kepalasekolah.id – Lucu, hangat, dan penuh makna! Ikuti kisah Panjul, si anak desa yang gemuk dan kocak, dalam petualangannya mengubah hidup lewat semangat belajar dan tawa tanpa henti. “Menggapai Mimpi” akan membuatmu tersenyum sekaligus terinspirasi.
Menggapai Mimpi — Episode 8: Cara Belajar Ala Panjul
Hari-hari berlalu di SD Negeri Alas Wetan, dan suasana kelas Panjul mulai terasa lebih serius.
Di papan tulis tertulis besar-besar:
“Pekan Depan: Ulangan Tengah Semester!”
Anak-anak tampak sibuk mencatat dan belajar. Ada yang menyalin dari buku, ada yang berdiskusi dengan teman. Tapi di pojok kelas, Panjul hanya menatap papan tulis sambil menepuk-nepuk meja pelan.
“Ulangan lagi, ulangan lagi…” gumamnya pelan.
“Jul, kamu belajar dong,” kata Danu.
“Belajar kok ya rasanya kayak makan sayur tanpa garam, Nu. Hambar, tapi wajib.”
“Hehehe… tapi kalau nggak makan sayur, nanti kamu sakit, lho.”
“Iya sih, tapi kenapa ya pelajaran tuh nggak bisa dikunyah aja kayak bakso, biar cepet nyangkut di kepala?”
Danu hanya menggeleng sambil tertawa. Ia tahu, Panjul sedang berusaha keras walau caranya unik.
Hari itu, setelah pelajaran selesai, Panjul menunggu Bu Ratri di kelas. Ia sudah menyiapkan banyak pertanyaan — tapi bukan tentang rumus, melainkan tentang cara belajar itu sendiri.
“Bu Ratri, saya mau tanya sesuatu…”
“Boleh, Panji. Tentang apa?”
“Bu, kenapa ya, saya udah belajar tapi tetep aja nggak masuk-masuk? Saya nulis, saya baca, tapi otaknya kayak… hmm, kayak ember bocor, Bu. Masuknya banyak, keluarnya juga banyak!”
Bu Ratri tersenyum mendengar perumpamaan khas muridnya itu.
“Hehehe… Panji, setiap anak punya cara belajarnya masing-masing. Ada yang cepat kalau mendengar, ada yang mudah paham kalau menulis, ada juga yang harus mempraktikkan langsung.”
“Berarti saya harus nyari cara sendiri, ya Bu?”
“Betul. Coba kamu cari cara yang bikin kamu senang waktu belajar. Kalau kamu senang, otakmu juga ikut terbuka.”
Panjul manggut-manggut serius. Tapi dalam hati ia berkata,
“Wah, berarti PR-ku bukan cuma belajar pelajaran, tapi juga belajar gimana caranya belajar!”
Malam itu di rumah, Panjul mencoba berbagai cara.
Pertama, ia belajar sambil mendengarkan musik. Tapi malah ikut nyanyi dan lupa baca buku.
Kedua, ia membaca sambil makan keripik — tapi keripiknya cepat habis, bukunya tetap nggak paham.
Ketiga, ia mencoba belajar sambil berdiri di depan kaca, berpura-pura jadi guru.
“Baik, anak-anak, kalau keliling persegi panjang itu rumusnya… eee… tunggu, tadi apa ya?”
Dari ruang tamu terdengar suara Pak Surya:
“Jul, kamu ngomong karo sapa, Le?”
“Karo otakku, Pak! Lagi diajarin biar nurut!”
“Haha! Ya wis, sing penting aja nganti gurune kalah pinter!”
Ibu Rini yang sedang menjemur cucian di dalam rumah hanya tersenyum melihat tingkah anaknya. Walau lucu, ia tahu Panjul benar-benar sedang berusaha.
Suatu sore, Panjul duduk di teras sambil memandangi tembok rumah.
Ia berpikir keras.
“Hmm… kalau aku gampang lupa, ya berarti harus sering lihat. Nah! Aku tulis aja rumus dan hal penting di kertas, terus aku tempel di mana-mana!”
Dengan semangat, ia mengambil kertas kecil dan spidol warna-warni.
Ia menulis besar-besar:
- Keliling persegi = 4 x sisi
- Luas = panjang x lebar
- Ibukota provinsi Jawa Tengah = Semarang!
Setelah itu, ia menempelkan catatan kecil itu di berbagai tempat: pintu kamar, lemari, bahkan dekat cermin di ruang tamu.
Saat ayahnya lewat, ia heran.
“Iki omah opo sekolah, Le?”
“Sekolah cabang, Pak!” jawab Panjul cepat.
“Waduh, sing penting aja nganti kertasmu nutupi TV, Le!”
“Tenang Pak, TV aman, tapi iklannya nanti saya ubah jadi pelajaran!”
Tawa pun memenuhi rumah kecil itu.
Selain menempel catatan, Panjul punya kebiasaan baru. Ia membaca sambil berimajinasi.
Jika sedang belajar tentang bumi, ia membayangkan dirinya naik roket ke luar angkasa.
Kalau pelajaran sejarah, ia pura-pura jadi pahlawan yang sedang diwawancara.
“Pak Diponegoro, bagaimana perasaan Anda melawan penjajah?”
“Hehehe… yang penting bukan soal perasaan, tapi soal perjuangan, kawan!”
Setiap kali berimajinasi seperti itu, pelajaran jadi terasa lebih menyenangkan.
Waktu berlalu cepat. Hari ulangan tengah semester pun datang.
Panjul datang ke sekolah lebih pagi dari biasanya. Danu melihatnya sedang menatap buku kecil lusuh penuh coretan warna-warni.
“Jul, semangat banget hari ini!”
“Iyalah! Aku udah tempel semua rumus di rumah, bahkan di belakang pintu kamar mandi!”
“Wah, berarti kamu belajar sambil gosok gigi ya?”
“Hehehe, iya, Nu! Biar bersih luar dalam!”
Di ruang kelas, suasana tegang. Semua murid menunduk serius. Panjul menatap lembar soal, dan untuk pertama kalinya, matanya tidak terlalu bingung. Ia mulai menulis pelan-pelan.
“Hmm… keliling persegi… empat kali sisi. Wah, aku inget nih! Ini kayak tulisan di cermin waktu aku sikat gigi!”
Waktu berlalu, dan Panjul menyelesaikan ulangan dengan wajah lega.
“Hehehe, kali ini kayaknya saya sedikit beruntung, kawan!”
Beberapa hari kemudian, Bu Ratri membagikan nilai.
Ketika sampai di nama Panjul, beliau tersenyum.
“Panjul, nilai kamu belum tinggi, tapi kali ini naik jadi 55. Dan Ibu lihat, jawabannya sudah mulai benar, bukan asal-asalan.”
Panjul langsung terkejut.
“Serius, Bu?! Wah, berarti otakku mulai nyerap kayak spons bekas cuci piring, ya!”
“Hehehe, iya. Dan yang lebih penting, kamu terus berusaha.”
Riko yang duduk di belakangnya berkomentar,
“Wah, Jul, jangan-jangan kamu nyontek dari rumus yang nempel di baju!”
“Hehehe, bukan, Ko. Rumusku nempel di kepala. Cuma kadang keluar-keluar sendiri!”
Semua tertawa. Tapi di balik tawanya, Panjul merasa bangga. Ia mulai percaya bahwa ia bisa berubah, walau pelan-pelan.
Malam itu, Panjul kembali menatap kertas-kertas kecil di rumahnya.
Ia tersenyum kecil sambil berkata pelan,
“Ternyata benar kata Bu Ratri… setiap anak punya caranya sendiri buat belajar. Kalau yang lain pakai otak, aku tambah pakai tawa.”
Ia menatap ke luar jendela, melihat bintang-bintang kecil yang bersinar lembut.
“Aduuh… anda belum beruntung kawan… tapi saya, kayaknya mulai sedikit beruntung hari ini.”
(Bersambung ke Episode 9: Kejutan Kecil untuk Panjul)
