas. Anak-anak langsung tahu. Ulangan harian mereka sudah diperiksa. Riko langsung bersandar di kursinya.

“Pak…”

“Iya?”

“Kalau nilainya jelek, boleh pura-pura belum sekolah?”

Satu kelas tertawa. Pak Bagus menggeleng. “Memangnya bisa?”

Riko menjawab santai, “Dicoba dulu, Pak.”

Panjul ikut tertawa. Namun sebenarnya ia mulai merasa tegang. Ia masih ingat beberapa bulan lalu. Nilai ulangan Panjul sering berada di bagian bawah. Kadang ia hanya bisa mendapatkan nilai yang menurutnya cukup untuk membuatnya tersenyum karena tidak sampai nol. Tetapi sekarang berbeda. Ia sudah berusaha belajar dengan caranya sendiri. Mencatat hal-hal penting. Membaca berulang-ulang. Mencoba menghubungkan pelajaran dengan hal-hal yang ia sukai. Tidak selalu berhasil. Tetapi perlahan-lahan ia mulai memahami beberapa materi.

Pak Bagus mulai membagikan kertas satu per satu. “Riko.”

“Siap, Pak.”

Riko melihat nilainya. Kemudian mengangguk. Danu mendapatkan kertasnya. Ia melihat nilai yang cukup tinggi. Hanya mengangguk kecil. Kemudian giliran Panjul. “Panjul.”

Panjul maju. “Ini, Pak?”

“Iya.”

Panjul mengambil kertasnya. Ia berjalan kembali ke tempat duduk. Namun belum melihat nilainya. Riko melirik. “Kenapa nggak dibuka?”

Panjul menelan ludah. “Takut.”

“Takut apa?”

“Takut angkanya marah.”

Riko tertawa. “Buka saja.”

Panjul menarik napas. Kemudian membuka kertas itu. Matanya langsung membesar. Ia melihat sekali. Kemudian melihat lagi. Kemudian mendekatkan kertas ke wajah. “Pak!”

Pak Bagus menoleh. “Iya?”

“Ini benar?”

Pak Bagus tersenyum. “Kenapa?”

Panjul menunjuk kertasnya. “Ini nilai saya?”

“Iya.”

Panjul berdiri. “Enam puluh delapan!”

Kelas langsung ramai. Riko menoleh. “Serius?”

Panjul mengangguk cepat. “Enam puluh delapan!” Ia kemudian mengangkat kertasnya. “Teman-teman!” Beberapa murid tertawa melihat tingkahnya. Panjul berjalan mengelilingi kelas. “Enam puluh delapan!”

Riko menepuk meja. “Belum tujuh puluh!” Panjul berhenti. Ia menatap Riko. “Jangan merusak kebahagiaan orang.” Satu kelas tertawa.

Riko mengangkat kedua tangan. “Oke, oke.”

Panjul kembali melihat kertasnya. Enam puluh delapan. Bagi sebagian anak, mungkin angka itu biasa saja. Tetapi bagi Panjul… angka itu seperti sebuah hadiah. Ia masih ingat saat nilai lima puluhan saja sudah membuatnya senang. Sekarang hampir tujuh puluh. Ia tersenyum lebar.

Saat istirahat, Panjul masih membawa kertas ulangannya. Danu menghampiri. “Senang?”

Panjul mengangguk. “Banget.”

“Kamu memang sudah meningkat.”

Panjul tersenyum. “Berarti cara belajarku berhasil.”

Danu mengangguk. “Iya.”

Riko tiba-tiba muncul. “Eh, jangan terlalu senang.”

Panjul menoleh. “Kenapa?”

“Belum tujuh puluh.” Panjul langsung mengejar Riko. “Riko!”

Riko berlari. “Hei! Aku cuma ngomong fakta!”

Panjul mengejarnya mengelilingi halaman. Beberapa anak yang melihat ikut tertawa. Danu hanya menggeleng. “Nilainya naik, tingkahnya tetap.”

Namun tidak semua anak merasa senang melihat Panjul. Beberapa teman sekelas memperhatikan dari jauh. Salah satunya berkata, “Baru segitu saja sudah heboh.”

Temannya menjawab, “Iya.”

“Nilainya juga belum tinggi.”

“Benar.”

Mereka kemudian pergi. Panjul tidak mendengar percakapan itu. Ia masih sibuk mengejar Riko. Tetapi Pak Bagus yang berdiri di dekat pintu kelas sempat mendengarnya. Ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya memperhatikan.

Hari berikutnya, Panjul masih membicarakan nilai tersebut. Ketika mengerjakan tugas, ia menjadi lebih percaya diri. “Pak, saya coba jawab.”

Pak Bagus mengangguk. “Coba.”

Panjul menjawab. Kali ini jawabannya benar.

“Bagus.”

Panjul tersenyum. Riko berbisik, “Jangan-jangan kamu sudah pintar.”

Panjul menjawab, “Belum.”

“Terus?”

“Baru agak ngerti.” Riko tertawa.

“Jujur juga.”

Panjul mengangguk. “Kalau pintar nanti kepalaku berat.”

 

Beberapa hari kemudian, Panjul mulai sering mendapatkan pujian kecil. Bukan hanya dari Pak Bagus. Teman-temannya juga mulai melihat perubahan itu. Ketika ada soal yang sebelumnya tidak bisa dijawab, Panjul sekarang setidaknya mencoba. Kalau salah, ia bertanya. Kalau masih tidak mengerti, ia bertanya lagi. Kalau masih tidak mengerti juga… ia bertanya kepada Danu. Kadang bahkan kepada Riko. Meskipun jawaban Riko tidak selalu bisa dipercaya. “Rik, ini jawabannya apa?”

Riko melihat soal. “Delapan.”

Panjul menulis. Kemudian melihat Riko. “Yakin?”

“Yakin.”

Panjul menunjukkan kepada Danu. Danu langsung menggeleng. “Salah.”

Panjul menatap Riko. “Kamu!”

Riko tertawa. “Kan aku bilang delapan.”

“Kenapa?”

“Karena aku suka angka delapan.” Panjul mengejar Riko lagi. Kelas kembali ramai.

Namun di balik semua candaan itu, ada sesuatu yang perlahan tumbuh dalam diri Panjul. Kepercayaan diri. Bukan kepercayaan diri bahwa ia lebih pintar daripada teman-temannya. Bukan pula merasa dirinya sudah hebat. Tetapi keyakinan bahwa usahanya ternyata tidak sia-sia. Ia mulai memahami satu hal.Dulu ia sering berpikir, “Aku memang tidak bisa.” Sekarang pikirannya mulai berubah menjadi, “Aku belum bisa.” Perbedaannya kecil. Tetapi bagi Panjul, itu sangat besar.

Suatu sore, setelah semua murid pulang, Pak Bagus masih berada di kelas. Ia melihat papan tulis. Kemudian melihat meja-meja yang sudah kosong. Panjul baru saja keluar bersama Riko. Pak Bagus tersenyum kecil. Ia tahu perjalanan Panjul masih panjang. Nilai enam puluh delapan bukanlah akhir. Bahkan masih banyak pelajaran yang harus diperbaiki. Tetapi angka itu menunjukkan sesuatu yang jauh lebih penting. Panjul sedang berusaha. Dan usaha yang terus dilakukan mulai memberikan hasil. Namun perubahan itu ternyata tidak hanya dirasakan oleh guru. Teman-teman Panjul juga mulai melihatnya. Ada yang ikut senang. Ada yang biasa saja. Tetapi ada pula yang mulai merasa kurang nyaman. Karena sebelumnya Panjul selalu berada di bawah. Sekarang ia mulai mendekati nilai mereka. Dan bagi beberapa anak… perubahan Panjul justru mulai menimbulkan rasa iri.

Tanpa Panjul sadari, keberhasilannya yang sederhana itu akan membawa persoalan baru di kelas. Bukan karena Panjul melakukan kesalahan. Bukan karena ia menyombongkan diri. Tetapi karena tidak semua orang bisa langsung merasa senang ketika melihat orang lain mulai berkembang. Dan Pak Bagus mulai menyadari bahwa persoalan berikutnya bukan lagi tentang bagaimana membantu Panjul belajar. Melainkan bagaimana membuat seluruh kelas memahami arti berusaha tanpa harus merasa tersaingi.

Bersambung ke episode 37 : Bukan Sekedar Angka