Menggapai Mimpi #37

kepalasekolah.id – Lucu, hangat, dan penuh makna! Ikuti kisah Panjul, si anak desa yang gemuk dan kocak, dalam petualangannya mengubah hidup lewat semangat belajar dan tawa tanpa henti. “Menggapai Mimpi” akan membuatmu tersenyum sekaligus terinspirasi.

Menggapai Mimpi – Episode 37: Bukan Sekadar Angka

Sejak nilai Panjul meningkat, ada sesuatu yang berubah di kelas 6. Bukan perubahan besar. Tidak ada yang tiba-tiba menjauhi Panjul. Tidak ada pula pertengkaran. Namun beberapa teman mulai bersikap berbeda. Ketika Panjul menjawab pertanyaan dengan benar, ada yang hanya diam. Ketika Panjul mendapat nilai lebih tinggi daripada biasanya, ada yang tersenyum tipis. Dan ketika Panjul merasa sangat senang karena mendapatkan nilai 68, beberapa anak justru menganggapnya berlebihan. Panjul sendiri tidak terlalu memikirkannya. Ia tetap Panjul. Kalau senang, ia tunjukkan. Kalau bingung, ia bertanya. Kalau ada yang mengajaknya bermain, ia ikut.

 

Suatu pagi, Pak Bagus memberikan latihan soal. “Kerjakan sendiri dulu.”

Anak-anak mulai menunduk. Suasana kelas menjadi tenang. Panjul membaca soal pertama. Ia menggaruk kepala. Kemudian membaca lagi. “Ah…” Ia mulai menulis.

Riko yang duduk tidak jauh darinya melirik. “Sudah?”

Panjul menjawab pelan, “Jangan lihat.”

“Aku cuma lihat.”

“Jangan.” Riko kembali menghadap bukunya.

Beberapa menit kemudian Panjul mengangkat tangan. “Pak.”

“Iya?”

“Yang nomor tiga maksudnya begini?”

Pak Bagus mendekat. Panjul menjelaskan jawabannya. Pak Bagus mengangguk. “Ya. Cara berpikirmu sudah benar.”

Panjul tersenyum. “Berarti benar?”

“Benar.”

Panjul mengepalkan tangan kecil. “Yes!”

Beberapa anak tertawa. Namun dari bangku belakang terdengar suara pelan. “Baru satu soal.”

Panjul menoleh. Ia tidak membalas. Ia kembali mengerjakan. Pak Bagus mendengar perkataan itu. Ia tidak langsung menegur. Ia tetap memperhatikan.

Saat hasil latihan diperiksa bersama, Panjul ternyata mendapatkan hampir semua jawaban benar. Pak Bagus berkata, “Bagus, Panjul.”

Panjul tersenyum. Kemudian salah seorang teman berkata, “Ya iyalah, soalnya gampang.”

Beberapa anak tertawa kecil. Panjul melihatnya. Ia sebenarnya ingin menjawab. Namun kemudian mengurungkan niat. Ia hanya berkata, “Kalau gampang, berarti aku lagi beruntung.”

Riko langsung tertawa. “Jangan bilang begitu. Kamu memang belajar.”

Panjul menoleh.

“Serius?”

“Iya…” Panjul tersenyum. “Kalau begitu nanti aku traktir kamu permen.”

Riko mengangguk. “Dua.”

“Satu.”

“Dua.”

“Satu setengah.”

Riko tertawa. “Mana ada permen setengah?”

Panjul menjawab, “Ya sudah, satu.”

Kelas kembali tertawa. Suasana yang sempat terasa kurang nyaman kembali mencair. Tetapi Pak Bagus tetap memperhatikan beberapa anak yang terlihat tidak nyaman.

Beberapa hari kemudian, ulangan harian kembali dilaksanakan. Panjul belajar lebih keras. Malam sebelumnya ia membaca catatan kecilnya. Ia tidak belajar sampai larut. Ia tahu tubuhnya membutuhkan istirahat. Pagi harinya ia berangkat sekolah dengan membawa keyakinan baru. Saat kertas ulangan dibagikan, Panjul menarik napas panjang. “Semoga…”

Riko menoleh. “Semoga apa?”

“Semoga otakku tidak izin keluar kelas.”

Riko tertawa. “Kalau keluar, panggil.”

“Aku nggak tahu nomor teleponnya.”

Mereka tertawa kecil. Ulangan dimulai. Panjul membaca soal satu per satu. Beberapa terasa sulit. Namun sebagian lainnya terasa familiar. Ia pernah membaca. Ia pernah mencatat. Ia pernah membahasnya bersama Danu. Ia mulai mengerjakan.

Beberapa hari kemudian, hasil ulangan dibagikan. Panjul menerima kertasnya. Ia melihat nilai.

’67’ Panjul membeku. Kemudian tersenyum. “Enam puluh tujuh…” Ia melihat lagi. “Benar.”

Riko mendekat. “Berapa?”

Panjul menunjukkan. Riko tersenyum. “Bagus.”

Panjul langsung berdiri. “Enam puluh tujuh!”

Beberapa teman menoleh. Panjul mengangkat kertasnya. “Aku hampir tujuh puluh!”

Riko berkata, “Belum.” Panjul langsung menurunkan kertas. “Kenapa kamu selalu merusak momen?”

Riko tertawa. Satu kelas ikut tertawa. Namun kali ini salah seorang teman berkata, “Belum juga tujuh puluh sudah pamer.”

Panjul terdiam. Senyumnya sedikit berkurang. Ia menatap kertas di tangannya. Riko hendak menjawab, tetapi Pak Bagus lebih dulu berdiri. “Sudah.”

Kelas langsung tenang. Pak Bagus melihat seluruh murid. “Menurut kalian, apakah nilai 67 itu tinggi atau rendah?” Beberapa anak menjawab berbeda. “Sedang, Pak.”

“Masih kurang.”

“Cukup.”

Pak Bagus mengangguk. “Jawabannya bisa berbeda-beda.”

Kemudian ia melihat Panjul. “Tapi saya ingin kalian melihat sesuatu yang lain.”

Semua memperhatikan. “Beberapa waktu lalu, Panjul belum mencapai angka ini.”

Panjul menunduk. “Dia berusaha.” Pak Bagus kemudian melihat seluruh kelas. “Kalau teman kalian mendapatkan nilai lebih baik dari sebelumnya, apakah kalian harus merasa kalah?”

Tidak ada yang menjawab. “Nilai teman kalian tidak mengurangi nilai kalian.” Kelas tetap diam. “Kalau Panjul mendapat 67, bukan berarti kalian kehilangan angka.” Beberapa siswa mulai mengangguk. Pak Bagus tersenyum. “Yang perlu kalian lakukan adalah bertanya kepada diri sendiri: apakah hari ini saya sudah berusaha lebih baik daripada kemarin?” Panjul mendengarkan dengan serius.

 

Setelah pelajaran selesai, Pak Bagus meminta beberapa anak tinggal sebentar. Ia berbicara secara pribadi kepada mereka yang terlihat mulai sering membandingkan diri dengan Panjul. Tidak dengan marah. Tidak dengan menyalahkan. Ia bertanya. “Kamu sebenarnya kesal karena Panjul mendapatkan nilai bagus?” Salah seorang anak menunduk. “Sedikit, Pak.”

“Kenapa?”

“Saya takut nilai saya kalah.”

Pak Bagus mengangguk. “Itu perasaan yang bisa terjadi. Tetapi jangan sampai rasa takut membuatmu tidak bisa menghargai usaha temanmu.” Anak itu diam. “Kalau kamu ingin nilaimu meningkat, jadikan keberhasilan Panjul sebagai contoh bahwa usaha bisa menghasilkan perubahan.”

Anak itu mengangguk. “Iya, Pak.”

Sementara itu, Panjul sedang berada di luar kelas bersama Riko. Riko memegang dua permen. “Ini.”

Panjul mengambil satu. “Katanya dua.”

“Yang satu buat aku.”

Panjul tertawa. “Kirain kamu sudah berubah.”

“Berubah jadi baik?”

“Iya.”

“Belum.”

Panjul mengangguk. “Syukurlah.”

Riko mengerutkan dahi. “Kenapa?”

“Kalau kamu berubah, nanti aku kehilangan teman jahil.”

Riko tertawa. Mereka berjalan menuju halaman. Danu menyusul dari belakang. “Nilaimu berapa, Jul?”

“67.”

Danu tersenyum. “Bagus.”

Panjul tersenyum bangga. “Naik sedikit.”

Danu mengangguk. “Terus belajar.”

Panjul menjawab, “Iya.”

Kemudian ia berhenti. “Dan…”

“Apa?”

“Kalau suatu hari nilaiku 70…”

Danu menunggu. Panjul mengangkat satu jari. “Aku traktir kalian es krim.”

Riko langsung menyahut, “Dicatat!”

Danu tertawa. Panjul ikut tertawa.

 

Hari itu Panjul pulang dengan perasaan senang. Bukan karena ia menjadi murid dengan nilai tertinggi. Bukan karena ia mengalahkan teman-temannya. Tetapi karena ia mulai merasakan sesuatu yang dulu sulit ia bayangkan. Dirinya bisa berubah. Perlahan. Sedikit demi sedikit. Namun nyata. Ia masih sering kesulitan. Masih sering salah. Masih harus bertanya. Tetapi sekarang ia tidak langsung mengatakan, “Aku tidak bisa.”

Ia mulai berkata, “Aku coba dulu.” Dan itu adalah perubahan besar. Sementara di dalam kelas, Pak Bagus masih memikirkan kejadian hari itu. Ia tahu bahwa anak-anak kelas 6 bukan hanya membutuhkan pelajaran dari buku. Mereka juga membutuhkan pemahaman tentang bagaimana menghadapi keberhasilan teman, kegagalan diri sendiri, rasa iri, dan proses untuk menjadi lebih baik.

Karena sebentar lagi mereka akan menghadapi masa yang semakin dekat dengan ujian akhir. Dan sebelum itu terjadi… Pak Bagus merasa seluruh kelas perlu mendengar satu nasihat penting. Bukan tentang nilai. Bukan tentang ranking. Tetapi tentang bagaimana mereka menjalani masa kelas 6 dengan seimbang.

Pelajaran itu akan disampaikan Pak Bagus pada hari berikutnya.

Bersambung ke episode 38 : Cerita Pak Bagus