kepalasekolah.id – Lucu, hangat, dan penuh makna! Ikuti kisah Panjul, si anak desa yang gemuk dan kocak, dalam petualangannya mengubah hidup lewat semangat belajar dan tawa tanpa henti. “Menggapai Mimpi” akan membuatmu tersenyum sekaligus terinspirasi.
Menggapai Mimpi Episode 22 : Panjul dan Hari Penghibur
Angin pagi berembus pelan di Desa Alas Wetan. Musim hujan belum benar-benar pergi, tetapi beberapa hari terakhir matahari mulai sering muncul. Jalanan desa yang biasanya becek kini perlahan mengering. Burung-burung berkicau di antara pepohonan, sementara suara anak-anak yang berangkat sekolah mulai memenuhi jalan.
Di antara mereka, tampak Panjul berjalan sambil membawa tas yang terlihat lebih tebal dari biasanya.
“Bukumu banyak amat, Jul,” kata Danu yang berjalan di sampingnya.
“Iya. Aku lagi berusaha terlihat pintar.”
Danu tertawa.
“Terlihat pintar?”
“Iya. Kalau belum bisa pintar beneran, ya minimal terlihat dulu.”
Mereka berdua tertawa sepanjang perjalanan menuju sekolah. Sesampainya di kelas, suasana terasa berbeda dari biasanya. Biasanya sebelum pelajaran dimulai, sebagian siswa masih sibuk bercanda atau bermain. Kini banyak yang membuka buku. Ada yang membaca catatan. Ada yang saling bertanya soal pelajaran. Bahkan Riko yang biasanya paling ribut terlihat memegang buku IPA. Panjul sampai mendekatinya.
“Riko.”
“Hm?”
“Kamu sakit?”
“Apa?”
“Kamu belajar.”
Riko langsung melempar penghapus kecil ke arah Panjul.
“Pergi sana!”
Panjul tertawa lalu kembali ke bangkunya. Tak lama kemudian Bu Ratri masuk.
“Selamat pagi, anak-anak.”
“Pagi, Bu!”
Bu Ratri tersenyum melihat kelas yang lebih tenang. “Nah, tes kenaikan kelas tinggal beberapa hari lagi. Ibu senang melihat kalian mulai mempersiapkan diri.”
Panjul menelan ludah. “Beberapa hari”. Kalimat itu membuat dadanya kembali berdebar. Namun kali ini tidak seperti sebelumnya. Ia tidak lagi terlalu takut. Nasihat ayah dan ibunya beberapa hari lalu masih teringat jelas. Yang penting terus berusaha.
Sore harinya, beberapa siswa berkumpul di rumah Danu. Mereka berencana belajar bersama. Atau setidaknya itu rencananya. Kenyataannya… Lima belas menit pertama digunakan untuk belajar. Tiga puluh menit berikutnya digunakan untuk bermain.
“Jul, fokus!” kata Sari.
“Aku fokus kok.”
“Itu kenapa gambarmu malah kapal perang?”
Panjul melihat buku catatannya. Di bagian yang seharusnya berisi latihan matematika, kini ada gambar kapal, ayam, dan seekor kucing yang bentuknya lebih mirip kentang.
“Aku sedang melatih kreativitas.”
“Kita belajar matematika.”
“Oh iya.”
Riko tertawa keras. Beberapa saat kemudian Danu memberikan soal latihan.
“Kalau ada tiga keranjang berisi masing-masing dua belas mangga, berapa jumlah seluruh mangganya?”
Sari langsung menjawab. “Tiga puluh enam.”
“Benar.”
Kemudian Danu memberikan soal lain. Yang sedikit lebih sulit. Beberapa anak mulai berpikir.
Panjul ikut menatap soal itu. Lama. Sangat lama. Lalu tiba-tiba matanya membesar.
“Eh! Aku tahu!”
Semua menoleh.
“Serius?”
“Iya.”
“Jawabannya berapa?”
Panjul menjelaskan dengan caranya sendiri. Awalnya Danu mengira jawaban itu akan salah. Namun setelah dihitung kembali… Ternyata benar. Semua terdiam sesaat. Riko bahkan sampai mendekat.
“Tunggu.”
“Apa?”
“Kamu nyontek dari mana?”
“Aku mikir sendiri.”
“Sungguh?”
“Iya.”
“Mustahil.”
Panjul menyengir bangga. Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa menemukan jawaban bukan karena kebetulan. Melainkan karena benar-benar memahami sedikit dari materi yang dipelajari. Perasaan itu membuatnya senang.
Malam harinya, Panjul kembali menempelkan kertas-kertas kecil di dinding kamarnya. Metode yang ia temukan beberapa bulan lalu masih digunakan sampai sekarang. Di dekat pintu. Di samping lemari. Di dekat tempat tidur. Bahkan di dekat cermin. Setiap kali lewat, ia akan membacanya. Kadang sambil bergaya seperti guru. Kadang seperti penyiar televisi. Kadang seperti komentator sepak bola.
“Dan inilah proses fotosintesis yang berhasil mencetak gol untuk tumbuhan!”
Lalu ia tertawa sendiri. Ibunya yang lewat di depan kamar hanya menggeleng.
“Belajarnya kok kayak main drama.”
“Tapi masuk ke kepala, Bu.”
“Ya sudah kalau begitu.”
Hari demi hari berlalu. Kelas lima mulai dipenuhi suasana persiapan. Anak-anak belajar lebih giat. Bu Ratri juga memberikan latihan tambahan. Meski begitu, mereka tetap anak-anak. Kadang belajar. Kadang bermain. Kadang saling mengerjai. Suatu siang saat istirahat, Riko kembali menyembunyikan salah satu sandal Panjul. Ketika Panjul menyadarinya, ia berjalan pincang ke sana kemari mencari.
“Riko…”
“Apa?”
“Kalau nanti aku jadi orang sukses…”
“Iya?”
“Aku bakal beli sandal yang ada alarmnya.”
Satu kelas tertawa.
Di rumah, ayah dan ibunya juga mulai memberi perhatian lebih. Bukan dengan memaksa Panjul belajar terus-menerus. Melainkan memastikan ia cukup istirahat. Suatu malam saat Panjul masih membaca catatan kecilnya, ayahnya masuk ke kamar.
“Masih belajar?”
“Iya, Pak.”
Ayahnya duduk di tepi tempat tidur. “Lelah?”
“Sedikit.”
Ayahnya tersenyum. “Kalau lelah ya istirahat. Otak juga butuh napas.”
Panjul tertawa. “Memang otak bisa napas?”
“Entahlah.”
Mereka berdua tertawa bersama.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kalender di ruang tamu menunjukkan tanggal yang sudah dilingkari Panjul sejak beberapa minggu lalu.Tes kenaikan kelas dimulai besok pagi. Malam itu suasana rumah terasa lebih tenang. Setelah makan malam, Panjul tidak belajar terlalu lama. Ia hanya membuka kembali beberapa catatan penting. Lalu menutup bukunya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, ia merasa cukup. Bukan karena sudah menguasai semua pelajaran. Tetapi karena ia tahu dirinya sudah berusaha semampunya.
Di kamarnya, Panjul berbaring sambil menatap langit-langit. Suara jangkrik terdengar dari luar rumah. Angin malam masuk melalui jendela yang sedikit terbuka. Ia mengingat banyak hal. Nilai rendahnya dulu. Saat sering tidak paham pelajaran. Saat pertama kali menemukan cara belajar yang cocok. Saat Bu Ratri terus menyemangatinya. Saat Danu membantunya belajar. Bahkan saat Riko mengganggunya hampir setiap hari. Semua itu terasa seperti perjalanan yang panjang. Panjul tersenyum kecil.
“Aku memang belum sepintar yang lain.”
Ia menoleh ke arah catatan-catatan kecil yang masih menempel di dinding.
“Tapi aku sudah lebih baik daripada Panjul yang dulu.”
Kalimat itu membuatnya merasa hangat. Tak lama kemudian ibunya membuka pintu kamar.
“Sudah tidur belum?”
“Belum, Bu.”
“Besok ujian, lho.”
“Iya.”
Ibunya tersenyum. “Jangan begadang.”
“Siap.”
“Dan jangan terlalu tegang.”
Panjul mengangguk. Setelah ibunya keluar, ia menarik selimut perlahan. Matanya mulai terasa berat. Besok adalah hari yang sudah lama ia tunggu sekaligus ia khawatirkan. Hari yang akan menjadi langkah berikutnya dalam perjalanannya. Di luar, malam terus berjalan dengan tenang. Sementara di dalam kamar kecilnya, Panjul akhirnya memejamkan mata. Dengan harapan sederhana. Semoga besok ia bisa memberikan yang terbaik.
(Bersambung ke Episode 23 – Hari-Hari Penentuan)
