kepalasekolah.id – Lucu, hangat, dan penuh makna! Ikuti kisah Panjul, si anak desa yang gemuk dan kocak, dalam petualangannya mengubah hidup lewat semangat belajar dan tawa tanpa henti. “Menggapai Mimpi” akan membuatmu tersenyum sekaligus terinspirasi.
Menggapai Mimpi – Episode 26: Liburan yang Terencana
Matahari pagi menyinari Desa Alas Wetan dengan hangat. Setelah beberapa hari hujan turun hampir setiap sore, langit kali ini tampak biru bersih. Embun yang semalam menempel di ujung daun padi perlahan menghilang, berganti kilauan cahaya yang memantul indah dari hamparan sawah.
Di kejauhan terdengar suara burung-burung kecil bersahutan. Angin berembus pelan membawa aroma tanah yang masih sedikit basah. Liburan akhirnya benar-benar dimulai.
Namun berbeda dengan anak-anak lain yang sejak pagi sudah berlarian keluar rumah, Panjul justru masih duduk di kamarnya. Di depannya terbuka sebuah buku tulis baru. Pada halaman pertama tertulis besar-besar.
RENCANA LIBURAN PANJUL
Di bawah judul itu sudah ada daftar panjang yang memenuhi hampir satu halaman.
✓ Memancing di sungai.
✓ Bermain bola.
✓ Membuat layang-layang.
✓ Membantu Bapak di bengkel.
✓ Bersepeda keliling desa.
✓ Mencoba eksperimen baru.
✓ Menggambar.
✓ Bermain ke sawah.
✓ Mencari belalang.
✓ Membuat perahu dari bambu.
Panjul memandangi daftar itu sambil menggigit ujung pensil. “Hmm… kurang.” Ia menulis lagi.
✓ Belajar sedikit.
Beberapa detik kemudian ia mencoret tulisan itu. “Liburan kok belajar…” Ia berpikir lagi.
“Lho… tapi kalau nggak belajar nanti lupa.” Akhirnya ia menulis kembali.
✓ Belajar sedikit… kalau ingat.
Panjul mengangguk puas. “Nah, ini baru realistis.”
Tak lama kemudian Bu Rini membuka pintu kamar. “Jul…”
“Iya, Bu?”
“Kamu belum main?”
“Belum.”
“Lho kok?”
“Aku lagi rapat.”
Bu Rini melihat ke dalam kamar. “Rapat sama siapa?”
“Sama diri sendiri.”
Bu Rini menahan tawa. “Rapatnya penting?”
“Penting sekali.”
“Apa hasil rapatnya?”
Panjul menunjuk buku. “Aku sedang memilih kegiatan yang paling menyenangkan.”
Bu Rini menggeleng pelan. “Baru pertama kali Ibu lihat anak liburan tapi sibuk bikin jadwal.”
Beberapa menit kemudian Pak Surya ikut masuk. Tangannya masih berdebu karena baru merapikan bengkel. “Lho… isih nang kamar?”
“Iya, Pak.”
“Ora dolan?”
“Belum.”
Pak Surya mengambil buku Panjul. Matanya membesar melihat daftar yang begitu panjang. “Walah…”
“Kenapa, Pak?”
“Liburanmu iki luwih rame ketimbang jadwal lurah.”
Panjul terkekeh. “Supaya nggak bingung.”
Pak Surya tersenyum. “Nek kebanyakan direncanakake, mengko malah mumet.”
“Masa sih?”
“Iya.”
“Terus?”
“Metua dhisik.”
“Hah?”
“Main.”
“Nanti dulu.”
Pak Surya menggeleng. “Liburan ki ya dinikmati.”
Panjul akhirnya mencoba keluar rumah. Namun baru sampai teras… Ia kembali masuk. “Lho kok balik?” tanya Bu Rini.
“Aku lupa.”
“Lupa apa?”
“Mau nambah satu kegiatan.”
Ia kembali menulis.
✓ Duduk di teras menikmati angin.
Setelah selesai menulis, ia kembali keluar. Lima langkah kemudian… Masuk lagi. Pak Surya mulai tertawa. “Sekarang lupa apa maneh?”
“Mau bawa topi.”
Hari itu benar-benar dihabiskan Panjul untuk menyusun rencana. Kadang ia duduk di bawah pohon mangga sambil menulis. Kadang masuk kamar. Kadang keluar lagi. Sesekali ia menghampiri bengkel ayahnya. “Pak.”
“Nggih?”
“Kalau bikin perahu bambu, panjangnya berapa?”
Pak Surya berpikir sebentar. “Perahune kanggo opo?”
“Dilombakan di selokan.”
Pak Surya mengusap dagu. “Selokane sempit.”
“Oh iya ya…” Panjul mencoret lagi salah satu rencananya.
Siang hari, Danu datang ke rumah.
“Jul!”
“Iya!”
“Mau main bola?”
Panjul terlihat bimbang. Ia melihat buku rencananya. Lalu melihat Danu. Kemudian melihat buku lagi. Danu heran. “Kamu kenapa?”
“Aku lagi memilih.”
“Memilih apa?”
“Main sekarang atau besok.”
“Kalau hari ini?”
“Nanti rencana besok berubah.”
Danu tertawa geli. “Jul…”
“Iya?”
“Kadang kamu itu terlalu serius.”
Panjul ikut tertawa. “Iya juga.”
Akhirnya mereka bermain bola sebentar di lapangan desa. Namun bahkan saat bermain, Panjul masih sempat berkata, “Besok aku mau mancing.”
“Lusa bikin layang-layang.”
“Besoknya lagi eksperimen.”
Riko yang baru datang langsung menyahut, “Kalau besok hujan?”
Panjul terdiam. “Iya ya…”
Kalender rencananya ternyata belum memasukkan kemungkinan hujan.
Menjelang sore, Panjul kembali duduk di kamarnya. Daftar rencananya kini sudah penuh dua halaman. Ia memberi nomor.
Hari pertama.
Hari kedua.
Hari ketiga.
Sampai hari terakhir liburan.
Ia tersenyum puas. “Kalau begini pasti semua berjalan lancar.”
Di luar kamar, Bu Rini berbisik kepada Pak Surya. “Anakmu serius sekali.”
Pak Surya tertawa kecil. “Yo ben.”
“Kasihan kalau nanti ada yang berubah.”
Pak Surya hanya tersenyum. “Urip kuwi ora mesthi podho karo rencana.”
Bu Rini mengangguk pelan.
Matahari mulai tenggelam. Langit Desa Alas Wetan berubah jingga. Panjul masih sibuk memberi tanda warna-warni pada jadwalnya. Besok pagi ia ingin memancing. Siangnya bermain bola. Sorenya membantu ayah di bengkel. Malamnya menggambar. Ia benar-benar yakin liburan kali ini akan menjadi liburan terbaik sepanjang hidupnya.
Tiba-tiba…
Dari luar rumah terdengar suara mobil berhenti.
“Assalamu’alaikum!”
Bu Rini segera keluar rumah.
“Wa’alaikumussalam!”
Pak Surya ikut menghampiri halaman. Panjul yang penasaran menutup bukunya lalu ikut keluar.
Sebuah mobil berwarna putih berhenti di depan rumah. Seorang pria turun sambil tersenyum lebar.
“Mas Surya!”
“Lho… Adi!”
Ternyata yang datang adalah adik Bu Rini bersama keluarganya dari kota. Belum sempat Panjul mendekat, pintu belakang mobil terbuka. Seorang anak perempuan kecil berusia sekitar empat tahun turun dengan langkah cepat. Rambutnya dikuncir dua. Matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. Begitu melihat Panjul… Ia langsung berteriak kegirangan.
“Mas Paaaanjuuul!”
Anak kecil itu berlari sekencang-kencangnya lalu memeluk kaki Panjul erat-erat. Panjul sampai kehilangan keseimbangan.
“Lho… Naya?”
Anak kecil itu mendongak sambil tersenyum lebar. “Aku mau liburan di sini!”
Panjul tersenyum membalas pelukannya. Namun di dalam rumah…
Di atas meja kamarnya…
Masih tergeletak buku berisi dua halaman penuh rencana liburan yang telah ia susun sejak pagi.
Dan Panjul sama sekali belum tahu…
Bahwa mulai besok, hampir semua rencana itu akan berubah.
(Bersambung ke Episode 27: Bayangan Kecil Bernama Naya)
