kepalasekolah.id – Lucu, hangat, dan penuh makna! Ikuti kisah Panjul, si anak desa yang gemuk dan kocak, dalam petualangannya mengubah hidup lewat semangat belajar dan tawa tanpa henti. “Menggapai Mimpi” akan membuatmu tersenyum sekaligus terinspirasi.
Menggapai Mimpi – Episode 23: Hari-Hari Penentuan
Pagi itu, Desa Alas Wetan masih diselimuti udara sejuk setelah hujan semalam. Jalanan tanah di beberapa sudut desa masih tampak sedikit basah. Dari kejauhan terdengar suara ayam berkokok bersahut-sahutan, seolah ikut mengingatkan bahwa hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.
Hari pertama tes kenaikan kelas.
Di rumah sederhana milik Pak Surya dan Bu Rini, suasana sudah ramai sejak pagi. Panjul duduk di meja makan sambil menatap telur dadar di piringnya. Bukan karena tidak lapar. Justru karena terlalu gugup.
“Jul, makan dulu yang banyak,” kata Bu Rini.
“Iya, Bu.”
“Tapi dari tadi kok telurnya cuma dipandang?”
“Aku lagi latihan fokus, Bu.”
Bu Rini mengernyit.
“Fokus apa?”
“Fokus supaya nanti kalau lihat soal matematika nggak langsung pingsan.”
Pak Surya yang sedang menyeruput teh langsung terkekeh. “Sing pingsan soalmu apa kowe sing pingsan?”
Panjul menggaruk kepala. “Ya semoga soalnya aja yang pingsan, Pak.”
Mereka bertiga tertawa kecil. Meski bercanda, jantung Panjul tetap berdebar-debar. Hari ini benar-benar terasa berbeda.
Sesampainya di sekolah, suasana kelas lima juga tidak seperti biasanya. Anak-anak yang biasanya bercanda sebelum pelajaran kini banyak yang membuka buku untuk terakhir kalinya. Ada yang membaca catatan. Ada yang menghafal rumus. Ada yang malah terlihat pasrah. Riko termasuk yang terlihat pasrah. Ia duduk sambil menopang dagu.
“Riko, kamu nggak belajar?” tanya Danu.
“Aku sudah berdamai dengan takdir.”
“Pantes nilai latihanmu kemarin.”
“Terima kasih.”
Mendengar itu, Panjul malah tertawa. Biasanya ia yang paling santai. Sekarang justru Riko yang terlihat paling tenang.
Tak lama kemudian Bu Ratri masuk ke kelas. Beliau membawa beberapa lembar kertas soal. Melihat itu, seisi kelas langsung mendadak hening. Bahkan suara kursi yang bergeser pun terdengar jelas.
Bu Ratri tersenyum. “Tenang saja. Ini bukan monster.”
“Bagi kami hampir sama, Bu,” celetuk Riko.
Satu kelas tertawa. Ketegangan sedikit mencair.
Ketika soal pertama dibagikan, Panjul menarik napas panjang. Ia membaca halaman pertama perlahan. Lalu halaman kedua. Kemudian halaman ketiga. Dan tiba-tiba…
Matanya membesar. “Hah?”
Ia berkedip. Lalu membaca lagi. Kemudian senyum kecil muncul di wajahnya. “Soal ini…”
Ia mengenal soal itu. Bukan persis sama. Tapi mirip dengan catatan kecil yang selama ini ditempel di dinding kamarnya. Panjul langsung duduk lebih tegak. Pensilnya mulai bergerak. Sedikit demi sedikit. Pelan tapi pasti.
Di tengah ujian, beberapa kali ia sampai menahan senyum sendiri. Danu yang duduk di depannya sempat melirik. Panjul hanya mengangkat alis bangga.
Seolah berkata, “Aku tahu yang ini.”
Saat jam istirahat tiba, anak-anak langsung ramai membahas soal.
“Aku bingung nomor tujuh.”
“Aku juga.”
“Nomor lima jawabannya apa?”
Suasana berubah seperti pasar dadakan. Panjul yang biasanya paling tidak percaya diri justru tampak cukup ceria. Ia menggigit roti sambil berkata, “Kalau nomor tiga aku bisa.”
Riko langsung menoleh. “Kamu bisa?”
“Iya.”
“Yakin?”
“Yakin.”
Riko menyipitkan mata. “Jangan-jangan kamu salah.”
Panjul tertawa. “Kalau salah ya sudah. Tapi kali ini aku lumayan yakin.”
Danu tersenyum melihat perubahan sahabatnya. Biasanya Panjul selalu menghindari pembicaraan soal ujian. Sekarang ia mulai berani.
Hari kedua.
Hari ketiga.
Hari keempat.
Tes terus berlangsung. Ada pelajaran yang membuat Panjul cukup tenang. Ada pula yang membuat kepalanya terasa penuh. Saat ujian IPA, misalnya. Beberapa soal berhasil ia jawab. Tapi ada beberapa yang membuatnya menatap langit-langit kelas. Seolah jawaban bisa turun dari atap. Melihat itu, Riko yang duduk beberapa meja di belakang hampir tertawa. Namun Bu Ratri keburu melirik tajam. Riko langsung pura-pura fokus.
Suatu siang sepulang sekolah, Panjul berjalan pulang bersama Danu.
“Menurutmu gimana?” tanya Danu.
“Yang apa?”
“Ujiannya.”
Panjul berpikir sejenak. “Lumayan.”
“Lumayan bagaimana?”
“Lumayan bikin jantung kerja lembur.”
Danu tertawa. “Aku serius.”
“Aku juga serius.”
Mereka berdua tertawa sepanjang jalan.
Di rumah, Pak Surya selalu menanyakan perkembangan tes. Malam hari setelah makan, beliau duduk di teras bersama Panjul. “Piye dina iki?”
“Alhamdulillah, Pak.”
“Lancar?”
“Sebagian.”
“Sebagian lagi?”
Panjul menggaruk kepala. “Sebagian lagi aku sama soalnya saling melihat dengan penuh perasaan.”
Pak Surya tertawa sampai batuk kecil. “Lha terus sing menang sapa?”
“Kadang aku.”
“Kadang soale?”
“Iya.”
“Ya wis, sing penting wis usaha.”
Panjul mengangguk. Nasihat itu selalu sederhana. Tapi entah kenapa selalu membuatnya tenang. Hari kelima menjadi salah satu hari yang paling menyenangkan bagi Panjul. Saat mengerjakan soal Bahasa Indonesia, ia menemukan beberapa pertanyaan yang benar-benar ia pahami. Bahkan ada satu soal yang mirip dengan latihan yang pernah diberikan Bu Ratri beberapa minggu sebelumnya.
Panjul hampir saja bersorak. Untung ia masih ingat sedang ujian. Yang ia lakukan hanyalah tersenyum sendiri. Riko yang melihat dari kejauhan langsung curiga. “Kayaknya Panjul habis menemukan harta karun.”
Hari terakhir akhirnya tiba. Semakin mendekati akhir tes, suasana kelas mulai berubah. Anak-anak tampak lebih santai. Beban yang selama ini dipikul perlahan mulai berkurang. Dan ketika bel terakhir berbunyi di hari terakhir ujian…
Seluruh kelas seakan menghembuskan napas bersamaan. Selesai. Benar-benar selesai.
“MERDEKAAA!”
Riko berteriak begitu keluar kelas. Beberapa siswa ikut tertawa. Bahkan ada yang langsung berlari ke lapangan. Panjul sendiri berdiri beberapa saat di depan kelas. Ia menatap ruang tempat dirinya mengerjakan semua tes selama seminggu terakhir. Lalu tersenyum. Ada rasa lega yang sulit dijelaskan. Mungkin karena akhirnya semua usaha selama berbulan-bulan telah sampai di titik ini.
Danu menghampirinya. “Gimana rasanya?”
Panjul berpikir beberapa detik. “Lega.”
“Cuma itu?”
“Iya.”
Lalu ia tersenyum lebih lebar. “Sama lapar.”
Mereka berdua langsung tertawa.
Siang itu, perjalanan pulang terasa lebih ringan. Langit Alas Wetan tampak cerah. Angin berembus pelan melewati sawah yang menghijau. Sesampainya di rumah, Pak Surya langsung menyambutnya.
“Rampung kabeh?”
“Rampung, Pak!”
Pak Surya mengangguk bangga. “Nah, saiki istirahat.”
Panjul tersenyum. Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu memikirkan ujian, ia merasa benar-benar bebas. Entah bagaimana hasilnya nanti. Yang jelas, ia sudah memberikan semua yang ia bisa. Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Panjul tidur tanpa memikirkan soal matematika, IPA, ataupun bahasa Indonesia.
Namun jauh di dalam hatinya, masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab.
Apakah usahanya kali ini cukup untuk membawanya naik ke kelas enam?
Jawaban itu masih disimpan rapat oleh waktu.
(Bersambung ke Episode 24: Menunggu Hasil)
