Menggapai Mimpi 5
Menggapai Mimpi 5

kepalasekolah.id – Lucu, hangat, dan penuh makna! Ikuti kisah Panjul, si anak desa yang gemuk dan kocak, dalam petualangannya mengubah hidup lewat semangat belajar dan tawa tanpa henti. “Menggapai Mimpi” akan membuatmu tersenyum sekaligus terinspirasi.

Menggapai Mimpi – Episode 24: Menunggu Hasil

Hari-hari setelah tes kenaikan kelas terasa sangat berbeda bagi murid-murid kelas lima. Tidak ada lagi soal yang harus dikerjakan sampai larut malam. Tidak ada lagi catatan yang harus dihafalkan dengan wajah tegang. Tidak ada lagi latihan soal yang membuat kepala terasa penuh.

Untuk sementara, semuanya bisa bernapas lega. Namun ternyata, ada satu hal yang lebih sulit daripada mengerjakan ujian. Yaitu…

Menunggu hasilnya.

Pagi itu, suasana kelas lima jauh lebih santai dibandingkan beberapa minggu sebelumnya. Beberapa siswa sibuk menggambar di buku tulis. Ada yang mengobrol. Ada yang bermain tebak-tebakan. Ada juga yang hanya duduk santai sambil menikmati jajanan yang dibeli saat berangkat sekolah.

Riko termasuk golongan terakhir. Ia duduk sambil mengunyah keripik.

“Riko, kamu nggak bosan makan terus?” tanya Danu.

“Tidak.”

“Kalau pelajaran?”

“Bisa nanti.”

“Kalau nilai jelek?”

Riko berpikir sebentar. “Lihat nanti.”

Danu menggeleng sambil tertawa. Di sisi lain kelas, Panjul sama sekali tidak bisa diam. Lima menit duduk. Sepuluh menit berjalan. Lima menit membantu memindahkan kursi. Lalu berpindah lagi ke kelompok lain. Kemudian ikut melihat gambar teman-temannya. Setelah itu kembali ke tempat duduk. Lalu berdiri lagi.

Bu Ratri yang melihat dari meja guru akhirnya tersenyum. “Panjul.”

“Iya, Bu?”

“Kamu sedang mencari sesuatu?”

“Nggak, Bu.”

“Lalu kenapa muter-muter terus?”

Panjul berpikir sejenak. “Mungkin saya sedang mencari bakat yang hilang.”

Satu kelas langsung tertawa. Bahkan Bu Ratri sampai menutup mulutnya agar tidak ikut tertawa terlalu keras. Karena tidak ada pelajaran berat, anak-anak sering menghabiskan waktu di luar kelas.

Pagi itu, beberapa siswa bermain bola di lapangan sekolah. Panjul yang melihat langsung berlari mendekat.

“Aku ikut!”

“Kamu jadi kiper aja,” kata Riko.

“Kenapa?”

“Biar bolanya nggak hilang.”

Panjul menyipitkan mata. “Itu menghina atau memuji?”

“Sedikit dua-duanya.”

Permainan pun dimulai. Sebagai penjaga gawang, Panjul sebenarnya tidak terlalu hebat. Namun semangatnya luar biasa. Ketika bola datang pelan, ia bisa menahannya.

Ketika bola datang cepat… Biasanya ia ikut terjatuh bersama bola. Suatu kali Danu menendang bola cukup keras. Panjul berusaha menangkapnya. Hasilnya? Ia terjatuh ke belakang dengan posisi kaki menghadap langit. Bola memang berhasil ditangkap. Tetapi seisi lapangan langsung tertawa melihat posisinya.

“Bola aman!” teriak Panjul.

“Kamunya?” tanya Riko.

“Masih diproses.”

Hari-hari terus berlalu. Kadang Panjul bermain bola. Kadang bermain kejar-kejaran. Kadang membantu Pak Surya di bengkel sepulang sekolah. Kadang hanya duduk di bawah pohon dekat lapangan sambil mengobrol bersama Danu dan Sari. Namun meski terlihat santai, ada satu hal yang tetap muncul di pikirannya.

Nilai tes.

Sesekali, ketika sedang sendiri, ia masih bertanya-tanya. Bagaimana hasilnya nanti? Apakah usahanya selama ini cukup? Apakah ia bisa naik kelas? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul lalu menghilang seperti awan yang lewat di langit.

Beberapa hari kemudian, suasana sekolah mulai sedikit berbeda. Anak-anak mendengar kabar bahwa hasil tes sudah selesai diperiksa. Kabar itu menyebar begitu cepat. Lebih cepat daripada berita hujan atau pertandingan sepak bola. Akibatnya, hampir semua siswa mulai gelisah.

Termasuk Panjul. Pagi itu Panjul bahkan datang lebih awal dari biasanya. Ia sudah duduk di kelas ketika sebagian besar teman-temannya belum datang. Danu yang masuk beberapa menit kemudian langsung heran.

“Jul?”

“Iya?”

“Kamu datang pagi?”

“Iya.”

“Sakit?”

Panjul menghela napas. “Kok semua orang kalau aku rajin pasti mengira aku sakit?”

Bel masuk berbunyi. Bu Ratri masuk ke kelas membawa setumpuk kertas. Melihat itu, suasana langsung berubah. Anak-anak yang tadi ramai mendadak diam. Bahkan Riko yang biasanya selalu bercanda ikut duduk tegak.

Bu Ratri meletakkan kertas-kertas itu di meja. Lalu tersenyum. “Nah, hasil tes kalian sudah selesai diperiksa.”

Jantung Panjul langsung berdegup lebih cepat. Satu per satu nilai dibagikan. Suasana kelas berubah menjadi campuran antara senang, tegang, dan penasaran. Ada yang langsung tersenyum. Ada yang menghela napas lega. Ada juga yang masih menghitung-hitung nilainya.

Ketika nama Panjul dipanggil, ia berjalan ke depan kelas. Tangannya terasa sedikit dingin.

Ia menerima lembar nilainya dari Bu Ratri. “Terima kasih, Bu.”

“Sama-sama.”

Panjul kembali ke tempat duduk. Lalu perlahan membuka lembar hasil tes itu. Awalnya ia melihat satu mata pelajaran. Kemudian yang lain. Lalu satu lagi. Matanya semakin membesar. Kemudian semakin besar. Dan semakin besar lagi. “Tidak mungkin…” gumamnya pelan.

Danu yang duduk di dekatnya langsung melirik. “Kenapa?”

Panjul tidak menjawab. Ia terus melihat kertas itu. Lalu tiba-tiba…

“AAAAAAAHHHH!”

Satu kelas terkejut. “Panjul!” seru Riko.

“Aku dapat enam puluh tujuh!”

“Apa?”

“Enam puluh tujuh!”

Panjul langsung berdiri. Kemudian mengangkat kedua tangannya ke atas. “Aku hampir tujuh puluh!”

Seisi kelas langsung tertawa. Namun Panjul belum selesai. Ia melihat kembali nilai-nilai lainnya. Tidak ada yang di bawah lima puluh lima. Tidak satu pun. Matanya berkaca-kaca karena bahagia. Bukan karena nilainya paling tinggi. Bukan karena menjadi juara kelas. Melainkan karena ia tahu betapa keras dirinya berusaha selama ini. Semua catatan kecil di dinding. Semua latihan. Semua kebingungan. Semua rasa lelah. Ternyata tidak sia-sia.

Tiba-tiba Panjul melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia melompat kecil. Lalu berusaha melakukan jungkir balik seperti yang pernah ia lihat di televisi. Sayangnya… Ia tidak terlalu ahli. Akibatnya ia malah terguling seperti karung beras yang jatuh dari gerobak.

Bruuuk!

Satu kelas langsung pecah oleh tawa. Bahkan Bu Ratri yang biasanya tenang sampai ikut tertawa. “Panjul, kamu tidak apa-apa?”

Panjul bangkit sambil tersenyum lebar. “Nggak apa-apa, Bu.”

“Yakin?”

“Iya.”

“Lalu kenapa jungkir balik?”

Panjul mengangkat kertas nilainya. “Soalnya saya bahagia, Bu.”

Bu Ratri menatap muridnya itu beberapa saat. Lalu tersenyum hangat. Di antara semua murid yang pernah diajar, mungkin Panjul bukan yang paling pintar. Bukan juga yang paling cepat memahami pelajaran. Tetapi Bu Ratri tahu satu hal. Panjul adalah salah satu anak yang tidak pernah berhenti mencoba. Dan hari itu, hasil usahanya mulai terlihat. Bu Ratri merasa bangga. Sangat bangga.

Menjelang pulang sekolah, Bu Ratri kembali berdiri di depan kelas. Di tangannya ada beberapa lembar surat. “Nah, anak-anak.” Suasana kelas kembali tenang. “Ini surat undangan untuk orang tua atau wali murid.”

Anak-anak langsung paham. Surat itu adalah surat pengambilan rapor kenaikan kelas. Jantung Panjul kembali berdebar. Ternyata momen yang paling menentukan sudah semakin dekat.

Setelah menerima surat tersebut, Panjul memasukkannya dengan hati-hati ke dalam tas. Sepanjang perjalanan pulang, senyumnya tidak hilang. Namun di balik kebahagiaan itu, muncul rasa penasaran baru. Nilai tesnya memang bagus. Lebih baik dari sebelumnya. Jauh lebih baik.

Tetapi satu pertanyaan masih terus mengikutinya.

Apakah semua itu cukup untuk membawanya naik ke kelas enam?

Jawabannya akan segera datang. Dan kali ini, waktunya tinggal menghitung hari.

(Bersambung ke Episode 25: Rapor dan Langkah Baru)