kepalasekolah.id – Lucu, hangat, dan penuh makna! Ikuti kisah Panjul, si anak desa yang gemuk dan kocak, dalam petualangannya mengubah hidup lewat semangat belajar dan tawa tanpa henti. “Menggapai Mimpi” akan membuatmu tersenyum sekaligus terinspirasi.
Menggapai Mimpi – Episode 31: Hari Pertama Menjadi Kakak Kelas
Pagi itu Desa Alas Wetan kembali ramai.
Setelah liburan panjang yang terasa begitu cepat, suara anak-anak mulai terdengar di jalan-jalan desa. Ada yang berjalan kaki sambil membawa tas, ada yang berboncengan sepeda, bahkan ada yang masih berlari-lari karena takut terlambat.
Di sebuah rumah sederhana yang tidak jauh dari persawahan, Panjul berdiri di depan cermin kecil.
Seragam putih-merah sudah dikenakan dengan rapi. Tas baru pemberian Paman Adi sudah menggantung di bahunya. Sepatu barunya juga sudah terpasang. Panjul memandang dirinya sendiri cukup lama.
Ia tersenyum. Kemudian membetulkan rambutnya yang dipotong pendek seperti biasa. Tidak gundul. Tidak panjang. Cukup pendek agar tidak mengganggu saat belajar atau bermain. Panjul mengangguk puas.
“Sudah cocok.”
Ia mengambil tasnya. Kemudian kembali melihat cermin.
“Mulai hari ini…” Panjul menarik napas. “…aku kelas enam.”
Ia tersenyum semakin lebar. “Berarti…”
Ia berpikir sebentar. “…aku sekarang kakak kelas.”
Panjul langsung berdiri lebih tegak. Ia mencoba memasang wajah serius seperti seorang kakak kelas yang berwibawa. Kedua tangannya disilangkan di dada. Alisnya dibuat mengernyit.
Namun baru beberapa detik, ia sendiri malah tertawa. “Hehehe…”
Bu Rini yang sedang menyiapkan sarapan dari dapur mendengar suara itu.
“Jangan ketawa sendiri, Jul.”
“Enggak, Bu.”
“Ngomong sama siapa?”
“Panjul yang di cermin.”
Bu Rini menggeleng sambil tersenyum. “Sudah, sarapan dulu.”
“Iya, Bu.”
Panjul berlari kecil menuju meja makan. Pak Surya sudah duduk di sana. Ia melihat anaknya dari atas sampai bawah.
“Wah, saiki wes kelas enem.”
Panjul mengangguk bangga. “Iya, Pak.”
“Berarti saiki wis dadi kakak kelas.”
“Iya.”
Pak Surya tersenyum. “Sing apik dadi kakak. Ojo seneng ngece adik kelas.”
Panjul mengangguk. “Siap.”
Kemudian ia berpikir. “Kalau mereka yang mengejek saya duluan bagaimana, Pak?”
Pak Surya tertawa. “Yo diguyu wae.”
Panjul ikut tertawa. “Itu baru nasihat bapak.”
Perjalanan menuju sekolah terasa berbeda. Bukan karena jalannya berubah. Bukan karena sekolahnya berubah. Tetapi karena Panjul merasa dirinya berubah.
Dulu ketika melewati gerbang sekolah, ia adalah salah satu anak kelas 5 yang masih melihat kakak kelas 6 sebagai anak-anak yang sudah besar.
Sekarang… Ia menjadi salah satunya. Panjul menghentikan sepedanya di dekat gerbang. Ia melihat papan nama sekolah. Kemudian melihat halaman yang mulai dipenuhi murid.
“Jadi sekarang aku kakak kelas…” Panjul tersenyum.
Namun baru saja ia hendak masuk, terdengar suara dari belakang. “Kak Panjul!”
Panjul berhenti. Ia menoleh. Seorang anak kecil berlari ke arahnya. Panjul mengenalnya. Anak itu adalah salah satu tetangganya yang baru masuk kelas 1.
“Kak Panjul!”
“Iya?”
“Benar Kak Panjul sekarang kelas 6?”
“Iya.”
Anak itu tersenyum lebar. “Wah!”
Panjul mengangkat dagu. “Kenapa?”
“Kak Panjul sudah tua!”
Panjul langsung terdiam. “Tua?”
Anak itu mengangguk polos.
“Iya. Kelas 6 kan hampir lulus.”
Beberapa anak di dekatnya ikut tertawa. Panjul menghela napas. “Baru juga masuk sekolah sudah dibilang tua.”
Anak itu malah mendekat. “Kak, nanti kalau sudah kelas 6 boleh main sama kakak?”
“Boleh.”
“Main apa?”
Panjul berpikir. “Petak umpet.”
“Mau!”
Anak itu langsung berlari memanggil teman-temannya. “Kita main petak umpet sama Kak Panjul!”
Panjul membelalakkan mata. “Lho?”
Tiba-tiba dua anak lainnya ikut datang.
“Kak Panjul!”
“Kak Panjul!”
“Kak, main!”
Panjul mundur perlahan. Kemudian satu anak bertanya,
“Kak Panjul pernah ikut lomba ya?”
“Iya.”
“Yang lucu-lucu itu?”
Panjul menggaruk kepala. “Mungkin.”
“Kak Panjul memang lucu?”
Panjul berpikir. “Kalau menurut orang lain sih begitu.”
Seorang anak langsung berkata, “Berarti benar!”
Panjul mulai bingung. Satu anak bertanya. “Kak Panjul, kelas enam susah nggak?”
Panjul hendak menjawab, tetapi pertanyaan lain datang. “Kak Panjul rumahnya di mana?”
“Kak Panjul punya ikan?”
“Kak Panjul bisa lari cepat?”
“Kak Panjul pernah menang lomba apa?”
Panjul mundur lagi. “Eh…”
Anak-anak semakin mendekat. Panjul melihat ke kiri. Kosong. Melihat ke kanan. Juga kosong.
Akhirnya ia berbisik kepada dirinya sendiri. “Situasi darurat.”
Kemudian… Panjul berbalik dan berlari.
“Kejar Kak Panjul!”
Suara anak-anak kelas 1 langsung menggema. Panjul berlari mengelilingi halaman sekolah.
Namun bukannya berhasil menghindar, ia malah dikejar semakin banyak anak.
“Jangan dikejar!”
“Kak Panjul lari!”
Panjul bersembunyi di balik tiang. Ia mengintip. Anak-anak masih mencari.
Panjul tersenyum. “Berhasil.”
Namun dari belakang terdengar suara kecil.
“Kak Panjul!”
Panjul menoleh. Satu anak berdiri tepat di belakangnya. Panjul terkejut. “Lho?!”
Anak itu tertawa. “Ketemu!”
Panjul menepuk dahinya. “Bagaimana kamu bisa tahu?”
“Aku lihat Kakak masuk sini.”
“Oh…”
Panjul menghela napas. “Berarti saya memang belum cocok jadi pemain petak umpet.”
Tidak lama kemudian bel sekolah berbunyi. Anak-anak mulai masuk ke kelas masing-masing. Panjul akhirnya bisa berjalan menuju kelas 6. Di depan pintu, ia bertemu Riko. Riko memperhatikannya dari ujung rambut sampai sepatu. “Wah.”
Panjul menatapnya. “Apa?”
“Kelihatan tua.”
Panjul langsung menunjuk wajah Riko. “Kamu juga.”
Riko tertawa. “Baru kelas 6 sudah sok tua.”
“Kan memang kakak kelas.”
“Yang kemarin masih lari-lari mengejar ikan di sungai.”
“Itu sejarah.”
Riko tertawa semakin keras. Kemudian tiba-tiba ia melihat sepatu Panjul.
“Sepatu baru?”
Panjul tersenyum bangga. “Iya.”
“Hadiah dari paman.”
“Bagus.”
“Bagus, kan?”
“Iya.”
Riko mengangguk. “Tapi…”
Panjul langsung curiga. “Tapi apa?”
“Jangan sampai nanti aku sembunyikan.”
Panjul langsung memegang kedua sepatunya. “Jangan!”
Riko tertawa. Panjul ikut tertawa. Begitulah mereka. Bercanda seperti biasa. Tak lama kemudian seluruh siswa kelas 6 sudah duduk di tempat masing-masing.
Suasana kelas masih terasa baru. Beberapa buku masih tersusun rapi. Meja dan kursi sudah diatur. Anak-anak berbicara tentang liburan. Tentang siapa yang pergi ke mana. Tentang siapa yang mendapat hadiah. Tentang siapa yang selama liburan hanya tidur di rumah. Panjul tentu saja ikut bercerita. “Kalau aku…”
Ia berhenti. Riko langsung menyahut. “Liburanmu malah diganggu Naya.”
Panjul menatapnya. “Itu bukan gangguan.”
“Lho?”
“Awalnya gangguan.”
Danu tertawa. “Terus?”
“Setelah pulang malah kangen.”
Riko langsung tertawa. “Nah, itu namanya kena karma.”
Panjul ikut tertawa. Tidak lama kemudian seorang guru memasuki kelas. Pak Bagus. Guru kelas 6 mereka. Usianya masih sekitar empat puluhan dan pembawaannya cukup santai. Ia tidak terlihat seperti guru yang selalu serius. Kadang-kadang justru ikut bercanda dengan murid-muridnya.
Pak Bagus berdiri di depan kelas. “Selamat pagi.”
“Selamat pagi, Pak!”
“Bagaimana kabarnya?”
“Baik!”
Pak Bagus melihat seluruh murid. “Kalian tahu tidak?”
“Apa, Pak?”
“Mulai hari ini kalian adalah kakak kelas paling tua di sekolah.”
Panjul langsung duduk tegak. Ia menoleh ke Riko. Kemudian ke Danu. Kemudian kembali melihat Pak Bagus. Pak Bagus melanjutkan, “Artinya kalian harus memberikan contoh yang baik kepada adik-adik kelas.”
Panjul mengangguk. “Siap, Pak.”
Pak Bagus menatapnya. “Khusus Panjul.”
“Iya, Pak?”
“Jangan ngajari adik kelas lari-larian di halaman.”
Satu kelas langsung tertawa. Panjul terkejut. “Kok Pak Bagus tahu?”
Pak Bagus tersenyum. “Saya lihat dari jendela.”
Panjul menutup wajahnya. “Waduh…”
Riko tertawa sampai memukul meja. “Baru hari pertama sudah ketahuan!”
Panjul ikut tertawa. Pak Bagus kemudian mengajak seluruh siswa berbicara tentang kelas 6. Tentang tanggung jawab. Tentang belajar. Tentang persahabatan. Tentang bagaimana mereka akan menghadapi tahun terakhir di sekolah dasar.
Panjul mendengarkan dengan cukup serius.
Ketika Pak Bagus mengatakan bahwa waktu mereka tidak akan terasa panjang, Panjul tiba-tiba teringat beberapa bulan ke depan. Kelas 6. Ujian. Kelulusan. Kemudian… Sekolah menengah.
Panjul menghela napas kecil. Namun kali ini bukan karena takut. Ia hanya merasa bahwa semuanya memang mulai bergerak maju.
Saat istirahat, Panjul kembali dikerumuni beberapa anak kelas 1. “Kak Panjul!”
Panjul yang sedang membeli makanan menoleh. “Lagi?”
Mereka tertawa. “Kak, main!”
Panjul melihat makanan di tangannya. Kemudian melihat anak-anak tersebut. Akhirnya ia mengangguk. “Ya sudah.”
Riko yang melihat dari jauh langsung berteriak. “PANJUL!”
“Apa?”
“Jadi kakak kelas kok malah main sama anak kelas satu!”
Panjul menjawab santai. “Daripada mereka main sendiri.”
Riko tersenyum. Danu juga ikut melihat. Panjul mungkin masih sama. Masih lucu. Masih spontan. Masih sering membuat orang tertawa. Tetapi ada sesuatu yang berbeda. Sekarang Panjul mulai memiliki adik kelas yang melihatnya sebagai seseorang yang lebih tua. Seseorang yang bisa mereka ajak bermain. Seseorang yang mereka kagumi hanya karena menjadi dirinya sendiri.
Panjul belum menyadari hal itu. Ia hanya tahu satu hal. Menjadi kakak kelas ternyata… cukup melelahkan.
Sore harinya, ketika pulang sekolah, Panjul berjalan sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Besok jangan ada yang ngajak petak umpet lagi.”
Ia berhenti sebentar. Kemudian tersenyum. “Kalau diajak…”
Ia tertawa kecil. “…ya ikut.”
Dan sejak hari itu, Panjul mulai memahami bahwa menjadi siswa kelas 6 bukan hanya berarti menjadi murid paling tua. Ada tanggung jawab baru. Ada teman-teman yang akan berubah. Ada adik-adik kelas yang mulai mengenalnya. Dan ada satu tahun terakhir yang menunggu untuk dijalani. Panjul belum tahu apa saja yang akan terjadi selama tahun terakhirnya di sekolah dasar.
Namun satu hal sudah pasti… perjalanan kelas 6 baru saja dimulai.
Bersambung ke Episode 32: Agustus Datang, Panjul Ikut Bertanding
