Menggapai Mimpi 5
Menggapai Mimpi 5

kepalasekolah.id – Lucu, hangat, dan penuh makna! Ikuti kisah Panjul, si anak desa yang gemuk dan kocak, dalam petualangannya mengubah hidup lewat semangat belajar dan tawa tanpa henti. “Menggapai Mimpi” akan membuatmu tersenyum sekaligus terinspirasi.

Menggapai Mimpi – Episode 25: Rapor dan Langkah Baru

Sore itu, jalanan Desa Alas Wetan terasa lebih cerah daripada biasanya. Atau mungkin memang hanya perasaan Panjul saja. Sejak menerima hasil tes di sekolah, senyumnya tidak pernah hilang. Bahkan ketika berjalan pulang melewati pematang sawah, ia beberapa kali melompat kecil sendiri sambil memandangi lembar nilai yang tersimpan rapi di dalam tasnya.

Sesampainya di rumah, ia langsung berlari masuk. “Pak! Bu! Aku pulang!”

Bu Rini yang sedang menjemur pakaian menoleh sambil tersenyum. “Lho, kok semangat banget?”

Panjul segera mengeluarkan lembar hasil tes dan surat undangan pengambilan rapor. “Nih, Bu!”

Bu Rini menerima kedua kertas itu. Matanya bergerak membaca satu per satu nilai yang tertera.

Kemudian senyumnya semakin lebar. “Alhamdulillah…”

Saat itu Pak Surya juga baru keluar dari bengkel kecil di samping rumah. “Ana apa iki?”

Panjul langsung menyerahkan hasil tesnya. Pak Surya membaca perlahan. Beberapa detik kemudian ia mengangguk-angguk. “Wah… iki apik.”

Panjul tersenyum lebar. “Bahkan ada yang enam puluh tujuh, Pak.”

Pak Surya mengangkat alis. “Sewidak pitu?”

“Iya.”

“Hampir pitung puluh.”

“Iya!”

“Berarti saiki otakmu wis mulai panas.”

Panjul tertawa. “Pak, otak kok dipanasin?”

“Ya ben mlaku luwih cepet.”

Mereka semua tertawa bersama.

 

Malam harinya, setelah makan malam, pembicaraan tentang rapor kembali muncul. Panjul yang sejak tadi menunggu akhirnya mengajukan pertanyaan yang sudah ada di kepalanya sejak siang.

“Pak, Bu…”

“Iya?” jawab Bu Rini.

“Nanti yang ambil rapor siapa?”

Biasanya Bu Rini yang datang ke sekolah. Namun kali ini Pak Surya lebih dulu menjawab.

“Aku wae.”

Panjul berkedip. “Bapak?”

“Iya.”

“Beneran?”

Pak Surya tersenyum. “Lha kenapa? Bapakmu iki isih iso mlaku tekan sekolah.”

Panjul tertawa.

“Bukan gitu, Pak.”

“Lha terus?”

“Aku seneng aja.”

Pak Surya menepuk pundaknya pelan. “Saiki giliran Bapak sing pengin weruh langsung hasil usahamu.”

Kalimat itu membuat Panjul tersenyum lebih lebar. Entah kenapa, ia merasa sangat senang mendengarnya.

Hari-hari menjelang pembagian rapor terasa berjalan lambat. Setidaknya bagi Panjul. Setiap pagi ia bertanya pada kalender. Setiap sore ia menghitung berapa hari lagi. Sampai akhirnya hari yang ditunggu itu tiba.

Pagi itu sekolah tampak ramai. Orang tua murid mulai berdatangan. Sebagian duduk di bawah pohon. Sebagian mengobrol di teras kelas. Sementara para murid menunggu di luar ruangan. Persis seperti saat pembagian rapor semester sebelumnya. Namun kali ini suasana hati Panjul berbeda. Ia lebih tenang. Meski begitu, sesekali ia tetap mondar-mandir.

Riko yang melihatnya langsung berkomentar. “Jul.”

“Apa?”

“Kamu kayak ayam kehilangan jagung.”

“Aku lagi olahraga ringan.”

“Dari tadi?”

“Iya.”

“Hebat.”

Tak lama kemudian Pak Surya datang. Beliau mengenakan kemeja yang paling rapi yang dimilikinya. Panjul langsung menghampiri.

“Pak!”

“Iyo.”

“Gugup nggak?”

Pak Surya justru tertawa. “Lha sing sekolah kowe kok sing gugup Bapak?”

“Iya juga.”

 

Ketika para orang tua mulai dipanggil masuk satu per satu ke dalam kelas, Panjul dan teman-temannya menunggu di luar. Ada yang duduk. Ada yang berdiri. Ada yang terus bertanya-tanya. Dan ada Panjul yang kembali mondar-mandir.

Sampai akhirnya…

Nama Pak Surya dipanggil. Beliau masuk ke dalam kelas. Panjul langsung menelan ludah. Kini yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu.

Di dalam kelas, Bu Ratri menyambut Pak Surya dengan hangat. “Silakan duduk, Pak Surya.”

“Nggih, Bu Guru.”

Bu Ratri kemudian membuka rapor Panjul. Senyumnya terlihat jelas.

“Pak, saya ingin mengucapkan selamat.”

Pak Surya langsung memperhatikan.

“Nilai Panjul mengalami peningkatan yang cukup baik.”

Wajah Pak Surya perlahan berubah cerah. Bu Ratri lalu menunjukkan beberapa nilai.

“Memang belum sempurna. Tapi kemajuannya sangat terlihat.”

Pak Surya mengangguk pelan.

“Di rumah dia memang belajar terus nganggo carane dhewe, Bu.”

“Oh ya?”

“Iya. Nulis catatan ditempel nang tembok. Nang lemari. Nang lawang. Nang endi-endi.”

Bu Ratri tertawa kecil.

“Itu memang ide Panjul.”

“Nek mlaku nang omah mesti maca. Kadang ngomong dhewe. Kadang kaya guru. Kadang kaya komentator bal-balan.”

Kali ini Bu Ratri benar-benar tertawa. “Saya bisa membayangkannya, Pak.”

Pak Surya ikut tersenyum. “Anake pancen unik, Bu. Nanging nek wes nduwe tujuan, ya terus nyoba.”

Bu Ratri mengangguk setuju. “Dan itu yang membuat saya bangga pada Panjul.”

Tak lama kemudian, rapor diserahkan. Pak Surya membacanya sekali lagi. Lalu senyumnya semakin lebar. Karena pada bagian yang paling ditunggu-tunggu, tertulis jelas:

Naik ke Kelas VI

Beberapa menit kemudian Pak Surya keluar dari ruang kelas. Panjul langsung berdiri. “Pak! Pak! Gimana?”

Pak Surya sengaja diam beberapa detik. Membuat Panjul semakin penasaran.

“Pak!”

“Lha sabar.”

“Pak!”

Pak Surya akhirnya menyerahkan rapor. Panjul membukanya dengan cepat. Matanya langsung mencari satu bagian. Dan ketika menemukannya…

Ia membeku sesaat. Kemudian…

“Aku naik kelas!” Teriaknya begitu keras hingga beberapa burung di pohon dekat lapangan terbang kaget. “Aku naik kelas enam!”

Riko tertawa. Danu ikut tersenyum. Sari bertepuk tangan. Bahkan beberapa murid kelas lain ikut menoleh. Panjul melompat kecil sambil memeluk rapornya. Seolah baru memenangkan pertandingan terbesar dalam hidupnya.

Namun yang paling mengharukan terjadi beberapa saat kemudian. Setelah kegembiraannya sedikit reda, Panjul tiba-tiba berjalan menuju ruang guru. Pak Surya dan Bu Rini yang kebetulan baru datang menyusul hanya saling berpandangan. “Anakmu mau ke mana?” tanya Bu Rini.

“Nggak ngerti.”

Di ruang guru, Panjul mendatangi satu per satu gurunya. Ia menyalami mereka. Lalu mencium tangan mereka dengan hormat. “Terima kasih ya, Bu.”………. “Terima kasih, Pak.”

Beberapa guru tersenyum haru.Ketika sampai di depan Bu Ratri, Panjul tersenyum lebar. “Bu…”

“Iya?”

“Makasih sudah sabar ngajarin saya.”

Bu Ratri tersenyum. “Sama-sama, Panjul.”

“Soalnya kalau saya jadi Bu Ratri…”

“Hm?”

“Saya belum tentu kuat ngajarin saya.”

Ruangan langsung dipenuhi tawa. Bahkan Bu Ratri sampai menggeleng sambil tertawa.

“Panjul, Panjul…”

Tak berhenti sampai di situ, Panjul juga menemui kepala sekolah. Ia menyalami beliau dengan sopan. “Terima kasih, Pak.”

“Wah, selamat ya, Panjul.”

“Iya, Pak.”

“Kelas enam nanti harus lebih semangat.”

Panjul mengangguk mantap. “Siap, Pak!”

“Lanjut belajar?”

“Siap.”

“Jangan menyerah?”

“Siap.”

“Jangan bikin guru pusing?”

Panjul berpikir sebentar.

“Nah… yang terakhir saya belum bisa janji, Pak.” Kepala sekolah pun tertawa terbahak-bahak.

Sore itu keluarga kecil Panjul pulang dengan hati yang ringan. Di rumah, rapor diletakkan dengan hati-hati. Pak Surya dan Bu Rini tampak bangga.

Sementara Panjul… Sudah memikirkan hal lain. Liburan.

Malam harinya, ia duduk di kamar dengan sebuah buku tulis. Di halaman pertama ia menulis judul besar:

RENCANA LIBURAN PANJUL

Di bawahnya mulai muncul daftar panjang.

  • Bermain bola.
  • Mencoba eksperimen baru.
  • Membuat layang-layang.
  • Bermain ke sungai.
  • Membantu ayah di bengkel.
  • Dan berbagai rencana lainnya.

Semakin lama, daftar itu semakin panjang. Panjul tersenyum puas.

“Kali ini liburanku pasti sempurna.”

Ia bahkan memberi tanda centang kosong di samping setiap kegiatan. Siap untuk ditaklukkan satu per satu. Dengan perasaan bahagia, Panjul menutup bukunya. Ia tidak tahu bahwa beberapa hari lagi, sebuah kejutan besar akan datang ke rumahnya.

Kejutan yang akan mengubah seluruh rencana liburan yang sudah disusunnya dengan sangat rapi. Dan seperti biasa…

Kejutan itu datang saat Panjul merasa semuanya sudah berjalan sesuai rencana.

(Bersambung ke Episode 26: Liburan yang Terencana)